BARU TIGA HARI SETELAH MELAHIRKAN, SUAMIKU MENINGGALKANKU DI DEPAN RUMAH SAKIT.

BARU TIGA HARI SETELAH MELAHIRKAN, SUAMIKU MENINGGALKANKU DI DEPAN RUMAH SAKIT.
BAHKAN IBU MERTUAKU MENYURUHKU NAIK ANGKOT SAJA PULANG DI BAWAH PANAS TERIK JAKARTA.
TAPI MIMPI BURUK YANG SEBENARNYA… ADA DI DALAM DOKUMEN YANG KUTANDATANGANI SEBELUM MELAHIRKAN.

Aku menggendong bayi laki-lakiku yang baru berusia tiga hari sambil berdiri di bawah kanopi Rumah Sakit Medistra di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Tanpa suara, aku menatap SUV hitam milik suamiku perlahan menjauh dari pintu rumah sakit.

Walaupun kaca mobil itu gelap, aku masih bisa melihat jelas.

Di kursi depan, ibu mertuaku memeluk anjing Pomeranian putihnya seolah hewan itu lebih penting daripada manusia.

Di kursi belakang, dua adik iparku duduk sambil makan ayam goreng cepat saji dan tertawa keras menonton video di ponsel mereka.

Dan suamiku, Adrian Wijaya…

Bahkan tidak menoleh kepadaku satu kali pun.

Mobil itu perlahan hilang di balik gerbang rumah sakit.

Yang tersisa di dekat kakiku hanyalah uang dua puluh ribu rupiah kusut yang tertiup angin di atas trotoar.

“Itu buat ongkos pulang,” katanya tadi sebelum menutup jendela mobil.

“Naik angkot aja ya, Celina.”

“Aku masih harus nganter Mama dan adik-adikku ke salon buat pesta nanti malam.”

“Lagian kamu cuma lahiran normal, kan?”

Tubuhku langsung membeku.

Bayiku menangis pelan karena udara panas.

Punggungku terasa dingin meski matahari sangat menyengat.

Aku tidak percaya pria yang dulu berlutut di tengah mall mewah di Jakarta untuk melamarku… sekarang tega meninggalkan istri dan bayi yang baru lahir di pinggir jalan.

Perawat di belakangku memandang dengan iba.

“Bu… mau saya panggilkan taksi?”

Aku memeluk bayiku lebih erat.

Namun sebelum sempat menjawab, ponselku tiba-tiba berdering.

Video call dari ibu mertua.

Baru saja kuangkat, suara melengkingnya langsung terdengar:

“Celina, sekalian mampir ke pasar ya!”

“Nanti malam ada tamu.”

“Belikan kepiting Alaska. Jangan beli yang murahan. Malu sama keluarga Wijaya!”

Aku menatap wajahnya di layar yang penuh makeup tebal dan hampir tertawa karena situasinya terlalu tidak masuk akal.

Aku baru melahirkan tiga hari lalu.

Bekas jahitanku masih terasa sangat sakit.

Berdiri tegak saja aku nyaris tidak kuat.

Tapi mereka masih berpikir aku bisa membawa kepiting besar untuk menyiapkan pesta keluarga mereka.

Aku tidak menjawab.

Wajah ibu mertuaku langsung berubah kesal.

“Kelakuan apa itu?”

“Di keluarga kami, semua perempuan kuat urus diri sendiri habis melahirkan.”

“Waktu lahirin Adrian, besoknya saya sudah nyuci baju!”

“Perempuan zaman sekarang manja banget.”

Tiba-tiba adik iparku yang kedua masuk ke layar.

“Kak, sekalian beli es batu ya.”

“Nanti kita live streaming pesta ulang tahun.”

“Yang datang anak-anak orang kaya semua.”

Aku melihat kuku palsunya yang berkilau dan hanya bisa tertawa pahit.

Selama dua tahun…

Aku yang membayar sewa apartemen kami di pusat Jakarta.

Aku juga yang membiayai kuliah adik bungsu mereka.

Bahkan iPhone yang sekarang dipakai adik iparku… adalah hadiah dariku saat Natal.

Tapi di mata mereka…

Aku hanya “orang luar” yang menikah masuk keluarga mereka.

Tak lama kemudian Adrian muncul di layar.

Ia menghela napas panjang.

“Celina, jangan bikin Mama stres.”

“Aku juga serba salah di sini.”

Itu lagi.

“Serba salah.”

Sudah dua tahun aku mendengar kata itu berulang-ulang.

Saat ibu mertuaku pertama kali menghina keluargaku yang miskin, Adrian bilang dia “serba salah”.

Saat adik bungsunya mencuri tas branded milikku lalu menjualnya online, dia juga bilang “serba salah”.

Bahkan ketika aku hamil delapan bulan dan masih dipaksa memasak untuk sepuluh orang setiap hari, dia tetap berkata:

“Sabarlah, mereka keluargaku.”

Keluarganya.

Lalu aku ini siapa?

Aku menatap bayiku yang tertidur tenang di pelukanku.

Dadaku tiba-tiba terasa sesak.

Tiga bulan lalu aku sempat dirawat karena hampir keguguran.

Malam itu aku bahkan hampir tidak bisa berdiri di dapur karena kesakitan.

Tapi ibu mertuaku tetap memaksaku memasak rendang untuk ulang tahun anak bungsunya.

Aku menelepon Adrian lebih dari dua puluh kali malam itu.

Dia tidak menjawab.

Belakangan aku tahu…

Ternyata dia sedang menonton konser idol Korea bersama adik-adiknya di stadion.

Aku kira semuanya akan berubah setelah aku melahirkan.

Aku kira setidaknya dia akan menjadi lebih bertanggung jawab setelah melihat anak kami.

Ternyata aku salah.

Di hati Adrian…

Akulah yang harus terus berkorban.

Tawa mereka masih terdengar dari video call.

Lalu ibu mertuaku bertanya:

“Berapa sih biaya rumah sakitnya?”

Tanpa emosi aku menjawab:

“Hampir delapan puluh lima juta rupiah.”

Ia langsung menjerit.

“APA?!”

“Kamu melahirkan atau liburan?!”

“Dari awal saya bilang lahiran di rumah sakit negeri saja!”

“Kalau kamu boros begini, kapan kita bisa beli rumah buat adiknya Adrian?!”

Aku langsung terdiam.

Rumah… untuk adik Adrian?

Perlahan aku bertanya:

“Maksud Mama apa?”

Ibu mertuaku tampak panik dan buru-buru mengalihkan pandangan.

Namun tepat saat itu, adik iparku yang paling muda tiba-tiba berkata:

“Loh, Kak Celina belum tahu?”

“Minggu depan apartemennya bakal dipindahin atas nama Kak Marco.”

Telingaku langsung berdenging.

Apartemen.

Apartemen hampir delapan miliar rupiah itu.

Apartemen yang kubeli sendiri sebelum menikah.

Apartemen yang atas namaku.

Tanganku gemetar memegang ponsel.

“Kalian ngomong apa…?”

Semua langsung diam.

Adrian buru-buru membentak adiknya:

“Diam kamu!”

Tapi semuanya sudah terlambat.

Jantungku berdetak sangat keras.

Aku tiba-tiba teringat malam sebelum aku melahirkan.

Adrian memberiku beberapa dokumen untuk ditandatangani.

Katanya itu hanya dokumen asuransi untuk bayi kami.

Saat itu kontraksiku sudah sangat sakit, jadi aku tidak membaca detailnya.

Aku hanya menandatangani semuanya.

Rasa dingin perlahan menjalar ke seluruh tubuhku.

Dengan tangan gemetar, aku membuka emailku.

Dan di detik berikutnya…

Duniaku seperti berhenti berputar.

Di layar terlihat salinan scan dokumen pengalihan properti.

Pemilik baru apartemenku…

Marco Wijaya.

Adik bungsu Adrian.

Dan tanggal tanda tangannya…

Tepat malam sebelum aku melahirkan.

Dan tanda tangan di bagian bawah…

Adalah tanda tanganku sendiri.

Baca kelanjutan cerita di kolom komentar…👇

Tanganku langsung lemas.

Ponsel hampir jatuh dari genggamanku.

Di layar, tanda tanganku terlihat jelas di bawah dokumen pengalihan apartemen itu.

Aku tidak bisa bernapas.

Sementara di video call, semua orang mendadak panik.

“Celina, dengar dulu—” kata Adrian buru-buru.

Tapi aku langsung mematikan panggilan.

Untuk pertama kalinya selama dua tahun…

Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi.

Aku berdiri diam di depan rumah sakit sambil memeluk anakku erat-erat.

Air mataku jatuh satu per satu ke selimut kecil bayi kami.

Bukan karena apartemen itu.

Bukan karena uangnya.

Tapi karena akhirnya aku sadar…

Aku tidak pernah benar-benar dianggap keluarga oleh mereka.

Aku hanya diperas perlahan sampai habis.

Dan sekarang, bahkan setelah melahirkan anak mereka… mereka masih ingin mengambil semuanya dariku.

Perawat yang sejak tadi memperhatikanku akhirnya mendekat pelan.

“Bu… Anda baik-baik saja?”

Aku menghapus air mata dan menarik napas panjang.

Lalu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku berkata:

“Saya mau pengacara.”


Dua jam kemudian, aku duduk di sebuah kantor hukum kecil di Jakarta Selatan.

Masih memakai baju rumah sakit.

Masih kesakitan karena jahitan melahirkan.

Tapi kali ini… kepalaku terasa jauh lebih jernih.

Pengacara wanita di depanku membaca dokumen-dokumen itu dengan wajah serius.

Lalu ia mendongak perlahan.

“Bu Celina… ini bisa dibatalkan.”

Aku langsung menatapnya.

“Apa?”

Ia menunjuk tanggal dan waktu dokumen.

“Dokumen ini ditandatangani saat Anda sedang dalam kondisi kontraksi berat dan berada di bawah pengaruh obat sebelum persalinan.”

“Selain itu, properti dibeli sebelum pernikahan dan atas nama pribadi Anda.”

“Kalau ini dibawa ke pengadilan, kemungkinan besar pengalihan ini dianggap tidak sah.”

Tubuhku langsung lemas karena lega.

Tapi pengacara itu belum selesai.

Ia membuka laptopnya lalu memutar rekaman CCTV dari lobby apartemen.

Aku membeku.

Di video itu terlihat Adrian dan adiknya Marco datang diam-diam ke kantor pengelola apartemen dua hari sebelum aku melahirkan.

Mereka bahkan sudah menyiapkan semua dokumen lebih dulu.

Pengacaraku menatapku dalam.

“Mereka merencanakannya sejak awal.”

Dadaku terasa sesak.

Ternyata selama aku sibuk mempertahankan kandunganku…

Mereka sibuk merencanakan cara mengambil hidupku.


Keesokan harinya, semuanya meledak.

Surat somasi resmi dikirim ke rumah keluarga Wijaya.

Bank langsung membekukan proses transfer apartemen.

Dan yang paling menghancurkan…

Pengacaraku juga menemukan bahwa selama ini Adrian memakai identitasku untuk beberapa pinjaman online dan kartu kredit tanpa izinku.

Jumlah utangnya hampir dua miliar rupiah.

Saat membaca itu, tanganku gemetar hebat.

Aku akhirnya mengerti.

Mereka bukan hanya ingin apartemenku.

Mereka sedang menenggelamkanku perlahan dengan semua beban mereka.

Malam itu, Adrian datang ke rumah sakit dengan wajah panik.

Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat takut kehilangan sesuatu.

Bukan kehilangan aku.

Tapi kehilangan semua yang selama ini kuberikan.

Ia langsung berlutut di samping ranjangku.

“Celina, aku bisa jelaskan semuanya…”

Air matanya jatuh.

“Aku cuma mau bantu keluarga…”

“Kamu tahu Mama selalu menekanku…”

Aku menatapnya lama.

Dulu, melihatnya menangis pasti membuat hatiku luluh.

Tapi malam itu…

Aku hanya merasa lelah.

Sangat lelah.

Aku menatap bayi kami yang tertidur di sampingku.

Lalu berkata pelan:

“Selama ini aku selalu memilih mengerti kamu.”

“Sekarang… aku memilih menyelamatkan anakku.”

Wajah Adrian langsung pucat.

Dan untuk pertama kalinya sejak kami menikah…

Aku melihat penyesalan yang benar-benar nyata di matanya.

Namun semuanya sudah terlambat.


Enam bulan kemudian…

Aku berdiri di balkon apartemenku sambil menggendong putraku.

Apartemen itu kembali sepenuhnya menjadi milikku.

Pengadilan membatalkan semua dokumen transfer.

Semua utang atas namaku juga sedang diproses sebagai tindak penipuan.

Keluarga Wijaya menjadi bahan pembicaraan di mana-mana setelah kasus mereka viral di media sosial.

Ibu mertuaku yang dulu selalu memandang rendah orang lain kini harus menjual sebagian perhiasannya untuk membayar pengacara.

Sementara Marco… kehilangan pekerjaannya setelah perusahaan mengetahui kasus pemalsuan dokumen itu.

Dan Adrian?

Ia beberapa kali datang ingin bertemu anak kami.

Aku tidak pernah melarangnya.

Karena seburuk apa pun dia sebagai suami…

Anakku tetap berhak mengenal ayahnya.

Tapi aku juga tidak pernah kembali.

Suatu sore, saat matahari Jakarta mulai tenggelam, putraku tertawa kecil di pelukanku.

Aku memandang wajah mungilnya lama.

Lalu tanpa sadar tersenyum sambil berbisik:

“Kita selamat, Nak.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku akhirnya merasa bebas.