Suara Banyu yang berat dan kaku menggema melalui pelantang suara. Pria berusia empat puluh satu tahun itu berdiri gagah di mimbar utama. Pakaian dinas loreng membalut tu b uh tegapnya. Namun sorot matanya yang biasa ta ja m layaknya elang kini terlihat kosong dan meredup.
Seluruh kepala di dalam aula serentak menoleh ke belakang.
Tiara melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer aula. Kain hijau seragam Persit membalut tu b uhnya dengan sangat pas. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya. Penampilan yang sangat berani dan men ab rak segala aturan kesederhanaan organisasi istri prajurit.
Ayu menatap lurus sosok suaminya di mimbar. Dada Ayu berdesir p e rih. Laki-laki gagah pujaan hatinya itu menatap Tiara seolah memandang seorang dewi penyelamat.
Sepuluh tahun pernikahan mereka mengukir banyak cerita. Sepuluh tahun pula Ayu menelan p i l penyubur, menahan ngilu j ar um su n tik program keha m ilan, hingga menelan mentah-mentah si n diran pedas Bu Desi setiap kali mertuanya itu berkunjung. Rumah besar mereka terlalu sepi tanpa tangisan b a y i.
Kehampaan di sudut hati Banyu itulah yang menjadi pintu masuk paling rapuh. Pintu yang dijebol paksa oleh Tiara sebulan yang lalu. Saat Banyu bertugas di luar kota, mantan kekasih masa lalunya itu datang menyusup. Tiara menawarkan p e l ukan hangat sekaligus menyisipkan rajah dan tanah kuburan di saat Banyu sedang lelah. Ilmu kotor akan bekerja sangat cepat menghancurkan akal sehat saat jiwa seorang manusia memiliki ruang kosong.
“Ibu Ayu, siapa perempuan itu?” Ibu Rina menahan lengan Ayu. Wajah istri Wakil Komandan itu terlihat sangat pias. “Kenapa dia berani memakai seragam kita?”
Bisik-bisik mulai meledak layaknya sarang lebah di seluruh penjuru aula. Ratusan pasang mata menatap Tiara dengan pandangan bertanya campur kesal.
“Tetap duduk tenang, Bu Rina,” ucap Ayu. Suaranya mengalir datar dan jernih tanpa getar sedikit pun.
Tiara kini sampai di depan mimbar. Banyu mengulurkan tangannya yang besar dan menggenggam jemari perempuan itu erat.
“Istri-istri sekalian.’ Banyu kembali berbicara di depan mikrofon. “Perkenalkan. Ini Tiara. Perempuan yang akan menggantikan tugas ….”
“Siap, interupsi, Komandan!”
Suara Ayu mem ot ong ta j am. Ia berdiri tegak dari kursi deretan terdepan. Postur tu b uhnya memancarkan wibawa murni yang tidak bisa dibe li dengan har ga berapa pun. Ratusan pasang mata kini beralih menatapnya. Aula mendadak sunyi senyap. Udara terasa menyusut ditarik oleh ketegangan.
“Duduk, Ayu,” geram Banyu. Rahangnya mengeras.
“Sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi kita, rapat ini bersifat tertutup.” Ayu melangkah pelan mendekati mimbar. Matanya menatap lurus ke arah panggung. “Rapat hanya boleh dihadiri oleh anggota sah. Saya minta izin bertanya pada perempuan di sebelah Komandan.”
Tiara tersenyum miring. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Banyu dengan manja. “Tanya saja, Mbak. Aku juga istri sah Mas Banyu sekarang. Aku berhak ada di sini.”
Terdengar pekikan kaget dari deretan kursi belakang. Ibu-ibu pengurus saling berpandangan tidak percaya. Istri sah? Komandan Batalyon mereka menikah lagi?
Ayu berhenti melangkah tepat dua meter di depan mimbar. Ia menatap Tiara dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Seragam hijau ini sangat pas di badanmu, Tiara,” puji Ayu dengan nada yang sangat tenang. “Kainnya bagus. Potongannya rapi. Kamu be li di mana?”
Tiara membusungkan da da. “Mas Banyu yang jahitkan khusus untukku Dia bilang aku jauh lebih cantik pakai baju ini daripada kamu.”
“Bagus sekali.” Ayu mengangguk pelan. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum yang sangat tipis. “Sebagai anggota Persit yang baru dijahitkan baju, kamu pasti sudah mengurus KTA. Kartu Tanda Anggota. Bisa tolong tunjukkan kartumu pada kami semua di sini sekarang?”
Tiara mematung seketika. Wajah cantiknya sedikit menegang. Matanya melirik panik ke arah Banyu. “KTA? Kartu apa? Mas Banyu belum buatkan untukku.”
“Belum buat?” Ayu memiringkan kepalanya. “Lalu surat nikah resmi dari Kantor Urusan Agama? Kartu Penunjukan Istri dari kesatuan? Kamu bawa dokumennya?”
“Aku … aku nikah siri! Tapi aku tetap istri suamimu!” Tiara membalas dengan suara melengking keras menutupi kegugupannya.
Ayu memalingkan wajah dari Tiara. Ia menatap dua orang Sersan Mayor yang berdiri berjaga di dekat pintu masuk aula.
“Provost!” panggil Ayu lantang.
“Siap, Ibu!” Dua tentara bersabuk putih itu langsung merespons dan berlari kecil mendekat dengan langkah tegap.

“Sesuai aturan keamanan militer, ada warga sipil menyusup ke acara internal angkatan darat. Dia memakai atribut resmi organisasi tanpa memegang dokumen sah.” Suara Ayu menggema jernih dan tegas membelah kesunyian. “Amankan perempuan ini. Bawa dia ke pos penjagaan depan sekarang juga.”
“Siap, laksanakan!” Dua tentara itu memutar tu b uh bersiap menangkap lengan Tiara.
“Berhenti!” Banyu membe n tak sangat keras hingga urat lehernya menyembul. Tangannya mengepal meninju mimbar kayu di depannya. “Dia istriku. Kalian berani menyentuhnya, kalian berhadapan langsung denganku.”
Langkah dua provost itu terhenti mendadak. Mereka menunduk bingung dan salah tingkah. Posisi mereka terjepit antara perintah aturan dari Nyonya Komandan dan kemarahan Komandan Batalyon mereka sendiri.
“Mas, usir perempuan sombong ini.” Tiara merengek manja. Ia bersembunyi di balik punggung lebar Banyu. “Dia sengaja mau mempermalukan aku di depan semua orang yang hadir di sini, Mas!”
Ayu melipat kedua tangannya di depan d a d a. Ia menatap mata suaminya lekat-lekat. Hati kecilnya menangis melihat pria yang sangat ia cintai itu berubah menjadi orang asing. Namun tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh ke pipinya. Hanya ada martabat yang berdiri sekokoh batu karang.
“Silakan lindungi dia, Komandan,” ucap Ayu. Nada bicaranya turun menjadi sangat dingin dan mem a t ikan. “Lindungi gu n d ikmu m a ti-ma t ian di depan seluruh prajurit dan anggota persit hari ini. Tapi sebelum kamu membawa dia keluar dari aula ini dengan bangga, tolong lepaskan dulu tanda pangkat bunga melati di pundakmu itu.”
Banyu menggeram marah seperti hewan bu as yang te rlu ka. Pria itu turun dari mimbar dengan dua langkah lebar mendekati Ayu. Tangannya yang besar dan ka s ar terangkat tinggi ke udara. Ia bersiap mena m par wajah istrinya sendiri di depan ratusan pasang mata yang menyaksikan.
Ayu tidak berkedip apalagi mundur. Ia mengangkat dagunya menantang.
“Pu k u l aku, Letkol Banyu.” Ayu berbisik sangat ta j am tepat saat telapak tangan suaminya siap melayang. “Puv k ul aku hari ini, dan aku pastikan berkas foto nikah sirimu yang sudah diamankan orang kepercayaanku akan langsung diletakkan di atas meja kerja Panglima Kodam siang ini juga.”
Tangan Banyu mendadak kaku berhenti di udara, sementara wajah Tiara di belakang punggungnya seketika berubah sepucat ma y a t.