Bahkan bos mafia miliarder seperti Dominic Vale pun tidak pernah membayangkan bahwa malam paling berbahaya dalam hidupnya akan dimulai saat ia pulang lebih cepat ke rumahnya sendiri di Chicago.

Bahkan bos mafia miliarder seperti Dominic Vale pun tidak pernah membayangkan bahwa malam paling berbahaya dalam hidupnya akan dimulai saat ia pulang lebih cepat ke rumahnya sendiri di Chicago.

Seharusnya Dominic baru kembali hari Jumat.

Karena itu, sosok pria yang berdiri di balik bayangan foyer marmer rumah megahnya malam itu lebih terlihat seperti hantu yang pulang ke makam lamanya daripada seorang ayah yang baru tiba di rumah.

Buku-buku jarinya pecah dan berdarah kering. Noda merah gelap menempel di lengan mantel arang mahalnya. Pertemuan di Miami berakhir kacau bahkan sebelum makanan penutup disajikan—dua letnan tewas, satu gudang dekat sungai dibakar habis, dan satu kenyataan mengerikan akhirnya terbukti:

Ada pengkhianat di dalam organisasinya.

Dominic hanya ingin masuk ke ruang kerjanya, menuang Scotch, lalu memutuskan siapa yang masih pantas bernapas sampai pagi.

Namun yang ia dengar justru jeritan putrinya.

Berasal dari sayap timur mansion.

Bukan jeritan panjang.

Bukan histeris.

Hanya suara pecah yang tertahan, seperti seseorang buru-buru membekap mulutnya.

Dominic langsung berhenti melangkah.

Sopirnya bahkan belum sempat menutup pintu depan.

Di luar, hujan es menghantam kaca antipeluru.

Di dalam, Ashford House—rumah yang dibisikkan orang-orang Chicago seperti benteng tak tersentuh—terasa terlalu sunyi.

Rumah itu dijaga penjaga bersenjata di setiap pintu masuk. Sensor tekanan tersembunyi di bawah halaman. Kamera mengawasi taman, lift, lorong servis, garasi, bahkan lantai pribadi keluarga Vale.

Tak seorang pun bisa masuk tanpa diketahui Dominic.

Dan tak seorang pun boleh menyentuh putri-putrinya.

Lalu terdengar suara seorang wanita dari arah dapur.

Pelan.

Tegas.

Terkontrol.

“Harper, pegang senter itu lebih stabil. Jangan lihat darahnya. Lihat aku saja. Kalau aku bergerak, kamu ikut bergerak. Mengerti?”

Tangis anak kecil terdengar.

“Anak pintar. Ava, dengarkan aku. Kamu tidak akan mati. Kamu terluka dan ketakutan, tapi kamu tidak akan mati selama aku ada di sini.”

Nama Ava membuat dada Dominic menegang.

Putri sulungnya.

Anak perempuan yang selalu membanting pintu saat marah padanya.

Anak yang sangat mirip mendiang istrinya ketika berusaha menahan tangis.

Anak yang ia janjikan akan selalu dilindungi setelah bom mobil merenggut istrinya dan membuat putri bungsunya membisu selama tiga tahun.

Dominic berjalan cepat menyusuri lorong sambil mencabut pistol dari balik mantelnya.

Saat mencapai pintu dapur, aroma itu langsung menyergapnya.

Darah.

Antiseptik.

Ketakutan.

BRAK!

Dominic menendang pintu dapur hingga terbuka lebar.

“Jangan bergerak!”

Tiga anak perempuan menjerit kaget.

Namun tak ada pembunuh bertopeng.

Tak ada anak buah kartel.

Tak ada penyerang bersenjata.

Yang ada hanyalah dapur marmer putih miliknya—berlumuran darah.

Ava Vale, tujuh belas tahun, duduk di atas kitchen island dengan jeans robek dari paha hingga lutut. Luka sobek besar membelah sisi pahanya. Wajahnya pucat, dan sebuah sabuk kulit tergigit di mulutnya agar ia tidak menggigit lidah sendiri karena menahan sakit.

Harper yang berusia dua belas tahun memegang senter sambil gemetar hebat.

Dan Emma, si bungsu berusia enam tahun yang hampir tidak pernah bicara sejak kematian ibunya, berdiri tanpa alas kaki di atas bangku dapur sambil memegangi rok abu-abu seorang wanita.

“Bernapas, Ava,” bisik Emma pelan.
“Claire sedang menolongmu. Claire akan membuatmu baik-baik saja.”

Dominic perlahan menurunkan pistolnya.

Di tengah kekacauan itu berdiri Claire Whitman.

Asisten rumah tangga baru mereka.

Wanita pendiam yang direkrut enam minggu lalu karena agensi mengatakan ia tenang, pandai mengurus anak, dan terbiasa bekerja di rumah dengan keamanan tinggi.

Dominic hampir tidak pernah memperhatikannya.

Rambut pirang pucat yang selalu diikat rapi.

Jawaban singkat, “Baik, Mr. Vale.”

Dan kebiasaan menunduk ketika para pria bersenjata lewat di rumah.

Tapi wanita di dapurnya malam ini tidak terlihat seperti pembantu biasa.

Lengan bajunya tergulung sampai siku.

Sarung tangan medis biru menutupi tangannya.

Di satu tangan ia memegang jarum bedah melengkung.

Di tangan lainnya forceps yang sedang menjepit pecahan logam di dalam luka Ava.

Dominic melihat bekas luka di lengannya.

Bukan luka kecil akibat pekerjaan rumah.

Bekas luka bakar lama.

Garis putih tipis di pergelangan tangan.

Dan satu bekas luka peluru di dekat siku.

Claire mengangkat wajahnya.

Matanya berwarna hazel.

Dingin.

Tenang.

Lebih dingin daripada ruangan mana pun di rumah itu.

“Turunkan pistol Anda, Mr. Vale,” katanya tenang.
“Anak-anak ketakutan.”

Tak ada yang pernah bicara seperti itu pada Dominic Vale.

Bukan musuhnya.

Bukan anak buahnya.

Bukan hakim, senator, polisi, ataupun pria-pria yang memohon sebelum menghilang selamanya.

Rahang Dominic menegang.

“Apa yang terjadi pada putriku?”

Claire tidak langsung menjawab.

Tangannya tetap stabil menjahit luka di paha Ava, seolah pistol di tangan Dominic sama sekali tidak berarti baginya.

“Pelurunya menembus dari samping,” katanya tenang.
“Untung tidak mengenai arteri femoralis. Tapi seseorang sengaja menembak untuk membunuh.”

Ruangan langsung membeku.

Dominic merasakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah mulai naik ke dadanya.

Ketakutan.

“Apa maksudmu ‘sengaja’?”

Claire akhirnya menatapnya lurus.

“Putri Anda ditembak dari jarak dekat di halaman belakang.”
“Dan yang menembaknya tahu persis di mana kamera keamanan mati selama tujuh menit.”

Jantung Dominic serasa berhenti.

Tidak banyak orang yang tahu soal blind spot itu.

Hanya orang dalam.

Hanya orang-orang kepercayaannya.

Harper mulai menangis.

“Ava bilang jangan bilang Daddy…” suaranya gemetar. “Karena katanya Daddy bakal membunuh semua orang…”

Ava yang hampir kehilangan kesadaran memejamkan mata sambil menahan sakit.

“Karena memang ada pengkhianat…” bisiknya lemah.

Dominic langsung mendekat.

“Siapa?”

Namun sebelum Ava menjawab, Claire tiba-tiba mengangkat tangan.

“Diam.”

Semua orang membeku.

Bahkan Dominic.

Claire perlahan menoleh ke arah ventilasi udara di atas dapur.

Tatapannya berubah tajam.

Mematikan.

“Suruh semua pengawal Anda turun sekarang,” katanya pelan.

Dominic menyipitkan mata.

“Kenapa?”

Claire berdiri perlahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke dapur—

Dominic melihat cara wanita itu bergerak.

Bukan seperti pembantu.

Bukan seperti wanita biasa.

Terlalu ringan.

Terlalu presisi.

Terlalu siap membunuh.

Claire melepas sarung tangan medisnya.

Lalu berkata dengan suara dingin:

“Karena ada pria bersenjata di dalam ventilasi rumah Anda.”

DETIK berikutnya—

BRAK!!!

Ventilasi meledak terbuka.

Seorang pria bertopeng jatuh sambil membawa senapan otomatis.

Harper menjerit.

Emma memeluk kaki Claire.

Dominic mengangkat pistolnya—

Tapi Claire lebih cepat.

Sangat cepat.

Wanita itu meraih pisau dapur dan melemparkannya.

CRAK!

Pisau itu menancap tepat di tenggorokan si penyerang.

Tubuh pria itu jatuh menghantam lantai marmer.

Darah mengalir deras.

Sunyi.

Bahkan Dominic Vale pun terpaku.

Karena tidak ada orang normal yang bisa bergerak secepat itu.

Claire berjalan mendekati mayat itu tanpa ekspresi.

Lalu menarik sesuatu dari balik jaket pria tersebut.

Sebuah pin logam kecil.

Lambang organisasi Dominic.

Milik pasukan elit internalnya sendiri.

Dominic merasakan hawa dingin menjalar di tulang belakangnya.

Orang-orangnya sendiri memang sedang memburu putrinya.

Dan Claire…

Claire sudah tahu sejak awal.

“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Dominic perlahan.

Claire menatap pin berdarah di tangannya beberapa detik sebelum menjawab.

“Aku orang yang gagal menyelamatkan keluargaku sendiri.”

Suasana langsung berubah sunyi.

Emma menggenggam tangan Claire semakin erat.

Dominic melihat sesuatu di mata wanita itu untuk pertama kali.

Bukan rasa takut.

Bukan kepatuhan.

Melainkan luka lama yang tidak pernah sembuh.

Claire menarik napas pelan.

“Lima tahun lalu,” katanya lirih, “aku bekerja untuk unit medis militer rahasia.”

“Aku punya suami. Dan seorang anak laki-laki.”

Matanya kosong.

“Lalu seseorang menjual identitas tim kami.”

Dominic langsung mengerti.

Pengkhianatan.

Darah.

Pembantaian.

Ia terlalu mengenal pola itu.

“Mereka membunuh suamiku di depan mataku,” lanjut Claire.
“Dan anakku…”

Suaranya berhenti sesaat.

Untuk pertama kalinya, tangannya sedikit gemetar.

“Mereka membakarnya hidup-hidup di dalam mobil.”

Harper menangis pelan.

Emma memeluk Claire lebih erat.

Dominic tidak berkata apa-apa.

Karena ia tahu wajah seperti itu.

Wajah seseorang yang sudah mati bertahun-tahun lalu, tapi tubuhnya masih berjalan.

Claire menatap Dominic.

“Aku mengenali tanda pengkhianatan di rumah ini sejak minggu pertama.”
“Cara pengawal saling memberi kode.”
“Jadwal patroli yang sengaja berubah.”
“Dan bagaimana seseorang terus memancing Ava keluar rumah.”

Dominic mengepalkan rahangnya.

“Ava tahu siapa pelakunya?”

Claire mengangguk pelan.

Sebelum Ava sempat bicara—

Ponsel Dominic bergetar.

Nama yang muncul membuat seluruh ruangan membeku.

Victor Kane.

Tangan kanan Dominic selama sebelas tahun.

Pria yang dianggap keluarga sendiri.

Dominic mengangkat teleponnya perlahan.

“Boss,” suara Victor terdengar tenang.
“Anda pulang terlalu cepat.”

Dominic tidak menjawab.

Victor tertawa kecil.

“Saya sebenarnya berharap putri Anda sudah mati sebelum Anda tiba.”

Harper menutup mulutnya sendiri.

Emma mulai gemetar.

Sedangkan Ava memejamkan mata, seolah semua ketakutannya akhirnya menjadi nyata.

Dominic bertanya pelan:

“Kenapa?”

Jawaban Victor datang tanpa ragu.

“Karena kerajaan Anda mulai lemah.”
“Dan anak-anak Anda adalah titik lemahnya.”

Sunyi.

Lalu Dominic tersenyum kecil.

Namun senyum itu lebih menakutkan daripada kemarahan.

“Victor,” katanya perlahan,
“kau baru saja menandatangani surat kematianmu.”

Telepon dimatikan.

Dan malam itu—

seluruh Chicago berubah menjadi medan perang.


Tiga hari kemudian, nama Victor Kane ditemukan di dasar sungai bersama enam pengkhianat lain.

Tak ada yang berani menyebutnya lagi.

Tak ada yang berani bertanya.

Dan di Ashford House—

untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal—

Emma berbicara tanpa takut.

Karena Claire.

Anak kecil itu terus mengikuti Claire ke mana pun ia pergi.

Tidur sambil memegang tangannya.

Bahkan menolak makan kalau Claire belum duduk di sampingnya.

Suatu malam, Dominic menemukan Claire sendirian di balkon mansion sambil menatap salju Chicago.

“Aku sudah menyiapkan jet pribadi,” kata Dominic pelan.
“Kau bisa pergi kapan saja. Identitas baru. Uang baru. Hidup baru.”

Claire tersenyum tipis.

“Aku sudah terlalu lelah untuk terus lari.”

Dominic menatap wanita itu lama.

Lalu bertanya pelan:

“Kalau begitu… tinggallah.”

Claire menoleh.

“Apa sebagai pembantu?”

Dominic menggeleng.

“Sebagai seseorang yang akhirnya membuat rumah ini terasa hidup lagi.”

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun—

mata dingin Claire Whitman akhirnya terlihat rapuh.

Dan di tengah salju yang jatuh perlahan di Chicago malam itu—

seorang bos mafia yang ditakuti seluruh kota akhirnya menyadari satu hal:

Wanita paling berbahaya yang pernah masuk ke rumahnya…

ternyata juga satu-satunya orang yang benar-benar menyelamatkan keluarganya.