Banyu diam. Da. r ah segar menetes pelan dari lehernya. Pria itu menatap Ayu dengan pandangan kosong. Perlahan belati taktis di tangannya turun. Suara logam beradu dengan lantai terdengar nyaring saat Banyu menjatuhkan se nj. ata itu begitu saja.
“Bagus.” Bu Desi mendengkus puas. “Makanya jangan keras kepala. Cepat kemasi barangmu. Tiara harus istirahat sekarang juga.”
“Ibu puas lihat anak Ibu sendiri nyaris m a t i?” Ayu menatap mertuanya ta j am. Air matanya menggenang di pelipis. “Ibu bawa perempuan musyrik ini ke rumah dan membiarkan Mas Banyu kehilangan akal sehatnya?”
“Jaga mulutmu!” Mertuanya melotot marah. “Banyu begini karena dia tertekan hidup sama kamu. Kamu gak bisa kasih dia kebahagiaan. Cuma Tiara yang bisa.”
Ayu bangkit dengan sisa tenaga. Kakinya terasa seperti agar-agar. “Aku akan pindah kamar malam ini. Tapi ingat Bu, aku gak akan pernah angkat kaki dari rumah ini.”
Ayu membuang muka saat Tiara berjalan mendekati Banyu. Perempuan bergaun merah itu mengusap da rr ah di leher suaminya dengan ujung jari lentiknya. Pemandangan itu mengiris dada Ayu lebih ta j a m dari belati mana pun.
“Mas Banyu luka ya?” Tiara berbisik manja. “Biar aku obati di kamar ya, Mas.”
“Iya.” Suara Banyu terdengar sangat serak dan sangat patuh.
Malam itu Ayu tidur di kamar pelayan di sudut belakang. Ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter. Bau debu dan lembap menguar dari dinding yang catnya mulai mengelupas. Ra n. jang besi tua berderit pelan saat Ayu merebahkan tubuhnya.
Ia menarik selimut tipis menutupi wajah. Giginya menggigit kuat bantal kapuk yang keras. Ia menolak mengeluarkan suara isakan. Air mata membasahi sarung bantal dalam diam. Sepuluh tahun pernikahan yang dibangun dengan da r ah dan air mata kini dirampas dalam satu malam.
*
Pagi datang membawa hawa dingin yang menu s uk tulang. Ayu bangun dengan mata bengkak. Rutinitasnya sebagai nyonya rumah menuntutnya keluar dari kamar kumuh itu. Ia berjalan ke arah ruang cuci di belakang dapur. Sayup terdengar derap langkah sepatu lars prajurit yang sedang lari pagi di jalanan asrama.
Sebuah keranjang anyaman rotan tergeletak di dekat mesin cuci. Di dalamnya tertumpuk pakaian kotor Banyu semalam. Seragam loreng yang penuh noda lumpur dan da r ah kering di bagian kerah.
Ayu memungut jaket tebal itu. Bau melati layu dan kemenyan kembali menyerang penciumannya. Perutnya bergejolak hebat. Ia menahan napas sambil merogoh saku seragam itu sebelum memasukkannya ke tabung mesin cuci.
Di saku bagian dalam sebelah kiri dekat dada, jari Ayu menye nt uh sebuah benda aneh.
Ayu menarik benda itu perlahan. Bungkusan kain hitam berukuran sekepalan tangan. Kain itu diikat kuat dengan seutas benang merah usang. Permukaannya terasa kasar. Bau b us uk bangkai menguar kuat mengalahkan wangi deterjen di ruangan itu.
“Itu bukan urusanmu, Mbak.”
Suara mendayu itu mengejutkan Ayu. Tiara berdiri bersandar di kusen pintu ruang cuci. Gaun tidur berbahan sutra tipis membalut tu b uhnya. Matanya menatap ta j am ke arah tangan Ayu.
“Apa ini, Tiara?” Ayu menatap perempuan itu tanpa gentar. “Kamu taruh apa di seragam suamiku?”
“Gak perlu kepo.” Tiara melangkah maju. Senyum manisnya hilang. Wajahnya berubah kaku dan dingin. “Kembalikan.”
Ayu mundur selangkah. Tangannya mencengkeram bungkusan hitam itu erat. “Jawab pertanyaanku. Kamu pakai ilmu sesat untuk mengendalikan Mas Banyu?”
“Aku bilang kembalikan, Mbak Ayu.” Tiara menjulurkan tangan. “Sini berikan padaku. Kalau bungkusan itu sampai kamu buka, suamimu yang akan m a a ti.”
Mata Ayu membelalak. D a danya naik turun menahan amarah yang mendidih. Ia teringat tatapan kosong Banyu semalam.
“Kamu pikir aku takut sama a n camanmu?” Ayu menatap lurus mata Tiara. “Aku ini istri prajurit. Aku gak pernah takut sama iblis peliharaanmu.”
“Mbak, tolong jangan keras kepala.” Nada suara Tiara mulai meninggi. “Kamu gak tau sedang berhadapan dengan siapa.”
“Aku tau pasti aku sedang berhadapan dengan pela kor g il a.” Ayu tersenyum sinis. Tangannya bergerak cepat menarik benang merah yang mengikat bungkusan itu.
“Jangan buka!” Tiara berteriak panik. Ia menerjang maju hendak merebut kain hitam tersebut.
Namun Ayu lebih cepat. Benang merah itu putus. Kain hitam di tangannya terbuka.
Isinya berjatuhan ke lantai ubin yang basah. Segumpal tanah kuburan berwarna merah pekat, belasan jar u m pentul yang berkarat, dan sebuah foto polaroid berukuran kecil.
Ayu menunduk menatap foto yang kini tergeletak di dekat ujung kakinya. Napasnya seakan berhenti detik itu juga. Jantungnya berdetak liar memu k ul tulang rusuk.
Itu adalah foto dirinya sendiri. Foto Ayu saat memakai seragam hijau kebanggaan Persit. Namun wajahnya di foto itu telah dirusak parah. Kedua mata di gambar itu dit us. uk jarum berkarat yang menembus hingga ke belakang kertas. Ada coretan d ar a h kering menyilang tepat di bagian leher foto tersebut.
“Kamu mau buv n uh aku?” Ayu bergumam pelan. Suaranya bergetar menahan ngeri.
Tiara mendengkus sinis melihat rahasianya terbongkar. Perempuan itu menyeringai lebar. “Bukan mau, Mbak. Tapi sedang. Kamu tinggal tunggu waktu saja.”
Tepat saat Tiara mengucapkan kalimat mengerikan itu, terdengar suara langkah kaki berat dari arah dapur.
“Tiara? Kamu di mana, Sayang?” Suara serak Banyu memanggil mencari gu n diknya.
Mata Tiara mendelik cepat. Ia mengangkat tangan kirinya dan sengaja menca k ar lengannya sendiri dengan kuku panjangnya hingga kulitnya sobek. Da r ah segar menetes ke lantai.
“Aaaakh!” Tiara menjerit histeris sambil menjatuhkan diri ke lantai ubin. Tangisannya pecah seketika terdengar sangat memelas.

“Ampun, Mbak Ayu. Tolong jangan sa ki ti aku!”
Ayu mematung. Matanya melebar melihat sandiwara g il a di depannya.
Sosok tegap Banyu muncul di ambang pintu ruang cuci. Matanya yang merah menyala langsung tertuju pada Tiara yang menangis bersimbah da r ah di lengan. Pandangan Banyu lalu beralih menatap t aja m ke arah Ayu.
“Apa yang kamu lakukan pada istriku, Ayu?” Suara Banyu menggelegar dipenuhi amarah yang membabi buta.
Ayu menggeleng pelan. “Mas, bukan aku. Dia mencakar tangannya sendiri.”
“Pembohong.” Banyu menggeram marah. Urat lehernya menonjol. Pria itu melangkah cepat menerjang maju. Kedua tangannya yang besar dan ka sar langsung mence k ik leher Ayu dengan kekuatan penuh hingga tu b u h Ayu terangkat dari lantai.