AKU PIKIR SUAMIKU BENAR-BENAR MENCINTAIKU KARENA SELALU MENGAJAKKU DI SETIAP PERJALANAN BISNISNYA—SAMPAI AKU MENDENGAR SUARA SEORANG ANAK MEMANGGILNYA “PAPA,” DAN SAAT ITULAH AKU TAHU DIA MENYEMBUNYIKAN KELUARGA LAIN DARIKU
“Aku tidak ikut perjalananmu ke Cebu kali ini.”
Hanya itu yang dikatakan Mariel Santos saat mereka sedang makan malam di rumah keluarga Villanueva di Quezon City.
Suaranya tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada air mata. Tidak ada getaran sedikit pun.
Namun di dalam dirinya, sebuah dunia sudah runtuh diam-diam.
Andres Villanueva, suaminya selama enam tahun, berhenti menyuap makanan. Sendok masih tergantung di tangannya saat ia menatap Mariel, seolah tidak mengerti apa yang baru saja didengarnya.
“Kenapa?” tanyanya pelan. “Bukannya aku selalu mengajakmu setiap kali ada perjalanan bisnis?”
Di mata semua orang, Andres adalah suami sempurna. CEO sebuah perusahaan logistik besar di Makati, berpakaian rapi, tutur katanya lembut, dan tidak pernah malu menggenggam tangan istrinya di depan banyak orang.
Setiap kali ia meninggalkan Manila, meski hanya semalam, ia selalu berkata bahwa ia tidak bisa jauh dari Mariel.
“Aku lebih terbiasa bangun dan melihat wajahmu,” begitu candanya dulu.
Dan selama bertahun-tahun, Mariel percaya.
Dia percaya bahwa dirinya dicintai sepenuh hati. Percaya bahwa dia satu-satunya rumah bagi Andres. Percaya bahwa meski mereka belum punya anak, cinta mereka sudah cukup.
Sampai tiga hari sebelum makan malam itu.
Saat merapikan jas Andres yang tertinggal di ruang tamu, Mariel mendengar bunyi notifikasi dari sebuah ponsel lama di saku jas itu. Itu bukan ponsel yang biasa dipakai Andres sehari-hari. Warnanya hitam, kecil, dan selalu dalam mode senyap.
Sebenarnya Mariel tidak berniat membuka apa pun.
Namun tiba-tiba sebuah voice message terputar.
Suara seorang anak perempuan terdengar manja dan penuh semangat.
“Papa, tanggal 12 Juni aku mau pergi ke Cebu Ocean Park. Papa janji mau ajak aku sama Kakak, ya?”
Mariel langsung membeku.
Seolah tubuhnya disiram air es.
Papa.
Bukan Om. Bukan Pakde. Bukan Sir.
Papa.
Lalu terdengar suara anak laki-laki.
“Papa, janji ya? Aku mau lihat hiu.”
Napas Mariel langsung sesak. Dia terduduk di sofa sambil memegang ponsel itu seperti benda tajam yang menusuk telapak tangannya.
Anak-anak itu terdengar berusia sekitar empat atau lima tahun.
Artinya… tidak lama setelah mereka menikah, Andres sudah membuat perempuan lain hamil.
Dan selama lima tahun, saat Andres mengantarnya ke dokter kandungan, menggenggam tangannya ketika ia menangis karena mereka belum punya anak, sambil berkata “tidak apa-apa, aku cuma butuh kamu,” ternyata ada dua anak lain yang memanggilnya Papa di rumah berbeda.
Mariel tersadar saat Andres menaruh cumi bakar ke piringnya.
“Kamu suka ini,” katanya lembut.
Mariel menatap makanan itu.
Dulu, hal kecil seperti itu cukup untuk meluluhkan hatinya.
Sekarang semuanya terasa seperti adegan dalam drama yang ternyata sudah lama ditulis.
“Aku cuma lelah,” jawabnya. “Aku tidak ingin naik pesawat dulu. Kamu saja yang pergi.”
Mertuanya, Doña Pilar, langsung melirik mereka. Wanita tua yang selalu memakai mutiara dan terlihat anggun di depan orang lain itu sebenarnya memiliki lidah yang tajam jika hanya berdua dengan Mariel.
“Biarkan saja dia istirahat,” kata Doña Pilar pada Andres. “Mungkin dia cuma butuh tenang.”
Andres mengangguk, tapi wajahnya tetap penuh kekhawatiran.
“Nanti setelah aku pulang, kita ke Batangas. Private resort. Cuma kita berdua.”
Mariel hampir tertawa mendengarnya.
Cuma kita berdua.
Kalau dia tidak mendengar voice message itu, mungkin dia masih akan percaya.
Setelah makan malam, Mariel keluar ke taman untuk mencari udara segar. Malam begitu tenang. Di taman itulah dulu Andres sendiri yang menanam bunga sampaguita dan mawar putih untuknya.
“Supaya walau kamu di rumah saja, kamu tetap punya dunia kecilmu sendiri,” katanya dulu.
Kini aroma sampaguita masih sama.
Tapi dunia itu sudah tidak ada.
Saat kembali ke dalam rumah, Mariel mendengar suara Doña Pilar dari perpustakaan.
“Martina dan Mateo sudah lima tahun, Andres. Sampai kapan kamu akan menyembunyikan mereka?”
Mariel langsung berhenti di depan pintu.
“Aku yang urus, Ma,” jawab Andres lirih.
“Urus?” bentak Doña Pilar. “Mereka cucuku! Darah Villanueva! Mereka tidak bisa selamanya disembunyikan di condo Cebu seperti aib!”
“Mereka bukan aib.”
“Kalau bukan, kenapa tidak kamu kenalkan?” balas Doña Pilar tajam. “Karena Mariel? Kalian sudah enam tahun menikah dan dia belum juga punya anak. Bukankah wajar kalau kamu mencari penerus nama keluarga kita?”
Tenggorokan Mariel terasa dicekik.
Bukan hanya karena Andres.
Tapi karena ternyata… mereka semua tahu.
Dia bukan cuma dikhianati.
Dia dibicarakan. Dianggap penghalang. Dihakimi diam-diam.
“Aku mencintai Mariel,” kata Andres.
“Tapi kamu juga tidak bisa meninggalkan anak-anakmu,” jawab Doña Pilar dingin. “Jadi pilih. Istrimu, atau darahmu.”
Ponsel Andres tiba-tiba berdering.
Hanya dalam beberapa detik, nada suaranya berubah lembut.
“Baby girl,” bisiknya. “Papa juga kangen.”
“Speaker!” seru Doña Pilar penuh semangat.
Lalu terdengar tawa seorang anak perempuan.
“Lola Pilar!”
“Aduh, cucuku!” suara wanita tua itu hampir menangis bahagia. “Sudah makan belum?”
Mariel tidak sanggup mendengar lebih lama.
Dia berjalan keluar menuju taman, lalu di bawah langit malam yang gelap, dia menelepon sahabatnya, Bea Navarro — seorang pengacara maritim dengan koneksi ke Coast Guard Batangas.
“Bea…” bisiknya pelan. “Aku butuh bantuan.”
“Ada apa?”
Butuh waktu lama sebelum Mariel akhirnya menceritakan semuanya.
Di ujung telepon, Bea terdiam.
Lalu terdengar helaan napas berat.
“Brengsek dia,” katanya akhirnya. “Dan keluarganya juga.”
“Aku tidak mau drama,” jawab Mariel. “Kalau aku pergi begitu saja, dia akan mencariku pakai uang dan koneksinya. Dia akan membuatku terlihat gila.”
“Apa rencanamu?”
Mariel menatap cincin pernikahannya. Enam tahun ia memakainya seperti janji suci. Sekarang terasa seperti borgol.
“Saat anniversary kami,” katanya pelan. “Dia pasti mengatur perjalanan resort. Biarkan saja. Di situlah aku akan menghilang.”
“Mariel…”
“Aku tidak mau bunuh diri,” cepat-cepat tambahnya. “Aku cuma ingin mati dari hidupnya.”
Keesokan harinya, Mariel pulang ke rumah seolah tidak terjadi apa-apa.
Dia tersenyum pada Andres. Menerima bunga darinya. Mendengarkan cerita soal perjalanan Cebu.
Namun setiap malam saat Andres tidur, diam-diam Mariel menyalin isi ponsel lama itu.
Foto dua anak di pantai.
Bukti pembayaran preschool mahal.
Transfer bank ke seorang wanita bernama Celine Mercado.
Dan sebuah video saat Andres menggendong anak perempuan kecil sambil berkata:
“Papa akan selalu melindungimu, Martina.”
Saat itulah Mariel tahu nama anak-anak itu.
Martina dan Mateo.
Selama dua minggu, Mariel mempersiapkan semuanya dalam diam.
Dia membuka rekening baru memakai nama gadisnya. Memindahkan tabungannya. Menghubungi pengacara Bea. Mengumpulkan bukti untuk annulment, pemisahan harta, kekerasan psikologis, dan penyembunyian finansial.
Lalu tibalah anniversary mereka.
Andres membawanya ke private island resort di Batangas. Ada tenda putih di tepi laut, lilin di pasir, pemain biola, dan meja makan romantis untuk dua orang.
“Sayang,” kata Andres sambil menggenggam tangannya, “aku tahu akhir-akhir ini kamu diam. Tapi aku ingin kamu tahu… kamu tetap yang paling penting dalam hidupku.”
Mariel menatap laut.
Gelap. Dalam. Sunyi.
Persis seperti hatinya.
“Benarkah?” tanyanya pelan.
“Lebih dari apa pun.”
Mariel tersenyum tipis.
Beberapa menit setelah makan malam, dia bilang ingin berjalan sendiri di dermaga. Andres mengizinkannya, meski wajahnya terlihat cemas.
Di ujung dermaga, sebuah perahu kecil sudah menunggu — diatur diam-diam oleh Bea.
Di balik shawl Mariel ada waterproof pouch berisi paspor, uang, dokumen, dan semua bukti perselingkuhan Andres.
Satu langkah lagi… dan dia akan pergi selamanya.
Namun sebelum sempat naik ke perahu, dia mendengar suara yang sangat familiar dari belakang.
“Papa?”
Tubuh Mariel langsung kaku.
Perlahan dia menoleh.
Di bawah cahaya lampu resort, berdiri dua anak yang selama ini hanya dia lihat di video.
Dan di belakang mereka… Celine Mercado.
Andres menggenggam tangan anak perempuan kecil itu.

Wajahnya pucat saat matanya bertemu dengan mata Mariel.
Dan untuk pertama kalinya…
dia tidak punya lagi topeng untuk dipakai.
Di bawah pancaran lampu dermaga yang temaram, waktu seolah berhenti berputar.
Suara deburan ombak Batangas yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran. Mariel menatap dua anak kecil di depannya, lalu beralih pada Celine Mercado—wanita yang selama lima tahun ini hidup dalam bayang-bayang pernikahannya.
Andres mematung. Tangan yang biasanya selalu menggenggam jemari Mariel dengan penuh kehangatan, kini gemetar hebat saat melepaskan pegangan anak perempuannya.
“Mariel…” Suara Andres tercekat di tenggorokan. Nada suaranya bukan lagi milik CEO logistik yang berwibawa, melainkan seorang pria yang baru saja tertangkap basah meruntuhkan istana kebohongannya sendiri. “Ini… aku bisa jelaskan.”
Mariel tidak bergerak. Dia melirik ke arah perahu kecil di ujung dermaga yang mesinnya masih mendengung halus. Pengemudi perahu—orang suruhan Bea—menatapnya dengan cemas, siap menarik Mariel kapan saja.
“Jelaskan apa, Andres?” tanya Mariel. Suaranya begitu datar, seolah-olah dia sedang menanyakan cuaca, bukan tentang pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya. “Jelaskan kalau Martina dan Mateo suka melihat hiu? Atau jelaskan kalau Doña Pilar sudah menyiapkan kamar untuk mereka di rumah utama?”
Mendengar nama anak-anak dan ibunya disebut, wajah Andres berubah dari pucat menjadi pias. Dia menyadari satu hal yang mengerikan: Mariel sudah tahu semuanya. Sejak lama.
“Kamu selalu mengajakku di setiap perjalanan bisnismu…” Mariel melangkah maju, melepaskan shawl yang menutupi bahunya, membiarkan angin malam yang dingin menerpa kulitnya. “Aku baru paham sekarang. Kamu mengajakku bukan karena kamu tidak bisa jauh dariku. Kamu mengajakku karena kamu ingin memastikan aku tetap berada di bawah jangkauanmu, agar aku tidak pernah menyelidiki apa yang kamu lakukan di belakangku. Aku adalah sandera yang kamu bawa ke mana-mana, sementara kamu membangun surga kecilmu yang lain.”
“Mariel, tolong… aku mencintaimu!” Andres mencoba mendekat, melangkah panik. “Mereka cuma masa lalu yang tidak sengaja menjadi tanggung jawabku! Kamu istriku, Mariel. Kamu masa depanku!”
Di belakang Andres, Celine Mercado tampak menggigit bibir, memeluk kedua anaknya erat-araf. Ada kilat kepasrahan sekaligus harga diri yang terluka di matanya. Dia tahu dia adalah rahasia, dan malam ini, rahasia itu telah mati.
Mariel menatap Andres, pria yang dicintainya selama enam tahun, pria yang tangisnya mereda di bahunya saat mereka meratapi rahim Mariel yang kosong. Kini, pria itu tampak begitu asing. Begitu kecil. Begitu menjijikkan.
Mariel tersenyum tipis. Sebuah senyuman murni tanpa dendam, melainkan senyum kebebasan.
“Kamu salah, Andres,” kata Mariel lembut. “Aku bukan lagi istrimu. Dan kamu… tidak akan pernah punya masa depan bersamaku.”
Dengan gerakan tenang namun pasti, Mariel menarik cincin pernikahan berlian dari jari manisnya. Tanpa keraguan sedikit pun, dia melemparkannya ke arah Andres. Cincin itu terjatuh di atas papan kayu dermaga, menggelinding, lalu terlempar ke dalam kegelapan laut Batangas yang dalam.
Plop.
Bunyi kecil itu menandai akhir dari enam tahun kepalsuan.
“Mariel!” Andres berteriak, hendak mengejarnya.
Namun sebelum Andres sempat melangkah, Mariel sudah berbalik dan melompat ringan ke atas perahu kecil yang menunggu. Pengemudi perahu langsung menarik gas dalam-dalam. Perahu itu melesat membelah ombak malam, meninggalkan dermaga resort yang mewah.
Dari atas perahu yang bergerak menjauh, Mariel melihat siluet Andres yang berlutut di ujung dermaga, berteriak memanggil namanya di tengah kegelapan, sementara Celine dan kedua anaknya hanya bisa berdiri terpaku di belakangnya.
Mariel meraba waterproof pouch di balik bajunya. Di dalamnya ada paspor dengan nama gadisnya, dokumen gugatan annulment (pembatalan pernikahan) yang sudah ditandatangani, serta seluruh bukti transfer finansial gelap Andres yang akan diserahkan Bea ke pengadilan pajak besok pagi.
Andres pikir dia bisa memiliki segalanya: nama baik keluarga Villanueva, bisnis yang sukses, seorang istri penurut di Manila, dan keluarga simpanan di Cebu. Namun besok, saat matahari terbit, Andres akan menyadari bahwa dia telah kehilangan segalanya. Reputasinya akan hancur, hartanya akan terkuras untuk persidangan, dan wanita yang benar-benar tulus mencintainya telah menguap seperti kabut pagi.
Mariel menarik napas dalam-dalam. Angin laut menerpa wajahnya, menghapus sisa-sisa aroma sampaguita yang sempat mengikatnya dalam sangkar emas.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Mariel Santos akhirnya bisa bernapas lega. Dia tidak mati. Dia justru baru saja mulai hidup.