Hari itu, hujan turun deras seolah ingin menenggelamkan seluruh dunia. Jalan tanah menuju kediaman keluarga Santoso berubah menjadi aliran lumpur hitam yang pekat. Mobil berhenti tepat di depan gerbang besar rumah tua itu. Sopir bahkan tidak menoleh kepadaku. Ia hanya membuka pintu dan berkata dengan suara serak:
“Cepat turun. Waktunya hampir lewat.”
Aku mengenakan kebaya pengantin merah tua—merah yang bukan melambangkan kebahagiaan, melainkan seperti warna darah yang telah mengering. Bagian bawah gaunnya berat, terseret lumpur di setiap langkah, seolah ada tangan tak terlihat yang menarikku kembali. Angin dingin menembus kulit, bercampur aroma dupa dan tanah basah hingga membuat perutku mual.
Tidak ada petasan.
Tidak ada bunga.
Tidak ada tawa.
Yang ada hanyalah aula duka.
Di tengah ruang utama keluarga Santoso, terbaring sebuah peti mati hitam mengilap. Di depannya berdiri papan arwah dengan tulisan dingin tanpa kehidupan:
Santoso Adrian Wijaya – Arwah Almarhum
Dua deret lilin merah berkedip pelan. Dalam cahaya redup itu tergantung foto seorang pria muda mengenakan jas hitam. Wajahnya tampan, tetapi matanya kosong, seperti sedang menatap dari dunia lain.
Dia adalah suamiku.
Pria yang sudah meninggal tiga bulan lalu.
Ibuku berdiri di belakangku, tangannya gemetar mencengkeram lengan bajuku. Suaranya hampir seperti memohon:
“Tahan saja malam ini, Nak… cuma malam ini… kalau tidak, kita semua tidak akan selamat.”
Aku menoleh menatapnya.
Perempuan yang dulu selalu mengajariku untuk tidak pernah tunduk kepada siapa pun kini menangis hingga nyaris tak kukenali lagi wajahnya sendiri.
Ayahku berdiri di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi. Bahkan dia tidak sanggup menatap mataku.
Aku tersenyum.
Senyum kering dan kosong yang bahkan membuatku takut pada diriku sendiri.
“Baik,” kataku pelan.
“Aku akan menikah.”
Ritual pun dimulai.
Bel kuningan berdentang berat—setiap bunyinya seperti menghantam langsung ke tulang kepala. Seorang dukun tua menggambar simbol aneh dengan bubuk merah di dahiku, katanya agar “jiwa orang hidup tidak ikut terseret.”
Aku berlutut dan membungkuk di depan papan arwah. Setiap kali dahiku menyentuh lantai, rasanya seperti menghantam batu es.
Setelah upacara selesai, pintu kamar pengantin ditutup dari luar.
Ruangan itu gelap. Tidak ada jendela. Hanya sebuah ranjang kayu tua dengan tirai merah lusuh dan sebuah meja kecil tempat foto Adrian Wijaya diletakkan. Dalam cahaya lilin yang bergoyang, wajah di foto itu tampak bergerak—matanya terasa semakin dalam dan gelap.
Aku duduk di tepi ranjang, menggenggam erat kebayaku sementara jantungku berdetak liar.
Aku tidak percaya hantu.
Sampai suhu ruangan tiba-tiba turun drastis.
Dingin yang tidak wajar…
…read more in comments👇👇

Malam itu, aku hampir tidak berani bernapas.
Udara di kamar berubah sedingin lemari mayat. Api lilin yang tadi tenang mulai berkedip liar. Tirai merah di sekitar ranjang bergerak perlahan, padahal tidak ada angin sama sekali.
Lalu…
Aku mendengar suara langkah kaki.
Perlahan. Berat. Basah.
Tok…
Tok…
Tok…
Suara itu berhenti tepat di depan pintu kamar.
Tubuhku membeku.
Pegangan pintu bergerak pelan.
Krieeet…
Pintu terbuka sedikit demi sedikit, menimbulkan suara panjang yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku menatap ke arah sana tanpa mampu bergerak.
Dan aku melihatnya.
Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu.
Masih mengenakan jas hitam yang sama seperti di foto. Wajahnya pucat tanpa darah, rambutnya basah seolah baru keluar dari hujan deras. Tetapi matanya…
Matanya hidup.
Aku ingin berteriak, tetapi tenggorokanku seperti dicekik sesuatu.
Pria itu melangkah masuk perlahan. Tidak ada suara napas. Tidak ada suara langkah selain lantai kayu yang berderit pelan di bawah kakinya.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Sampai akhirnya dia berdiri tepat di depanku.
Tangannya yang dingin terangkat perlahan ke arah wajahku.
“Akhirnya…” suaranya rendah dan serak, “…mereka benar-benar mengorbankanmu.”
Air mataku langsung jatuh.
Karena anehnya… suara itu tidak terdengar seperti ancaman.
Melainkan kesedihan.
Aku gemetar hebat. “K-kau… hantu?”
Pria itu menatapku lama sebelum tersenyum pahit.
“Mereka bilang aku mati karena kecelakaan.”
Ia tertawa kecil, dingin dan kosong.
“Padahal aku dibunuh.”
Jantungku serasa berhenti.
Dia menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat.
“Keluarga Santoso membuat perjanjian puluhan tahun lalu. Kekayaan mereka dibangun dari darah.” Matanya perlahan kembali padaku. “Dan setiap generasi harus menyerahkan satu pengantin perempuan untuk menemani arwah yang mati tidak tenang.”
Aku langsung teringat wajah ibuku yang menangis.
Ayahku yang tak berani menatapku.
Mereka tahu.
Mereka semua tahu.
“Aku tidak ingin membunuhmu,” katanya pelan.
“Tapi kalau malam ini berlalu dan ritualnya gagal… keluargamu yang akan mati menggantikanku.”
Tangisku pecah.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku sadar bahwa aku memang datang ke rumah ini untuk dikuburkan hidup-hidup.
Pria itu menatapku sangat lama.
Lalu perlahan, ia melepas cincin hitam dari jarinya dan menggenggamkannya ke telapak tanganku.
“Kalau kau percaya padaku,” bisiknya, “ikut aku sekarang.”
Lampu lilin tiba-tiba padam bersamaan.
Gelap total.
Lalu terdengar suara benturan keras dari luar kamar.
Orang-orang berteriak panik.
Dan dari balik kegelapan, aku merasakan tangan dingin itu menggenggam tanganku erat untuk pertama kalinya.
“Aku akan membawamu keluar,” katanya.
“Tetapi setelah malam ini… dunia orang hidup tidak akan pernah sama lagi untukmu.”
Detik berikutnya, pintu kamar pengantin terbanting terbuka sendiri.
Dan di luar sana—
seluruh rumah keluarga Santoso mulai dipenuhi suara tangisan dari sesuatu yang seharusnya sudah lama mati.