Posted in

Suamiku dihakimi warga karena mencuri kotak amal hingga meregang nyawa dalam api. Lalu keesokan harinya daerah tempat tinggalku diteror pocong gosong

Keesokan paginya, Tohar ditemukan terbaring di depan rumahnya.

“Pak, kenapa tidur diluar?” tanya istrinya yang baru bangun tidur.

“Semalam bapak mau masukin motor ke dalam, tapi tiba-tiba bapak melihat pocong berwajah hitam,” ujarnya sambil bergidik.

“Loh, lalu dimana motor Bapak?” tanyanya sambil mencari keberadaan motornya yang telah raib.

“Ya ampun, iya, motor kita hilang!” ujar Tohar dengan mata terbelalak.

“Kalian kenapa?” tanya beberapa warga yang hendak pergi ke ladang.

“Semalam saya didatangi pocong berwajah gosong, lalu tiba-tiba motor saya hilang,” sahut Tohar.

“Hiiiy! Jangan-jangan itu pocong si Ibrahim,” ujar Karto sambil bergidik ngeri.

Tohar dan istrinya hanya menggaruk kepala, penampakan pocong semalam memang mirip Ibrahim, tetapi bagaimana caranya seseorang yang sudah meninggal bisa mencuri motor.

“Sepertinya ini ulah si Rahma, ayo kita datangi ke rumahnya!” teriak Tohar.

Dua orang yang hendak ke ladang itu langsung mengurungkan niatnya ke ladang, lalu mereka turut mendatangi rumah Rahma. Setibanya di rumah kontrakan tersebut, mereka melihat seorang wanita yang matanya sembab tengah menyuapi kedua anaknya dengan nasi dan garam.

“Hei Rahma! Kamu kan yang mencuri motor suami saya!” bentak Minah sembari menjambak rambut Rahma.

Wanita itu menoleh ke arah mereka, lalu menatap keempat orang itu dengan tatapan tajam.

“Bakar saja kami, jika kalian belum puas! Bakar!” ucap Rahma.

“Halah! Jangan pura-pura stres! Saya tahu kamu mencuri motor suami saya untuk membiayai hidupmu!” bentak Minah.

Air mata Rahma berjatuhan, ia benar-benar tak menyangka bahwa dirinya masih harus mendapatkan penghinaan meski telah kehilangan suami juga anaknya.

“Awas ya, kalau kamu terbukti mencuri motor saya, maka saya tak segan-segan membakarmu juga kedua anakmu!” bentak Tohar lalu mendorong tubuh Rahma hingga jatuh tersungkur.

Setelah itu mereka langsung pulang karena tak menemukan bukti bahwa Rahma pencurinya. Tohar juga melaporkan semuanya pada Pak RT. Namun, setelah mendengar kata pocong gosong, tiba-tiba Pak RT bergidik ngeri.

“Saya tak bisa menolongmu, jujur saja saya masih merasa bersalah karena membiarkan kamu dan warga lainnya membakar Ibrahim hidup-hidup,” ujar Pak RT.

Setelah itu Tohar menceritakan apa yang semalam menimpanya pada para warga, selain itu ia juga meminta bantuan warga lainnya untuk mencari tahu keberadaan motornya.

“Kalau siang sih saya mau bantu, tapi kalau malam kami gak mau,” ujar para warga.

Setelah itu Tohar bergegas pulang dengan wajah kesal. Namun, tiba-tiba perasaan Tohar berdebar-debar setelah menemui Rahma. Tak bisa dipungkiri, Rahma memang memiliki wajah yang cantik juga tubuh menarik meski ia selalu berpakaian sederhana. Kembali terbayang dalam ingatannya ketika ia hendak melecehkan wanita itu beberapa waktu yang lalu. Namun, kala itu niatnya dihalangi oleh Ibrahim, bahkan ia harus babak belur karena dipukuli lelaki yang kini telah mati karena dibakar hidup-hidup olehnya.

Saat malam tiba, Tohar kembali mendatangi kontrakan Rahma. Kebetulan malam itu suasana tengah sepi, karena sejak kematian Ibrahim, tak ada lagi warga yang berani keluar rumah setelah magrib. Tohar mengintip dari balik gorden kamar Rahma yang sedikit terbuka. Lidahnya sedikit terjulur melihat tubuh Rahma yang tengah berbaring bersama kedua anaknya.

“Malam ini aku akan menikmatimu, tak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu,” gumamnya sambil mencoba membuka pintu menggunakan kawat.

Tiba-tiba ia merasakan sentuhan di pundaknya. Saat Tohar menoleh, ia langsung membelalak saat melihat pocong berwajah hitam. Tohar hendak berteriak, tetapi tiba-tiba pocong itu memukul pundaknya dengan kayu. Tohar jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.

Beberapa waktu kemudian Tohar terbangun saat mencium aroma bensin. Tiba-tiba ia terhenyak saat mendapati dirinya terikat di sebuah pohon dengan mulut yang disumpal kain. Seluruh tubuhnya telah basah kuyup dan bau bensin. Matanya langsung terbelalak saat melihat sesosok pocong yang hanya terikat di bagian lehernya. Bagian tangan dan kakinya tidak terikat sehingga ia bisa menyalakan korek api ke arah Kohar.

Seketika api langsung melahap tubuh Tohar, rasa panas dan pedih mulai menggerayangi seluruh tubuhnya. Namun, ia tak bisa berteriak minta tolong karena mulutnya disumpal kain. Kohar moncoba berontak, tetapi semakin ia bergerak, tali yang mengikatnya itu semakin menyakiti tubuhnya. Hingga tiba-tiba tali yang mengikatnya dilahap api sehingga ia bisa melepaskan diri dan meraih kain yang menyumpal mulutnya.

“Tolooooooong!” teriak Tohar sambil berguling-guling di tanah berusaha memadamkan api yang membakar tubuhnya.

“Toloooooong!” Ia kembali berteriak-teriak hingga memecah keheningan malam.

Beberapa warga yang mendengar suara teriakannya langsung keluar dari rumah lalu berlari ke arah suara teriakan tersebut.

“Ya ampun, siapa itu yang terbakar!” teriak mereka dengan tubuh gemetaran karena teringat apa yang terjadi pada Ibrahim.

Api yang menyala-nyala membuat mereka tak bisa mengenali Tohar.

“Apa itu hantunya si Ibrahim?” tanya salah seorang dari mereka sambil bergidik ngeri.

“Tolooooong! Ini saya Tohar!” teriaknya dengan suara yang kian melemah karena menahan rasa sakit yang teramat dahsyat.

Mendengar itu para warga langsung berlarian untuk mengambil air lalu menyiramkan ke tubuh Kohar yang telah hangus terbakar dan dipenuhi luka. Meski api telah berhasil dipadamkan, tetapi tubuh Kohar masih bergetar hebat dan menggeliat merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Dari tubuhnya mengeluarkan aroma daging panggang yang gosong.

“Ayo kita bawa si Tohar ke puskesmas!” ujar Agus.

“Puskesmas malam-malam begini pasti sudah tutup!”

“Ya kita bangunkan Pak Mantrinya!” Mereka saling bersahutan.

“Ya ampun, Bapaaaaaaaaak!” teriak Minah saat melihat tubuh suaminya yang dipenuhi luka bakar.

Tohar akhirnya menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya sebelum ia tiba di puskesmas. Semua warga tampak syok dengan apa yang menimpanya.

“Apa ini perbuatan si Ibrahim? Bisa saja dia menuntut balas karena ia telah dibakar hidup-hidup?”

Isur dan Karto tiba-tiba bergidik saat mengingat bahwa mereka juga ikut andil dalam pembakaran Ibrahim, bahkan tadi pagi mereka mengantar Tohar mendatangi rumah Rahma lalu menuduh wanita malang itu mencuri motor Tohar.

“Apa? Jadi tadi siang kamu dan suamimu mendatangi rumah Rahma lalu menuduh dia mencuri motor?” tanya Agus pada Minah setelah Isur dan Karto menceritakan semuanya.

“I-iya,” sahut Minah.

“Bahkan si Minah dan si Tohar sampai mendorong tubuh si Rahma hingga tersungkur,” lanjut Isur.

Mereka semua langsung bergidik ngeri.

“Mulai sekarang, jangan lagi ada yang mengganggu Bu Rahma dan keluarganya, atau kita semua akan diteror oleh arwah Pak Ibrahim,” ujar seorang pemuda bernama Angga.

Setelah itu mereka semua langsung mengurus jenazah Tohar dengan cara yang layak. Sementara itu keesokan paginya, saat Rahma membuka pintu rumahnya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kresek. Mata Rahma langsung membelalak saat melihat lembaran berwarna merah di dalam kantung kresek tersebut.

Selain lembaran uang, ada pula secarik kertas berisikan pesan di dalam kantung kresek itu.

“Pakailah uang ini untuk biaya hidupmu, jangan bilang pada siapapun atau nyawamu juga anak-anakmu akan terancam.”

Yuk baca selengkapnya di aplikasi KBM App.