Tujuh tahun kami menikah, dan itu adalah pertama kalinya aku menggeledah saku jas batik suamiku, Rafael Wijaya… lalu menemukan sebuah lipstik mahal yang jelas bukan milikku.
Sudah lama aku tidak memakai lipstik.
Sejak melahirkan anak pertama kami di Jakarta, hidupku hanya berputar di dapur, mengurus anak, dan memikirkan tagihan rumah.
Diam-diam kutaruh lipstik itu di meja makan rumah kami di kawasan BSD sambil menunggu ayah dan anak itu pulang.
Baru saja pintu terbuka, putraku Nico langsung berteriak heboh.
“Wow! Itu lipstik Bu Selena!”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Aku menoleh perlahan pada anakku yang berusia enam tahun, yang sedang melepas sepatu sambil tersenyum polos di ruang tamu.
“Punya siapa tadi?”
Nico sama sekali tidak sadar wajahku berubah.
“Punya Bu Selena, Mommy. Cantik banget dia.”
“Ibu-ibu di sekolah bilang dia mirip artis.”
Sambil bicara, dia bahkan menarik tangan ayahnya dengan gembira.
“Daddy juga suka Bu Selena kan?”
Rumah langsung sunyi.
Rafael berdiri membeku di dekat pintu.
Pria yang dulu terkenal paling tampan di kampusnya itu kini hanya menatap lipstik di atas meja dengan wajah pucat.
Aku bertanya pelan:
“Mau jelasin?”
Rafael belum sempat membuka mulut ketika Nico langsung menyela.
“Aku tahu!”
“Daddy sama Bu Selena punya rahasia dari Mommy!”
Dia malah tertawa polos.
“Aku lebih suka Bu Selena.”
“Dia wangi… cantik… rambutnya juga selalu shiny.”
Lalu dia menatapku dari atas sampai bawah.
“Soalnya Mommy kayak pembantu terus.”
“Bajunya longgar terus.”
“Teman-temanku juga bilang kenapa Mommy kelihatan lebih tua dibanding mama yang lain.”
Rasanya seperti ada pisau yang pelan-pelan menusuk dadaku.
Ruang tamu begitu sunyi.
Suara AC terdengar jelas berdengung.
Tiba-tiba Rafael melangkah maju.
“NICHOLAS!”
Suaranya dingin dan berat.
Nico langsung mundur ketakutan.
Belum pernah sekalipun ayahnya membentaknya seperti itu.
Matanya mulai merah, tapi dia masih membela diri.
“Aku kan nggak bohong…”
“Bu Selena juga bilang Daddy itu gentleman.”
Aku langsung menatap anakku.
“Dia bilang begitu?”
Nico mengangguk cepat.
“Tadi habis kelas dia juga nitip lipstik itu buat dimasukin ke kantong Daddy.”
Tubuhku perlahan terasa dingin.
Rafael ikut menatap Nico dengan wajah tidak percaya.
“Apa yang kamu bilang?”
Nico berkedip polos.
“Bu Selena cuma minta tolong.”
“Dia juga beliin aku chicken nugget.”
Tangan Rafael langsung mengepal keras.
Urat di pelipisnya terlihat jelas.
Dia menatapku seperti orang yang kehabisan napas.
“Please… percaya sama aku.”
“Aku nggak tahu soal ini.”
Aku tertawa kecil.
Tapi suara tawaku terdengar dingin.
“Masih ada bedanya?”
“Bahkan anakku sendiri… lebih memilih perempuan lain daripada aku.”
Nico mulai menangis ketakutan.
Namun untuk pertama kalinya sebagai ibu… aku tidak punya tenaga untuk memeluknya.
Aku menatap bayanganku di kaca jendela.
Rambut berantakan.
Baju rumah lama.
Sandal kusam.
Aku teringat diriku delapan tahun lalu.
Perempuan yang dulu menjadi interior designer untuk hotel-hotel besar di Jakarta.
Perempuan yang percaya diri berjalan di Plaza Indonesia dengan high heels mahal.
Namun setelah menikah…
Aku berhenti kerja.
Hamil.
Mengurus anak.
Mengurus rumah.
Sampai akhirnya aku lupa bagaimana caranya menjadi diriku sendiri.
Dan sekarang…
Aku sendiri sudah menjadi sosok yang memalukan bagi anakku.
Tepat saat itu—
ponsel Rafael di atas meja tiba-tiba menyala.
Ada pesan baru.
Dari:
“Selena M.”
Dan isi pesannya hanya satu kalimat.
“Thank you for last night ❤️”
Baca kelanjutan ceritanya di kolom komentar…👇

Tanganku gemetar saat membaca pesan itu.
“Thank you for last night ❤️”
Tidak panjang.
Tidak vulgar.
Tapi cukup untuk menghancurkan tujuh tahun pernikahanku dalam satu detik.
Aku perlahan mengangkat kepala dan menatap Rafael.
Dia langsung mengambil ponselnya.
“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku tersenyum tipis.
Kalimat paling menyedihkan di dunia memang selalu dimulai dari sana.
“Aku capek, Raf.”
Suasana langsung hening.
“Aku capek jadi orang yang selalu percaya.”
“Aku capek jadi perempuan yang terus mengerti.”
“Aku juga capek jadi istri yang perlahan hilang… cuma supaya semua orang di rumah ini nyaman.”
Mataku mulai panas.
Tapi aku menahannya.
Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—
aku tidak ingin terlihat lemah.
Rafael melangkah mendekat.
“Dengerin aku dulu.”
“Semalam ada dinner sekolah. Semua guru ikut. Selena mabuk, terus muntah kena bajuku. Dia pinjam toilet hotel buat bersihin diri, dan mungkin lipstiknya ketinggalan di jas aku.”
“Aku bahkan nggak sadar itu ada.”
Aku tertawa lirih.
“Lalu pesan itu?”
Dia langsung membuka chat di depanku.
Tangannya gemetar.
Dan di situlah aku melihat semuanya.
Ratusan pesan.
Tapi bukan seperti yang kubayangkan.
Semua chat dari Selena.
Semuanya sepihak.
“President Rafael really looks handsome today ❤️”
“Kalau istri Anda tidak menemani gala dinner, saya bisa menemani.”
“Saya iri pada wanita yang bisa tinggal serumah dengan Anda.”
Dan berkali-kali—
Rafael hanya membalas singkat.
“Tolong jaga profesionalitas.”
“Atur jadwal meeting saja.”
“Atau bahkan tidak membalas sama sekali.”
Dadaku terasa sesak.
Aku menatap Rafael.
Wajahnya pucat.
Lelah.
Dan entah kenapa… baru malam itu aku sadar, ternyata dia juga sedang berjuang sendirian.
“Aku mau resign-in dia minggu depan,” katanya pelan.
“Aku tahu dia mulai melewati batas.”
“Tapi aku takut kamu stres kalau tahu semuanya.”
Aku terdiam.
Lalu tiba-tiba Nico menangis keras.
“Mommy… maaf…”
Tubuh kecilnya gemetar.
“Aku nggak tahu itu bikin Mommy sedih…”
“Aku cuma pikir Bu Selena baik…”
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena Selena.
Bukan karena lipstik itu.
Tapi karena aku sadar—
anak kecilku tidak salah.
Dia hanya mengucapkan apa yang dia lihat setiap hari.
Dan selama ini… aku memang sudah berhenti mencintai diriku sendiri.
Aku berlutut memeluk Nico erat.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis di depan anakku.
“Maaf ya…”
“Mommy terlalu sibuk jadi ibu… sampai lupa jadi diri sendiri.”
Nico langsung memeluk leherku.
“Mommy jangan sedih…”
“Mommy tetap cantik…”
Rafael ikut berlutut di depan kami.
Matanya merah.
“Aku juga salah.”
“Aku terlalu fokus kerja… sampai nggak sadar istriku perlahan tenggelam.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—
kami benar-benar bicara.
Bukan soal tagihan.
Bukan soal sekolah anak.
Bukan soal pekerjaan.
Tapi tentang kami.
Tentang perempuan yang dulu jatuh cinta pada seorang pria sederhana di sebuah coffee shop kecil di Jakarta.
Dan tentang pria yang dulu berjanji tidak akan membiarkan istrinya merasa sendirian.
—
Dua minggu kemudian, Selena resmi dikeluarkan dari sekolah.
Bukan karena cemburu.
Tapi karena beberapa orang tua murid melaporkan sikapnya yang tidak profesional terhadap wali murid pria.
Dan aku?
Aku mulai bekerja lagi.
Awalnya hanya mengambil proyek kecil desain interior café.
Lalu satu proyek menjadi tiga.
Tiga menjadi sepuluh.
Enam bulan kemudian, namaku kembali muncul di sebuah majalah desain lokal.
Hari itu, aku sedang fitting blazer baru ketika Nico tiba-tiba memeluk pinggangku dari belakang.
“Mommy sekarang cantik banget.”
Aku tertawa kecil.
“Dulu nggak cantik?”
Dia buru-buru menggeleng.
“Dulu juga cantik.”
“Tapi sekarang… Mommy kelihatan bahagia.”
Aku terdiam.
Lalu perlahan tersenyum.
Karena akhirnya aku mengerti—
kadang yang paling berbahaya dalam sebuah pernikahan bukan orang ketiga.
Melainkan saat seorang perempuan perlahan kehilangan dirinya sendiri…
dan tidak ada yang menyadarinya.
Termasuk dirinya sendiri.