SEMUA ORANG TERKEJUT SA HARI LAMARAN KETIKA IBUKU TIBA-TIBA MENGATAKAN BAHWA AKU DULU DIUSIR DARI ASRAMA KARENA MENJADI SIMPANAN PRIA BERISTRI…

Namun yang paling mengguncang seluruh keluarga di Quezon City bukanlah kebohongan itu.

Melainkan saat aku tersenyum dan berkata padanya untuk terus saja melanjutkan semuanya…


01

Acara lamaran keluarga berlangsung di rumah kecil kami di Pasig, Manila.

Di luar turun hujan gerimis.

Aroma kare-kare yang baru dimasak bercampur dengan suara lagu Natal samar dari rumah tetangga. Tapi bukannya terasa hangat, suasana di dalam rumah justru semakin menyesakkan.

Sejak keluarga pacarku datang, tingkah ibuku sudah terasa aneh.

Dia terus tersenyum sambil mempersilakan ibu Adrian Santos duduk di sofa.

Berkali-kali dia menuangkan teh dan mengambilkan makanan ke piring mereka.

“Silakan makan yang banyak, sebentar lagi kita akan jadi keluarga.”

“Anakku Althea memang baik dan bertanggung jawab sejak kecil.”

Aku hanya duduk diam di samping Adrian.

Tapi dadaku mulai terasa dingin.

Karena aku sangat mengenal ibuku.

Kalau dia terlalu baik…

berarti dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk.

Dan benar saja.

Belum sampai lima menit, dia tiba-tiba meletakkan sumpit lalu tertawa kecil.

“Oh iya, ngomong-ngomong…”

“Adrian sudah tahu belum kalau Althea dulu pernah diusir dari asrama?”

Seluruh meja langsung hening.

Adrian terdiam.

Ibunya mengernyit.

“Diusir dari asrama? Kenapa?”

Ibuku langsung berpura-pura seolah keceplosan.

“Aduh, lihat deh aku ini…”

“Mungkin karena sudah tua jadi mulut nggak ada remnya.”

“Tapi karena sebentar lagi kita jadi keluarga…”

Pelan-pelan dia mengeluarkan ponselnya.

Dan seketika semua kenangan kembali muncul.

Persis seperti kehidupan masa laluku.

Bedanya sekarang…

aku tidak akan memohon lagi.

Ibuku membuka sebuah album foto dan langsung menunjukkan gambar itu ke semua orang.

“Nih, lihat.”

“Foto ini diambil dini hari waktu satpam menjemput dia dari mobil pengusaha kaya yang sudah punya istri.”

Orang-orang langsung mulai berbisik.

Sepupu Adrian menutup mulutnya karena kaget.

“Ya ampun…”

Wajah ayah Adrian langsung mengeras.

Sementara ibunya memandangku seperti sampah kotor.

Adrian merebut ponsel itu.

Aku bisa melihat tangannya gemetar saat menatap foto tersebut.

Memang benar itu aku di foto.

Aku baru saja turun dari SUV hitam.

Tapi mereka tidak tahu…

pria yang bersamaku waktu itu adalah bosku di perusahaan tempat aku magang.

Dia hanya mengantarku pulang setelah lembur sampai jam dua pagi.

Dan mereka juga tidak tahu…

bahwa ibuku sendiri yang menyebarkan foto itu ke seluruh lingkungan demi membayar utang judinya.

“Althea…”

Suara Adrian terdengar serak.

“Jelaskan.”

Aku menatapnya dengan tenang.

Saking tenangnya sampai aku sendiri terkejut.

“Apa yang ingin kamu dengar?”

Ibuku langsung memotong.

“Apa lagi yang mau dijelaskan?”

“Sejak kuliah anakku ini memang terkenal sekali.”

“Di seluruh Quezon City, banyak orang sudah tahu kelakuannya.”

“Dia bahkan pernah menginap di resort di Tagaytay bersama pria yang lebih tua!”

“Sebagai ibunya sendiri aku malu mengakuinya!”

Ibu Adrian langsung membanting cangkir tehnya.

“Dan kalian menyembunyikan semua ini sementara ingin anakku menikahi perempuan seperti itu?!”

“Perempuan seperti dia hanya akan menghancurkan nama keluarga Santos!”

Aku malah tersenyum.

Dan saat ibuku melihat aku tersenyum, dia jadi semakin bersemangat.

Dia berdiri dan hampir berteriak.

“Itu belum semuanya!”

“Anakku ini juga pernah pinjam uang ke rentenir!”

“Dia bahkan menandatangani perjanjian dengan video tidak senonoh sebagai jaminan!”

Ruang tamu langsung gempar.

“Menjijikkan…”

“Kasihan Adrian…”

“Perempuan macam apa dia…”

Adrian mencengkeram lenganku erat.

“Apakah itu benar?”

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

“Ya.”

Ibunya menjerit.

Dia langsung menarik Adrian menjauh dariku seolah aku penyakit menular.

“Putuskan dia sekarang juga!”

“Kalau kamu menikahi perempuan seperti itu, hidupmu akan hancur!”

Di tengah kekacauan itu…

aku menatap ibuku.

Dia sedang tersenyum.

Senyum penuh kemenangan.

Persis seperti senyumnya di kehidupanku yang dulu.

Saat dia melihat semua orang menghancurkanku.

Tapi sekarang…

aku tidak menangis.

Aku juga tidak membela diri.

Karena aku tahu…

tinggal beberapa menit lagi…

senyumnya akan menghilang.

Ibuku menarik napas panjang lalu kembali menghadap keluarga Adrian.

“Oh iya…”

“Aku juga membawa kontrak utangnya.”

Dengan gembira dia berlari ke kamar.

Saat kembali…

dia membawa map kuning tebal.

Dan saat melihatnya…

tubuhku langsung terasa dingin.

Karena aku tahu persis apa isi map itu.

Bukan hanya kontrak utang.

Tetapi juga…

foto yang bisa menghancurkan hidup seseorang.

Ibuku tersenyum sambil perlahan membuka map itu di depan semua orang.

“Sekarang akan aku tunjukkan pada kalian…”

“Bagaimana anakku yang baik ini mencari uang demi membiayai adik laki-lakinya kuliah di Cebu.”

Lalu dia perlahan mengeluarkan foto pertama.

Dan di detik semua orang melihatnya…

ekspresiku langsung berubah.

Karena perempuan di foto itu…

bukan aku.

Ruangan itu membeku.

Tidak ada lagi suara bisik-bisik.

Tidak ada lagi tatapan jijik.

Karena wanita di foto itu…

adalah ibuku sendiri.

Dia yang sedang duduk di pangkuan seorang pria tua di dalam kamar hotel.

Gaunnya setengah terbuka.

Tangannya memegang amplop uang tebal.

Dan wajah pria itu…

langsung dikenali oleh semua orang di ruangan.

Karena dia adalah Ketua Barangay kami sendiri.

Map kuning itu jatuh dari tangan ibuku.

Wajahnya seketika pucat.

“Ti-tidak… itu bukan…”

Tapi sudah terlambat.

Sepupu Adrian berdiri sambil menutup mulut.

“Ya Tuhan…”

Ibu Adrian langsung mundur satu langkah.

Sedangkan ayah Adrian menatap ibuku dengan ekspresi jijik yang tadi ditujukan padaku.

Aku perlahan berdiri.

Tenang.

Sangat tenang.

“Kenapa berhenti, Bu?” tanyaku pelan.

“Bukannya Ibu mau menunjukkan bagaimana aku mencari uang?”

Ibuku gemetar.

Dia buru-buru mengambil foto-foto itu dan mencoba menyembunyikannya.

“T-tidak… ini salah… ini bukan punyaku…”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar tersenyum.

“Kalau begitu kenapa map itu selalu Ibu simpan di lemari kamar?”

Tubuhnya langsung membeku.

Aku menatap semua orang di ruangan.

“Foto-foto itu bukan milikku.”

“Itu milik ibuku.”

“Dan pria-pria yang selama ini dia tuduhkan padaku…”

aku berhenti sejenak.

“…adalah pria-pria yang membayar utang judinya.”

Ibuku langsung berteriak.

“Pembohong!”

Dia mencoba menamparku.

Tapi kali ini…

aku menangkap tangannya di udara.

Seluruh ruang tamu terdiam.

Karena selama ini aku selalu diam.

Selalu menangis.

Selalu membiarkan diriku dihancurkan.

Tapi tidak malam ini.

Aku menatap matanya lurus-lurus.

“Sudah cukup, Bu.”

Tangannya gemetar di genggamanku.

Aku melanjutkan dengan suara pelan namun tajam.

“Sejak kecil Ibu selalu butuh seseorang untuk disalahkan.”

“Waktu Ayah pergi, aku yang disalahkan.”

“Waktu adikku gagal kuliah, aku yang diperas untuk membayar semuanya.”

“Dan waktu utang judi Ibu menumpuk…”

aku tersenyum tipis.

“…Ibu menjual harga diriku supaya nama Ibu tetap bersih.”

Air muka ibuku berubah total.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku melihat ketakutan di matanya.

Adrian menatapku dengan wajah pucat.

“Althea… jadi selama ini…”

Aku memandangnya sebentar.

Lalu mengangguk.

“Ya.”

“Itu sebabnya aku tidak pernah membela diri.”

“Karena di keluarga ini… kebenaran tidak pernah penting.”

Sunyi.

Hanya suara hujan di luar rumah.

Lalu tiba-tiba…

Ibu Adrian berdiri.

Dia menatap ibuku dengan dingin.

“Jadi selama ini Anda memfitnah anak sendiri?”

Ibuku panik.

“Bukan begitu! Dia memutarbalikkan semuanya!”

“Tadi Anda sendiri yang membawa bukti itu,” jawab ayah Adrian dingin.

Wajah ibuku runtuh perlahan.

Dia melihat ke sekeliling.

Tidak ada lagi yang percaya padanya.

Tidak ada lagi yang membelanya.

Persis seperti yang dulu dia lakukan padaku.

Dan saat itu akhirnya tiba…

aku merasa lega.

Bukan karena aku menang.

Tapi karena akhirnya…

untuk pertama kalinya dalam hidupku…

aku tidak lagi malu pada diriku sendiri.

Aku mengambil tasku.

Lalu berjalan menuju pintu.

“Althea!”

Suara Adrian terdengar panik.

Aku berhenti, tapi tidak menoleh.

“Aku bisa jelaskan semuanya ke keluargaku—”

“Aku tahu,” potongku pelan.

“Masalahnya… aku sudah terlalu lelah hidup di tengah orang-orang yang baru percaya setelah melihat aku hancur dulu.”

Dia terdiam.

Aku membuka pintu rumah.

Udara dingin langsung menyentuh wajahku.

Dan di belakangku…

terdengar suara ibuku menangis histeris untuk pertama kalinya.

Tapi aku tidak menoleh lagi.

Karena malam itu…

yang benar-benar hancur bukan pertunanganku.

Melainkan topeng ibuku sendiri.