Suara Bu Laras, ibu mertuaku memecah keheningan ruang tamu. Udara malam ini terasa sangat pengap. Kipas angin tua di sudut ruangan berputar pelan dan mengeluarkan bunyi berdecit yang membuat telingaku berdenging. Aku duduk diam di sofa kulit yang permukaannya sudah banyak terkelupas. Mataku menatap cangkir teh di atas meja yang uap panasnya sudah lama hilang.
Di sebelahku, Mas Baskara hanya menunduk. Tangan suamiku itu saling bertaut rapat di atas paha. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya sejak kami dipanggil mendadak ke rumah ibunya malam ini.
Di seberang meja, Saira duduk merangkul lengan Dewangga. Adik iparku itu menundukkan kepala. Sesekali ia mengusap ujung mata dengan tisu yang sudah terlihat hancur. Sementara Dewangga, pria yang menjadi akar dari kumpul keluarga malam ini, hanya menatap lantai dengan wajah kuyu.
“Seratus lima puluh juta, Bu?” Aku mengulang angka itu pelan. Sangat pelan. Suaraku nyaris tidak terdengar, tetapi cukup membuat bahu Saira bergetar kecil karena isakan yang kembali muncul.
“Iya. Dewa khilaf, Naya. Namanya juga a n ak muda. Dia salah pergaulan. Awalnya dia cuma iseng karena hobi saja main gim di ponsel. Nggak tahunya itu j u d i. Sekarang u t a ngnya di aplikasi berbunga terus sampai ratusan juta.”
Bu Laras mencondongkan tu b uhnya ke depan. Mata tuanya menatapku penuh harap. Namun aku bisa melihat ada tuntutan keras di balik sorot matanya. Ia tidak sedang meminta tolong. Ia sedang menagih sesuatu yang ia anggap sebagai haknya.
Aku menarik napas panjang. Udara di ruangan ini mendadak terasa sangat tipis. D a d aku sesak.
“Hobi yang menghabiskan u a ng seratus lima puluh juta itu bukan khilaf, Bu. Itu namanya penyakit.”
“Naya,” tegur Mas Baskara pelan.
Suamiku akhirnya membuka suara. Tangannya bergerak menyen t uh lenganku. Jari-jarinya memberi isyarat agar aku menjaga cara bicaraku. Aku menoleh perlahan dan menatap Mas Baskara. Mata kami bertemu. Aku mencari sedikit saja pembelaan dari pria yang sudah lima tahun berbagi bantal denganku ini. Namun yang kudapat hanya tatapan memohon. Dia memohon agar aku mengalah. Lagi.
“Mas Bas,” kataku datar. “Kamu tahu persis u a ng di rekening itu untuk apa.”
Mas Baskara menelan ludah. Wajahnya terlihat lelah. “Iya, aku tahu. Tapi ini darurat, Nay. Dewa dian c am penagih u t a ng. Kemarin ada dua orang berbadan besar yang datang ke rumah Ibu dan marah-marah di depan pagar.”

“Lalu kenapa aku yang harus memb a y ar u t a ngnya?” tanyaku. Mataku kembali beralih pada Dewangga yang tiba-tiba gelisah di tempat duduknya. Pria itu bahkan tidak berani menatap mataku sama sekali.
Bu Laras mem u k u l meja dengan telapak tangannya. Bunyinya tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat Saira tersentak.
“Kamu ini bicara apa, Naya? Kita semua itu keluarga. Kalau satu sedang kesusahan, ya yang lain harus bantu. Kamu te g a melihat adik iparmu m a t i dipu k u li preman di jalan?” Suara mertuaku mulai meninggi. Napasnya terdengar memburu.
Aku m e r e m as ujung kemejaku sendiri. Tangan ini terasa sangat dingin. Kepalaku penuh dengan ingatan tentang bagaimana u a ng di dalam buku tabungan bersampul biru itu terkumpul.
U a n g itu tidak jatuh dari langit. U a n g itu berasal dari kakiku yang pegal karena harus berdiri di kereta listrik setiap pagi. Berasal dari bekal makan siang berisi tempe dan sayur sisa semalam yang selalu kubawa ke kantor, saat teman-temanku asyik makan di kafe. Berasal dari sepatu kerjaku yang solnya sudah menipis tapi terus kutambal karena aku sayang mengeluarkan u a n g untuk memb e l i yang baru.
Setiap kali g a j i an, aku hanya menyisakan sedikit untuk pegangan. Sisanya langsung kumasukkan ke rekening khusus. Aku menabung m a t i-m a t i an karena aku ingin punya rumah. Aku ingin pindah dari kontrakan sempit yang atapnya selalu bocor setiap musim hujan. Aku ingin punya dapur sendiri. Aku ingin punya kehidupan yang tenang bersama suamiku.
Dan malam ini, di ruang tamu yang bau kapur barus ini, keringatku selama lima tahun diminta begitu saja untuk membayar u t a ng j u d i.
“U a ng itu untuk bangun rumah kita, Mas.” Aku menatap Mas Baskara lagi. Suaraku mulai bergetar. Aku menahan sekuat tenaga agar air mata ini tidak jatuh. Aku tidak mau menangis di depan orang-orang yang hanya mengincar ha r t aku.
Mas Baskara menunduk semakin dalam. “Nanti kita kumpulkan lagi, Nay. Kita mulai dari awal. Yang penting urusan Dewa selesai dulu. Ibu kasihan kalau harus diteror setiap hari.”
Aku tertawa kecil. Tawa yang terasa hambar dan menyakitkan di tenggorokan. “Mulai dari awal? Lima tahun, Mas. Lima tahun aku menahan diri nggak beli baju baru. Lima tahun aku nggak pernah liburan. Kamu menyuruhku mulai dari awal lagi demi laki-laki yang kerjanya cuma duduk main ponsel mengharapkan u a ng haram?”
“Jaga mulutmu, Naya!” Bu Laras berdiri dari duduknya. Wajahnya merah padam. Jari telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. “Kamu itu memang menantu yang itung-itungan! U a n g segitu saja pelitnya minta ampun. Kamu itu kan kerja, ga j imu lumayan. Bas juga kerja. Kalian belum punya anak, buat apa u a n g ditahan-tahan terus?”
Aku ikut berdiri. Kesabaranku sudah habis. “U a n g segitu Ibu bilang? Kalau u a ng itu sedikit, kenapa Ibu nggak j u a l saja rumah ini untuk b a y ar u t a ng Dewa?”
“Kamu kurang ajar, ya! Ini rumah peninggalan bapaknya Bas!” teriak Bu Laras dengan mata melotot.
“Dan tabungan itu hasil keringat saya, Bu!” Aku membalas tak kalah keras. Napasku naik turun. “Tabungan itu murni u a ng saya. U a n g Mas Bas cuma cukup untuk makan kita sehari-hari dan j a t a h bulanan untuk Ibu. Saya nggak pernah mengganggu u a ng Mas Bas. Tapi tolong, jangan se n tu h u a ng saya.”
Ruang tamu mendadak hening. Hanya terdengar suara baling-baling kipas angin di sudut ruangan. Dewangga terlihat semakin menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik bahu Saira. Saira sendiri berhenti menangis. Tangannya yang sejak tadi memegang tisu kini perlahan turun ke pangkuan.
“Mbak Naya sombong sekali,” ucap Saira tiba-tiba.
Suaranya tidak lagi serak karena tangisan. Nadanya sangat tenang. Jauh lebih tenang dari perempuan yang suaminya sedang dikejar rentenir. Aku menoleh ke arah adik iparku itu. Saira mengangkat wajahnya. Tidak ada jejak kesedihan di matanya. Yang kulihat justru tatapan dingin yang menu s uk.
Saira merapikan ujung jilbabnya yang mahal. Aku tahu merek jilbab itu. H a r g anya bisa untuk bi a y a makan mingguan di kontrakanku.
“Yang namanya suami istri itu ha r t anya jadi satu, Mbak. Nggak ada u a n g istri atau u a n g suami,” lanjut Saira dengan suara lembut yang dibuat-buat. “Lagi pula, rumah itu kan cuma benda m a t i. Bangun rumah bisa kapan-kapan. Yang ini lebih mendesak. Urusan nyawa orang, Mbak. Masa’ Mbak Naya lebih sayang batu bata daripada nyawa keluarga sendiri?”
Kata-kata Saira meluncur begitu rapi. Sangat rapi sampai aku sadar bahwa perempuan ini sama sekali tidak merasa bersalah. Mataku perlahan turun, menatap tas kulit bermerek yang tergeletak di samping kaki Saira. Tas yang kudengar baru ia beli bulan lalu sepulang liburan dari Bali.
“Nyawa keluargamu nggak ada h a r g anya buatku, Saira,” balasku pelan tapi t a j a m. “Suruh suamimu jual tas-tas mewahmu itu. Suruh dia juwaaal tiket liburan kalian. Jangan mengemis dari mangkuk orang lain.”
Wajah Saira memerah. Ia menatapku penuh amarah. Bu Laras baru saja membuka mulut untuk kembali mem a k i ku saat Saira tiba-tiba tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kudukku meremang.
“Mbak Naya yakin sekali u a n g tabungan itu masih utuh?” tanya Saira pelan.
Aku mengerutkan kening. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. “Apa maksudmu?”
Saira menoleh ke arah suamiku. Tatapannya mengejek. “Mas Bas belum cerita ya, Mbak? Minggu lalu Mas Bas memi n ja mkan buku ta b u ngan dan token bank itu ke Dewa.”
Aku menahan napas. Seluruh d a r a h di t u b uhku seolah ditarik turun ke telapak kaki. Kepalaku menoleh patah-patah ke arah pria yang duduk di sebelahku. Baskara sangat pucat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Pria itu menggeleng pelan dengan mata membelalak panik.
“Mas,” panggilku dengan suara gemetar. “Kamu … nggak ngasih sandi rekeningku ke mereka, kan?”
Mas Baskara membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Sementara dari seberang meja, Saira menyandarkan punggungnya ke sofa sambil melipat tangan di d a d a.
“Mas Bas bilang itu u a n g bersama, Mbak,” ucap Saira pelan. “Jadi setengah dari s a l d o di rekening itu sudah Mas Dewa pakai kemarin. Bukannya Mbak Naya sendiri yang atur notifikasi penarikannya masuk ke email Mas Bas?”