Posted in

Selama tiga malam berturut-turut setelah istriku menghilang, mesin cuci di rumah kami mengeluarkan suara aneh. Ketika aku membuka bagian bawah mesin untuk memeriksa… seluruh tubuhku membeku saat melihat apa yang tersembunyi di dalamnya.

Selama tiga malam berturut-turut setelah istriku menghilang, mesin cuci di rumah kami mengeluarkan suara aneh. Ketika aku membuka bagian bawah mesin untuk memeriksa… seluruh tubuhku membeku saat melihat apa yang tersembunyi di dalamnya.

Aku bertemu Mae ketika kami berdua masih mahasiswa miskin di sebuah kota kecil yang ramai di selatan negara itu.

Saat itu, dia adalah gadis paling populer di kelas. Bukan karena kecantikannya yang membuat orang ragu untuk mendekatinya, tetapi karena senyumnya selalu membuat semua orang merasa nyaman. Dia suka mengikat rambutnya, mengenakan pakaian berwarna cerah, dan selalu membawa buku catatan kecil untuk mencatat hal-hal sederhana sehari-hari.

Sementara itu, aku hanyalah seorang pria biasa yang melakukan pekerjaan serabutan. Aku pergi ke sekolah di pagi hari dan mengantar bahan makanan di malam hari hingga subuh. Kupikir Mae akan memilih kehidupan yang lebih nyaman daripada bersama pria yang tidak punya apa-apa.

Tapi dia memilihku.

Meskipun mendapat penentangan keras dari keluarganya.

Suatu kali aku mendengar ibunya menangis di kamarnya setelah mengetahui Mae ingin menikah denganku. Ia berkata ia bisa menemukan pria kaya dengan mobil dan rumah – bukan pria yang tinggal di apartemen kecil dan bocor yang akan terus bocor setiap kali hujan.

Mae hanya tersenyum dan menggenggam tanganku.

“Aku tidak butuh rumah besar. Aku hanya butuh seseorang yang tidak akan meninggalkanku.”

Aku tidak pernah melupakan kata-kata itu.

Setelah kami menikah, kami pindah ke perumahan sederhana di pinggiran kota. Hidup tidak mudah. ​​Ada beberapa bulan di mana bahkan tagihan listrik pun menunggak. Mae berhenti dari pekerjaannya di kantor dan mulai berjualan kue secara online, sementara aku bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan elektronik.

Ada juga saat di mana kami hanya makan mi instan selama seminggu untuk membeli kulkas bekas.

Tapi Mae tidak pernah mengeluh.

Setiap kali aku pulang larut malam, ia akan meninggalkan makanan di meja dengan catatan kecil:

“Panaskan dulu. Jangan sampai aku sakit perut.”

Sampai sekitar enam bulan yang lalu… aku mulai menyadari ada sesuatu yang berubah pada Mae.

Dia sering begadang sendirian di ruang cuci di belakang dapur.

Suatu kali, aku bangun pagi-pagi sekali dan mendapati dia duduk di depan mesin cuci, matanya bengkak seolah-olah dia baru saja menangis.

“Aku hanya melihat-lihat pakaiannya,” katanya terburu-buru.

Mesin cucinya bahkan tidak menyala.

Kupikir dia hanya stres.

Sampai akhirnya, dia mulai mengunci ponselnya.

Dia juga sering melamun di balkon, memandang ke jalan yang gelap di bawah. Suatu kali, aku melihatnya menyembunyikan amplop cokelat di bawah lemari dan segera menutupnya ketika dia melihatku.

“Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Dia terdiam sejenak sebelum memelukku erat-erat.

Aku memeluknya begitu erat… seolah-olah dia bisa menghilang kapan saja.

“Apa pun yang terjadi… jangan benci aku, ya?”

Aku tersenyum dan mengelus kepalanya.

“Kau sangat aneh. Aku tidak akan pernah membencimu.”

Aku tidak tahu… ternyata itu adalah senyum terakhirnya.

Tiga hari kemudian, aku pulang kerja dan mendapati pintu depan terbuka.

Lampu ruang tamu masih menyala. Makan malam masih utuh di meja.

Mae meninggalkan ponselnya di sofa.

Tapi Mae sudah pergi.

Aku menelepon semua orang.

Teman-temannya.

Keluarganya.

Tetangganya.

Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.

Menurut rekaman kamera keamanan lingkungan, dia terlihat pergi sekitar tengah malam, membawa tas besar.

Lalu… tidak ada jejaknya.

Polisi mengatakan dia mungkin pergi secara sukarela karena masalah kesehatan mental.

Aku tidak percaya itu.

Mae tidak mungkin meninggalkan semuanya tanpa penjelasan.

Tiga hari berikutnya adalah hari-hari tergelap dalam hidupku.

Aku hampir tidak tidur.

Rumah terasa dingin dan tak bernyawa.

Cangkir itu masih ada di sana.

Mantel itu masih tergantung.

Sandal itu masih ada di samping tempat tidur.

Sampai malam ketiga…

Aku mencium bau aneh.

Awalnya, baunya sangat samar, berasal dari dapur.

Kupikir mungkin makanan busuk, jadi aku memeriksa kulkas, tempat sampah, dan wastafel… tapi tidak ada apa-apa. Namun seiring berjalannya waktu, baunya semakin kuat.

Baunya busuk dan amis, membuatku merasa lemas.

Akhirnya, aku menyadari bau itu berasal dari area cucian.

Dari mesin cuci tua di sudut ruangan.

Anehnya, mesin itu sudah lama tidak dicolokkan, tetapi setiap malam aku mendengar suara samar.

“Klik…”
“Klik…”

Seperti seseorang mengetuk di dalam.

Aku mendekat.

Baunya semakin kuat.

“M-Mae…?”

Tidak ada jawaban.

Dengan tangan gemetar, aku membuka tutup mesin cuci.

Kosong.

Namun suara itu masih terdengar.

“Krak…”

“Krak…”
Kedengarannya seperti berasal dari bawah.

Aku berlutut dan mengambil obeng.

Satu per satu, aku membuka sekrup di bawah mesin cuci.

Ketika sekrup terakhir dilepas, tutup logamnya jatuh ke lantai. Dan di situlah aku melihatnya…
Di sudut terdalam mesin cuci, ada sebuah kantong plastik hitam tersembunyi, terbungkus selotip tebal.

Dan tergantung di luarnya…
adalah gelang perak yang kuberikan kepada Mae di hari pernikahan kami.

Tanganku gemetar.

Aku perlahan membuka kantong itu.

Cairan merah kecil menetes ke lantai keramik.

Selama tiga malam berturut-turut setelah istriku menghilang, mesin cuci di rumah kami mengeluarkan suara aneh. Ketika aku membuka bagian bawah mesin untuk memeriksa… seluruh tubuhku membeku saat melihat apa yang tersembunyi di dalamnya.

Aku bertemu Mae ketika kami berdua masih mahasiswa miskin di sebuah kota kecil yang ramai di selatan negara itu.

Saat itu, dia adalah gadis paling populer di kelas. Bukan karena kecantikannya yang membuat orang ragu untuk mendekatinya, tetapi karena senyumnya selalu membuat semua orang merasa nyaman. Dia suka mengikat rambutnya, mengenakan pakaian berwarna cerah, dan selalu membawa buku catatan kecil untuk mencatat hal-hal sederhana sehari-hari.

Sementara itu, aku hanyalah seorang pria biasa yang melakukan pekerjaan serabutan. Aku pergi ke sekolah di pagi hari dan mengantar bahan makanan di malam hari hingga subuh. Kupikir Mae akan memilih kehidupan yang lebih nyaman daripada bersama pria yang tidak punya apa-apa.

Tapi dia memilihku.

Meskipun mendapat penentangan keras dari keluarganya.

Suatu kali aku mendengar ibunya menangis di kamarnya setelah mengetahui Mae ingin menikah denganku. Ia berkata ia bisa menemukan pria kaya dengan mobil dan rumah – bukan pria yang tinggal di apartemen kecil dan bocor yang akan terus bocor setiap kali hujan.

Mae hanya tersenyum dan menggenggam tanganku.

“Aku tidak butuh rumah besar. Aku hanya butuh seseorang yang tidak akan meninggalkanku.”

Aku tidak pernah melupakan kata-kata itu.

Setelah kami menikah, kami pindah ke perumahan sederhana di pinggiran kota. Hidup tidak mudah. ​​Ada beberapa bulan di mana bahkan tagihan listrik pun menunggak. Mae berhenti dari pekerjaannya di kantor dan mulai berjualan kue secara online, sementara aku bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan elektronik.

Ada juga saat di mana kami hanya makan mi instan selama seminggu untuk membeli kulkas bekas.

Tapi Mae tidak pernah mengeluh.

Setiap kali aku pulang larut malam, ia akan meninggalkan makanan di meja dengan catatan kecil:

“Panaskan dulu. Jangan sampai aku sakit perut.”

Sampai sekitar enam bulan yang lalu… aku mulai menyadari ada sesuatu yang berubah pada Mae.

Dia sering begadang sendirian di ruang cuci di belakang dapur.

Suatu kali, aku bangun pagi-pagi sekali dan mendapati dia duduk di depan mesin cuci, matanya bengkak seolah-olah dia baru saja menangis.

“Aku hanya melihat-lihat pakaiannya,” katanya terburu-buru.

Mesin cucinya bahkan tidak menyala.

Kupikir dia hanya stres.

Sampai akhirnya, dia mulai mengunci ponselnya.

Dia juga sering melamun di balkon, memandang ke jalan yang gelap di bawah. Suatu kali, aku melihatnya menyembunyikan amplop cokelat di bawah lemari dan segera menutupnya ketika dia melihatku.

“Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku?”

Dia terdiam sejenak sebelum memelukku erat-erat.

Aku memeluknya begitu erat… seolah-olah dia bisa menghilang kapan saja.

“Apa pun yang terjadi… jangan benci aku, ya?”

Aku tersenyum dan mengelus kepalanya.

“Kau sangat aneh. Aku tidak akan pernah membencimu.”

Aku tidak tahu… ternyata itu adalah senyum terakhirnya.

Tiga hari kemudian, aku pulang kerja dan mendapati pintu depan terbuka.

Lampu ruang tamu masih menyala. Makan malam masih utuh di meja.

Mae meninggalkan ponselnya di sofa.

Tapi Mae sudah pergi.

Aku menelepon semua orang.

Teman-temannya.

Keluarganya.

Tetangganya.

Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.

Menurut rekaman kamera keamanan lingkungan, dia terlihat pergi sekitar tengah malam, membawa tas besar.

Lalu… tidak ada jejaknya.

Polisi mengatakan dia mungkin pergi secara sukarela karena masalah kesehatan mental.

Aku tidak percaya itu.

Mae tidak mungkin meninggalkan semuanya tanpa penjelasan.

Tiga hari berikutnya adalah hari-hari tergelap dalam hidupku.

Aku hampir tidak tidur.

Rumah terasa dingin dan tak bernyawa.

Cangkir itu masih ada di sana.

Mantel itu masih tergantung.

Sandal itu masih ada di samping tempat tidur.

Sampai malam ketiga…

Aku mencium bau aneh.

Awalnya, baunya sangat samar, berasal dari dapur.

Kupikir mungkin makanan busuk, jadi aku memeriksa kulkas, tempat sampah, dan wastafel… tapi tidak ada apa-apa. Namun seiring berjalannya waktu, baunya semakin kuat.

Baunya busuk dan amis, membuatku merasa lemas.

Akhirnya, aku menyadari bau itu berasal dari area cucian.

Dari mesin cuci tua di sudut ruangan.

Anehnya, mesin itu sudah lama tidak dicolokkan, tetapi setiap malam aku mendengar suara samar.

“Klik…”
“Klik…”

Seperti seseorang mengetuk di dalam.

Aku mendekat.

Baunya semakin kuat.

“M-Mae…?”

Tidak ada jawaban.

Dengan tangan gemetar, aku membuka tutup mesin cuci.

Kosong.

Namun suara itu masih terdengar.

“Krak…”

“Krak…”
Kedengarannya seperti berasal dari bawah.

Aku berlutut dan mengambil obeng.

Satu per satu, aku membuka sekrup di bawah mesin cuci.

Ketika sekrup terakhir dilepas, tutup logamnya jatuh ke lantai. Dan di situlah aku melihatnya…
Di sudut terdalam mesin cuci, ada sebuah kantong plastik hitam tersembunyi, terbungkus selotip tebal.

Dan tergantung di luarnya…
adalah gelang perak yang kuberikan kepada Mae di hari pernikahan kami.

Tanganku gemetar.

Aku perlahan membuka kantong itu.

Cairan merah kecil menetes ke lantai keramik.

Dan saat itu juga—
ponsel Mae di ruang tamu tiba-tiba menyala.

Ada pesan baru dari nomor yang tidak dikenal.

“Kau membukanya… kan?”

Dan saat itu juga—
ponsel Mae di ruang tamu tiba-tiba menyala.

Ada pesan baru dari nomor yang tidak dikenal.

“Kau membukanya… kan?”

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian cerita tersebut, mempertahankan atmosfer misteri, ketegangan, dan sisi emosional yang telah kamu bangun:

Seluruh tubuhku membeku. Jantungku berdetak begitu kencang hingga rasanya mau meledak dari dada.

Ponsel di ruang tamu terus berkedip di kegelapan, memancarkan cahaya biru yang dingin. Di lantai dapur, kantong plastik hitam itu setengah terbuka. Di dalamnya bukan potongan tubuh seperti yang sempat ditakutkan oleh pikiran liarku yang paling buruk, melainkan tumpukan baju rajut kesayangan Mae yang dipenuhi noda darah kering, membungkus sebuah perekam suara digital kecil dan gumpalan daging yang membusuk—umpan mentah yang sengaja ditaruh untuk memicu bau busuk.

Dengan lutut lemas, aku merangkak meraih ponsel Mae. Jariku bergetar hebat saat menyentuh layarnya. Pesan dari nomor tak dikenal itu berlanjut:

“Lihat di bawah lipatan baju rajutnya. Kebenaran tidak pernah mencuci dirinya sendiri.”

Aku kembali ke mesin cuci dengan napas memburu. Sambil menahan mual akibat bau amis yang menyengat, aku merobek plastik itu sepenuhnya dan mengambil perekam suara tersebut. Di bawahnya, ada sebuah amplop cokelat tebal—amplop yang sama dengan yang disembunyikan Mae di bawah lemari beberapa hari lalu. Di dalamnya terdapat dokumen medis dan polis asuransi jiwa atas nama Mae.

Aku menekan tombol play pada perekam suara. Suara desis statis terdengar, diikuti oleh isak tangis yang sangat kukenal. Suara Mae.

“Jika kau mendengar ini… artinya aku sudah tidak ada, dan kau sudah menemukan apa yang kusembunyikan. Maafkan aku, Sayang…” Mae terbatuk, suaranya terdengar sangat lemah. “Enam bulan lalu, dokter mendiagnosisku menderita kanker otak stadium akhir. Biaya pengobatannya akan menghancurkan kita. Kita akan kehilangan rumah ini, dan kau akan kembali menjadi pria miskin yang bekerja sampai subuh. Aku tidak mau menjadi bebanmu.”

Air mataku tumpah tanpa bisa dibendung. Suara Mae di rekaman itu terdengar bergetar hebat, persis seperti malam ketika dia memelukku erat-erat.

“Keluargaku… mereka menawarkan kesepakatan. Ibuku setuju melunasi semua hutang kita dan memberiku biaya perawatan di luar negeri, dengan satu syarat: aku harus meninggalkanmu selamanya dan menikah dengan pria pilihan mereka untuk menyelamatkan bisnis keluarga. Mereka mengancam akan menghancurkan kariermu jika aku menolak.”

Suara desah napas berat Mae terdengar, diikuti suara ketukan mistis yang selama tiga malam ini kudengar. Ternyata itu adalah suara Mae yang merekam ketukan jarinya ke mikrofone sebagai kode.

“Aku pura-pura setuju. Aku pergi membawa tas besar malam itu agar terekam kamera keamanan, membuat semua orang berpikir aku kabur secara sukarela. Tapi aku tidak pergi ke bandara. Malam itu, aku pergi ke tebing laut di ujung kota… Aku menaruh gelang pernikahanku dan pakaian berdarah ini di sini sebelum aku pergi, agar kau tahu… aku tidak pernah mengkhianatimu. Uang asuransi di amplop itu cukup untuk masa depanmu. Jangan cari aku lagi, Sayang. Aku mencintaimu.”

Rekaman itu berakhir dengan suara klik yang sunyi.

Otakku berputar. Jika Mae berniat mengakhiri hidupnya di tebing agar aku mendapatkan uang asuransi dan lepas dari tekanan keluarganya… lalu siapa yang mengirimkan pesan singkat ke ponsel ini beberapa detik yang lalu?

Tiba-tiba, sebuah pesan baru masuk di ponsel Mae. Kali ini bukan hanya teks, melainkan sebuah foto.

Foto itu diambil dari sudut gelap di seberang jalan, memperlihatkan jendela rumahku yang menyala, dan bayanganku yang sedang duduk di lantai dapur memegang ponsel.

Di bawah foto itu, sebuah teks terakhir muncul:

“Ibunya berpikir dia bisa membelinya. Mae berpikir dia bisa berkorban. Tapi mereka lupa, aku yang mengantarnya ke tebing malam itu. Dan sekarang, giliranmu.”

Sayup-sayup dari luar rumah, di tengah keheningan malam yang mencekam, aku mendengar suara langkah kaki pelan di atas kerikil halaman depan. Berjalan menuju pintu yang sengaja tak kukunci.