“Aku baru saja keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk, ketika mantan kekasihku tiba-tiba masuk ke rumahku menggunakan password yang dia tahu…”

Aku membeku.

Bukan karena malu.

Tapi karena kehadiran Lara Mendoza terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi lagi.

Dia berdiri di ambang pintu, seolah tidak ada yang salah.

Menatapku dengan tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang berat—bukan cinta, bukan juga marah, tapi sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.

“Kamu masih pakai password lama,” katanya pelan. “Tanggal ulang tahunku.”

Aku tidak menjawab.

“Bagaimana kamu bisa masuk?”

Dia mengangkat sebuah kunci kecil.

“Kamu lupa? Kamu yang kasih ini dulu.”

Aku diam.

Aku bahkan tidak ingat lagi.

Atau lebih tepatnya… aku sengaja melupakannya.

Dia masuk ke dalam rumahku seperti seseorang yang tidak pernah pergi.

Tiba-tiba ruangan terasa lebih sempit.

Seolah ada masa lalu yang kembali menempati ruang yang sudah aku kosongkan.

Dia melihat sekeliling.

“Masih sama,” katanya.

“Tidak,” jawabku. “Aku sudah ganti sofa.”

Dia tersenyum kecil.

“Tapi cara kamu menata semuanya masih sama… seperti dulu aku yang mengatur.”

Hening.

“Apa tujuan kamu datang ke sini?” tanyaku.

Dia duduk di meja makan seolah ini rumahnya sendiri.

“Aku tidak bisa tidur,” katanya. “Dua bulan.”

Aku tidak menjawab.

“Aku cuma ingin melihat kamu… sekali saja.”

Dia tersenyum pahit.

“Tapi ternyata masih belum cukup.”

Ada sesuatu yang menekan dadaku.

“Kamu takut padaku?” tanyaku.

Dia terdiam lama.

“Kamu sudah berubah,” katanya akhirnya.

“Bukan aku yang berubah,” jawabku pelan. “Aku hanya tidak bisa kembali jadi orang yang sama.”

Udara terasa lebih dingin.

“Apakah kamu sedang mengontrolku?” tanyanya tiba-tiba.

Aku tidak menjawab.

Karena bahkan aku sendiri tidak yakin.

Yang aku tahu hanya satu hal:

Aku tidak ingin dia pergi lagi.

“Aku tidak menerima itu,” kataku.

“Apa?” tanyanya.

“Perpisahan kita.”

Dia membeku.

“Ini bercanda?”

Aku melangkah mendekat.

“Aku tidak menerima.”

Ruang terasa berubah.

Aku melihat ketakutan di matanya.

“Aku mulai takut padamu,” katanya pelan.

Aku diam.

Lalu berbisik:

“Kalau kamu pergi lagi… aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.”

Dia mundur perlahan.

“Kamu tidak boleh bicara seperti itu padaku,” katanya.

“Aku hanya ingin kamu tetap di sini,” jawabku.

Dia berbalik.

“Kita sudah selesai.”

Dia sudah berdiri di depan pintu.

Satu langkah lagi, dan Lara Mendoza akan benar-benar pergi dari hidupku untuk kedua kalinya.

Tapi kali ini… tidak ada yang bergerak.

Aku tidak mengejarnya.

Dia juga tidak langsung keluar.

Seolah kami berdua sama-sama menunggu sesuatu yang tidak diucapkan.

“Aku bukan datang untuk kembali,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.

“Lalu untuk apa kamu datang?” tanyaku pelan.

Hening.

Di luar, hujan mulai turun.

Lampu kota Jakarta memantul di kaca jendela, seperti pecahan-pecahan masa lalu yang tidak bisa disatukan lagi.

Lara mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

Meletakkannya di meja.

“Ini laporan keuangan perusahaan kamu yang baru,” katanya.

Aku mengernyit.

“Bagaimana kamu bisa punya ini?”

Dia tersenyum tipis, tapi kali ini bukan hangat.

Lebih seperti lelah.

“Aku sekarang bekerja untuk konsorsium yang membiayai perusahaanmu,” jawabnya. “Mereka ingin memastikan kamu tetap stabil.”

Aku membuka amplop itu.

Angka-angka di dalamnya membuatku diam.

Arus investasi.

Kredit internasional.

Dan satu catatan kecil di bagian bawah:

“CEO de facto: tidak dapat digantikan tanpa persetujuan pihak ketiga (Lara Mendoza).”

Aku mengangkat kepala.

“Jadi ini alasanmu datang ke rumahku?”

Lara akhirnya menatapku langsung.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, suaranya retak sedikit.

“Bukan.”

Dia berhenti.

“Aku datang karena aku satu-satunya orang yang masih bisa menghentikan kamu kalau kamu mulai kehilangan kendali lagi.”

Aku tertawa kecil.

“Kontrol? Kamu pikir aku masih orang yang sama?”

Dia menggeleng.

“Justru itu masalahnya.”

Hening lagi.

Hujan semakin keras.

“Aku tidak butuh kamu mengawasi hidupku,” kataku.

Lara melangkah mundur.

“Dan aku tidak ingin melakukannya,” jawabnya. “Tapi dunia ini sudah terlalu mahal untuk kita berdua membuat kesalahan lagi.”

Dia membuka pintu.

Angin hujan masuk, dingin, memecah keheningan ruangan.

Sebelum pergi, dia berhenti sekali lagi.

“Kalau kamu masih bertanya kenapa aku datang malam ini…”

Dia menoleh sedikit.

“…itu bukan karena aku belum melupakanmu.”

Aku diam.

“Justru karena aku sudah berhasil melupakanmu… tapi aku masih tahu persis bagaimana cara kamu menghancurkan segalanya kalau kamu sendirian.”

Lalu dia pergi.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya, rumah itu benar-benar terasa kosong.

Di atas meja, amplop itu masih terbuka.

Angka-angka besar, nama perusahaan, dan satu nama yang masih tertinggal di sistem:

Lara Mendoza — pengendali risiko utama.

Aku menatap hujan di luar jendela.

Bukan dia yang kembali ke hidupku.

Tapi masa lalu yang kembali dengan kontrak.

Dan kali ini… bahkan perpisahan pun harus disetujui secara finansial.