Tiga tahun lalu, aku menghentikan suamiku agar tidak berhenti di tengah jalan tol.
Dia pikir aku ingin mencelakai sahabat terbaiknya.
Sampai akhirnya dari belakang kami muncul iring-iringan keluarga paling berkuasa di Jakarta.
1
“Mas Marco, kamu sudah nyetir hampir empat jam tanpa henti. Menurut aturan baru, pengemudi wajib istirahat minimal dua puluh menit.”
Begitu mendengar suara familiar itu, seluruh tubuhku langsung dingin.
Aku tersentak bangun.
Di luar jendela, gelapnya jalan Tol Cipularang membentang tanpa ujung. Lampu-lampu jalan melesat cepat seperti garis cahaya panjang.
Aku membeku.
Aku kembali.
Aku kembali ke malam yang menghancurkan hidupku.
Di kursi depan sebelah kiri, sambil memegangi perut karena mabuk perjalanan, duduk Nicole Wijaya — “adik angkat” tunanganku, Marco Santoso.
Nicole menoleh ke arah kami dengan wajah seolah dia paling benar di dunia.
“Nyetir dalam keadaan capek itu lebih bahaya daripada mabuk. Refleks bisa turun tiga puluh persen.”
“Demi keselamatan semuanya, kita harus berhenti sekarang.”
Dua teman di kursi belakang langsung setuju.
Ryan tersenyum.
— Nicole benar.
Jethro mengangguk.
— Safety first.
Lalu mereka semua menoleh kepadaku.
Di kehidupan sebelumnya, tepat di momen inilah aku mati-matian menolak.
Aku bilang kalau mau istirahat, harus di rest area resmi di Purwakarta, bukan berhenti tepat di jalur cepat.
Aku bahkan menyebut banyak kecelakaan tol sebagai peringatan.
Akhirnya Marco mendengarkanku dan kami masuk ke rest area.
Karena itu, Nicole marah.
Dia turun dari mobil tengah malam.
Lalu naik SUV pria asing dekat minimarket.
Keesokan harinya, mayatnya ditemukan di lahan kosong daerah Karawang.
Dilecehkan.
Dimutilasi.
Setelah pemakaman Nicole, Marco tetap menikahiku seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi malam bulan madu kami…
Dia mencampurkan obat tidur ke champagne-ku.
Saat bangun, aku sudah berada di bawah jembatan bersama para gelandangan di pinggiran Jakarta.
Marco berdiri di depanku dengan mata merah seperti iblis.
— Kalau bukan karena campur tanganmu, Nicole tidak akan mati.
— Kamu seharusnya dikubur bersama dia.
Dan setelah itu…
Dia sendiri yang memutilasi tubuhku sebelum membuangnya ke Sungai Ciliwung.
Jadi kali ini…
Aku tidak akan sebodoh itu untuk menyelamatkan mereka lagi.
Baru saja aku hendak membuka mulut, Marco menatapku lewat kaca spion.
Tatapannya dingin sekali.
— Kamu mau bilang lagi kalau berhenti di tol itu berbahaya?
— Mau nakut-nakutin kami lagi pakai cerita kecelakaan?
Aku langsung kaku.
Jantungku berdetak cepat.
Marco… ternyata juga kembali.
Dia menyeringai dingin.
— Sekarang, kalau aku tidak mendengarkan Nicole, itu yang akan kusesali seumur hidup.
“SKREEEET—!”
Dia langsung menginjak rem.
Mobil terguncang keras.
Klakson kendaraan di belakang bersahut-sahutan.
Sebuah truk kontainer hampir menabrak kami saat melintas di samping Innova dengan kecepatan tinggi.
Nicole memegangi dada sambil menjerit.
— Kita berhenti di sini saja!
Marco langsung menarik handbrake.
Mematikan mesin.
Tidak menyalakan lampu hazard.
Bahkan tidak memindahkan mobil ke bahu jalan.
Kami berhenti tepat di tengah jalur cepat.
Tubuhku dingin saat menatap ke depan.
Dulu aku pikir Marco cuma buta karena cinta pada Nicole.
Sekarang aku paham.
Dia memang ingin aku mati.
Nicole menoleh kepadaku dengan senyum mengejek.
— Kak Audrey, jangan selalu melawan aku dong.
— Aku cuma mikirin keselamatan kita semua.
Ryan tertawa.
— Iya, kamu terlalu paranoid.
Jethro ikut menyahut.
— Ini udah tengah malam. Mobil juga nggak banyak.
Aku memandang mereka bertiga.
Tiga orang yang sangat bodoh tapi merasa paling pintar.
Aku menarik napas panjang.
Hal terpenting sekarang adalah keluar dari mobil ini.
Aku tersenyum dingin.
— Fine.
— Aku turun sebentar. Mau ke toilet.
Aku mencoba membuka pintu, tapi ternyata terkunci.
Nicole menggoyang-goyangkan kunci mobil sambil tersenyum seperti ular.
— Di luar gelap.
— Bahaya buat kamu turun sendirian.
— Kalau udah nggak tahan, pipis aja di plastik.
Ryan dan Jethro tertawa terbahak-bahak.
Marco bahkan tidak menoleh padaku.
— Dengerin aja Nicole.
Aku mengepalkan tangan erat-erat.
Rasanya jantungku membeku.
Dan saat itulah aku melihat—
Di kaca spion, ada cahaya menyilaukan melaju sangat cepat ke arah kami.
Sebuah Ford Everest hitam meluncur deras menuju mobil kami.
Nicole pucat.
Ryan melotot.
Jethro panik.
— Ada mobil di belakang!
Marco langsung panik dan mencoba menyalakan mobil lagi.
Tapi semuanya sudah terlambat.
“BOOOOM—!!!”
Ledakan tabrakan memekakkan telinga menghancurkan malam.
Everest itu membanting setir menghindari kami.
Mobilnya menghantam pembatas jalan.
Terbalik.
Bergesekan di aspal sambil memercikkan bunga api.
Hingga akhirnya terguling di bahu jalan.
Malam langsung sunyi.
Dua menit kemudian…
Sebuah tangan berdarah mengetuk keras jendela kami.
Seorang wanita hamil.
2
Aku yang pertama sadar.
— Cepat! Kita harus tolong dia!
Aku mengambil kunci cadangan dari tasku lalu langsung turun dari mobil.
Dari belakang, terdengar teriakan melengking Nicole.
— Ryan! Tahan dia!
Tapi aku sudah berlari.
Wanita hamil itu terjepit di antara kursi dan setir yang hancur.
Pakainya penuh darah.
Dia menangis sambil gemetar.
— Tolong selamatkan aku… anakku…
Bagian depan mobil mulai mengeluarkan asap.
Aku langsung mengambil batu dan memecahkan kaca depan.
Tanganku terluka, tapi aku tidak peduli.
Aku hampir berhasil menariknya keluar ketika—
Nicole tiba-tiba menarikku menjauh.
Dia memasang wajah kesal.
— Kamu tahu nggak kalau kita bakal kena biaya tol tambahan kalau kelamaan di sini?!
Aku tidak percaya.
— Dia mau mati!
Jawab Nicole dingin:
— Terus? Salah gue?
Ryan langsung ikut bicara.
— Dia sendiri yang nyetir sembarangan.
Jethro mengangkat bahu.
— Betul.
Wanita hamil itu tiba-tiba menangis keras.
— Suamiku… Alejandro Darmawan…
Seluruh tubuhku langsung kaku.
Alejandro Darmawan.
Pria paling berkuasa di Jakarta.
Keluarga Darmawan mengendalikan bisnis dan politik di seluruh ibu kota.
Sudah lama diberitakan kalau istrinya sulit hamil selama bertahun-tahun.
Dan bayi yang dikandung wanita ini adalah anak pertama mereka.
Kalau dia benar istri Alejandro…
Malam ini kami semua tamat.
Aku segera menarik wanita itu lagi.
— Jangan takut. Aku akan keluarkan kamu—
Tapi Nicole malah mengejek.
— Istri Alejandro kok mobilnya begini doang?
— Emang kita kelihatan bodoh?
— Nanti kita nolongin dia, terus malah kita yang dijebak.
Wanita itu menangis tersedu-sedu.
— Aku tidak bohong…
Darah terus mengalir dari bawah tubuhnya.
Aku gemetar karena marah.
— Nicole, kamu masih punya hati nggak sih?!
— Kalau kamu nggak nyuruh Marco berhenti di tengah tol, dia nggak bakal kecelakaan!
Wajah Nicole langsung berubah marah.
Dia menunjukku.
— Diam kamu!
— Aku nyuruh berhenti demi keselamatan!
— Mau jadi pahlawan ya?
— Yaudah, selamatin aja sendiri!
Tepat saat itu, ponselku berdering.
Di layar tertulis:
POLISI PATROLI JALAN RAYA.
Mereka menelepon untuk memastikan lokasi setelah diam-diam aku meminta bantuan.
Aku baru saja membungkuk untuk menjawab—
BRAK!
Nicole menendang ponselku.
Ponsel itu terlempar ke rerumputan di pinggir tol.
Aku langsung menatapnya marah.
— Kamu gila?!
Nicole belum sempat menjawab ketika suara mesin besar menggema dari kejauhan.
Deretan lampu putih membelah gelap malam.
Konvoi SUV hitam melaju cepat ke arah kami.
Di sisi kendaraan-kendaraan itu…
Terlihat lambang keluarga Darmawan.
Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat kelanjutan lengkap ceritanya… 👇

Konvoi SUV hitam itu berhenti mendadak di sepanjang tol.
Pintu-pintunya terbuka hampir bersamaan.
Puluhan pria berbaju hitam turun dengan wajah tegang.
Dan di tengah mereka…
Seorang pria tinggi dengan jas hitam berjalan cepat menuju mobil yang terbalik.
Begitu melihat wanita hamil penuh darah itu, wajahnya langsung pucat.
“CLARA!”
Suara itu mengguncang malam.
Alejandro Darmawan.
Pria paling berkuasa di Jakarta.
Dan saat itu juga, seluruh wajah Nicole kehilangan warna.
Aku segera membantu mengangkat Clara keluar dari mobil.
Alejandro langsung berlutut di samping istrinya tanpa peduli jas mahalnya terkena darah.
“Tolong… selamatkan anak kami…” Clara menangis lemah.
“Aku di sini,” suara Alejandro bergetar. “Aku di sini, sayang.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat pria setangguh itu hampir hancur.
Para pengawal segera memanggil ambulans pribadi.
Yang lain memeriksa lokasi kecelakaan.
Dan salah satu dari mereka melihat posisi Innova kami.
Berhenti tepat di tengah jalur cepat.
Tanpa lampu hazard.
Tanpa tanda darurat.
Wajah pria itu langsung dingin.
“Mobil siapa ini?”
Tak ada yang menjawab.
Nicole tiba-tiba maju dengan kaki gemetar.
“Sir… ini cuma kecelakaan… bukan salah kami…”
Namun sebelum dia selesai bicara—
BRAK!
Alejandro menghantam kap mobil begitu keras hingga Nicole menjerit ketakutan.
“Bukan salah kalian?” suaranya rendah dan menyeramkan.
Dia menatap Clara yang hampir pingsan.
“Kalau istriku atau anakku mati malam ini…”
Tatapannya berpindah ke mereka satu per satu.
“…tak satu pun dari kalian akan hidup tenang lagi.”
Ryan dan Jethro langsung pucat.
Marco mencoba maju.
“Pak, dengarkan dulu—”
“Aku sudah mendengar semuanya.”
Alejandro menunjuk dashcam SUV yang masih menyala.
“Tentang bagaimana kalian menertawakan wanita hamil yang sekarat.”
“Bagaimana kalian menolak menolong.”
“Dan bagaimana kalian menendang telepon satu-satunya orang yang mencoba menyelamatkan istriku.”
Nicole langsung gemetar.
“Itu… itu salah paham…”
Namun saat itu salah satu pengawal datang membawa ponselku yang jatuh di rerumputan.
“Pak, ada rekaman panggilan ke patroli jalan raya.”
Alejandro menatapku.
“Kamu yang menelepon bantuan?”
Aku mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya melunak.
“Siapa namamu?”
“Audrey.”
Dia diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Kamu menyelamatkan keluargaku.”
Clara dibawa ke ambulans.
Sebelum pintu tertutup, dia menggenggam tanganku erat.
“Jangan pergi…” bisiknya lemah.
Aku ikut masuk ke ambulans.
Dan sebelum pintu menutup—
Aku melihat Marco menatapku.
Tatapan penuh kebencian.
Sama seperti kehidupan sebelumnya.
Namun kali ini…
Aku tidak takut lagi.
Tiga hari kemudian, seluruh Jakarta gempar.
Rekaman dashcam tersebar di internet.
Wajah Marco, Nicole, Ryan, dan Jethro viral di mana-mana.
Orang-orang marah melihat bagaimana mereka membiarkan wanita hamil sekarat di jalan tol.
Perusahaan keluarga Santoso langsung dihantam skandal.
Investor mundur.
Kontrak dibatalkan.
Harga saham jatuh dalam semalam.
Dan Nicole?
Dia mencoba tampil di media sambil menangis meminta simpati.
Namun publik sudah melihat siapa dirinya sebenarnya.
Netizen memberinya julukan:
“Ratu Tanpa Hati di Tol Cipularang.”
Seminggu kemudian, aku dipanggil ke mansion keluarga Darmawan di Jakarta Selatan.
Rumah itu lebih megah daripada hotel bintang lima.
Aku sempat gugup.
Namun saat pintu terbuka—
Clara langsung memelukku sambil menangis.
“Dokter bilang… kalau terlambat lima menit saja… aku dan bayiku tidak akan selamat.”
Tangannya menggenggam tanganku erat.
“Kamu menyelamatkan dua nyawa.”
Alejandro berdiri di belakangnya.
“Audrey,” katanya tenang, “keluarga Darmawan tidak pernah lupa utang.”
Aku buru-buru menggeleng.
“Aku menolong karena memang harus ditolong.”
Alejandro tersenyum tipis.
“Itulah kenapa kamu pantas mendapatkan lebih.”
Hari itu, dia menyerahkan sebuah map kepadaku.
Di dalamnya ada sertifikat apartemen mewah di SCBD.
Saham perusahaan.
Dan surat pengangkatan kerja di grup Darmawan International dengan gaji Rp250 juta per bulan.
Tanganku gemetar.
“Pak… ini terlalu banyak…”
Alejandro menatapku lama.
“Masih belum sebanding dengan nyawa keluargaku.”
Malam itu, saat aku keluar dari mansion, angin Jakarta terasa berbeda.
Aku menatap lampu kota yang berkilauan dari kejauhan.
Di kehidupan sebelumnya…
Aku mati sendirian di bawah jembatan.
Dikhianati pria yang paling kucintai.
Namun di kehidupan ini…
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Kadang Tuhan mengizinkan kita kembali bukan untuk memperbaiki cinta lama.
Melainkan untuk menyelamatkan diri kita sendiri.
Dan kali ini…
Aku memilih diriku sendiri.
Sementara di belakangku, di dalam mansion keluarga Darmawan—
Tangisan bayi pertama Clara akhirnya terdengar memenuhi malam Jakarta.