SETELAH BERCERAI, AKU HAMPIR MEMBUANG BANTAL LAMA MILIK MANTAN ISTRIKU… TAPI AKU LANGSUNG BERLUTUT DAN MENANGIS SAAT MELIHAT APA YANG DIA SEMBUNYIKAN DI DALAMNYA — RAHASIA MENGAPA DIA MEMILIH MELEPASKANKU
Aku dan Kara menikah selama lima tahun. Awalnya semuanya bahagia. Tapi belakangan, hidup kami berubah seperti neraka.
Kara menjadi dingin, mudah marah, dan selalu kelelahan. Setiap kali aku mencoba memeluknya, dia akan mendorongku pelan.
“Aku capek, Mark. Jangan sekarang,” itu selalu jawabannya.
Selain itu, dia juga jadi sangat hemat. Gajinya sebagai perawat sama sekali tidak pernah kulihat. Katanya dia “menabung,” tapi kami tidak punya apa-apa. Bengkel kecilku semakin merugi, namun dia bahkan tidak mau meminjamkanku Rp100 ribu sekalipun.
“Mark, kerja lebih keras. Jangan bergantung padaku,” begitu ceramahnya setiap hari.
Lama-lama aku lelah. Lalu aku bertemu Diane — wanita muda yang ceria dan selalu ada untukku. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku mengajukan perceraian.
Kupikir Kara akan marah. Kupikir dia akan menangis. Tapi saat kuberikan surat cerai itu, dia hanya menatapku kosong.
“Baiklah. Kalau itu yang kamu mau, aku akan tanda tangan,” katanya tanpa emosi. “Rumah biar jadi milikmu. Aku pergi besok.”
Semudah itu. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada penjelasan. Dia pergi hanya membawa satu koper. Rasanya seperti dia memang sudah lama ingin meninggalkanku. Aku bahkan merasa lega. Akhirnya aku bebas dari istri yang tidak punya perasaan.
Sebulan setelah Kara pergi, aku memutuskan untuk bersih-bersih total. Diane akan pindah ke rumahku, jadi semua jejak Kara harus disingkirkan.
Aku membersihkan kamar. Membuang pakaian lama yang masih tertinggal. Dan terakhir, aku menemukan bantal favorit Kara.

Bantal itu sudah tua sekali, warnanya menguning dimakan usia. Sarungnya bahkan penuh jahitan tambalan. Berkali-kali aku menyuruhnya membuang bantal itu, tapi dia selalu menolak.
“Bantal ini sangat berarti buatku, Mark. Aku cuma bisa tidur nyenyak kalau memeluk ini,” katanya dulu.
Aku menatap bantal itu dengan rasa muak yang mendalam. Kenangan tentang keegoisan Kara kembali berputar di kepalaku. Tanpa berpikir panjang, aku berniat melemparkannya langsung ke dalam kantong sampah besar di sudut kamar.
Namun, saat aku mengangkatnya, ada sesuatu yang aneh. Bantal itu terasa jauh lebih berat dari biasanya, dan ada bunyi kresek kertas yang samar dari bagian dalamnya.
Rasa penasaran mengalahkan rasa benciku. Aku meraba permukaan bantal dan menemukan ritsleting kecil yang tersembunyi rapi di balik lipatan jahitan tambalannya. Ketika aku menarik ritsleting itu dan merogoh ke dalam, tanganku menyentuh tumpukan kertas tebal dan sebuah buku catatan kecil berwajah kusam.
Aku mengeluarkan semuanya ke atas kasur. Detik itu juga, duniaku runtuh.
Rahasia di Balik Bantal Usang
Benda pertama yang kubuka adalah tumpukan kertas medis bersimbol rumah sakit tempat Kara bekerja. Itu adalah laporan laboratorium dan diagnosis onkologi atas nama Kara Amara.
Diagnosis: Kanker Lambung Stadium Akhir.
Catatan Dokter: Harapan hidup berkisar antara 6 hingga 12 bulan tanpa kemoterapi intensif.
Tanganku mulai gemetar hebat. Tanggal laporan itu tercatat tepat dua tahun yang lalu—waktu di mana sifat Kara mulai berubah total menjadi dingin dan selalu menolak pelukanku.
Dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan, aku membuka buku catatan kecilnya. Itu adalah buku harian sekaligus buku tabungan bank atas namaku. Di halaman pertamanya, Kara menuliskan sebuah pesan dengan tulisan tangan yang sangat kukenal, meski tampak bergetar:
Isi Catatan Kara
“Untuk suamiku, Mark.
Jika kamu membaca ini, artinya aku sudah tidak ada lagi di sisimu, atau mungkin kita sudah berpisah. Maafkan aku, Mark. Maaf karena aku menjadi istri yang sangat buruk dua tahun terakhir ini.
Saat dokter memvonis usiaku tidak lama lagi, duniaku hancur. Aku ingin menangis di pelukanmu, tapi aku tahu kondisi keuangan kita. Bengkelmu sedang sekarat, dan jika aku menjalani pengobatan yang sia-sia ini, kita hanya akan menumpuk utang ratusan juta rupiah yang harus kamu tanggung sendirian setelah aku mati. Aku tidak mau meninggalkan beban materi untukmu.
Setiap kali aku menolak pelukanmu dan mengatakan ‘aku capek’, itu karena tubuhku sangat kesakitan, Mark. Kanker ini menggerogotiku. Aku sengaja menjauhimu agar kamu terbiasa hidup tanpaku, agar kamu membenciku, dan agar perpisahan kita nanti tidak terlalu menyakitkan bagimu.
Uang gajiku yang kamu kira aku sembunyikan untuk diriku sendiri? Semuanya ada di dalam rekening ini. Aku menghemat setiap rupiah, menahan lapar, dan menolak meminjamkannya untuk bengkelmu karena aku tahu itu uang darurat yang kamu butuhkan untuk melunasi seluruh utang usahamu dan modal untuk memulai hidup baru. Jumlahnya Rp250 juta. Ini hadiah terakhirku untukmu.
Ketika aku melihatmu bersama Diane, sejujurnya hatiku hancur, tapi di sisi lain aku merasa sangat lega. Tuhan mengirimkan seseorang untuk menjagamu menggantikanku. Aku sengaja langsung menandatangani surat cerai itu agar kamu bisa bahagia tanpa harus melihatku perlahan membusuk dan mati di depan matamu.
Hiduplah dengan baik, Mark. Jangan merasa bersalah. Aku mencintaimu, dulu, sekarang, dan selamanya.”
Penyesalan yang Terlambat
“Nggak… Kara, nggak mungkin…” bisikku lirih.
Kedua lututku langsung lemas. Aku ambruk ke lantai, bersimpuh di depan bantal usang itu, meremasnya kuat-kuat ke dadaku. Tangisku pecah, menyuarakan rasa sakit dan penyesalan yang teramat sangat hingga dadaku terasa sesak.
Wanita yang kucap egois, dingin, dan tidak punya perasaan, ternyata sedang bertarung nyawa sendirian demi melindungiku dari kehancuran. Dia menanggung semua rasa sakit fisik dan batin, membiarkan dirinya dibenci, hanya agar aku bisa memiliki masa depan. Sementara aku? Aku justru mengkhianatinya dengan wanita lain dan mengusirnya dengan rasa lega.
Aku adalah monster yang sesungguhnya.
Sambil menangis histeris, aku langsung meraih ponselku dan menghubungi rumah sakit tempatnya bekerja dulu, memohon informasi di mana Kara berada sekarang. Setelah desakan yang penuh keputusasaan, seorang mantan rekan kerjanya memberikan sebuah alamat. Bukan alamat rumah, melainkan alamat sebuah yayasan hospis (perawatan pasien terminal).
Aku berlari keluar rumah tanpa memedulikan Diane yang baru saja datang membawa barang-barangnya. Aku memacu mobilku seperti orang gila menuju alamat tersebut.
Akhir Cerita
Saat aku tiba di kamar bernomor 12, ruangan itu begitu hening. Di atas ranjang, tubuh Kara terlihat sangat kurus, wajahnya pucat, dan matanya terpejam rapat dibantu dengan alat pernapasan. Dia tampak begitu rapuh, sangat jauh dari sosok istri mandiri yang kukenal.
Aku berjalan mendekat dengan langkah berat, lalu berlutut di samping ranjangnya. Aku menggenggam tangannya yang dingin dan mulai menangis tanpa suara.
“Kara… aku minta maaf… aku bodoh, maafkan aku…” bisikku berkali-kali di sela tangis.
Perlahan, kelopak mata Kara bergerak. Dia membuka matanya yang sayu, menatapku dengan tatapan terkejut yang perlahan berubah menjadi senyuman paling tulus yang pernah kulihat. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia menggerakkan jemarinya, mengusap air mata di pipiku.
“Kamu… sudah tahu?” tanyanya, suaranya nyaris seperti bisikan angin.
“Kenapa kamu lakukan ini, Kara? Kenapa kamu menanggungnya sendiri?” tanyaku terisak.
“Karena aku ingin kamu… mengingatku sebagai istri yang membuatmu mandiri, bukan istri yang menyusahkanmu,” jawabnya lemah. “Pulanglah pada Diane, Mark…”
“Nggak, Kara! Aku nggak mau Diane, aku cuma mau kamu! Izinkan aku menemanimu, tolong…” ratapku, mencium punggung tangannya berkali-kali.
Kara tidak menjawab lagi. Dia hanya tersenyum damai, seolah beban berat yang dipikulnya selama dua tahun ini akhirnya terangkat karena aku telah mengetahui kebenarannya.
Kara meninggal dunia tiga hari kemudian dalam pelukanku. Dia pergi dengan tenang, mengetahui bahwa aku sudah tidak lagi membencinya.
Aku membatalkan pernikahanku dengan Diane dan menggunakan seluruh uang peninggalan Kara untuk melunasi utang serta membangun kembali bengkelku, persis seperti yang dia impikan. Kini, di atas meja kerjaku, bantal usang berwarna kekuningan itu selalu ada di sana—bukan lagi sebagai simbol kebencian, melainkan pengingat tentang cinta sejati yang begitu besar, yang pernah kuterima dari seorang wanita bernama Kara.