Posted in

Rena buka pintunya! Kita harus bicara!” ucap Diana mengetuk-ngetuk kaca mobilku…

Rena buka pintunya! Kita harus bicara!” ucap Diana mengetuk-ngetuk kaca mobilku.

Sekilas aku menatapnya lewat kaca mobil yang masih tertutup. Rasa sa ki t itu kembali menyelinap di da da, melihat wanita yang selama ini kuanggap sahabat.

“Maaf, aku sudah muak melihat wajah pura-puramu, Din!” kataku dengan segera menyalakan mesin mobil dan pergi. Tanpa memperdulikan Diana yang meneriaki namaku.

“Ren … Rena! Jangan dulu pergi!”

Sekarang aku sudah membuat prinsip di dalam hidupku sendiri. Dan aku tidak akan menengok ke belakang, meskipun aku akan terlihat jahat di mata mereka!

Aku sudah cukup perduli kepada orang-orang yang kuanggap baik. Dan sekarang aku harus perduli kepada diriku sendiri!

***

Sesampainya di rumah, aku langsung mengemasi semua baju-baju Mas Dion ke dalam koper. Dan juga barang-barangnya yang tidak akan aku biarkan satu pun ada di dalam rumahku lagi!

“Bibi!” panggilku kepada Bi Siti—asisten rumah tangga yang sudah lima tahun bekerja di rumahku.

“Tok! Tok!”

Ketukan itu datang dari Bi Siti yang baru saja kupanggil.

“Masuk Bi!”

“Ya Bu, ada perlu apa panggil Bibi?” tanya Bi Siti setelah melangkah masuk ke dalam kamarku.

Kamar yang selama ini tidak pernah boleh dimasuki oleh siapapun. Mau itu Bi Siti apalagi Diana sahabatku sendiri. Hanya aku dan Mas Dion yang boleh masuk ke dalam kamar ini.

Namun, ternyata kamar ini tidak lebih dari lu ka, atas pengkhia natan Mas Dion dengan Diana yang tidak pernah kusangka sebelumnya.

“Bu, maaf. Kenapa Ibu malah diam?” tanya Bi Siti membuatku tersadar.

“Ya Bi, tolong bawa keluar semua koper-koper ini!” titahku sembari menoleh ke samping kiri untuk menghapus air mata yang menetes.

“Emmm … maaf Bu. Ini semua barang-barang Bapak. Ibu yakin mau Bibi bawa keluar?” tanya Bi Siti dengan hati-hati kepadaku.

“Saya bilang bawa keluar!” tegasku dengan gejolak emosi yang belum padam.

“Ba–ik Bu! Bibi bawa semuanya keluar,” balas Bi Siti dengan bergegas membawa koper berisi barang-barang Mas Dion keluar dari dalam kamarku.

Setelah Bi Siti keluar dengan koper berisi barang-barang Mas Dion. Baru di situ aku menghembuskan napas panjang, sembari memegang kepalaku.

“Huhhh!”

“Cukup! Jangan pikirkan Mas Dion lagi!” gumamku dengan berusaha keras menghilangkan semua ingatan tentang Mas Dion di kepalaku.

Semua sudut kamar ini, tidak satu pun lepas dari Mas Dion yang selalu bersikap manis kepadaku. Dan dari setiap ingatkan yang datang itu, rasanya menya kitkan.

Lebih sa ki t, mengingat jika selama ini, tangan yang melindungiku dan memelukku, ternyata bukan hanya untukku seorang. Mas Dion bagi juga cinta dan kehangatan itu kepada Diana—sahahat dekatku sendiri.

“Kenapa aku harus mencintai pria yang tidak pernah benar-benar memillihku? Hiks!” geramku dengan menarik selimut dan membuangnya ka sar.

***

Setelah beberapa saat mencoba untuk menenangkan diri. Aku kembali turun ke bawah, dengan wajah yang lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

“Ini semua yakin mau di bawa keluar, Bi?” tanya Mang Mamat kepada Bi Siti.

“Iya atuh, Mang. Ibu sendiri yang suruh bawa semuanya keluar,” ujar Bi Siti soraya menganggukan kepalanya.

“Tapi, ini semua kan koper Bapak,” balas Mang Mamat sembari menatap koper-koper di depannya.

“Ya itu, Bibi juga heran. Tiba-tiba saja Ibu minta Bibi untuk bawa keluar semua koper Bapak dari dalam kamar Ibu.”

“Apa yang sedang kalian bicarakan, hah?” tanyaku setelah beberapa saat mendengar pembicaraan Bi Siti dan Mang Mamat.

“Maaf Bu,” ucap Mang Mamat dan Bi Siti langsung menundukkan kepalanya, begitu menyadari keberadaanku.

Lantas, tatapanku beralih kepada koper-koper yang berada di teras depan rumah.

“Mang Mamat, masukkan semua koper-koper ini ke dalam mobil!” titahku dengan tegas.

“Baik Bu!”

Kulihat Mang Mamat segara memasukkan koper-koper itu ke dalam bagasi mobil. Dan kembali berjalan mendekat kepadaku.

“Bu, semua kopernya sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil,” ucap Mang Mamat melapor. “Jika Ibu mau berpergian, biar Mang Mamat antar.”

“Ya, antar saya ke rumah Diana, Pak!”

“Baik Bu!”

Sebelum masuk ke dalam mobil, aku lebih dulu menatap kepada Bi Siti.

“Bi, tolong jaga rumah baik-baik! Jangan biarkan siapapun masuk, tanpa izin dari saya!”

“Siap Bu.”

Dengan tekad yang sudah bulat. Aku tidak lagi menunda waktu, dengan langsung masuk ke dalam mobil.

Lima Belas Manit Kemudian.

Tok! Tok!

Kuketuk pintu rumah Diana, dengan berdiri tegak di depan pintu itu.

“Sebentar!” sahutnya dari dalam.

Dan tidak lama dari itu, pintu terbuka dengan menunjukan Diana yang senyumannya memudar.

“Ren–a … ayo masuk,” ucap Diana seketika terbata.

Tanpa banyak bicara, aku menatap Diana lekat.

“Mang Mamat, bawa semua kopernya ke dalam rumah!” titahku di depan Diana.

“Loh Ren, ini kamu ngapain bawa koper sebanyak ini?” seru Diana dengan kening mengernyit.

Aku tidak menjawab. Namun aku bertindak, dengan melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah Diana.

“Mas Dion!” panggilku sembari menatap setiap sudut di rumah itu.

“Tante Rena!” ucap Amel tiba-tiba datang dan berhembur ke dalam pelukanku.

Dengan susah payah aku menahan se sak, setelah melihat wajah anak berusia sembilan tahun ini.

Terlebih lagi, setelah tahu jika Amel adalah anak di luar nikah Mas Doin dan Diana. Pantes aja namanya Amelia Putri Diona, karena nama itu memperjelas status ayahnya.

Dan sayangnya aku terlalu bo do h! Sampai tidak menyadari petunjuk-petunjuk yang sudah lama terlihat.

“Tante ke sini mau ketemu Amel sama Mama, kan?” seru Amel dengan menengadah menatapku.

Aku masih diam.

Sampai akhirnya, aku melihat Mas Dion keluar dari dalam kamar yang sebelumnya Amel datang. Dan itu adalah kamar Diana.

Hati ini semakin sa ki t. Belum juga satu hari kami berce rai, Mas Dion sudah menunjukan siapa dia sebenarnya.

“Rena, kamu ke sini sayang?” tanya Mas Dion sembari berjalan mendekat kepadaku.

Tangan yang hendak memelukku itu. Langsung saja kutepis.

“Jaga batasanmu, Mas!”

“Ren … kanapa kamu seperti ini sih?”

“Kamu datang ke sini pasti mau bujuk Mas buat kembali rujuk, kan?” seru Mas Dion dengan kening mengernyit. “Tapi, kamu malah bersikap seperti ini sama Mas.”

Sejenak aku menghembuskan napas pelan, sembari menatap kepada Amel yang masih memelukku.

“Amel, masuk ke kamar sebentar ya? Pakai ipad ini, tapi gunakan earphone, oke?” kataku dengan menyerahkan ipad dari dalam tasku kepada Amel.

“Oke Tante!” balas Amel sembari kembali masuk ke dalam kamar.

Setelah di pastikan Amel masuk ke dalam kamar. Aku kembali menatap intens wajah Mas Dion, bersamaan dengan mendekatnya Diana.

“Mang Mamat, bawa semua kopernya ke sini!” titahku dengan tetap menatap wajah Mas Dion.

“Tunggu!” Mas Dion terlihat heran. “Koper?”

“Ini Bu kopernya,” ucap Mang Mamat dengan kembali keluar.

Aku tidak menjawab. Dan langsung mendorong koper itu ke hadapan Mas Doin.

“Silahkan ambil semua barang-barang Mas ini!” kataku dengan tegas. “Dan jangan pernah kembali ke rumahku lagi!”

“Hey! Apa yang kamu katakan, Ren?” sahut Mas Dion dengan emosi. “Itu rumah Mas! Dan Mas tidak mungkin keluar dari rumah itu!”

“Sekarang rumah itu sudah menjadi rumahku sepenuhnya! Mas hanya mendapatkan mobil. Dan itu dua puluh persen dari hata bersama kita!”

“Enggak bisa gitu, Ren! Mas masih mau bersamamu!”

“Please … jangan bersikap tidak adil seperti ini kepada Mas. Mas masih punya Amel dan Diana. Tanggung jawab Mas,” ucap Mas Dion sembari bersimbuh di kakiku.

“Tanggung jawab Mas, bukan tanggung jawabku!” tegasku dengan langsung berbalik badan.

“Ya, tapi setidaknya kamu ada sedikit belas kasian kepada mereka.”

“Sekarang aku tidak perduli, dengan apa yang Mas lakukan, dan apa yang Mas perbuat dengan Diana di belakangku!” kataku dengan teguh pendirian.

“Silahkan lanjutkan saja, hubungan yang kalian buat dengan pengkhia natan!”

“Satu lagi! Jangan pernah, tampakkan wajahmu lagi di hadapanku, Mas!”

Bersambung…

Lanjut baca ke aplikasi KBM ya!