Aku diusir oleh ibu mertuaku dan dipaksa menandatangani surat cerai tepat di rumah duka suamiku di Surabaya.

Aku diusir oleh ibu mertuaku dan dipaksa menandatangani surat cerai tepat di rumah duka suamiku di Surabaya.

Katanya, aku cuma wanita miskin yang sengaja hamil demi mendapatkan bagian dari kekayaan keluarga mereka.

Tapi saat dia hendak memanggil satpam untuk menyeretku keluar dari mansion…

Tiba-tiba layar besar di belakang peti mati menyala.

Dan muncul video terakhir yang ditinggalkan suamiku sebelum kecelakaannya.


Namaku Althea.

Usiaku dua puluh delapan tahun dan sedang hamil tujuh bulan.

Suamiku, Daniel Wijaya, adalah putra bungsu keluarga pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Surabaya.

Sedangkan aku…

Hanya mantan akuntan di perusahaan mereka.

Sejak awal, ibu mertuaku, Nyonya Beatrice Wijaya, memang tidak pernah menyukaiku.

Baginya, aku hanyalah perempuan miskin yang ingin naik derajat lewat anaknya.

Saat Daniel masih hidup, dia selalu melindungiku.

Namun tiga hari lalu…

Dia mengalami kecelakaan saat pulang dari pelabuhan Tanjung Perak.

SUV-nya keluar jalur di tengah hujan deras.

Orang-orang bilang rem mobilnya blong.

Dia tidak sempat tiba hidup-hidup di rumah sakit.

Duniaku runtuh saat mendengar kabar itu.


Rumah duka diadakan di mansion besar keluarga Wijaya yang menghadap laut Surabaya.

Para pebisnis, politikus, dan keluarga kaya dari Jakarta memenuhi aula utama.

Aku mengenakan gaun hitam longgar karena perutku sudah besar.

Sepanjang malam, tidak ada yang benar-benar bersimpati padaku.

Mereka hanya berbisik pelan.

“Sebentar lagi dia melahirkan…”

“Yakin itu anak Daniel?”

“Katanya mereka belum tanda tangan perjanjian pranikah…”

Aku menggigit bibir sampai hampir berdarah.

Tapi aku menahan semuanya demi anakku.

Sampai setelah doa terakhir untuk Daniel selesai…

Nyonya Beatrice tiba-tiba berdiri di depan semua orang.

“Althea.”

Suaranya dingin sekali.

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Dia mengeluarkan map tebal lalu membantingnya ke meja.

“Ini surat cerai dan surat pelepasan hak warisan.”

Tubuhku langsung dingin.

“Mama…”

“Jangan panggil aku Mama!”

Dia menghantam meja begitu keras hingga semua orang terkejut.

“Kalau bukan karena anak di perutmu, menurutmu kamu pantas menjadi bagian keluarga Wijaya?”

Wajahku pucat.

Perutku menegang karena stres.

Tapi yang lebih menyakitkan adalah ucapan berikutnya.

Adik iparku, Veronica, tertawa sambil memandangku.

“Kamu harusnya berterima kasih pada Mama.”

“Setidaknya kamu masih diberi uang sebelum diusir.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Aku melihat sekeliling.

Tak ada satu pun yang membelaku.

Bahkan pengacara keluarga pun menunduk menghindari tatapanku.

Nyonya Beatrice mendekat lalu memaksa pulpen ke tanganku.

“Tanda tangani.”

“Kalau tidak… jangan salahkan aku kalau aku memakai cara lain untuk mengusirmu.”

Tanganku gemetar hebat sampai hampir tak bisa memegang pulpen.

Dan saat itulah…

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang aula.

“Bagaimana kalau sebenarnya yang harus pergi dari rumah ini… adalah kalian?”

Semua orang langsung menoleh.

Pintu besar terbuka sementara hujan deras mengguyur di luar.

Seorang pria berjas hitam berjalan masuk perlahan.

Dan begitu Nyonya Beatrice melihatnya…

Tangannya langsung gemetar.

Gelas wine di tangannya jatuh dan pecah di lantai.

Karena pria yang baru datang itu…

Adalah pengacara pribadi Daniel.

Pengacara yang mysterius menghilang setelah kecelakaan itu.

Dan di tangannya…

Ada USB merah dengan label:

“Buka hanya jika sesuatu terjadi padaku.”

Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat kelanjutan lengkap cerita… 👇

Seluruh aula langsung sunyi.

Bahkan suara hujan di luar terdengar jelas.

Pengacara itu berjalan perlahan menuju depan peti mati Daniel sambil menggenggam USB merah di tangannya.

Wajah Nyonya Beatrice pucat pasi.

“Kenapa… kamu ada di sini?” suaranya bergetar.

Pria itu tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap semua orang di ruangan itu satu per satu.

Lalu berkata tenang:

“Sebelum meninggal, Tuan Daniel meninggalkan instruksi khusus.”

“Jika terjadi sesuatu padanya… video ini harus diputar di depan seluruh keluarga.”


Jantungku berdetak keras.

Veronica langsung maju dengan wajah marah.

“Ini rumah keluarga Wijaya! Kamu tidak punya hak membuat keributan di sini!”

Namun pengacara itu malah mengeluarkan sebuah surat resmi.

“Tuan Daniel menandatangani surat kuasa penuh dua minggu sebelum kecelakaannya.”

“Dan secara hukum… saya berhak menjalankan pesan terakhirnya.”


Semua orang mulai gelisah.

Nyonya Beatrice mencoba mempertahankan ketenangannya.

“Daniel sudah meninggal.”

“Tidak ada gunanya membuka hal-hal lama.”

Namun tepat saat itu—

Layar besar di belakang peti mati tiba-tiba menyala.

Dan wajah Daniel muncul di layar.

Ruangan langsung gempar.


Daniel terlihat duduk di kantornya.

Masih mengenakan kemeja putih favoritnya.

Matanya lelah.

Namun suaranya jelas.

“Kalau kalian sedang menonton video ini…”

“…berarti aku mungkin sudah tidak hidup lagi.”

Aku langsung menutup mulut sambil menangis.


Tatapan Daniel perlahan berubah dingin.

“Khusus untuk Mama dan Veronica…”

“Aku sudah tahu semuanya.”

Wajah Nyonya Beatrice langsung berubah.

Veronica panik.

“Apa maksudnya ini?!”

Namun video terus berjalan.


“Aku tahu rem mobilku dirusak.”

“Aku tahu kalian memindahkan dana perusahaan diam-diam selama tiga tahun.”

“Aku juga tahu kalian mencoba memaksa Althea menandatangani pelepasan hak warisan sebelum aku meninggal.”

Ruangan langsung meledak dalam kegaduhan.

Para tamu saling berbisik panik.

Salah satu politikus bahkan langsung berdiri menjauh dari keluarga Wijaya.


Nyonya Beatrice gemetar hebat.

“Itu bohong!”

Namun Daniel mengangkat sebuah map di video.

“Semua bukti sudah kusimpan pada pengacaraku.”

“Termasuk rekaman CCTV garasi malam sebelum kecelakaanku.”

Veronica langsung mundur satu langkah.

Wajahnya putih seperti kertas.


Lalu Daniel menatap lurus ke kamera.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Suaranya melembut.

“Althea…”

Tangisku pecah saat mendengar namaku.

“Maaf karena aku tidak bisa melindungimu lebih lama.”

“Aku tahu selama ini kamu menahan semuanya sendirian demi aku.”

“Tapi mulai hari ini… jangan tundukkan kepala lagi kepada siapa pun.”


Seluruh ruangan sunyi.

Bahkan para pelayan mulai menangis diam-diam.

Daniel tersenyum tipis di layar.

“Dan untuk anakku…”

“Kalau suatu hari kamu menonton ini…”

“Ayah sangat mencintaimu.”

Tanganku langsung memegangi perutku erat.

Bayi di dalam kandunganku bergerak pelan.

Seolah dia juga mendengar suara ayahnya.


Namun video belum selesai.

Tatapan Daniel kembali tajam.

“Mulai hari ini…”

“Seluruh saham pribadiku, rumah di Surabaya, rekening luar negeri, dan hak kepemimpinan perusahaan…”

“…resmi kuserahkan kepada istriku, Althea Wijaya.”

Semua orang langsung berdiri shock.

Veronica menjerit histeris.

“ITU MUSTAHIL!”


Pengacara Daniel segera mengeluarkan dokumen asli.

Lengkap dengan tanda tangan notaris.

“Semua sudah sah secara hukum.”

Nyonya Beatrice langsung limbung.

“Tidak… tidak mungkin Daniel melakukan ini padaku…”

Namun pengacara itu menatapnya dingin.

“Beliau juga meninggalkan permintaan terakhir.”

“Apa?” suara Beatrice nyaris tak terdengar.

Pria itu membuka surat terakhir Daniel.

Lalu membacanya perlahan.

“Jika ibuku mencoba mengusir Althea saat pemakamanku…”

“…cabut seluruh akses keluargaku dari perusahaan.”

Ruangan langsung gempar.

Para direktur perusahaan saling berpandangan panik.

Karena tanpa akses perusahaan…

Keluarga utama Wijaya akan kehilangan segalanya.


Nyonya Beatrice jatuh terduduk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Wanita sombong itu terlihat benar-benar kalah.


Sementara itu, aku berdiri diam di depan peti mati Daniel.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Aku menyentuh kayu peti perlahan.

“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang…” bisikku lirih.


Tiga bulan kemudian…

Aku melahirkan seorang bayi laki-laki sehat di rumah sakit terbaik di Jakarta.

Dan di hari yang sama…

Berita terbesar di dunia bisnis muncul di semua media:

“Althea Wijaya resmi menjadi CEO termuda Wijaya Shipping Group.”


Sedangkan Nyonya Beatrice dan Veronica?

Mereka pindah diam-diam ke apartemen kecil di Bandung setelah seluruh aset pribadi mereka dibekukan karena kasus penggelapan dana perusahaan.

Tak ada lagi pesta mewah.

Tak ada lagi penghormatan sosial.

Orang-orang yang dulu menjilat mereka perlahan menghilang.


Dan setiap malam…

Aku sering duduk di balkon mansion yang menghadap laut Surabaya sambil menggendong putraku.

Angin laut bertiup pelan.

Kadang aku masih merindukan Daniel sampai sesak.

Namun aku akhirnya mengerti satu hal.

Cinta sejati bukan tentang siapa yang bertahan paling lama.

Melainkan siapa yang tetap melindungimu…

Bahkan setelah dia pergi.

Dan meskipun Daniel sudah tidak ada—

Untuk pertama kalinya dalam hidupku…

Tak ada lagi yang bisa mengusirku dari rumahku sendiri.