“Saya pengacara ibu saya,” kata gadis berusia delapan tahun itu kepada hakim. Pihak lawan mencemoohnya, tetapi ketika dia membuka ranselnya, apa yang terjadi selanjutnya mengejutkan seluruh ruang sidang.
Seorang Ibu yang Tak Berdaya
Ruang Sidang No. 8 terasa dingin dan sunyi.
Hari itu, sidang pembatalan pernikahan dan hak asuh antara Arthur dan Elena sedang berlangsung.
Arthur, seorang pengusaha kaya, duduk dengan bangga dengan kaki bersilang mengenakan setelan mahalnya di samping tiga pengacaranya yang terkenal. Di seberang meja duduk Elena—kurus, gemetar, matanya bengkak karena menangis, dan hanya mengenakan gaun sederhana yang sudah pudar. Di sampingnya ada seorang asisten hukum yang tampaknya sudah menyerah sebelum pertempuran dimulai.
“Yang Mulia,” kata pengacara utama Arthur dengan lantang. “Seperti yang dapat kita lihat dari catatan medis ini, Nyonya Elena menderita penyakit mental yang parah. Ia sering mengalami amukan, fantasi delusi, dan tidak mampu merawat dirinya sendiri. Oleh karena itu, klien kami meminta hak asuh penuh atas putri mereka yang berusia delapan tahun, Maya. Lebih lanjut, kami meminta agar semua aset Nyonya Elena di provinsi ini dialihkan kepada Tuan Arthur untuk ‘jaminan.’”
Arthur mengangguk dengan senyum sinis.
Elena menangis tersedu-sedu.
“Itu tidak benar! Aku tidak gila! Arthur, kumohon… jangan ambil anakku!”
“Diam di ruang sidang!” teriak Hakim Valderama sambil memukul palunya. Kemudian ia menoleh ke pengacara Elena.
“Pengacara pembela, apakah Anda memiliki bukti untuk membantah catatan medis ini?”
Pengacara itu menundukkan kepalanya.
“T-tidak ada, Pak.”
Wajah Elena menjadi gelap.
Dunianya seolah runtuh saat itu juga. Hakim hendak mengangkat palunya untuk memutuskan perkara Arthur ketika tiba-tiba sebuah suara kecil menggema di ruangan itu.
Seorang gadis kecil melangkah maju sebagai pengacaranya.
“Tuan! Bolehkah saya berbicara?”
Semua orang menoleh.
Dari kursi penonton di belakang ruang sidang, Maya yang berusia delapan tahun bangkit, membawa ransel merah muda. Dia berjalan menuju tengah ruang sidang.
“Maya, duduklah,” Arthur terkekeh. “Dia masih anak-anak, Tuan. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan.”
Tetapi hakim mengangkat tangannya.
“Biarkan dia berbicara. Nak, apa yang ingin kau katakan?”
Maya berhenti di depan meja ibunya yang menangis. Dia menatap kursi tinggi hakim dan berbicara dengan keberanian dan kecerdasan yang mengejutkan semua orang.
“Saya pengacara ibu saya,” katanya dengan serius.
Pengacara Arthur tertawa terbahak-bahak.
Bahkan beberapa petugas polisi di ruang sidang tersenyum geli.
Namun Maya tetap tenang.

“Yang Mulia, para pengacara itu mengatakan ibu saya gila,” lanjut Maya, sambil menunjuk ketiga pengacara yang langsung berhenti tertawa. “Dan ayah saya mengatakan dia jarang pulang karena harus bekerja untuk kami.”
“Apa yang sebenarnya terjadi sungguh tak dapat dipercaya… tetapi saya punya bukti.”
…
Maya perlahan menurunkan tas ransel merah muda dari bahunya. Suasana ruang sidang mendadak hening, digantikan oleh rasa penasaran yang memuncak. Pihak lawan, termasuk Arthur, kembali tersenyum meremehkan, mengira anak kecil itu hanya akan mengeluarkan mainan atau buku gambar.
Namun, saat Maya membuka ritsleting tasnya dan mengeluarkan isi di dalamnya satu per satu, senyum di wajah Arthur seketika membeku.
Isi Tas Ransel Merah Muda
Benda pertama yang diletakkan Maya di atas meja adalah sebuah alat perekam suara digital berukuran kecil.
“Ini adalah perekam yang saya sembunyikan di bawah sofa ruang tamu selama enam bulan terakhir, Yang Mulia,” ucap Maya dengan nada suara yang sangat tenang untuk anak seusianya. “Setiap kali Papa pulang, Papa selalu membawa obat-obatan aneh ini.”
Maya kemudian merogoh tasnya lagi dan mengeluarkan tiga botol obat resep dokter berkapsul merah.
“Ini bukan obat Mama,” lanjut Maya, matanya menatap tajam ke arah Arthur yang mulai gelisah di kursinya. “Papa dan salah satu pengacaranya di sana—Tuan yang botak itu—memaksa Mama meminum obat ini setiap malam. Kalau Mama menolak, Papa akan mengunci Mama di kamar mandi yang gelap tanpa makanan.”
Elena menutup mulutnya, tangisnya pecah mendengar putrinya menceritakan semua siksaan yang selama ini ia sembunyikan demi melindungi Maya.
Hakim Valderama mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya berubah menjadi sangat serius. “Petugas, ambil bukti-bukti itu dan serahkan kepada saya.”
Kebohongan yang Terbongkar
Belum sempat pengacara Arthur melayangkan protes, Maya mengeluarkan bukti pamungkas dari ranselnya: selembar berkas laporan medis asli berkop surat rumah sakit yang berbeda, beserta sebuah diska lepas (flashdisk).
“Yang Mulia, pengacara Papa bilang Mama gila berdasarkan catatan medis palsu. Ini adalah catatan medis Mama yang asli dari dokter keluarga kami. Mama sama sekali tidak gila. Mama hanya mengalami depresi berat dan kelelahan karena setiap hari diberi obat penenang dosis tinggi secara paksa oleh Papa,” tegas Maya.
“Dan di dalam flashdisk ini, ada rekaman video dari kamera tersembunyi di kamar tidur. Video yang merekam saat Papa dan wanita lain di dalam rumah kami sedang tertawa-tawa, menyusun rencana untuk membuat Mama tampak gila di pengadilan agar Papa bisa merebut tanah warisan milik Mama di provinsi tanpa harus membayar sepeser pun.”
Mendengar kata flashdisk dan video, Arthur langsung berdiri dari kursinya dengan wajah pucat pasi. “Yang Mulia! Ini keterlaluan! Anak ini sudah dicuci otaknya oleh ibunya! Itu semua bohong!”
“Diam, Tuan Arthur!” bentak Hakim Valderama sambil mengetukkan palunya dengan sangat keras hingga menggema di seluruh ruangan. “Jika Anda menyela lagi, saya akan mendakwa Anda atas penghinaan terhadap pengadilan!”
Hakim kemudian memerintahkan panitera untuk memutar isi rekaman suara dari alat perekam digital tersebut lewat pengeras suara ruang sidang.
Suara Kebusukan
Suara kresek-kresek terdengar selama beberapa detik, lalu disusul oleh suara Arthur yang sangat jelas dan dingin:
“Pastikan dosisnya ditambah malam ini, Samantha. Biarkan perempuan sialan itu linglung esok hari. Begitu pengadilan menyatakannya gila, seluruh aset tanah ratusan hektar miliknya akan jatuh ke tanganku, dan kita bisa menyingkirkannya ke rumah sakit jiwa selamanya.”
Diikuti oleh suara tawa licik dari pengacaranya yang botak, yang mengonfirmasi bahwa skenario di pengadilan sudah diatur dengan rapi.
Seluruh ruang sidang berguncang karena bisik-bisik kemarahan dari para hadirin. Tiga pengacara hebat Arthur yang tadinya sombong kini saling pandang dengan wajah ketakutan, menyadari bahwa karier hukum mereka telah berakhir hari itu juga karena terlibat dalam konspirasi kriminal.
Elena langsung memeluk Maya dengan erat, menangis tersedu-sedu di pundak kecil putrinya. “Maya… anakku…”
Akhir yang Adil
Hakim Valderama mengetukkan palunya tiga kali, memberikan keputusan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat.
“Berdasarkan bukti-bukti autentik yang diajukan oleh… ‘pengacara cilik’ Nyonya Elena,” ujar Hakim Valderama dengan senyum tipis bernada hormat kepada Maya, “Maka pengadilan memutuskan: Permohonan pembatalan pernikahan dikabulkan, hak asuh penuh atas Maya jatuh seutuhnya kepada Nyonya Elena, dan seluruh aset properti di provinsi tetap mutlak menjadi milik Nyonya Elena.”
Hakim Valderama kemudian menatap Arthur dan pengacaranya dengan pandangan menghina.
“Dan untuk Tuan Arthur beserta tim penasihat hukumnya, atas tindakan pemalsuan dokumen medis, pemberian obat-obatan terlarang secara paksa, dan percobaan perampasan aset secara ilegal, saya memerintahkan pihak kepolisian yang hadir di ruangan ini untuk segera menahan kalian semua sekarang juga demi penyelidikan kriminal lebih lanjut!”
Beberapa petugas polisi langsung bergerak maju, menarik tangan Arthur dan memborgolnya tepat di depan meja sidangnya sendiri. Arthur berteriak-teriak histeris, menyalahkan pengacaranya, sementara mereka diseret keluar menuju sel tahanan.
Di tengah kekacauan itu, Maya memeluk ibunya dengan erat. Gadis kecil berusia delapan tahun itu berhasil meruntuhkan dinding keserakahan seorang miliarder angkuh hanya dengan sebuah tas ransel merah muda dan keberanian yang luar biasa. Dia bukan hanya sekadar anak perempuan; hari itu, dia adalah pahlawan dan pengacara terbaik yang pernah dimiliki ibunya.
…