“Sudah berapa bulan kandungannya?”

“Aku sudah mau melahirkan sekarang, apa kamu nggak lihat?!”

“Pembukaannya sudah berapa?”

“Kalau terus tanya macam-macam, aku lempar kamu keluar dari ruang bersalin!”

Tessa terengah-engah di atas ranjang persalinan, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit luar biasa di perutnya. Orang bilang melahirkan itu seperti berjalan di antara hidup dan mati—rasa sakitnya seolah menghancurkan seluruh tubuh. Dan di saat seperti itu, pria di depannya malah terus menggodanya tanpa henti.

Kalau nanti dia sudah bisa berjalan lagi, sumpah dia akan membalas semua omongan dokter itu.

“Aku mau ganti dokter!”

“Sayangnya semua dokter lain sedang menangani pasien. Tinggal aku yang kosong, jadi kamu nggak punya pilihan.”

Tessa menggenggam erat sisi ranjang sambil menatap marah wajah pria menyebalkan itu. Dari semua dokter di rumah sakit Jakarta ini… kenapa harus mantan suaminya sendiri?

“Anak siapa ini sebenarnya?” tanya Rico santai.

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Cuma penasaran. Baru delapan bulan kita pisah, sekarang aku malah ketemu kamu di ruang bersalin.”

Tessa hampir kehabisan tenaga karena kontraksi yang makin kuat. Kalau rasa takut melahirkan nilainya satu, maka rasa takut pada Rico nilainya sepuluh. Kalau proses ini tidak cepat selesai, mungkin dia benar-benar akan pingsan duluan.

Pertemuan di Ruang Perawatan

“Laki-laki, berat 3,2 kilogram,” kata Rico sambil melihat bayi itu. “Ngomong-ngomong, waktu hamil kamu sering lihat fotoku ya?”

“Apa maksudmu?”

“Wajahnya mirip banget sama aku. Cuma pipinya aja yang mirip kamu.”

“Ini nggak ada hubungannya sama kamu! Minggir, aku mau urus akta kelahiran anakku!”

Rico pura-pura tidak mendengar. Bahkan keesokan harinya, dia masih terus muncul di sekitar kamar rawat Tessa seperti bayangan yang tidak mau pergi.

Saat melihat Tessa pucat sambil berjalan perlahan karena masih kesakitan, Rico langsung menghampirinya dan mengangkatnya tanpa banyak bicara.

“Hei! Turunkan aku sekarang!”

“Kalau teriak, aku pindahkan kamu ke ruang pasien yang suka ngamuk,” jawab Rico santai.

“Kita sudah bercerai!”

“Baru pisah. Belum resmi selesai secara hukum. Jadi aku masih suamimu.”

Tessa langsung kehabisan kata-kata. Salahnya juga karena panik dan malah datang ke rumah sakit tempat Rico bekerja.

“Turunkan aku! Aku harus urus data anakku!”

“Nggak perlu.”

“Kenapa nggak perlu?”

“Sudah aku urus. Namaku sudah tercantum sebagai ayahnya.”

Tessa membelalak.

“Kamu gila ya?!”

Rico hanya tersenyum kecil.

“Katanya anak ini nggak punya ayah. Kebetulan aku orangnya suka membantu.”

Belum sempat Tessa membalas, Rico mendekat dan memeluknya erat hingga Tessa kesal setengah mati. Dengan wajah merah karena marah, Tessa langsung memukul bahunya keras.

“Kamu benar-benar menyebalkan!”

“Sudah bantu banyak masih dimarahi juga,” gumam Rico sambil tertawa kecil.

Namun di balik semua candaan itu…

mata Rico perlahan berubah serius saat memandang bayi kecil yang tertidur di pelukan Tessa.

Karena sebenarnya…

selama delapan bulan terakhir, dia diam-diam terus mencari keberadaan mantan istrinya.

Dan kini, setelah akhirnya menemukan mereka kembali…

dia tidak berniat kehilangan keluarganya untuk kedua kalinya.

Malam itu, hujan turun perlahan di luar jendela rumah sakit Jakarta.

Tessa terbangun karena suara kecil bayinya yang menangis pelan.

Dengan tubuh yang masih lemah setelah melahirkan, dia berusaha bangun dari ranjang. Namun baru saja kakinya menyentuh lantai, seseorang lebih dulu mengangkat bayi itu dengan hati-hati.

Rico.

Pria itu berdiri di dekat jendela sambil menggendong bayi kecil mereka dengan gerakan yang surprisingly lembut.

“Dia lapar,” katanya pelan.

Tessa menatapnya diam-diam.

Sudah lama sekali dia tidak melihat ekspresi itu di wajah Rico.

Lembut.

Hangat.

Dan penuh rasa takut kehilangan.

“Kamu nggak perlu pura-pura peduli,” ucap Tessa dingin sambil memalingkan wajah.

Rico terdiam beberapa detik.

Lalu perlahan duduk di samping ranjangnya.

“Aku memang bodoh,” katanya lirih.
“Aku terlalu sibuk kerja sampai nggak sadar kalau istriku menangis sendirian setiap malam.”

Tessa menggigit bibirnya.

Kenangan lama langsung menyerbu pikirannya.

Pertengkaran.

Kesalahpahaman.

Ego.

Dan malam saat dia memilih pergi sambil membawa luka di hatinya.

“Aku pergi karena aku capek, Rico…” suaranya mulai bergetar.
“Aku capek merasa sendirian meskipun punya suami.”

Rico menunduk.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi…

pria itu terlihat benar-benar hancur.

“Aku cari kamu ke mana-mana,” katanya pelan.
“Aku bahkan berhenti operasi selama dua minggu waktu tahu kamu hilang.”

Tessa membeku.

“Apa?”

Rico tertawa pahit.

“Kamu pikir aku bisa hidup tenang setelah kehilangan kalian?”

Matanya merah.

“Aku marah karena aku takut.”

Hening memenuhi ruangan.

Hanya suara hujan dan napas kecil bayi mereka yang terdengar.

Lalu Rico perlahan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sebuah kotak kecil.

Tessa langsung mengenalinya.

Cincin pernikahan mereka.

“Aku nggak pernah buang ini,” kata Rico pelan.
“Karena dari awal… aku nggak pernah benar-benar mau kehilangan kamu.”

Air mata Tessa akhirnya jatuh.

Semua rasa sakit yang selama ini dia tahan perlahan runtuh malam itu.

Rico mendekat.

Kali ini tidak bercanda.

Tidak menyebalkan.

Tidak memaksa.

Dia hanya memegang tangan Tessa dengan hati-hati.

“Kasih aku satu kesempatan lagi,” bisiknya lirih.
“Bukan buat jadi suami yang sempurna… tapi buat jadi ayah dan laki-laki yang lebih baik untuk kalian.”

Tessa menangis pelan sambil melihat bayi kecil mereka tertidur di pelukan Rico.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

dia merasa rumahnya kembali ada di sana.

Bukan pada gedung mewah.

Bukan pada status.

Tetapi pada dua orang yang kini ada di depannya.

Malam itu…

tidak ada lagi mantan suami dan mantan istri.

Yang ada hanyalah seorang ayah, seorang ibu, dan bayi kecil yang diam-diam menyatukan kembali hati mereka yang pernah hancur.