AKU DISKORS KERJA HANYA KARENA ES KRIM MANGGA SEHARGA 12 RIBU RUPIAH
Seluruh media sosial di Indonesia menyebutku perawat tak bertanggung jawab hanya karena aku meninggalkan IGD selama lima menit…
Sampai suatu malam, rumah sakit swasta paling mahal di Jakarta memanggil namaku.
01
Namaku Marianne Pratama.
Selama sembilan tahun, aku menjadi head nurse di Departemen Gawat Darurat Rumah Sakit Umum terbesar di Jakarta Timur.
Ada malam-malam ketika kakiku mati rasa karena berdiri terlalu lama di IGD, sambil memakan bekal dingin lewat tengah malam.
Tapi hanya karena aku turun membeli es krim mangga di Indomaret seharga dua belas ribu rupiah…
aku direkam oleh keluarga pasien dan langsung dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.
Direktur rumah sakit menghantam meja dengan keras.
— Marianne, kamu mempermalukan rumah sakit ini!
Aku menatap es krim yang mulai meleleh di tanganku, lalu perlahan melepas ID card dan meletakkannya di hadapannya.
Sepuluh hari setelah itu—
aku berada di rumah sakit swasta paling mewah di kawasan SCBD Jakarta.
Biaya satu malam di ruang VIP setara gaji beberapa bulan orang biasa.
Dan pria yang dulu melaporkanku…
kini berlutut di luar ruang ICU.
Sementara aku—
sedang menikmati es krim mangga keduaku.
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu.
Angin badai menghantam jendela IGD seperti ingin memecahkan seluruh bangunan.
Ruang gawat darurat penuh sesak.
Kecelakaan beruntun di Tol Dalam Kota.
Kebakaran di Tambora.
Dua pasien stroke.
Dan seorang anak kecil dengan demam berdarah kritis.
Aku berlari ke sana kemari di antara suara monitor dan tangisan keluarga pasien.
Baru sekitar pukul 21.46 keadaan sedikit tenang.
Aku bersandar di dinding lorong, merasa kakiku sudah tak mampu bergerak lagi.
Seorang rekan kerja memberiku air minum.
— Kak Marianne, dari siang belum makan lagi, ya?
Aku tersenyum kecil.
— Sampai lupa.
Baru saat itu aku sadar…
sejak pukul sebelas siang, yang masuk ke perutku hanya setengah gelas kopi dingin.
Lambungku sakit.
Kepalaku pusing.
Dua jam lagi aku masih harus lanjut shift berikutnya.
Aku melirik jam tangan.
21.48.
Masa beli es krim lima menit aja nggak boleh…
Hanya satu es krim mangga.
Dua belas ribu rupiah.
Aku menurunkan sedikit maskerkku lalu turun ke lobby.
Di luar rumah sakit, lampu Indomaret bersinar terang di tengah hujan deras.
Saat masuk, udara AC dingin langsung menyapu wajahku.
Rasanya seperti bebanku sedikit berkurang.
Aku berhenti di depan freezer.
Dan memilih es krim mangga berlapis cokelat.
Favorit anak-anak.
Dulu waktu kecil, Mama selalu membelikannya kalau nilaiku bagus.
Sejak jadi perawat, aku hampir lupa rasanya.
— Dua belas ribu, Mbak.
Baru saja aku menerima es krim itu ketika ponselku bergetar.
Pesan dari IGD.
“Keluarga pasien ruang ER-12 mencari Anda.”
Aku langsung berbalik menuju rumah sakit.
Es krim itu bahkan belum sempat kubuka.
Hujan makin deras.
Aku berlari kembali, air memercik ke sepatu dinasku.
Tapi begitu masuk lobby—
teriakan keras langsung menggema.
— ITU DIA!
Semua orang menoleh.
Aku berhenti.
Seorang pria berbaju polo merah menunjukku dengan marah.
Di sampingnya ada wanita yang sedang live streaming lewat ponsel.
— Saat ayah kami sekarat, kamu malah beli makanan?!
Aku mengernyit.
— Saya perawat yang bertanggung jawab di ER-12?
— Jangan pura-pura! teriaknya. Dari tadi kami cari! Ayah saya sesak napas!
Aku langsung ingat.
ER-12.
Pasien nyeri dada yang tadi masuk.
Tapi kasus itu sudah ditangani dokter jantung.
Aku hanya koordinator keadaan darurat.
— Saya cuma pergi lima menit, kataku tenang. Saya sudah serah-terima sebelum turun.
— Serah-terima?! dia tertawa sinis. Pelayanan rumah sakit negeri memang busuk! Pasien mau mati tapi sempat-sempatnya beli es krim!
Orang-orang mulai mengangkat ponsel mereka.
Wanita yang live streaming itu semakin mendekatkan kamera ke wajahku.
— Lihat ini! Katanya head nurse rumah sakit besar! Ninggalin pasien cuma buat beli es krim!
Aku menatap es krim di tanganku.
Lapisan cokelatnya mulai mencair.
Menetes ke jari-jariku.
— Saya tidak menelantarkan siapa pun.
— Lalu kenapa kamu tidak ada di sana?! teriak pria itu. Kalau ayah saya kenapa-kenapa, kamu mau tanggung jawab?!
Aku terlalu lelah.
Begitu lelah sampai bahkan marah pun aku tak punya tenaga.
— Silakan laporkan kalau mau.
Setelah berkata begitu, aku langsung berjalan menuju lift.
Dan sebelum pintunya tertutup—
aku masih mendengar dia berteriak.
— Saya kenal orang Kemenkes! Saya pastikan kamu dipecat!
Aku memejamkan mata sesaat.
Jujur saja…
aku tidak terlalu memikirkannya.
Sampai keesokan paginya.
02
Video diriku memegang es krim di lobby rumah sakit viral di seluruh Indonesia.
Judul videonya:
“Head nurse meninggalkan pasien kritis demi beli es krim.”
Lebih dari tiga juta penonton hanya dalam semalam.
Ribuan komentar menghina diriku.
“Dia nggak pantas pakai seragam perawat!”
“Rumah sakit negeri memang neraka.”
“Ayah saya dulu meninggal karena perawat cuek!”
Tak ada yang peduli pada kebenaran.
Tak ada yang bertanya berapa jam aku berdiri di IGD.
Tak ada yang bertanya berapa nyawa yang sudah kuselamatkan.
Mereka hanya melihat es krim.
Pukul sepuluh pagi.
Aku dipanggil ke ruang direktur.
Begitu pintu terbuka—
ruangan itu penuh.
Ada Direktur Santoso.
HRD.
Komite disiplin.
Perwakilan serikat pekerja.
Dan seorang pria bersetelan hitam yang tidak kukenal.
Udara di sana terasa berat.
— Duduk, Marianne.
Direktur Santoso mendorong tablet ke arahku.
Video itu diputar.
Jelas sekali.
Aku bahkan terlihat tenang.
— Keluarga pasien sudah melapor ke Kementerian Kesehatan, katanya. Dan… pria itu keponakan anggota DPR.
Ah.
Pantas saja.
— Saya sudah serah-terima sebelum turun, kataku. Saya cuma pergi lima menit.
— Tapi media sosial tidak peduli soal itu.
— Saya juga tidak melakukan kesalahan.
Direktur Santoso memijat dahinya.
— Marianne… kamu salah satu perawat terbaik kami. Tapi situasinya sensitif.
Dia mengambil selembar surat.
— Skorsing dua minggu.
— Dan kamu harus membuat permintaan maaf publik.
Aku menatapnya.
— Saya harus minta maaf karena beli es krim?
— Kamu harus minta maaf karena merusak citra rumah sakit.
Aku tertawa pelan.
Pertama kalinya sepanjang rapat.
Pelan.
Tapi cukup membuat semua orang diam.
— Tahu berapa jam saya bekerja minggu lalu?
Tak ada yang menjawab.
— Delapan puluh enam jam.
— Total tidur saya bahkan belum dua puluh jam.
— Tiga hari lalu saya melakukan CPR hampir empat puluh menit sampai pergelangan tangan saya bengkak.
— Dan tadi malam saya enam jam nonstop di IGD.
Lalu aku menatap surat skorsing itu.
— …dan sekarang kalian menghakimi saya karena es krim dua belas ribu rupiah.
Ruangan itu sunyi.
Tiba-tiba pria bersetelan hitam bicara.
— Anda harus memahami situasi. Kalau tidak dihukum, rumah sakit akan kesulitan menghadapi media.
Aku menoleh padanya.
— Anda siapa?
Dia sempat terdiam.
— Perwakilan keluarga pasien.
Aku langsung mengerti.
Pantas.
Perlahan aku melepas ID card-ku.
Sembilan tahun aku memakainya.
Pinggir plastiknya bahkan sudah pudar.
— Saya tidak akan membuat permintaan maaf publik.
Aku meletakkan ID itu di meja.
— Dan saya mengundurkan diri.
— Marianne! Direktur Santoso langsung berdiri.
Aku membalikkan badan menuju pintu.
Masih kudengar dia berbicara di belakangku.
— Menurutmu masih ada rumah sakit lain yang mau menerima kamu?!
Tanganku berhenti di gagang pintu.
Lalu aku tersenyum tipis.
— Anda salah.
— Dari dulu sampai sekarang…
— bukan saya yang membutuhkan rumah sakit ini.
Aku membuka pintu lalu keluar.
Lorong penuh orang.
Bau disinfektan.
Suara stretcher.
Tangisan keluarga pasien.
Aku berhenti sesaat.
Lalu melepas maskerku juga.
Saat melewati nurse station—
Anne memegang lenganku dengan mata merah.
— Kak Marianne… benar-benar pergi?
Aku belum sempat menjawab ketika ponselku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
Suara wanita yang tenang terdengar dari seberang.
— Halo, Ibu Marianne Pratama.
— Saya asisten dari St. Gabriel Medical Center di SCBD.
— Kami ingin bertanya…
— apakah Anda tertarik menjadi ICU Supervisor baru kami?
Aku terpaku.
St. Gabriel.
Rumah sakit swasta paling mahal di Jakarta.
Deposit IGD-nya saja bisa membuat orang biasa pingsan.
— Kenapa saya?
Wanita itu tertawa kecil.
— Karena chairman kami menonton video Anda.
— Dan beliau berkata…
— orang yang bisa menyelamatkan nyawa selama berjam-jam tapi hanya mengambil lima menit untuk membeli es krim…
— adalah orang yang ingin kami pekerjakan.
Aku belum sempat menjawab—
dia kembali bicara.
— Oh ya…
— pagi ini kami baru menerima pasien VIP baru…
— nama keluarganya Wijaya.
Tubuhku langsung kaku.
Wijaya.
Nama keluarga pria yang melakukan live streaming terhadapku kemarin.
Suara asisten itu terdengar pelan.
— Keluarganya hampir putus asa karena tidak ada dokter yang mau menerima kasusnya.
— Ms. Marianne…
— apakah Anda ingin bertemu mereka lagi?

03
Malam itu, hujan masih turun deras di Jakarta ketika aku tiba di St. Gabriel Medical Center.
Lobby rumah sakit itu begitu sunyi dan mewah.
Lantai marmer mengilap.
Aroma parfum mahal bercampur antiseptik.
Berbeda sekali dengan rumah sakit negeri tempatku bekerja selama sembilan tahun.
Begitu pintu lift VIP terbuka—
aku langsung melihatnya.
Pria berbaju polo merah itu.
Arvin Wijaya.
Orang yang merekam dan mempermalukanku di depan jutaan orang.
Kini ia duduk di lantai lorong ICU.
Rambutnya berantakan.
Matanya merah.
Dan untuk pertama kalinya…
aku melihat rasa takut di wajahnya.
Begitu melihatku, tubuhnya langsung menegang.
— K-kamu…
Aku berjalan melewatinya dengan tenang sambil membawa cup es krim mangga di tangan.
Es krim kedua.
Dia buru-buru berdiri.
— Nurse Marianne… tolong ayah saya…
Suara pria yang dulu penuh amarah itu kini gemetar.
Aku berhenti di depan pintu ICU.
— Bukankah rumah sakit swasta lebih bagus daripada rumah sakit negeri yang “busuk”?
Wajahnya langsung pucat.
Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
Dari dalam ICU terdengar suara monitor jantung yang tidak stabil.
Seorang dokter senior keluar sambil melepas sarung tangan.
— Tekanan darah pasien turun lagi.
Arvin langsung panik.
— Dok, selamatkan ayah saya! Berapa pun biayanya saya bayar!
Dokter itu menatapku.
— ICU Supervisor baru kita sudah datang.
Arvin ikut menoleh.
Dan ketika sadar dokter itu berbicara tentang diriku—
wajahnya benar-benar kehilangan warna.
— Kamu… kerja di sini?
Aku tidak menjawab.
Aku langsung masuk ke ICU.
Di atas tempat tidur terbaring seorang pria tua dengan alat bantu napas.
Ayah Arvin.
Orang yang dulu katanya “ditelantarkan” olehku.
Dadanya naik turun dengan berat.
Monitor jantungnya kacau.
Aku hanya butuh beberapa detik untuk memahami situasinya.
Pulmonary embolism.
Dan penanganan sebelumnya terlambat.
Aku langsung mengenakan sarung tangan.
— Siapkan heparin infusion sekarang.
— Panggil cath lab standby.
— Dan naikkan oxygen support.
Semua perawat langsung bergerak.
Ruangan yang tadinya panik perlahan kembali teratur.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Tak ada seorang pun keluar dari ICU.
Bahkan es krim di tanganku sudah mencair total.
Pukul dua dini hari—
akhirnya kondisi pasien stabil.
Aku keluar dari ICU sambil melepas masker.
Begitu melihatku, Arvin langsung berdiri.
Matanya penuh harap.
— Ayah saya…
— Sudah melewati masa kritis.
Tubuhnya langsung lemas.
Dan di luar dugaanku—
pria itu tiba-tiba berlutut di depanku.
Seluruh lorong langsung terdiam.
— Saya salah…
Suaranya pecah.
— Saya benar-benar salah…
Dia menundukkan kepala.
— Saya tidak tahu kalau malam itu Anda bahkan belum makan…
— Saya tidak tahu Anda tetap kembali ke ER meski belum sempat membuka es krim itu…
Tangannya gemetar hebat.
— Karena video saya… hidup Anda hancur…
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum tipis.
— Hidup saya tidak hancur.
Aku melirik logo St. Gabriel di dinding belakangnya.
— Justru hidup saya berubah karena malam itu.
Matanya memerah.
— Tapi seluruh Indonesia menghina Anda…
Aku mengangkat cup es krim yang sudah kosong.
— Orang-orang di internet cepat sekali menghakimi.
— Tapi mereka tidak pernah melihat siapa yang tetap berdiri di ruang gawat darurat saat semua orang lain tidur.
Lorong itu kembali sunyi.
Beberapa perawat menunduk diam.
Lalu aku menatap langsung ke mata Arvin.
— Saya memaafkan Anda.
Dia langsung mengangkat kepala.
— Tapi bukan karena Anda pantas mendapatkannya.
Aku tersenyum kecil.
— Melainkan karena saya terlalu lelah untuk membenci orang lain.
Air mata langsung jatuh dari matanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak video itu viral—
dadaku terasa jauh lebih ringan.
Keesokan paginya—
St. Gabriel mengunggah pengumuman resmi bahwa aku diangkat menjadi ICU Director termuda dalam sejarah rumah sakit itu.
Video CCTV tentang bagaimana aku bekerja tanpa henti selama malam badai juga dirilis ke publik.
Dalam waktu kurang dari sehari—
arah media sosial langsung berubah.
Orang-orang yang dulu menghujat mulai meminta maaf.
Tagar #RespectNurseMarianne menjadi trending di seluruh Indonesia.
Tapi bagian terbaiknya bukan itu.
Seminggu kemudian, saat aku sedang berjalan melewati lobby rumah sakit—
seorang perawat junior memanggilku pelan.
— Kak Marianne…
Aku menoleh.
Dia tersenyum malu sambil menyerahkan sesuatu.
Satu es krim mangga kecil.
— Kakak belum makan dari tadi siang, kan?
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
es krim itu terasa manis, bukan pahit lagi.