Dia menamparku dua belas kali—hanya untuk melampiaskan amarahnya demi ibunya.

Aku tidak menangis sedikit pun. Setelah tamparan terakhir, aku berbalik dan berjalan keluar dari rumah, meninggalkannya berdiri terpaku di sana. Bahkan kalau nanti dia menjadi gila karena penyesalan, aku sudah tidak peduli lagi.

“Tadi pagi, ibumu membuang semua obat milik ibuku.”

Suaraku tidak keras, tetapi setiap kata jatuh seperti palu.

“Ibuku punya penyakit jantung. Satu kotak obat harganya 250 ribu rupiah. Tapi ibumu bilang ramuan herbal lebih bagus—jadi dia menyiram semua obat itu ke toilet.”

“Pengabdian?” ulangku, seolah baru pertama kali mendengar kata itu.

“Selama lima belas hari dia tinggal di rumah ini, tiga kali obat ibuku diganti. Minggu lalu—obat tekanan darah diganti obat tak dikenal. Kemarin—makanan diet dibuang karena katanya ‘gula tidak sehat’. Dan hari ini—obat jantung.”

“Ibumu datang ke sini bukan untuk membantu. Dia datang untuk berkuasa. Di rumahku sendiri.”

Tiga kata terakhir itu terasa seperti pisau yang menusuk.

Nyonya Wijaya menangis semakin keras.

“Victor, dengarkan dia… selama lima belas hari aku memasak, mencuci, mengurus anak… ternyata seperti ini dia memandangku… lebih baik aku mati saja…”

Wajah Victor Wijaya langsung berubah.

Selama ini dia selalu bangga menjadi anak yang berbakti. Ayahnya meninggal saat dia kecil, dan ibunya membesarkan dia dan adiknya di Jakarta sendirian. Saat musim hujan tangannya pecah-pecah karena bekerja, saat musim panas kulitnya terbakar matahari. Ketika Victor diterima di universitas, ibunya membagikan permen ke seluruh gang.

Begitu mendengar tangisan itu, seolah ada sesuatu yang putus di dalam kepalanya.

“Ana, minta maaf pada ibuku.”

Aku menatapnya lurus.

“Tidak.”

“Kau mau minta maaf atau tidak?”

“Dia membuang obat yang menyelamatkan nyawa ibuku. Ibuku hampir meninggal. Aku tidak akan minta maaf.”

Kepalan tangannya mengeras.

“Kesempatan terakhir, Ana—”

“Seratus kali pun kau bertanya, jawabanku tetap sama.”

Aku sedikit mengangkat dagu. Tubuhku memang lebih kecil darinya, tapi aku berdiri jauh lebih tegak.

“Ibumu yang salah. Kenapa orang yang benar harus meminta maaf?”

Tangisan Nyonya Wijaya berhenti.

Dia menggenggam tangan anaknya.

“Kalau hari ini kau tidak membela ibumu, besok aku pulang ke kampung dan tidak akan kembali lagi.”

Victor menatap rambut putih dan wajah keriput ibunya. Hatinya seperti dihancurkan.

Dia lalu menoleh kepadaku.

“Kau istri keluarga Wijaya. Ibuku juga ibumu.”

Suaranya menjadi berat, seperti petir sebelum badai.

“Kau membuatnya menangis hari ini. Aku juga akan membuatmu menangis.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Pikirkan baik-baik dulu.”

Aku menurunkan kedua tanganku. Aku bahkan tidak menutupi wajahku.

Dia mengangkat tangannya.

Tamparan pertama terdengar keras—seperti es yang pecah.

Kepalaku menoleh ke samping, tetapi aku tidak mundur.

“Minta maaf?”

“Tidak.”

Tamparan kedua. Ketiga. Keempat.

Telapak tangannya mulai mati rasa. Sudut bibirku robek dan darah mengalir ke leher seperti bunga layu.

Aku tetap berdiri.

“MINTA MAAF!” teriaknya serak.

Tamparan kelima. Keenam. Ketujuh.

Pada tamparan kedelapan, darah mulai mengalir dari hidungku. Aku mundur setengah langkah, lalu kembali berdiri tegak.

Tangannya berhenti di udara.

Wajahku sudah bengkak dan membiru. Tapi tatapanku tetap jernih.

“Masih kurang empat,” kataku.

Tubuhnya mulai gemetar.

“Kau mengangkat tangan dua belas kali. Baru delapan. Lanjutkan.”

Wajah Nyonya Wijaya mendadak pucat.

“Kau masih mau memukul?” tanyaku.
“Kalau tidak, sekarang giliranku bicara.”

Ruang tamu menjadi sunyi.

Dia menurunkan tangannya perlahan. Dia tidak memukul lagi.

Aku mengusap darah di bibirku.

“Victor Wijaya, empat tahun aku menjadi istrimu.”

“Setiap kali ibumu datang, aku mempersiapkan semuanya tiga hari sebelumnya. Aku mengurangi garam di makanan. Aku mencuci tangan berkali-kali. Aku bahkan bilang akan berusaha punya anak laki-laki. Saat ibumu membuang telur kiriman ibuku dari kampung—aku diam.”

“Sekarang dia membuang obat jantung ibuku. Ibuku punya dua ring di jantungnya. Tanpa obat itu—dia bisa mati.”

Wajah Victor memucat.

“Saat obat itu dibuang, ibuku sampai berlutut memohon. Umurnya enam puluh dua tahun, lututnya sudah sakit. Dia menangis sambil memeluk botol kosong.”

“Dan ibumu berkata: ‘Tidak akan mati juga.’”

Tubuh Nyonya Wijaya langsung membeku.

“Aku tidak memberitahumu karena aku sudah tahu kau akan membela siapa.”

“Aku tidak pernah menyangka semuanya akan sampai sejauh ini. Kau bahkan tidak bertanya apa yang terjadi. Kau langsung memaksaku meminta maaf. Dan kau memukulku.”

Aku menatap darah yang menetes di lantai.

“Kau menghitungnya?”

Dia tidak mampu bicara.

“Delapan hari ini. Waktu kau mabuk dan mendorongku—sembilan. Saat kau mencekikku—sepuluh.”

“Dan hari ini… dua belas tamparan.”

Aku melangkah mendekat. Dia justru mundur.

“Kau tidak akan memukul lagi, kan?”

Aku tersenyum pelan.

“Bagus.”

Lalu aku mengeluarkan ponsel dari saku jaketku.

Dan di layar itu… rekaman video masih berjalan sejak lima belas menit yang lalu.

Victor langsung membeku.

Wajahnya yang tadi penuh amarah perlahan berubah pucat pasi.

“A-Ana…”

Suaranya bergetar.

Matanya terpaku pada layar ponsel di tanganku—jelas terlihat bagaimana ibunya membuang obat ke toilet, bagaimana dia memaksaku meminta maaf, dan bagaimana tangannya menampar wajahku satu demi satu.

Tidak ada yang bisa dibantah.

Tidak ada yang bisa dipelintir.

Semua terekam dengan jelas.

Nyonya Wijaya mendadak panik.

“Matikan itu! Victor, suruh dia matikan!”

Dia mencoba merebut ponselku, tapi aku melangkah mundur.

Untuk pertama kalinya… aku melihat ketakutan di mata wanita itu.

Bukan takut kehilangan harga diri.

Bukan takut kehilangan anaknya.

Tapi takut kehilangan kendali.

Aku tersenyum tipis.

“Tadi Ibu bilang aku menindas orang tua, kan?”

Aku mengangkat ponselku sedikit lebih tinggi.

“Besok pagi, video ini akan dikirim ke polisi, pengacara, dan grup keluarga besar.”

“Dan kalau perlu…”
aku menatap Victor lurus-lurus,
“ke kantor tempatmu bekerja.”

Tubuh Victor langsung limbung.

Dia bekerja sebagai manajer di perusahaan properti besar di Jakarta. Selama ini dia dikenal sebagai suami sempurna—pria sopan, anak berbakti, pekerja keras.

Kalau video ini tersebar… semuanya selesai.

Kariernya.

Reputasinya.

Harga dirinya.

“ANA!” teriaknya tiba-tiba.

Lalu—

Bruk.

Dia berlutut di depanku.

Nyonya Wijaya terkejut sampai mundur selangkah.

“Victor?! Apa yang kamu lakukan?!”

Tapi Victor bahkan tidak menoleh pada ibunya.

Matanya merah.

Tangannya gemetar saat mencoba menyentuh kakiku, tapi aku langsung mundur.

“Aku salah…” suaranya pecah.
“Aku… aku benar-benar salah…”

Aku menatap pria yang selama empat tahun kuanggap rumah.

Pria yang dulu rela kehujanan demi membawakanku obat.

Pria yang pernah bilang,
“Aku tidak akan pernah membuatmu menangis.”

Dan hari ini…

Dialah orang yang membuat wajahku penuh darah.

Lucu sekali.

Air mata Victor mulai jatuh.

“Ana, tolong… jangan tinggalkan aku…”

Aku diam.

Lalu perlahan membuka tas kecilku.

Aku mengeluarkan satu map putih.

Dan meletakkannya di meja.

Victor menatap map itu dengan wajah kosong.

“Apa itu…?”

“Surat cerai.”

Sunyi.

Bahkan suara hujan di luar pun terasa berhenti.

“Aku sudah menyiapkannya tiga bulan lalu.”

Napas Victor tercekat.

“Tiga… bulan?”

Aku mengangguk pelan.

“Sejak malam saat kau mencekik leherku hanya karena aku membela ibuku.”

Wajahnya langsung hancur.

“Ana… aku waktu itu mabuk…”

“Dan hari ini?” potongku tenang.
“Kau juga mabuk?”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku menatap Nyonya Wijaya.

Wanita itu masih berdiri kaku di sudut ruangan, wajahnya pucat seperti mayat.

Dulu, aku selalu takut padanya.

Takut tidak dianggap menantu baik.

Takut membuatnya kecewa.

Takut kehilangan keluarga ini.

Tapi sekarang aku sadar…

Rumah yang membuatmu harus mengorbankan harga dirimu bukanlah rumah.

Dan keluarga yang meminta seorang perempuan diam saat disakiti bukanlah keluarga.

Aku mengambil koperku.

Victor langsung panik.

“Ana, jangan pergi… aku mohon…”

Dia mencoba memegang tanganku.

Aku menepisnya pelan.

“Tamparanmu hari ini bukan yang paling menyakitkan, Victor.”

Aku menatap matanya untuk terakhir kali.

“Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa aku pernah percaya kau akan melindungiku.”

Lalu aku membuka pintu.

Angin malam langsung menerpa wajahku yang bengkak.

Sakit.

Perih.

Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku bisa bernapas lega.

Dan di belakangku, terdengar suara tangisan Victor yang akhirnya menyadari satu hal:

Perempuan yang selalu dia pikir akan bertahan selamanya…

kini benar-benar pergi.