Kupikir dia akan bersu jud minta ma af padaku. Dia malah …
“Siapa bertamu malam-malam begini? Mengganggu saja!” Idham menggerutu menuju pintu. Begitu dibuka, muncul sosok tinggi tegap berwibawa. “Pak Nabil?”
Nabil berdiri di sana mengenakan kaos polo kasual namun terlihat mahal, membawa par sel premium. Bu Ratna menelan ludah melihat logo par sel itu. “Selamat malam, Pak Idham. Maaf mengganggu, saya baru pindah ke rumah seberang. Ternyata kita bertetangga,” ucap Nabil tersenyum.
“Pindah ke depan? Rumah besar yang catnya baru itu, Pak?” Lia merangsek maju, merapikan rambutnya genit. “Selamat datang, Pak Nabil! Saya Lia, adiknya Mas Idham.” Nabil hanya mengangguk sopan, matanya menyapu ruang tamu yang suram.
“Sepertinya ada masalah teknis? Lampu rumah ini ma ti,” ujar Nabil. Idham memerah. “Anu, Pak. Kabelnya digigit tikus.”
“Bohong, Pak Nabil. Tokennya habis, Mas Idham lupa isi karena sibuk kerja,” sahutku santai ke arah dapur, ambil minum. Idham melotot, tapi Nabil terkekeh sembari mengotak-atik ponselnya. Tak lama, meteran listrik berbunyi klik dan lampu menyala terang.
“Sudah saya isikan sejuta. Hadiah perkenalan di malam lebaran,” ucap Nabil enteng. Bu Ratna melongo. “Sejuta? Baik sekali Pak GM ini. Tidak seperti menantu saya yang pe lit.”

Idham berdiri kaku. Baginya, bantuan Nabil adalah tamparan keras. Seorang Manajer dibelikan token oleh atasannya karena kegelapan? Penghinaan yang elegan. “Terima kasih, Pak. Silakan masuk,” ajak Lia semanis madu.
“Tidak perlu. Oh, Laksmi, besok jangan lupa jadwal kunjungan lapangan sore hari,” Nabil menoleh padaku dengan mata berkilat jahil saat menyebut nama kecilku di depan Idham.
“Besok lebaran, Pak.”
“Oh iya, saya lupa. Enak ya punya istri yang bisa mengingatkan.” Begitu Nabil pergi, Lia kegirangan. “Ganteng banget! Wanginya saja wangi u ang! Kok nggak bilang kalau GM baru itu kayak oppa Korea?”
“Berisik! Dia bosku, bukan model!” bentak Idham frustrasi. Lia tak peduli, ia segera unboxing baju lebarannya. “Lihat nih, Mbak Ines! Merek terkenal, harganya hampir sejuta. Mbak jangan berani sentuh, tangannya bau bawang nanti nempel di sutraku!”
Lia membentangkan gamis lilac. Bu Ratna ikut memuji. “Bagus, Lia. Besok kita pakai ke masjid biar Ines makin kelihatan kumel pakai daster robeknya.”
Aku tersenyum tipis. “Pakai saja, Lia. Nikmati mumpung masih bisa dipakai.”
Tiba-tiba dua mobil van mewah LxM EXCLUSIVE BOUTIQUE berhenti di depan pagar. Mbak Maya, pemilik butik ternama, turun membawa koper-koper besar. “Permisi, benar ini rumah Ibu Laksmi Ineswari?”
Aku melangkah ke depan melewati Idham yang melongo. “Ya, saya sendiri. Silakan masuk.”
“Maaf terlambat karena macet, Bu Laksmi. Gaun Prancis Ibu dan kebaya sutra khusus Nenek sudah siap,” ujar Mbak Maya. Idham menghalangi jalan. “Ini butik yang dipakai istri gubernur? Kamu pesan baju di sini? Pakai u ang siapa?”
“U angku sendiri, Mas. Kan aku kreatif,” jawabku santai. “Mbak Maya, tolong bantu Nenek mencoba kebayanya. Beliau harus cantik di sahur terakhir.”

Lia mematung. Gamis lilacnya terlihat seperti kain pel di samping gaun sutra Prancis yang berkilau payet asli. “Mbak, harganya berapa?” bisiknya gemetar.
“Tidak mahal, cuma tiga kali lipat u ang THR yang Mas Idham kasih ke Siska,” sahutku enteng. Di balkon rumahnya, Nabil bersandar memegang kopi. Ia mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi seolah melakukan cheers melihat kegaduhan di rumahku.
“Ines, kamu pasti pakai u ang sim panan dari Nabil, kan? Ngaku kamu!”