Dia membawa tunangannya ke rumah termiskin di desa untuk mengujinya, namun ketika wanita itu menyerahkan secarik kertas, pria itu menangis saat mengetahui wajah aslinya.
BAGIAN 1
Bima adalah seorang arsitek sukses berusia 34 tahun yang tinggal di kawasan elit Menteng, Jakarta. Hidupnya adalah gambaran sempurna kesuksesan modern: ia berpenghasilan lebih dari 90 juta rupiah per bulan, mengendarai mobil sport terbaru, makan di restoran paling mewah, dan mengenakan setelan jas yang dijahit khusus.
Namun, asal-usulnya sangat berbeda. Ia lahir di sudut kecil dan berdebu di pelosok Jawa Tengah, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal yang tangannya pecah-pecah karena menenun kain lurik siang dan malam demi membiayai sekolahnya.
Tunangannya, Kirana, adalah seorang perawat anak berusia 28 tahun. Ia tidak berpenghasilan besar, tetapi memiliki hati yang sangat luas, kesabaran tak terhingga, dan mencintai Bima apa adanya, bukan karena saldo rekening banknya.
Mereka telah menjalin hubungan selama 3 tahun dan pernikahan tinggal 2 bulan lagi akan dilangsungkan. Undangan sudah dikirimkan, gaun pengantin sudah dibeli, dan gedung resepsi sudah dipesan.
Namun, racun keraguan mulai menyusup ke pikiran Bima. Di lingkungan pertemanannya yang kaya raya, cerita tentang pengkhianatan adalah makanan sehari-hari. “Jangan naif, Bima,” kata rekan-rekannya di sela-sela tegukan anggur.
“Wanita itu berpura-pura menjadi malaikat sampai mereka mendapatkan cincinnya. Saat dia tahu kamu berasal dari kemiskinan dan bertemu ibumu yang miskin, dia pasti akan menghinamu. Dia hanya menginginkan uangmu.”
Dimakan oleh rasa tidak aman dan takut akan penolakan, Bima mengambil keputusan gelap: ia akan menguji Kirana. Secara diam-diam, ia menelepon ibunya, Ibu Sumi.
Ia meminta ibunya untuk tidak membersihkan rumah bambu yang sederhana, mengenakan pakaian paling lusuh dan sobek yang ia miliki, serta berpura-pura sakit dan kesakitan.
“Aku ingin melihat apakah Kirana benar-benar mencintaiku atau jika dia akan lari saat melihat dari mana aku berasal,” dalihnya kepada sang ibu, mengabaikan helaan napas kekecewaan yang berat dari ibunya di seberang telepon.
Akhir pekan itu, Bima berbohong bahwa mobil mewahnya mogok. Ia memaksa Kirana menempuh perjalanan 14 jam naik bus ekonomi menuju Jawa Tengah, dilanjutkan perjalanan 2 jam menggunakan mobil bak terbuka melewati jalan tanah di bawah terik matahari yang menyengat.
Kirana tidak mengeluh sama sekali; sebaliknya, ia menyeka keringat di dahi Bima dengan senyuman. Saat tiba, adegan itu sudah disiapkan. Rumah bambu itu tampak hampir roboh, halaman rumahnya tanah gembur, dan Ibu Sumi duduk di kursi kayu yang reyot, tampak rapuh dan menyedihkan.
Bima mengamati tunangannya dari sudut matanya, menunggu rasa jijik, seringai muak, atau keluhan. Kirana terdiam seribu bahasa. Ia menatap rumah itu, menatap sang ibu, dan wajahnya menjadi sulit ditebak.

Perlahan, ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan selembar kertas terlipat, dan mendekati Bima. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyerahkan kertas itu.
Jantung sang arsitek berhenti, yakin bahwa itu adalah pembatalan pernikahan atau daftar tuntutan. Mustahil untuk percaya apa yang akan terjadi selanjutnya…
BAGIAN 2 (Tamat)
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Bima membuka lipatan kertas tersebut. Ia bersiap untuk membaca kata-kata makian, tuntutan material, atau surat pembatalan pernikahan yang sah. Namun, saat matanya menyapu baris demi baris tulisan tangan yang rapi di atas kertas itu, dunianya runtuh seketika.
Itu bukan surat cerai. Itu adalah rincian rencana renovasi rumah dan anggaran medis.
Di bagian atas kertas tertulis judul: “Rencana Masa Depan Ibu Sumi”.
Kirana telah menuliskan sketsa kasar penguatan struktur fondasi rumah bambu tersebut agar tidak roboh, lengkap dengan estimasi biaya material. Di bawahnya, terdapat daftar obat-obatan, nama dokter spesialis di kota terdekat, serta jadwal terapi untuk penyakit sendi yang tampaknya diderita Ibu Sumi. Di bagian paling bawah, ada sebuah catatan kecil:
“Tabungan gajiku sebagai perawat ada sekitar 45 juta. Memang tidak cukup untuk membangun istana, tapi cukup untuk memperbaiki atap yang bocor dan membawa Ibu berobat besok pagi. Bima, kenapa kamu tidak pernah cerita kalau Ibu sedang sakit dan tinggal di tempat seperti ini? Mulai bulan depan, kita tidak perlu mengadakan resepsi mewah di gedung. Kita alihkan saja uangnya untuk merawat Ibu di sini.”
Bima terpaku. Air mata hangat mulai menggenapi pelupuk matanya, lalu jatuh tanpa bisa ia bendung. Dadanya sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di hadapannya, wanita yang ia curigai sebagai pemburu harta justru sedang bersujud di depan Ibu Sumi, tanpa memedulikan debu yang mengotori gaunnya, sambil memijat kaki sang ibu dengan lembut.
“Ibu… maafkan Bima ya, Bu,” bisik Kirana lembut, suaranya bergetar penuh empati. “Bima pasti terlalu sibuk bekerja di Jakarta sampai tidak tahu Ibu seburuk ini. Sekarang ada Kirana di sini, Ibu tidak akan sendirian lagi.”
Ibu Sumi, yang sejak awal terpaksa mengikuti sandiwara putranya, tidak bisa lagi menahan air matanya. Beliau memeluk Kirana dengan erat, lalu menatap Bima dengan pandangan mata yang seolah berkata, “Lihatlah malaikat yang hampir kamu hancurkan dengan keraguanmu.”
Bima berjalan mendekat, lalu berlutut di samping keduanya. Ia menangis tersedu-sedu, mencium tangan ibunya dan tangan tunangannya bergantian.
“Kirana… maafkan aku. Aku bajingan,” ucap Bima di sela tangisnya yang pecah. Ia akhirnya membongkar semua kebohongannya—tentang mobil mewah yang tidak mogok, tentang skenario rumah yang sengaja dibuat kumuh, dan tentang racun di pikirannya yang dipicu oleh bisikan teman-teman kayanya.
Kirana terdiam sejenak. Ada kilat kekecewaan di matanya, bukan karena kemiskinan Bima, melainkan karena kurangnya rasa percaya dari pria yang akan menjadi suaminya. Namun, melihat ketulusan penyesalan Bima dan pelukan hangat Ibu Sumi, hati Kirana melunak.
“Uang bisa dicari, Bima, dan kemiskinan masa lalumu bukan aib,” kata Kirana sambil menyeka air mata di pipi Bima. “Tapi kepercayaan adalah fondasi. Jika kamu merenovasi gedung dengan fondasi yang rapuh, gedung itu akan runtuh. Begitu juga dengan pernikahan kita. Jangan pernah mengujiku lagi.”
Hari itu, di rumah termiskin di desa tersebut, Bima tidak hanya menemukan wajah asli tunangannya yang ternyata seindah malaikat. Ia juga menemukan kembali dirinya yang sempat terhilang dalam kemewahan Jakarta: seorang anak desa yang akhirnya sadar bahwa kekayaan sejati tidak disimpan di dalam saldo rekening, melainkan di dalam hati wanita yang tulus mencintainya.