Suamiku menal-akku di hari ke-14 pernikahan. Dia menuduhku membawa janin ha-ram, karena dokter bilang usia kehamilanku 4 minggu sementara pernikahan kami baru berjalan 2 minggu. Namun, setelah bayiku lahir–
PERMATA YANG KAU BUANG 5
Matahari baru saja merangkak naik, namun hawa panas sudah membakar ruang tamu rumahku. Sebuah mobil putih yang sangat kukenal terparkir congkak di halaman. Mas Fauzan tak datang sendiri. Dia membawa ibunya, Bu Mirna, dan adik perempuannya, Dinda, dalang pembuat onar.
Mereka bertiga berdiri di ruang tamu tanpa bersedia duduk, meski ibuku sudah mempersilakan. Wajah Bu Mirna ditekuk sinis, matanya memindai seisi rumah kami dengan tatapan merendahkan. Sementara Dinda bersedekap da-da sambil membuang muka.
“Tak perlu repot-repot bikin teh, Bu,” ucap Bu Mirna dengan nada dingin saat ibuku hendak melangkah ke dapur.
“Kami di sini tak akan lama. Hanya ingin menuntaskan urusan yang belum selesai.”
Bapak yang duduk di kursi tunggal menatap mereka dengan rahang mengeras. Beliau sudah mengenakan peci dan baju batik rapi, siap menghadapi tamu tak diundang ini demi mempertahankan kehormatanku.
“Silakan bicara, Bu Mirna. Ada urusan apa pagi-pagi datang ke rumah saya dengan wajah penuh amarah?” tanya Bapak tenang, meski aku tahu tangannya yang mencengkeram lengan kursi sedang menahan gemuruh di da-da.
Bu Mirna mendengkus.
“Saya datang untuk mengembalikan anak Bapak secara resmi. Dulu Bapak menyerahkannya baik-baik, sekarang saya kembalikan karena barangnya sudah ca-cat.”
“Jaga mulut Ibu!” Telingaku berdengung mendengar kata ‘ca-cat’. Aku melangkah maju, tapi tangan Ibu menahanku.
“Fakta, kan?” Dinda menyahut dengan senyum mengejek.
“Baru nikah dua minggu, eh pas periksa kehamilan usianya udah empat minggu. Itu namanya ca-cat moral, Mbak Hana! Untung Mas Fauzan cepat sadar kalau dia lagi dijebak buat jadi bapak tiri dari anak ha-ram!”
“Astagfirullahaladzim, Dinda!” Ibu berseru tertahan, air matanya menetes lagi.
Bapak berdiri perlahan. Beliau mengambil selembar kertas hasil cetakan dari atas meja, artikel kesehatan dari jurnal kedokteran yang sengaja Bapak minta tolong untukku cetak dari internet tadi.
“Bu Mirna, Nak Fauzan, dan Nak Dinda.”
Suara Bapak terdengar berat dan berwibawa. Beliau menyodorkan kertas itu ke arah Mas Fauzan, namun dia tak sudi menyentuhnya.
“Sebagai manusia yang beragama dan berpendidikan, tolong gunakan akal sehat kalian sebelum melempar fitnah keji. Baca ini. Ini penjelasan medis dari ahli kandungan, bukan karangan kami!”
Mas Fauzan memalingkan wajah, mencemooh.
“Saya tidak butuh artikel sampah dari internet, Pak. Dokter di klinik kemarin sudah mengonfirmasi kalau usianya empat minggu. Titik.”
“Lalu apakah dokter itu mengatakan Hana berz-ina?!” bentak Bapak, suaranya akhirnya meninggi.
“Tidak, kan?! Dokter pasti menjelaskan bahwa usia kehamilan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir! Bukan dari hari terjadinya pembuahan atau hari akad nikah! Haid terakhir Hana adalah sebulan yang lalu. Jelas secara hitungan medis usianya empat minggu! Bu Mirna, Anda ini seorang perempuan, pernah hamil dan melahirkan, masa Anda tidak paham hal dasar seperti ini?!”
Bu Mirna tertawa sumbang, sebuah tawa pongah yang membuat da-rahku mendidih.
“Pak Rahman, jangan bawa-bawa pengalaman saya untuk menutupi aib anak Bapak!” Bu Mirna menepis kertas di tangan Bapak hingga jatuh ke lantai.
“Saya memang perempuan, tapi waktu saya hamil Fauzan dulu, usianya pas dengan bulan pernikahan saya. Saya nggak sebo-doh itu untuk ditipu dengan istilah yang bapak sebutkan tadi. Itu cuma akal-akalan dokter zaman sekarang saja buat menenangkan pasien yang hamil di luar nikah!”
Aku ternganga. Kebod-ohan macam apa yang sedang kuhadapi ini?
“Bu, ilmu kedokteran itu pasti. Ibu bisa tanya dokter kandungan mana saja di rumah sakit bersalin tersibuk sekalipun, jawabannya akan sama!”
“Alah, banyak omong kamu, Mbak!” potong Dinda ketus. Dia mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, dan menunjukkannya tepat di wajah Bapak.
“Pak Rahman, lihat ini! Seminggu sebelum nikah, anak kesayangan Bapak ini asyik berduaan sama mantan pacarnya di kafe. Wajar dong kalau kami curiga? Jangan-jangan itu hasil perbuatan mereka, terus Mas Fauzan yang disuruh tanggung jawab!”
“Itu pertemuan tak sengaja, Dinda. Dulu aku sudah menjelaskannya padamu saat kita berpapasan di kafe itu!” sergahku nyalang.
“Tak sengaja kok matanya saling tatap mesra begitu? Halah, ngaku aja!” Dinda mencibir.
Bapak menatap layar ponsel itu sejenak, lalu menatap Fauzan.
“Hanya karena foto sedang duduk di kafe dan ketidaktahuan kalian soal ilmu kedokteran, kamu men-alak putriku, Fauzan? Kamu membuangnya di tengah malam?”

Mas Fauzan membusungkan da-da, merasa di atas angin.
“Saya hanya melindungi martabat keluarga saya, Pak. Saya tidak mau membesarkan anak dari laki-laki lain.”
Ruang tamu itu hening mencek-am. Bapak menunduk menatap kertas artikel medis yang terinj-ak sepatu mahal Bu Mirna. Aku bisa melihat bahu renta Bapak naik turun. Aku bersiap jika Bapak terkena serangan jantung lagi, namun yang terjadi justru di luar dugaanku.
Bapak tersenyum. Sebuah senyum getir yang penuh dengan rasa iba. Bukan iba pada kami, tapi iba pada keluarga di hadapannya ini.
“Ambil kertas itu, Hana,” perintah Bapak pelan. Aku menuruti, memungut kertas itu dan berdiri di samping Bapak.
Bapak menatap Bu Mirna, Dinda, dan Mas Fauzan bergantian dengan sorot mata tajam yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Saya tadinya berharap kedatangan kalian ke sini untuk meminta maaf karena salah paham. Tapi ternyata, saya salah. Kesombongan dan dengki sudah menutup rapat mata, telinga, dan hati kalian,” ucap Bapak dengan nada luar biasa tenang yang justru mengintimidasi.
“Pak Rahman ngatain kami sombong?!” Bu Mirna melotot tak terima.
“Cukup!” Bapak mengangkat tangan kirinya, membun-gkam mulut Bu Mirna.
“Hari ini, saya, Rahman Hidayat, menerima kembali putri saya dengan rasa syukur. Syukur karena Allah memisahkan Hana dari keluarga yang miskin ilmu dan miskin adab seperti kalian dengan cara yang begitu cepat.”
“Bapak!” Fauzan menggeram maju, tapi Bapak tak gentar.
“Pulanglah kalian!” titah Bapak lantang sambil menunjuk pintu terbuka.
“Kalian menolak ilmu medis. Kalian menolak akal sehat. Silakan pelihara kebo-dohan itu. Tapi ingat kata-kata saya hari ini! Saat anak itu lahir nanti, dan wajahnya mencetak jelas perawakan Fauzan, jangan harap kalian bisa menyentuh sehelai pun rambut cucu saya!”
Bu Mirna mendengkus kasar, menarik tangan Dinda dan Fauzan.
“Ayo kita pulang! Najis lama-lama di rumah orang yang hobi memutarbalikkan fakta. Sampai kiamat pun saya nggak sudi punya cucu ha-ram dari perut perempuan itu!”
Mereka bertiga berbalik, melangkah keluar dengan langkah angkuh. Mas Fauzan sempat menoleh menatapku, matanya memancarkan kepuasan seolah dia adalah pemenang.
‘Tunggu saja, Mas. Pemenang sesungguhnya tak pernah merayakan kemenangan di awal.’