“Maaf, Pak… sepertinya kartu ini tidak bisa digunakan, ada kartu lain, Pak?”
Raka mengerutkan dahi, sedikit kesal. “Masa nggak bisa dipakai, Mbak? Bisa dicek lagi, dong?”
Petugas itu memeriksa ulang, menekan beberapa tombol di mesin EDC. “Sudah dicoba beberapa kali, Pak. Maaf, tetap tidak bisa.”
Raka menghela napas panjang, mencoba kartu ATM lain, kartu kredit tambahan, tapi hasilnya sama. Setiap kali dicoba, mesin menolak. Wajahnya mulai memerah. “Apa-apaan ini, sih? Semua kartu ini tidak bisa dipakai?”
Dengan rasa kesal yang memuncak, Raka meninggalkan toko perhiasan, langkahnya cepat menuju bank terdekat. Di bank, ia langsung menuju loket informasi dan menunggu dengan sabar, meskipun kemarahannya semakin memuncak.
Beberapa menit kemudian, namanya dipanggil. Raka mendekat, menatap petugas bank.
“Pak Raka, atas nama Bapak, semua kartu—ATM dan kredit—telah diblokir, Pak.”
Raka menatap petugas dengan mata terbelalak. “Hah? Diblokir? Kok bisa? Ini gimana ceritanya?”
Petugas itu menatap dengan sopan. “Maaf, Pak… berdasarkan laporan dari Ibu Ayu, Bapak kehilangan kartu, makanya diblokir. Semua dana juga sudah dipindahkan ke atas nama Ibu Ayu, Pak.”
Raka merasakan darahnya mendidih, kemarahan memuncak tanpa bisa ditahan. “Apa? Semua dipindahkan? Dia… Ayu?!” Gumamnya setengah geram, setengah tak percaya.
Tanpa pikir panjang, Raka membalikkan badan dan bergegas keluar dari bank. Mobilnya melaju kencang, arahnya sudah jelas: kantor. Hari ini, ia harus menemui Ayu, menanyakan semuanya. Kenapa sampai diblokir, siapa yang berani memindahkan dana, dan apa maksud semua tindakan ini?
“Kamu nggak mau ngejelasin sesuatu sama Mas, Ayu?” tanya Raka dengan nada sedikit t4jam, mencoba menyembunyikan rasa geramnya.
Ayu menatapnya sekilas tanpa berhenti bekerja. “Apa yang perlu aku jelasin, Mas?” jawabnya datar.
Raka menelan ludah, napasnya agak berat, suaranya meninggi. “Kamu nggak usah pura-pura b0doh, Ayu! Pertama, kamu bilang ke petugas bank kalau kartu Mas, hilang, terus kamu minta mereka memblokir ATM Mas. Sampai semua saldo Mas dipindahkan ke rekening kamu! Maksud kamu apa sih, Ayu? Kenapa kamu ngelakuin ini sama Mas?!”
Ayu tetap diam, matanya menatap layar, tapi bibirnya mengecil, menahan emosi yang lain.
“Kalau kamu marah gara-gara Mas nggak ngerayain anniversary, oke! Mas minta maaf! Tapi ini—ini cara kekanakan-kanakan, Ayu! Cara seperti ini bikin Mas tuh gak mengenali istri mas sendiri.!” Suara Raka meninggi, hampir bergemuruh di ruangan.
Ayu menghela napas pelan, hatinya berdesir, tapi matanya tetap dingin menatap layar laptopnya. Rasa sakit hati yang ia rasakan dari pengkhi4natan Raka dan cara Raka menuduhnya membuatnya semakin keras kepala.

Ayu tetap diam. Tanpa sepatah kata pun, dia meraih sebuah map tebal yang tergeletak di samping laptopnya. Dengan gerakan tenang, ia membuka map itu, mengeluarkan selembar kertas dan sebuah foto, lalu menaruhnya di atas meja tepat di depan Raka.
“Kamu lihat… dan kamu jelaskan ini maksudnya apa,” suara Ayu dingin, tapi penuh ketegasan.
Raka menatap Ayu sebentar, matanya berkeliling seolah mencari penjelasan, tapi yang ia lihat hanyalah wajah istrinya yang keras dan tak tergoyahkan. Dengan tangan gemetar, Raka menunduk, mata fokus pada foto yang tersimpan di atas meja.
Sejenak hening menyelimuti ruangan.
Tvbuhnya men3gang. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Wajahnya pucat pasi, b!birnya bergetar tak sadar. Di depannya, foto itu begitu jelas: malam hari, Raka sedang meng3cup kening Lila, si wanita yang selama ini diam-diam menjaga anaknya yang demam.
“Ini… ini…,” Raka hampir terc3kik kata-katanya. Suaranya serak, tak mampu membentuk kalimat panjang. Nafasnya memburu, dadanya berdebar tak menentu. Setiap detik yang ia pandangi foto itu seperti menikam hatinya sendiri.
Ayu tetap menatap tanpa berkedip. “Ayo jelaskan!”
“Jawab, Mas!” bentak Ayu, suaranya memecah keheningan ruangan. Matanya menatap Raka t4jam, seolah menembus setiap lapisan kebohongan yang selama ini ia simpan. “Jelaskan! Ada hubungan apa kamu sama… Mantan kekasih kamu?”
Raka menelan ludah, wajahnya kaku. “Ayu… itu… ini editan… ini palsu!” katanya tergagap, berusaha menenangkan diri, tapi nada suaranya tetap terdengar panik.
Ayu tertawa—tertawa kecil, tapi menusuk. Senyumnya miring, penuh ejekan, tapi matanya berkaca-kaca. “Palsu? Kamu bilang ini rekayasa, Mas? Sedangkan aku melihatnya dengan mata kepala sendiri! Aku lihat kamu pergi kepada wanita mura_han itu! Dasar wanita pela_kor!” bentaknya, suaranya bergema, penuh kemarahan dan kecewa yang mendidih. “Apa dia nggak tahu kalau kamu udah punya istri, udah punya 4nak? Bisa-bisanya kalian bertemu di belakang aku!”
Raka terperanjat, wajahnya memerah, da_rahnya mendi_dih. “Jaga ucapanmu, Ayu! Jangan bilang Lila itu pela_kor! Jangan bilang dia wanita mura_han!” bentaknya, suaranya meninggi, menegaskan bahwa ia tidak bisa mentolerir hinaan itu.
Ayu menatapnya dengan mata yang membara, dadanya naik-turun. “Kalau bukan wanita mur4han, apa namanya, Mas? Yang malam-malam pergi satu mobil sama suami orang? Kamu mikir nggak, Mas? Kamu pikir aku nggak tahu semua itu?” suara Ayu sudah pecah, tangannya mengepal di samping tu_buhnya, kaki hampir lemas karena emosi yang menumpuk begitu tinggi.
Raka menunduk, napasnya memburu. “Stop! Kamu bilang dia wanita mura_han… dia istri Mas!” suaranya tiba-tiba melunak, tapi setiap kata tersayat tajam. Nada itu bukan hanya marah, tapi juga menyeramkan, karena ia menegaskan kebenaran yang Ayu tak ingin dengar.
Tu_buh Ayu seakan lum_puh seketika. Kakinya lemas, lututnya hampir tak mampu menahan tu_buhnya. Hatinya bergejolak, antara rasa bersalah, marah, dan sakit hati yang bercampur menjadi satu. Mata Ayu menatap Raka dengan tak percaya, napasnya tersengal.
“Apa… apa kamu bilang… dia istri kamu?” suara Ayu hampir berbisik, tapi setiap kata seperti ditu_suk rasa sakit yang amat dalam.
Raka menunduk, napasnya terc3kat. “Ya… aku sudah menikah dengan Lila,” jawabnya dengan suara berat, penuh pertarungan batin yang tidak mudah diungkapkan.
Ayu menatapnya, mata berkaca-kaca. Suaranya serak saat bertanya, “4nak… a
4nak yang kalian bawa ke rumah sakit malam itu… a-pa itu 4nak kalian?”
Raka menelan ludah, wajahnya menegang. “Ya… Zain 4nakku dan Lila,” jawabnya, sulit mengungkapkan setiap kata yang tertahan di d4da.
Ayu menarik napas dalam-dalam, menahan amarah sekaligus kesedihan yang menghvjam hatinya. “C3raikan aku sekarang, Mas… T4lak aku sekarang!” suaranya bergetar, menuntut jawaban yang tegas.
Raka menatapnya, wajahnya tegang, tapi ia menolak untuk menuruti kata-kata Ayu. “Apaan kamu… main t4lak-t4lak segala… enggak, Ayu… aku nggak akan men4lakmu,” jawabnya tegas.
“Jika kamu tidak mau m3ntalakku, kamu c3raikan Lila! T4lak dia dihadapanku!” Ucap Ayu.