“Kalau jam 12 siang nanti kamu masih di rumah ini, aku akan mengeluarkan 2 koper bajumu ke jalan supaya seluruh kompleks perumahan melihatnya.”
Begitulah cara Bu Ratna, ibu mertua dari Vina, menjatuhkan vonisnya. Ia berdiri di dapur dengan tangan terlipat di dada, menunjukkan sikap sebagai pemilik rumah yang mutlak seperti biasanya. Vina meletakkan cangkir kopi tubruknya di meja dapur dari granit, merasakan perutnya mual, dan menatapnya seolah ia salah dengar.
“Maaf?”, tanya Vina dengan suara pelan.
“Jangan pura-pura tidak tahu, Vina. Putriku sudah tidak tahan lagi denganmu. Dia bilang kamu membuatnya tidak nyaman di rumah sendiri. Jadi, kamu punya 1 jam untuk pergi dari sini.”
Putri yang dimaksud adalah Bella, adik bungsu dari Aris, suami Vina. Dia berusia 30 tahun dan baru saja pindah “hanya untuk 2 minggu” ke rumah di kawasan elit Jakarta setelah kehilangan pekerjaan untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Sejak saat itu, Bella menghabiskan stok makanan yang dibeli Vina, menggunakan mobilnya tanpa izin dan membiarkannya dengan bensin 0 liter, menyebarkan piring kotor bekas sambal di seluruh ruang tamu, dan mengeluh bahwa keberadaan Vina “membuatnya stres” karena dia harus bekerja dari rumah dan Vina “menatapnya dengan sinis”.
Vina menoleh ke arah Aris, mencari tatapannya, berharap sebagai suami ia bisa menghentikan kegilaan ini. Namun, Aris berdiri di samping kulkas dengan mata tertuju pada lantai ubin, menggosok-gosok tangannya dengan gugup. Keheningan yang mencekam itu adalah jawaban paling kejam yang bisa diterima Vina.
“Kamu tidak akan bicara apa-apa, Aris?”, tanyanya dengan suara bergetar.
Suaminya mengusap tengkuknya, menghindari kontak mata. “Vina, kurasa lebih baik kamu pergi menginap 4 atau 5 hari di tempat kakakmu, Siska, di Bandung… Kamu tahu kan, supaya suasana lebih tenang.”
Vina merasakan sesuatu di dalam dadanya hancur berkeping-keping, tetapi martabatnya membuatnya tetap tegar. Dia tidak berteriak. Dia tidak menangis. Dia tidak memohon.
Dia naik ke kamar utama, memasukkan pakaiannya ke dalam 2 koper, menyimpan laptopnya, dokumen pribadinya, dan sebuah map biru yang selalu dia simpan terkunci di meja kerjanya. Saat menuruni tangga, Bu Ratna memperhatikannya dengan senyum penuh kemenangan dan keangkuhan. Bella sedang rebahan di sofa, jarinya menggeser layar ponselnya.
“Baguslah,” gumam Bella sinis. “Akhirnya akan ada kedamaian di rumah ini.”
Vina berhenti selama 1 detik, mengatupkan rahangnya, dan melangkah keluar pintu tanpa mengucapkan 1 patah kata pun.
Kakaknya, Siska, menyambutnya sore itu di apartemennya di kawasan Tebet. Selama 7 hari, Vina mematikan emosinya dan tidak menelepon siapa pun. Aris mengirimkan 3 pesan singkat yang dingin: “Apa kamu sudah tenang?”, “Ibuku bilang kamu terlalu berlebihan”, “Kita bicara kalau amarahmu sudah reda”. Dia tidak membalas satu pun.
Pada hari ketujuh, pukul 9 pagi, ponselnya bergetar. Itu dari Bu Ratna. Vina mengangkatnya. Wanita itu bahkan tidak mengucapkan salam.

“Kenapa kamu belum membayar uang sewa? Pemilik rumah sudah mengirim pesan menagih pembayaran.”
Vina menyandarkan tubuh di kursi, menatap map biru di atas meja, dan tersenyum untuk pertama kalinya sepanjang minggu itu.
“Karena saya sudah tidak tinggal di sana lagi, Bu Ratna.”
Hening sejenak.
“Jangan mulai dengan kekanak-kanakanmu, Vina. Uang sewa jatuh tempo hari ini.”
“Ini bukan kekanak-kanakan. Anda yang mengusir saya.”
Bella merebut telepon dari ibunya dan suara cemprengnya menusuk telinga. “Kamu tidak bisa seenaknya berhenti membayar begitu saja. Aris bilang kamu yang mengurus semua urusan administrasi itu.”
“Saya yang mengurusnya,” jawab Vina dengan tenang yang sedingin es. “Sampai ibu Anda memberi saya 1 jam untuk pergi.”
Saat itu, dia mendengar suara Aris di latar belakang, terdengar ketakutan. “Bagaimana maksudnya sewa? Bu, apa yang kalian bicarakan?”
Dan di situlah Vina memahami sesuatu yang mengerikan. Bu Ratna dan Bella bahkan belum menceritakan kebenaran sepenuhnya kepada Aris tentang masalah uang tersebut. Dia tidak percaya apa yang akan terjadi selanjutnya…