Posted in

Mantan istriku yang dulu menghancurkan hidupku tiba-tiba dikabarkan meninggal tepat di malam pertama pernikahanku dengan wanita lain. Semua orang bilang itu karma karena dia pernah mengkhianatiku… sampai aku melihat sendiri kondisi m@yatnya, dan sadar kalau dia sebenarnya ….

Kain putih itu kembali ditarik menutup wajahnya, memutus pandanganku dari pemandangan mengerikan di atas ranjang besi. Namun, bayangan yang sempat kulihat tidak ikut tertutup.

Titik kecil di lehernya.

Bekas tusukan kecil itu.

Terlalu rapi untuk sekadar luka biasa. Terlalu … disengaja.

Aku berdiri kaku beberapa detik, menatap gundukan kain kafan yang membungkus tubuh yang sudah tak lagi bernyawa itu. Bau busuk yang menusuk hidung membuat dadaku terasa sesak, tapi bukan itu yang mengganggu kewarasanku saat ini. Melainkan sebuah luka kecil, yang tak seharusnya ada pada jenazah yang awalnya diduga meninggal karena asam lambung.

“Kalau begitu, kami sarankan untuk dilakukan otopsi,” suara petugas forensik memecah hening. Nadanya tenang, tapi jelas mengandung keyakinan dari balik maskernya.

Aku tidak langsung menjawab. Tatapanku masih tertahan di tubuh itu, seolah mencoba memastikan ulang apa yang tadi kulihat.
Aku benci harus berdiri di sini. Benci harus melihatnya lagi, bahkan dalam keadaan tragis seperti ini. Namun justru karena titik kecil itu … aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Ada yang janggal,” lanjut petugas itu pelan, mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku. “Kami butuh pemeriksaan lebih lanjut.”

Aku mengembuskan napas pendek. “Lakukan saja,” kataku akhirnya, cepat. Hampir refleks. “Kalau memang perlu.”

Bukan karena aku mendadak peduli padanya. Hanya … supaya semuanya menjadi jelas. Dan aku bisa segera pulang untuk menuntaskan malam pertamaku bersama Yura.

Namun, sebelum petugas itu sempat bergerak mengambil peralatan berkas baru, pintu besi kamar jenazah terbuka dengan bunyi pelan yang menyeret. Engselnya berdecit tipis, memecah sunyi yang baru saja merayap di ruangan itu. Udara dingin dari dalam lorong langsung merambat masuk, membawa aroma tajam yang terasa semakin pekat.

Dua polisi masuk.

Langkah mereka tegas, sepatu lars mereka beradu dengan lantai keramik dalam ritme yang kaku dan nyaring di telinga. Wajah mereka datar, dan matanya mengamati semua orang di ruangan ini dengan sorot menuntut. Seolah mereka datang membawa keputusan yang sudah final.

“Sesuai konfirmasi dari Polres Yogyakarta baru saja,” salah satu dari mereka yang berperawakan agak gemuk langsung berkata, suaranya rata tanpa tekanan, “pihak keluarga menolak otopsi.”

Aku langsung menoleh cepat. “Keluarganya sudah menghubungi?” tanyaku, heran, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. “Bukannya tadi kata rekan Anda di telepon mereka tidak bisa dikontak?”

“Sudah,” sahut polisi yang satunya, yang berperawakan lebih muda dan kecil.

“Di mana mereka?” tanyanya lagi, sedikit lebih cepat.

“Untuk saat ini mereka tidak bisa datang ke Jakarta,” jawab polisi yang gemuk.

Jawaban itu membuat alisku berkerut lebih dalam. Pandanganku sempat bergeser, kosong sesaat, mencoba mencerna. Rumah keluarganya ada di Yogyakarta. Jarak dari sana ke Jakarta menggunakan kereta cepat atau pesawat bukan sesuatu yang sulit ditempuh sekarang. Sama sekali bukan alasan yang masuk akal untuk mengabaikan kematian anak sendiri.

Namun kenapa mereka menolak datang?

“Alasannya apa?” tanyaku, ketus. Nada suaraku mulai berubah, lebih tajam dari sebelumnya.

“Mereka hanya menyampaikan keputusan lewat telepon,” lanjut polisi itu, tetap dengan nada datar. “Keluarga tidak menginginkan adanya otopsi. Mereka meminta jenazah agar segera dimakamkan. Katanya, akan sangat menyakitkan bagi almarhumah jika pemakamannya ditunda-tunda.”

Aku terdiam sejenak.

Hening merayap masuk di antara kami. Hanya suara dengungan pendingin ruangan yang terdengar samar, seakan mempertegas kekosongan itu. Tatapanku beralih ke arah jen@zah di atas meja besi. Diam. Tak bergerak. Tertutup rapat. Namun justru itu yang membuatnya terasa semakin janggal. Terlalu sunyi untuk sesuatu yang seharusnya menyimpan sebuah jawaban besar.

Aku kembali menatap tajam kedua polisi itu.