Hujan turun sepanjang hari di Jakarta.
Setiap tetes hujan menghantam keras kaca apartemenku di lantai dua belas, membuat lipstik baru yang kupakai terasa ikut membeku di bibirku.
Hampir tujuh jam aku duduk di depan cermin.
Mulai dari memilih eyeshadow, menata rambut, sampai mencoba tiga gaun putih yang berbeda.
Hari ini adalah hari pernikahan sipilku dengan Adrian Wijaya.
Pria yang kucintai sejak masa kuliah.
Dan pria yang sangat dipercaya oleh seluruh keluargaku.
Ibuku bahkan pernah berkata:
— Kalau kamu menikah dengan Adrian, hidupmu pasti akan tenang.
Karena ayahku ingin keluarga pihak pria “menghormatiku”, beliau memutuskan memberi hadiah pernikahan sebesar Rp1,5 miliar.
Bahkan aku sendiri merasa jumlah itu terlalu besar.
Tapi Ayah hanya tersenyum.
— Putriku pantas mendapatkannya.
Aku baru saja hendak memasukkan KTP ke dalam tas ketika tiba-tiba muncul tulisan aneh di depan mataku.
【Jangan bawa KTP-mu ke kantor catatan sipil!】
Aku tersentak kaget.
Hampir saja kartu identitasku jatuh dari tangan.
Setelah itu, komentar-komentar lain mulai bermunculan di udara.
【Tunanganmu sudah berselingkuh dengan sahabatmu hampir satu tahun!】
【Dia menikahimu hanya untuk mendapatkan Rp1,5 miliar dari ayahmu!】
【Setelah menikah, uang itu akan dipakai membeli villa di Bali atas nama selingkuhannya!】
Tubuhku terasa seperti disiram air es.
Sahabatku?
Mustahil.
Aku dan Nicole Santoso sudah berteman sejak umur lima tahun.
Dia sering tidur di rumahku, makan bersama keluargaku, bahkan saat ibunya sakit, aku diam-diam membayar uang kuliahnya.
Nicole juga yang akan menjadi maid of honor-ku hari ini.
Aku menatap pantulan diriku di cermin.
Makeup-ku sempurna.
Gaun putihku bersih.
Tapi mataku memerah karena kurang tidur.
Aku tersenyum pahit.
Mungkin aku hanya terlalu stres.
Tepat saat itu Adrian mengirim pesan.
“Sayang, aku sudah di depan Kantor Catatan Sipil. Aku juga beli es campur favoritmu.”
Ada foto yang ikut dikirim.
Semangkuk es campur warna-warni di atas kap mobil hitam Toyota Fortuner miliknya.
Aku menatap foto itu.
Hatiku sedikit melunak.
Dulu aku pernah hampir dirampok di luar kampus.
Adrian yang melindungiku dan menerima pukulan untukku.
Bahkan bahunya sempat terluka.
Bagaimana mungkin pria seperti itu tega mengkhianatiku?
Aku menarik napas panjang.
Kembali menggenggam KTP untuk dimasukkan ke tas.
Namun tepat saat itu—
【Kalau kamu masih belum percaya, lihat jam tanganmu.】
Aku membeku.
Itu Rolex yang diberikan Adrian saat melamarku.
Katanya dia lembur hampir sepuluh bulan untuk membelinya.
【Buka bagian belakang jam itu.】
Tanganku mulai gemetar.
Aku sendiri tidak tahu kenapa… tapi aku menuruti suara itu.
Pelan-pelan kubuka bagian belakang jam menggunakan kuku.
Selembar kertas kecil jatuh ke lantai.
Kupungut kertas itu.
Ternyata struk pegadaian.
Nama pemilik barang…
Adrian Wijaya.
Dan tanggalnya…
tiga bulan lalu.
Dunia terasa berhenti berputar.
Berarti…
Rolex yang kupakai palsu?
【Rolex asli milikmu sekarang ada di tangan Nicole.】
【Adrian sudah lama menukarnya.】
Tenggorokanku terasa tercekat.
Dan pada saat itu juga, sebuah foto lain muncul di depanku.
Nicole sedang duduk di pangkuan Adrian di sebuah bar mewah di Jakarta Selatan.
Dan di pergelangan tangan Nicole…
ada Rolex asliku.
2
Hujan turun semakin deras.
Hampir sepuluh menit aku berdiri di area parkir bawah apartemen sambil kesulitan bernapas.
Ponselku terus bergetar.
“Sayang, kamu sudah dekat?”
“Mama dan Papa juga sudah menunggu.”
“Jangan bikin aku malu.”
Aku menatap pesan terakhir itu lama sekali.
Jangan bikin aku malu.
Sejak pacaran dengan Adrian…
aku selalu menjadi pihak yang mengalah.
Dia tidak suka makanan berbau tajam.
Karena itu aku berhenti makan terasi favoritku.
Dia tidak suka pakaian pendek.
Aku mengganti seluruh isi lemariku.
Dia bilang perempuan seharusnya lebih memprioritaskan keluarga daripada karier.
Aku bahkan menolak kesempatan training di Singapura demi dirinya.
Dulu aku mengira…
itulah cinta.
Sampai hari ini.
Aku menatap hujan gelap di balik kaca mobil.
Hanya satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.
Bagaimana kalau semua itu benar?
【Berhenti menangis.】
【Kalau ingin tahu kebenarannya, datanglah ke sana.】
【Tapi jangan bawa KTP-mu.】
Aku menggenggam setir erat-erat.
Dan akhirnya…
aku meninggalkan KTP-ku di apartemen.
Lalu mengambil kamera kecil yang dulu kupakai untuk livestreaming.
Setelah itu aku langsung pergi menuju Kantor Catatan Sipil.
3
Di depan Kantor Catatan Sipil Jakarta.
Adrian berdiri di samping mobilnya.
Nicole ada di sebelahnya.
Dia sedang mengusap air hujan di kerah Adrian menggunakan tisu.
Gerakannya begitu alami…
sampai rasanya seperti pisau yang menusuk dadaku.
Begitu aku turun dari mobil, Adrian langsung mengernyit.
— Kamu tahu nggak kalau kamu telat tiga puluh menit?
— Kamu masih mau lanjut nikah ini atau nggak?
Nicole buru-buru mendekat.
— Adri, jangan marah dong. Hari ini kan hari spesial.
Nada suaranya lembut…
dan menjijikkan di telingaku.
Pandanganku turun ke high heels yang dipakainya.
Limited edition.
Harganya hampir Rp60 juta.
Pegawai kantoran dengan gaji Rp6 juta per bulan…
dari mana dia mendapat uang sebanyak itu?
Perlahan aku melihat pergelangan tangannya.
Di sana ada Rolex asliku.
Tanganku langsung dingin.
Saat Nicole sadar aku melihat jam itu, dia cepat-cepat menarik lengan bajunya untuk menutupinya.
Dan di detik itu…
aku benar-benar percaya pada semua tulisan yang muncul tadi.
Adrian mendekat ingin menggenggam tanganku.
— Ayo masuk saja.
Aku mundur satu langkah.
— KTP-ku ketinggalan.
Suasana langsung sunyi.
Nicole yang pertama kali pucat.
Adrian menatapku tajam.
— Apa katamu?
Dengan tenang aku mengulanginya.
— Aku nggak bawa KTP.
Urat di dahinya langsung terlihat.
— Samantha, kamu bercanda?
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun…
dia memanggilku dengan nama lengkapku.
Aku tersenyum dingin.
— Kalau nggak jadi hari ini, bisa lain kali.
Tiba-tiba dia merampas tasku.
— Kamu nggak mungkin lupa barang sepenting itu!
— Kasih tasmu!
Aku mencoba mempertahankannya.
Tapi tenaganya lebih kuat.
Tasku jatuh ke lantai.
Lipstik, foundation, dan parfum berserakan.
Parfum limited edition-ku bahkan pecah di jalanan beton.
Nicole sempat tersenyum tipis.
Dan aku melihatnya dengan jelas.
Di detik itu…
hatiku seperti dihancurkan.
Pria yang paling kucintai.
Dan perempuan yang paling kupercaya.
Ternyata sama-sama mengkhianatiku.
Adrian berlutut membongkar isi tasku.
Saat dia tidak menemukan KTP, tatapannya berubah menyeramkan.
— Samantha.
— Kamu sengaja melakukan ini, kan?
Aku belum sempat menjawab…
tiba-tiba ponsel Nicole berbunyi.
Dia panik dan buru-buru ingin mematikannya.
Tapi aku sudah melihat nama di layar.
“Bali Villa Agent.”
Wajah Adrian langsung berubah.
Nicole cepat-cepat menjauh untuk menerima telepon itu.
Namun tepat pada saat itu…
kamera kecil yang kusembunyikan di mobil Adrian mengirim notifikasi.
Layar ponselku menyala.
Dan sebuah rekaman audio otomatis diputar.
Suara Nicole terdengar gemetar dari speaker.
— Kamu yakin dia nggak curiga?
Lalu terdengar suara Adrian yang dingin.
— Kalau pernikahan hari ini jadi, Rp1,5 miliar akan masuk ke rekeningnya.
— Setelah itu aku akan paksa Samantha resign dari pekerjaannya.
— Villa itu akan kuberi atas namamu…
— dan Samantha…
— akan kerja seumur hidup untuk menghidupiku.
Saat rekaman itu menggema di depan Kantor Catatan Sipil…
wajah Nicole langsung pucat pasi.
Dan Adrian perlahan menoleh ke arahku.
Untuk pertama kalinya…
aku melihat ketakutan nyata di matanya.
Lalu…
dia berjalan cepat ke arahku.
— Samantha, kasih ponselmu sekarang!

4
Hujan turun semakin deras.
Orang-orang di depan Kantor Catatan Sipil mulai berbisik satu sama lain setelah mendengar rekaman itu.
Beberapa bahkan diam-diam mengangkat ponsel mereka dan merekam wajah Adrian dan Nicole yang sudah pucat pasi.
Adrian berjalan cepat ke arahku.
Matanya penuh amarah.
— Samantha, kasih ponselmu sekarang!
Aku mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku tidak takut padanya.
— Kenapa? Takut semua orang tahu siapa kamu sebenarnya?
Rahang Adrian mengeras.
— Aku bisa jelaskan semuanya.
Aku tertawa pelan.
Tawa yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.
— Jelaskan apa?
— Bahwa kamu menjual Rolex yang kamu bilang dibeli dari hasil lembur?
— Atau menjelaskan bagaimana kamu dan sahabatku merencanakan hidupku seperti mesin ATM?
Nicole buru-buru mendekat.
Air matanya langsung jatuh.
Cepat sekali.
Seperti aktris yang sudah latihan berkali-kali.
— Samantha… dengarkan dulu…
— Aku nggak sengaja jatuh cinta sama Adrian…
Tubuhku langsung dingin.
“Nggak sengaja.”
Kalimat paling kejam yang sering dipakai pengkhianat.
Aku menatapnya lama.
Lalu tersenyum pahit.
— Kamu tahu nggak, Nicole?
— Waktu ibumu sakit, aku yang diam-diam bayar biaya rumah sakitnya.
— Waktu kamu hampir DO kuliah, aku yang memohon ke ayahku supaya membantumu.
— Bahkan gaun yang kamu pakai hari ini… aku yang membelikannya.
Nicole langsung menangis lebih keras.
Tapi kali ini…
tak ada seorang pun yang terlihat iba padanya.
Karena di layar ponselku, rekaman lain mulai otomatis diputar.
Suara Adrian terdengar jelas.
— Samantha itu terlalu bodoh.
— Dia percaya semua yang aku bilang.
Lalu suara Nicole tertawa kecil.
— Yang penting setelah nikah, uang ayahnya masuk dulu.
— Setelah itu kita tinggal pindah ke Bali.
Suasana langsung gempar.
Ibuku yang baru datang bersama Ayah berdiri membeku di bawah payung hitam mereka.
Wajah Ayah berubah merah karena marah.
Beliau berjalan mendekat lalu menatap Adrian dengan dingin.
— Jadi selama ini… kamu mendekati putriku demi uang?
Adrian langsung panik.
— Om, ini salah paham—
“PLAK!”
Suara tamparan Ayah menggema di tengah hujan.
Semua orang terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku melihat Adrian kehilangan harga dirinya di depan banyak orang.
Ayah menunjuk wajahnya.
— Kamu bahkan tidak pantas menyebut nama putriku.
Nicole mencoba menarik lengan Adrian.
— Adri… ayo pergi dulu…
Tapi Adrian justru menepis tangannya.
— Diam kamu!
Wajah Nicole langsung berubah.
Dan di detik itu juga…
aku sadar.
Hubungan mereka tidak dibangun dari cinta.
Hanya keserakahan.
Hanya nafsu.
Dan dua orang egois seperti itu pada akhirnya pasti akan saling menghancurkan.
Aku membungkuk perlahan.
Mengambil cincin tunangan dari jariku.
Cincin yang dulu kupikir adalah simbol masa depan.
Padahal sebenarnya hanya rantai yang mengikatku pada rasa sakit.
Aku meletakkan cincin itu di tangan Adrian.
— Pernikahan ini batal.
— Dan mulai hari ini…
— aku harap kita tidak pernah bertemu lagi.
Wajah Adrian langsung panik.
Benar-benar panik.
Karena baru sekarang dia sadar…
yang akan hilang bukan hanya uang Rp1,5 miliar.
Tapi juga seseorang yang selama ini selalu memaafkannya.
Dia mencoba memegang tanganku.
— Samantha, tunggu…
— Aku salah…
— Aku cuma bingung waktu itu…
Aku menatapnya tenang.
Aneh sekali.
Pria yang dulu begitu kucintai…
sekarang terasa seperti orang asing.
— Tidak, Adrian.
— Kamu bukan bingung.
— Kamu hanya yakin aku tidak akan pernah pergi.
Air matanya akhirnya jatuh.
Tapi sudah terlambat.
Aku berbalik meninggalkan mereka.
Tumit high heels-ku membelah genangan air hujan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku merasa benar-benar bebas.
Di belakangku, terdengar suara Nicole berteriak histeris karena Adrian menyalahkannya di depan semua orang.
Terdengar juga suara wartawan yang mulai berdatangan setelah video rekaman itu tersebar di media sosial.
Dalam satu malam…
semua topeng mereka hancur.
Sedangkan aku…
masuk kembali ke mobilku.
Kupandangi wajahku di kaca spion.
Mascara-ku sedikit luntur.
Lipstikku memudar.
Tapi mataku…
akhirnya hidup kembali.
Aku menyalakan mesin mobil perlahan.
Lalu tersenyum kecil pada diriku sendiri.
Hari itu…
aku memang datang untuk menikah.
Tapi ternyata…
yang benar-benar kuselamatkan adalah hidupku sendiri.