Chloe tidak pernah benar-benar nyaman dengan Bianca.
Tak peduli seberapa cantik wanita itu.
Tak peduli seberapa lembut cara bicaranya di depan orang lain.
Dan tak peduli seberapa besar Bianca terlihat mencintai ayahnya, Andres Valmonte, di mata seluruh Jakarta.
Saat itu Chloe baru berusia tujuh tahun, tapi dia sudah bisa merasakan ketika seseorang memakai senyum palsu.
Terutama setelah ibunya meninggal tiga tahun lalu.
Sejak saat itu, hanya Andres yang menjadi seluruh dunianya.
Ayahnya pria yang sibuk.
Pemilik jaringan hotel terbesar di Indonesia.
Namun sesibuk apa pun, Andres tak pernah lupa mengantar Chloe ke sekolah saat ulang tahunnya atau menghadiri recital piano kecilnya.
Karena itu, ketika Andres memperkenalkan Bianca Navarro sebagai tunangannya yang baru, Chloe berusaha menerima wanita itu.
Sebab untuk pertama kalinya sejak lama, dia melihat ayahnya kembali tersenyum bahagia.
Dan pada awalnya…
Bianca memang terlihat sempurna.
Elegan.
Manis.
Dan selalu membawa hadiah.
“Aku sayang Chloe,” katanya berkali-kali di depan teman-teman sosialitanya.
“Dia seperti anakku sendiri.”
Namun semakin lama…
Chloe semakin merasakan sesuatu yang aneh.
Dingin.
Terutama saat mereka hanya berdua.
Begitu Andres pergi, suara lembut Bianca langsung menghilang.
“Tegakkan badanmu.”
“Jangan terlalu banyak bergerak.”
“Dan jangan panggil aku Mommy di depan media.”
Chloe selalu diam.
Karena dia tidak ingin ayahnya terluka lagi.
Apalagi ketika melihat Andres begitu bahagia menyiapkan pesta pernikahan pantai mewah mereka di Bali.
“Kamu senang?” tanya Andres suatu malam sambil membetulkan gaun bunga kuning putrinya.
Chloe hanya mengangguk pelan.
Padahal itu bohong.
Karena semakin hari mendekati pernikahan…
dia justru semakin takut.
Terutama setelah suatu malam dia tanpa sengaja mendengar Bianca menelepon di balkon kamar.
“Melelahkan sekali terus berpura-pura,” kata Bianca dengan nada dingin.
“Pastikan semua transfer aset pranikah selesai setelah pernikahan.”
Tubuh Chloe langsung dingin saat bersembunyi di lorong.
Dia tidak benar-benar mengerti semuanya.
Tapi cukup untuk membuatnya takut.
Dan keesokan harinya…
semuanya menjadi lebih buruk.
Saat mencari crayon di kamar tamu Bianca, Chloe melihat sebuah folder terbuka di atas tempat tidur.
Foto-foto ibunya.
Dokumen.
Dan beberapa berkas atas nama ayahnya.
Di bagian atas salah satu dokumen tertulis besar:
“Property Asset Transition.”
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Dan wajah Bianca langsung berubah dingin ketika melihat Chloe.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Chloe mundur gemetar.
“Aku tidak sengaja…”
Bianca cepat-cepat menutup folder itu.
Dan untuk pertama kalinya…
Chloe melihat kemarahan asli di wajah wanita itu.
“Dengarkan aku.”
Suaranya pelan tapi tajam.
“Jangan pernah bilang pada Daddy-mu kalau kamu melihat ini.”
Chloe hanya mengangguk sambil menahan tangis.
Dan sejak hari itu…
dia semakin ketakutan.
Sampai malam pernikahan akhirnya tiba.
Seluruh resort di Bali terlihat sempurna.
Ada violin quartet.
Bunga impor dari Belanda.
Dan ratusan tamu dari keluarga terkaya di Indonesia.
Sementara Chloe mengenakan gaun floral kuning favoritnya sambil memeluk boneka kelinci tua pemberian ibunya sebelum meninggal.
Andres sangat bahagia malam itu.
Dia pikir akhirnya keluarganya akan utuh kembali.
Sampai tiga menit sebelum upacara dimulai…
dia sadar putrinya menghilang.
Awalnya dia pikir Chloe hanya pergi ke meja dessert.
Namun semakin lama…
detak jantungnya semakin cepat.
Hingga adiknya, Monica, datang dengan wajah pucat.
“Andres…”
“Chloe hilang.”
Seluruh resort langsung terasa dingin.
Andres segera meninggalkan altar.
Sementara di belakangnya, MC masih berusaha menenangkan para tamu.
Dan di bawah lengkungan bunga putih…
Bianca masih berdiri sambil tersenyum tenang.

Sepuluh menit berubah menjadi dua puluh.
Seluruh area resort mulai kacau.
Para staf hotel berlari mencari Chloe ke taman, pantai, hingga setiap villa pribadi di resort mewah itu.
Andres mulai kehilangan kendali.
“Cari lagi!” bentaknya dengan suara serak.
“Itu anak saya!”
Bianca mencoba memegang lengannya dengan lembut.
“Sayang… Chloe mungkin cuma takut dengan keramaian—”
“Dia tidak akan pergi tanpa bilang padaku.”
Nada suara Andres dingin.
Untuk pertama kalinya malam itu…
senyum Bianca sedikit menghilang.
Hujan tipis mulai turun di Bali.
Angin laut menerbangkan kelopak bunga putih di altar.
Lalu tiba-tiba—
seorang petugas keamanan berlari panik.
“Pak Andres!”
“Kami menemukan Nona Chloe!”
Andres langsung berlari tanpa mempedulikan jas mahalnya yang basah terkena hujan.
Di belakang ballroom resort…
ada sebuah ruang penyimpanan dekorasi.
Gelap.
Sempit.
Dan di bawah sebuah meja panjang yang tertutup kain putih…
Chloe ditemukan memeluk boneka kelincinya sambil gemetar.
“Daddy…”
Suara kecil itu langsung menghancurkan hati Andres.
Ia segera berlutut dan memeluk putrinya erat.
“Ya Tuhan… Daddy di sini… Daddy di sini…”
Tubuh kecil Chloe dingin karena ketakutan.
Tangisnya tidak berhenti.
Andres menahan napas sambil membelai rambut putrinya.
“Kenapa kamu sembunyi di sini? Daddy sangat khawatir…”
Chloe tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatap ke arah Bianca yang baru saja tiba di belakang Andres.
Dan saat itulah…
tubuh kecilnya mulai makin gemetar.
Andres langsung menyadarinya.
“Chloe…”
Perlahan, Chloe menarik lengan jas ayahnya.
Lalu berbisik pelan di bawah meja itu.
Kalimat kecil yang membuat seluruh dunia Andres runtuh seketika.
“Daddy…”
“Aku takut kalau Bianca menikah dengan Daddy…”
“…aku bakal hilang seperti Mommy.”
Sunyi.
Total.
Bahkan suara ombak terasa menghilang.
Andres membeku.
“Apa maksudmu?”
Air mata Chloe jatuh semakin deras.
“Malam sebelum Mommy meninggal… aku dengar Bianca bertengkar sama Mommy…”
Wajah Bianca langsung pucat.
“Chloe!” potongnya cepat.
“Jangan bicara sembarangan!”
“Tutup mulutmu.”
Suara Andres sangat pelan.
Tapi jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
Semua orang terdiam.
Chloe terisak sambil memeluk bonekanya lebih erat.
“Aku dengar Mommy bilang dia mau kasih tahu Daddy semuanya…”
“Terus Bianca bilang… kalau Mommy bicara… semuanya bakal hancur…”
Tubuh Bianca mulai gemetar.
“Andres, dia cuma anak kecil! Dia pasti salah dengar!”
Namun Andres perlahan berdiri.
Tatapannya berubah total.
Dingin.
Kosong.
Berbahaya.
“Kenapa,” katanya perlahan, “kamu tidak pernah bilang kalau kamu bertemu istriku malam sebelum dia meninggal?”
Bianca mundur satu langkah.
“Itu… itu tidak penting…”
“Jawab aku.”
Suasana seluruh resort berubah mencekam.
Monica langsung menutup mulutnya saat menyadari sesuatu.
Karena tiga tahun lalu…
istri Andres meninggal akibat kecelakaan mobil misterius di daerah Puncak.
Dan kasus itu tidak pernah benar-benar jelas.
Bianca mulai panik.
“Andres, dengarkan aku dulu—”
Namun Andres sudah mengambil ponselnya.
“Hubungi pengacara keluarga.”
Matanya tidak lepas dari Bianca.
“Dan panggil kepala keamanan sekarang.”
Wajah Bianca langsung hancur.
“Andres… kamu percaya omongan anak kecil dibanding aku?”
Andres tertawa kecil.
Tapi tidak ada kehangatan di sana.
“Anak kecil tidak tahu cara berbohong sebaik orang dewasa.”
Hujan turun semakin deras.
Para tamu hanya bisa diam menyaksikan calon pengantin wanita itu perlahan kehilangan segalanya di depan altar mewah yang belum sempat digunakan.
Dan di tengah semua kemewahan malam itu…
Andres memilih berlutut kembali di depan Chloe.
Memeluk putrinya erat.
Seolah takut kehilangan satu-satunya keluarga yang benar-benar tulus mencintainya.
“Maaf…”
Suara Andres pecah untuk pertama kalinya.
“Daddy gagal melindungimu…”
Chloe menangis di pelukannya.
Sementara di belakang mereka—
Bianca berdiri sendirian di bawah lengkungan bunga putih yang mulai rusak diterpa hujan dan angin laut.
Pernikahan mewah itu tidak pernah terjadi.
Dan malam itu juga…
seluruh hidup Bianca Navarro mulai runtuh satu per satu.