Aku ditinggalkan suamiku di kereta saat aku tertidur—jadi aku membeli tiket pulang, bukan untuk mengejarnya, melainkan untuk mengakhiri pernikahan yang sebenarnya sudah lama dia tinggalkan.

Aku ditinggalkan suamiku di kereta saat aku tertidur—jadi aku membeli tiket pulang, bukan untuk mengejarnya, melainkan untuk mengakhiri pernikahan yang sebenarnya sudah lama dia tinggalkan.

Aku terbangun di dalam kereta dan suamiku sudah tidak ada di kursi sebelahku.

Tasnya hilang. Jaketnya hilang. Tidak ada tanda-tanda kalau dia pernah duduk di sana.

Yang tersisa hanya satu pesan di ponselku:

“Aku turun duluan. Urus dirimu sendiri.”

Aku membaca pesan itu berulang kali sementara jemariku perlahan terasa dingin.

Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis.

Aku hanya memanggil kondektur dan berkata, “Tolong belikan saya tiket baru.”

Dia bertanya, “Tujuan Ibu ke mana?”

Aku menatap jendela kereta yang mulai gelap.

“Pulang,” jawabku pelan. “Untuk bercerai.”

Semua ini bermula dari sebuah kamar hotel.

Sudah tiga tahun aku menikah dengan Carlo, dan itu seharusnya menjadi liburan pertama kami setelah berbulan-bulan dipenuhi pekerjaan, tagihan, dan pertengkaran dingin di rumah.

Aku yang memesan semuanya.

Tiket kereta dari Jakarta ke Bandung. Hotel dekat Jalan Braga. Itinerary. Tempat makan. Tempat wisata. Bahkan daftar pakaian yang harus dibawa pun aku yang membuatnya.

Satu-satunya hal yang dilakukan Carlo hanyalah melihat foto hotel di ponselku lalu mendecih.

“Kecil banget kamarnya.”

Aku menarik napas panjang.
“Dekat pusat kota. Review-nya bagus. Harganya juga masih masuk budget.”

“Budget lagi?” katanya dingin.
“Liburan kok masih pelit.”

“Kalau nggak suka, ya pesan sendiri.”

Dia menatapku seolah aku yang memalukan.

“Terserah. Kamu memang paling suka ngatur semuanya.”

Setelah mengatakan itu, dia memalingkan wajah ke jendela kereta dan memakai earphone.

Di situlah keheningan dimulai.

Dan itu bukan keheningan baru.

Aku sudah sangat mengenalnya.

Keheningan yang dia gunakan setiap kali ingin membuatku merasa semua adalah salahku.

Saat aku pernah membeli merek kopi yang salah, dia tidak bicara padaku semalaman.

Saat aku pulang terlambat karena lembur, dia tidur di sofa lalu berkata, “Aku nggak bilang apa-apa kok.”

Saat ulang tahun ibuku dan aku tidak ikut dia minum bersama teman-temannya, dia memperlakukanku seperti udara selama tiga hari.

Aku selalu jadi orang pertama yang meminta maaf.

Bahkan ketika aku sendiri tidak tahu kesalahanku apa.

Karena merendah terasa lebih mudah daripada berbicara dengan tembok.

Tapi hari itu, di dalam kereta, aku benar-benar lelah.

Aku membiarkannya melihat ke luar jendela.
Aku membiarkannya berpura-pura aku tidak ada.

Aku menyandarkan kepala dan memejamkan mata.

Kereta ramai.

Ada anak kecil menangis di belakang.
Ada pasangan muda tertawa di seberang kursi.
Ada penjual minuman lewat.
Suara pengumuman stasiun terus terdengar dari speaker.

Kupikir aku hanya tertidur sebentar.

Namun saat membuka mata, cahaya di dalam kereta sudah berubah.

Hari sudah sore.

Gerbong hampir kosong.

Dan kursi di sebelahku… kosong.

Aku langsung tersentak.

“Carlo?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengambil ponselku.
Jam menunjukkan pukul 17.40.

Seharusnya kami turun pukul 15.30.

Aku sudah melewati empat stasiun.

Ada satu pesan belum dibaca.

Dari Carlo.

“Aku turun duluan. Urus dirimu sendiri.”

Aku menatap layar itu lama sekali, tapi otakku seperti menolak memahami kata-kata tersebut.

Dia tidak membangunkanku.

Dia bahkan tidak menyentuh pundakku.

Dia tidak memberi tahu petugas kalau istrinya masih tertidur.

Dia turun sendirian.

Meninggalkanku di kereta seperti koper yang sudah tidak ingin dia bawa lagi.

Seorang petugas wanita menghampiriku sambil membawa troli makanan kecil.

“Ibu, kenapa masih di sini? Tujuan Ibu sudah lewat.”

Aku berdiri dengan lutut gemetar.

“Maaf… saya ketiduran.”

“Ibu harus turun di stasiun berikutnya lalu bayar selisih tiket dan beli tiket kembali.”

Aku mengangguk.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku menurunkan koper dari rak atas.

Koper itu berat.

Karena sebagian besar isinya adalah barang Carlo.

Baju Carlo.
Charger Carlo.
Peralatan mandi Carlo.
Sepatu favorit Carlo yang bahkan dia sendiri mengingatkanku untuk membawanya.

Aku yang mengepak semuanya.

Dan dia… bahkan lupa membawa istrinya sendiri.

Saat tiba di stasiun berikutnya, aku turun.

Stasiunnya kecil.
Hampir tidak ada orang.
Hanya beberapa penumpang terburu-buru, kios kopi kecil, dan satpam yang mengantuk di pintu masuk.

Aku menuju loket tiket.

Petugas kasir melihat tiketku lalu menatapku.

“Kelewatan stasiun ya, Bu?”

“Iya.”

“Ibu harus bayar selisih tarif dan tiket balik. Totalnya satu juta rupiah.”

Aku menyerahkan kartu debitku.

Entah kenapa, saat mendengar jumlah itu, aku tidak merasa rugi.

Tiga tahun aku memendam semuanya jauh lebih mahal daripada itu.

Setiap malam ketika aku yang selalu meminta maaf lebih mahal daripada itu.

Setiap menit ketika aku berusaha menjadi istri baik untuk pria yang bahkan tidak membangunkanku sebelum turun dari kereta jauh lebih mahal daripada itu.

“Ibu pulang ke Jakarta?” tanya kasir sambil menyerahkan tiket baru.

“Iya.”

“Kereta berikutnya jam 19.50.”

Masih ada lebih dari dua jam untuk menunggu.

Aku keluar dari stasiun lalu duduk di bangku semen di plaza kecil depan sana.

Langit mulai gelap.
Ada tukang cilok di pinggir jalan.
Ada mahasiswa berjalan sambil tertawa.
Ada ojek online lalu-lalang.

Aku membuka ponsel.

Tiga panggilan tak terjawab dari Carlo.

Pesannya berturut-turut masuk.

“Kamu di mana?”

“Kenapa nggak jawab?”

“Drama lagi?”

Beberapa menit kemudian, satu pesan lagi masuk.

“Ya udah. Aku salah. Pulang aja.”

Aku menatap pesan terakhir itu.

Dia salah?

Salah di bagian mana?

Dia tidak pernah menjelaskan.

Karena bagi Carlo, kalimat “aku salah” bukan pengakuan.

Itu cuma kunci.

Kunci supaya aku kembali seperti dulu.

Supaya aku memaafkannya meski dia tidak benar-benar mengerti apa yang dia lakukan.

Supaya aku lagi yang membereskan kekacauan yang dia buat.

Aku mematikan ponsel.

Saat kereta menuju Jakarta datang, gerbongnya hampir kosong.

Aku duduk di dekat jendela, menaruh koper di kakiku, dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama… aku tidak memikirkan apakah Carlo marah atau tidak.

Aku hanya memikirkan di mana aku menyimpan surat nikah kami.

Saat tiba di apartemen kami di kawasan Sudirman, Jakarta, jam sudah hampir sebelas malam.

Koridor apartemen sunyi.

Aku membuka pintu dengan kunciku sendiri.

Kupikir Carlo akan menyambutku.
Kupikir aku akan melihatnya duduk di sofa, cemberut, siap mengatakan kalau aku yang berlebihan.

Tapi begitu masuk… aku mendengar suara wanita dari dapur.

Lembut.
Manja.
Dan sangat familiar.

“Carlo, nggak usah khawatir. Kalau dia nggak pulang malam ini malah bagus. Berarti dia memang udah nggak hormat sama kamu.”

Tubuhku langsung membeku di depan pintu.

Lalu aku mendengar jawaban suamiku.

“Biarin aja. Aku juga capek pura-pura masih cinta sama dia.”

Tiket kereta di tanganku jatuh ke lantai.

Dan saat suara kertas itu terdengar…

mereka berdua langsung menoleh ke arahku…

…read more in comments👇👇

Carlo langsung berdiri begitu melihatku.

Wajahnya pucat.

Sementara wanita di sampingnya—Vanessa, rekan kerjanya yang selama ini selalu dia bilang “cuma teman kantor”—perlahan melepaskan tangan dari lengannya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Yang terdengar hanya suara AC dan detak jantungku sendiri.

Carlo yang pertama membuka mulut.

“Kenapa kamu pulang?”

Aku hampir tertawa.

Pulang?

Ini rumahku juga.

Aku menatap meja dapur.

Ada dua gelas wine.
Makanan delivery.
Lilin kecil menyala di tengah meja.

Mereka bahkan sedang makan malam bersama.

Di rumah kami.

Di malam saat dia meninggalkanku sendirian di kereta.

Vanessa berdiri perlahan lalu merapikan rambutnya.

“Saya rasa… saya sebaiknya pulang.”

Tapi sebelum dia sempat melangkah, aku berbicara pelan.

“Duduk saja.”

Mereka berdua menatapku.

Aku melepas sepatu.
Menaruh koper di dekat pintu.

Lalu berjalan masuk dengan tenang.

Aneh sekali.

Aku pikir aku akan marah besar.
Menangis.
Berteriak.

Tapi tidak.

Yang tersisa cuma lelah.

Lelah mempertahankan sesuatu yang ternyata sudah lama mati.

Carlo mendekat.

“Kamu salah paham.”

Aku mengangguk kecil.

“Tentu.”

“Vanessa cuma nemenin aku ngobrol.”

“Di rumah kita?”

Dia terdiam.

Aku menatapnya lama sekali.

Pria yang dulu kupercaya lebih dari siapa pun.

Pria yang dulu rela kutunggu pulang meski larut malam.
Yang kubela di depan keluargaku.
Yang kubantu bayar utang bisnisnya saat usahanya bangkrut dua tahun lalu.

Dan pria itu… meninggalkanku tidur sendirian di kereta.

Bahkan tanpa rasa bersalah.

Aku mengeluarkan map bening dari dalam tas.

Di dalamnya ada surat nikah kami.

Aku meletakkannya di meja.

Carlo langsung berubah ekspresi.

“Kamu mau apa?”

“Aku capek, Carlo.”

“Audrey—”

“Aku capek selalu jadi orang yang memperbaiki semuanya sendirian.”

Suaraku tenang.

Terlalu tenang.

Dan justru itu yang membuat Carlo mulai panik.

Dia menarik kursi.

“Maksud kamu apa?”

Aku tersenyum kecil.

“Aku mau cerai.”

Vanessa langsung menunduk.

Sedangkan Carlo tertawa pendek seolah aku bercanda.

“Hanya karena masalah kereta?”

Akhirnya aku menatap matanya langsung.

“Bukan karena kereta.”

“Kereta itu cuma hari pertama aku sadar… kalau ternyata aku sudah lama ditinggalkan.”

Wajahnya perlahan berubah.

Aku melanjutkan:

“Orang yang mencintai istrinya tidak akan turun sendiri lalu membiarkan istrinya tertidur sendirian.”

“Orang yang mencintai istrinya tidak akan diam saat istrinya menangis sendirian di kamar mandi.”

“Dan orang yang mencintai istrinya… tidak akan makan malam romantis dengan wanita lain beberapa jam setelah meninggalkan istrinya.”

Ruangan langsung sunyi.

Carlo mengusap wajahnya kasar.

“Kamu terlalu membesar-besarkan semuanya.”

Kalimat itu.

Kalimat yang selalu dia pakai.

Saat dia menyakitiku.
Saat dia mengabaikanku.
Saat dia membuatku merasa kecil.

Tapi malam itu berbeda.

Karena untuk pertama kalinya… aku tidak percaya lagi padanya.

Aku mengeluarkan ponsel lalu memutar voice recording.

Suara Carlo langsung memenuhi dapur:

“Aku juga capek pura-pura masih cinta sama dia.”

Wajah Carlo langsung pucat.

Vanessa membelalak.

“Audrey, aku bisa jelasin—”

“Tidak perlu.”

Aku mematikan rekamannya.

“Terima kasih malah.”

Dia mengernyit.

“Apa?”

“Karena akhirnya kamu jujur.”

Mataku mulai panas, tapi kali ini aku tidak membiarkan air mata jatuh.

“Aku habiskan tiga tahun mencoba menjadi istri yang cukup baik supaya dicintai.”

“Ternyata masalahnya bukan aku yang kurang.”

“Memang kamu yang sudah berhenti mencintaiku.”

Carlo tiba-tiba meraih tanganku.

“Audrey, dengar— aku lagi stres. Bisnis kantor kacau. Aku cuma…”

Aku menarik tanganku perlahan.

“Dulu aku pasti akan memaafkanmu lagi.”

“Dulu aku pasti berpikir kalau aku cuma harus lebih sabar.”

Aku menatap koper besar yang masih berdiri di dekat pintu.

Koper yang penuh barang-barangnya.

Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu.

Bahkan di perjalanan terakhir kami sebagai suami istri…

Aku masih membawa beban miliknya.

Bukan milikku.

Aku mendorong koper itu ke arahnya.

“Barangmu masih lengkap.”

Carlo menatapku bingung.

“Apa maksudmu?”

“Aku yang pergi.”

Dia langsung panik.

“Kamu nggak serius.”

Aku mengambil dompet dan beberapa dokumen penting dari laci.

“Aku serius.”

“Audrey.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar takut.

Takut kehilangan.

Tapi lucunya…

Bukan karena cinta.

Melainkan karena akhirnya dia sadar aku benar-benar berhenti bertahan.

Saat aku berjalan menuju pintu, Carlo tiba-tiba berkata lirih:

“Aku nggak pernah selingkuh.”

Aku berhenti sebentar.

Lalu menoleh sambil tersenyum tipis.

“Meninggalkan pasanganmu sendirian sampai merasa tidak dicintai juga bentuk pengkhianatan, Carlo.”

Dan setelah mengatakan itu…

Aku keluar dari apartemen.

Udara malam Jakarta terasa dingin.

Lift perlahan tertutup di depanku.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku tidak merasa ditinggalkan.

Aku merasa bebas.