AKU MENGHENTIKAN PERNIKAHANKU DI DEPAN 300 TAMU SAAT MELIHAT KURSI ANAKKU YANG BERUSIA LIMA TAHUN KOSONG. KETIKA AKU MENCARINYA KE KAMAR MANDI, APA YANG KUTEMUKAN MENGHANCURKAN HATIKU DAN SEKALIGUS MENGHANCURKAN WANITA YANG BERDIRI DI DEPAN ALTAR.
Pernikahan yang Sempurna
Namaku Mateo, tiga puluh lima tahun, seorang ayah tunggal. Seluruh duniaku berputar pada putriku yang berusia lima tahun, Lily. Dua tahun lalu aku bertemu Vanessa. Cantik, pintar, dan yang paling penting, dia selalu menunjukkan betapa sayangnya dia kepada Lily. Dia sering membelikan mainan dan memeluk anakku setiap kali kami bersama. Karena itulah aku memutuskan untuk menikahinya.
Hari ini adalah hari pernikahan kami. Acara digelar di sebuah gereja mewah dengan lebih dari tiga ratus tamu, termasuk para pebisnis terkenal dan keluarga besar kami. Aku berdiri di altar sambil tersenyum, menunggu Vanessa berjalan menuju diriku.
Putri Kecil yang Menghilang
Musik mulai dimainkan. Vanessa berjalan di tengah lorong gereja dengan gaun putih yang sangat indah. Semua mata tertuju padanya dengan kagum. Namun ketika dia tiba di altar dan menggenggam tanganku, ada sesuatu yang langsung menarik perhatianku.
Aku menoleh ke kursi barisan paling depan tempat Lily seharusnya duduk sebagai “Little Bride”-ku.
Kursinya kosong.
Keningku berkerut dan dadaku mulai berdebar keras. “Vanessa, di mana Lily?” tanyaku pelan.
Vanessa tersenyum manis, tetapi terlihat dipaksakan. “Mungkin dia sedang bermain di luar bersama sepupu-sepupunya, sayang. Sudahlah dulu, Pastor sudah mau mulai.”
“Tidak bisa. Dia tidak boleh hilang dari pandanganku, apalagi dia yang memegang cincin,” jawabku.
Pastor hampir mulai berbicara ketika aku mengangkat tangan. “Tunggu sebentar, Pastor,” kataku keras melalui mikrofon. Tiga ratus tamu langsung terkejut dan mulai berbisik-bisik. “Anak saya hilang.”
“Mateo! Apa-apaan ini?! Kamu mempermalukan kita di depan semua tamu!” bisik Vanessa dengan kesal sambil mencengkeram lenganku erat. “Lanjutkan saja acaranya!”
Aku melepaskan tangannya dengan kasar. Aku mengabaikan semuanya dan berlari turun dari altar untuk mencari anakku.
Rahasia di Dalam Kamar Mandi
Aku mencari Lily di seluruh gereja. Aku memanggil namanya berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Saat melewati toilet wanita di belakang gereja, aku mendengar suara tangisan kecil yang berusaha ditahan.
Aku langsung masuk ke kamar mandi. “Lily? Sayang, kamu di sana?”…
Berikut adalah kelanjutan dan akhir (ending) dari cerita tersebut:
Rahasia di Dalam Kamar Mandi
Aku langsung masuk ke kamar mandi. “Lily? Sayang, kamu di sana?”
Suara tangisan itu mendadak berhenti, digantikan oleh isakan kecil yang tertahan dari bilik paling ujung. Aku melangkah mendekat dengan jantung yang berdegup kencang, lalu mendorong pintu bilik yang ternyata tidak terkunci.
Pemandangan di dalam sana seketika menghancurkan hatiku berkeping-keping.
Putri kecilku, Lily, sedang duduk meringkuk di lantai kamar mandi yang dingin. Gaun putih indahnya kotor dan robek di bagian lengan. Di tangannya, dia memegang kotak cincin pernikahan kami dengan erat. Namun yang membuat darahku berdesir hebat adalah memar kemerahan berbentuk bekas cengkeraman tangan di lengan kecilnya, serta sisa air mata yang membasahi pipinya yang pucat.
“Lily! Ya Tuhan, apa yang terjadi, Nak?!” Aku langsung berlutut dan mendekap tubuhnya yang gemetar hebat.
Begitu berada di pelukanku, tangis Lily pecah. Dia terisak histeris sambil ketakutan. “Papa… Lily takut… Tante Vanessa bilang, kalau Lily tidak sembunyi di sini sampai acara selesai, Tante Vanessa akan membuang Lily ke panti asuhan.”
Aku tertegun, tubuhku mendadak kaku. “Apa maksudmu, sayang?”
“Tante Vanessa bilang… dia benci Lily,” bisik Lily dengan suara parau yang amat sangat ketakutan. “Dia bilang dia cuma pura-pura sayang Lily supaya bisa menikah sama Papa. Tadi sebelum masuk gereja, Tante Vanessa menarik lengan Lily kencang sekali, merebut cincin ini, lalu mengunci Lily di sini. Dia bilang… setelah menikah, dia akan membuat Papa membenci Lily.”
Murka di Depan Altar
Mendengar kalimat itu, seluruh rasa cinta dan kekagumanku pada Vanessa menguap seketika, digantikan oleh kemarahan yang membakar dada. Wanita yang kukira malaikat bagi putriku ternyata adalah seorang monster berwajah dua.
Aku menggendong Lily dengan lembut, mengusap air matanya, dan mengambil kotak cincin dari tangannya. “Jangan takut lagi, Nak. Papa di sini. Tidak akan ada yang bisa membuangmu.”
Aku berjalan kembali ke ruang utama gereja dengan langkah besar dan rahang mengeras. Suasana gereja yang tadinya dipenuhi bisik-bisik bingung langsung senyap saat aku masuk sambil menggendong Lily yang kotor dan ketakutan.
Vanessa berdiri di altar, mencoba tersenyum menyelamatkan keadaan di depan para tamu. “Mateo, syukurlah kamu menemukan Lily. Sekarang berikan dia pada pengasuh, dan mari kita…”
“Pernikahan ini batal!” suaraku menggelegar melalui mikrofon, menggema di seluruh sudut gereja.
Tiga ratus tamu tersentak kaget. Ibu Vanessa bahkan hampir pingsan di kursinya.
“Mateo! Apa kamu sudah gila? Jaga bicaramu!” teriak Vanessa, wajah cantiknya mulai retak oleh kepanikan dan kemarahan.
Kehancuran Sang Pengantin Wanita
Aku melangkah naik ke altar, bukan untuk bersanding dengannya, melainkan untuk menatapnya dengan pandangan paling jijik yang pernah kumiliki.
“Aku yang gila karena hampir menikahi wanita iblis sepertimu!” kataku lantang, memastikan semua pebisnis, kolega, dan keluarga besarnya mendengar setiap kata.

Aku menurunkan sedikit gaun Lily, memperlihatkan bekas memar kemerahan yang kontras di kulit putihnya. “Kamu menyiksa anakku yang berusia lima tahun! Kamu mengancam akan membuangnya ke panti asuhan, menguncinya di kamar mandi, dan memarahi dia hanya karena kamu tidak menginginkan kehadirannya setelah kita menikah!”
Wajah Vanessa langsung memucat seputih gaun pengantinnya. “Itu… itu bohong! Anak itu berbohong, Mateo! Dia hanya ingin menarik perhatianmu!”
“Lily tidak pernah berbohong!” bentakku. “Dan kurasa kamu lupa, Vanessa, bahwa area koridor menuju toilet wanita di gereja ini dilengkapi dengan kamera CCTV. Aku sudah meminta pihak keamanan gereja mengamankan rekamannya saat aku berjalan ke sini tadi.”
Mendengar kata CCTV, runtuh sudah seluruh pertahanan Vanessa. Dia jatuh terduduk di lantai altar dengan gaun mewahnya yang kini tampak menyedihkan. Air matanya mengalir, bukan karena menyesal, melainkan karena malu dan tahu bahwa reputasinya di kalangan sosialitas dan pebisnis telah hancur total hari ini. Tidak akan ada lagi orang terhormat yang mau berteman atau berbisnis dengan wanita penyiksa anak-anak.
Pelukan yang Sesungguhnya
Aku melepas bunga yang tersemat di jas pengantinku, melemparkannya ke hadapan Vanessa, lalu berbalik memunggungi altar.
Di depan tiga ratus tamu yang menatap Vanessa dengan pandangan penuh kecaman dan cemooh, aku berjalan keluar dari gereja sambil mendekap Lily erat-erat dalam pelukanku.
Aku telah membuat kesalahan besar karena hampir membawa monster ke dalam hidup kami. Namun hari ini, melihat senyum lega di wajah putri kecilku saat kami meninggalkan tempat itu, aku tahu aku telah mengambil keputusan terbaik sebagai seorang ayah. Duniaku mungkin tidak butuh pernikahan yang sempurna, duniaku hanya butuh kebahagiaan dan keamanan untuk Lily.