Aku kembali menatap tajam kedua polisi itu.
“Mereka tidak datang, tidak mau mengurus jenazah keluarganya sendiri, dan menolak otopsi padahal mereka belum melihatnya jen@zah anaknya?” ulangku. Mataku semakin menajam, berusaha menekan emosi yang mulai naik ke dada.
“Kami hanya bisa menyampaikan hal itu, Pak,” kata polisi yang lebih muda dengan nada suara pelan, mencoba meredam situasi, meski gesturnya tetap menjaga jarak yang kaku.
Aku melangkah satu langkah ke depan, mempersempit jarak di antara kami. Tatapanku terkunci pada keduanya. “Lalu untuk apa kalian melibatkan dan meneleponku malam-malam begini jika pada akhirnya tidak mau melakukan otopsi?” tanyaku datar, ada tekanan yang jelas di setiap kata.

Polisi itu saling bertukar pandang sejenak dengan lirikan singkat, sebelum yang bertubuh lebih gemuk kembali menatapku lurus. “Pihak keluarga di Yogyakarta sudah menyerahkan seluruh proses pemakamannya pada Anda, Pak. Sebagai penanggung jawab sementara di Jakarta.”
Aku menghela napas pelan. Panjang. Dan terasa sangat berat.
Dadaku sesak oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Antara marah, bingung, dan … curiga yang luar biasa.
Menolak otopsi. Tapi tidak mau datang. Tidak mau melihat jenazah anaknya sendiri. Bahkan tidak sudi mengurus pemakamannya. Pikiranku mencoba menyusun logika, tapi semuanya patah di tengah jalan. Logika macam apa itu?
Rahangku mengeras. Tanganku mengepal tanpa sadar di sisi tubuhku.
“Ini tidak masuk akal,” kataku, kali ini lebih tegas, lebih dingin. “Kalau mereka menolak terlibat sejak awal, kenapa sekarang mereka yang menentukan keputusan krusial ini?”
Polisi itu menatapku, dingin. Tatapannya lurus, tanpa goyah, seolah sudah siap dengan pertanyaan itu sejak awal. “Karena secara hukum, ini tetap keputusan keluarga kandung, Pak.”
Aku mendecakkan lidah pelan, menahan kesal yang mulai membakar kepala. “Setidaknya hubungkan saya dengan mereka sekarang juga,” kataku. “Saya ingin mendengar langsung alasan mereka dari telepon.”
“Tidak bisa,” sahutan itu datang begitu cepat. Seolah memang sudah disiapkan sejak awal.
“Kenapa tidak bisa?” tekananku mulai terdengar, suaraku mengeras memenuhi ruangan kamar mayat yang sunyi. “Saya diminta datang ke sini. Saya yang menandatangani semua berkas administrasi malam ini. Itu berarti saya berhak tahu!”
“Tidak, Pak,” potong polisi gemuk itu lagi tanpa ragu. “Ini urusan pribadi keluarga. Tugas kami di sini hanya menjalankan keputusan mereka.”
Aku menatapnya beberapa detik. Lama. Mencoba mencari celah di wajahnya, sesuatu, apa pun, yang menunjukkan keraguan atau kebohongan. Tapi tak ada. Hanya ada sikap kaku, formalitas, dan dingin. Gigiku menggertak.
Aku menahan napas sejenak, lalu membuangnya pelan. Suaraku ikut turun, lebih rendah, tapi justru terdengar lebih menuntut karena kutahan. “Kalau begitu … saya sebagai penanggung jawab sementara di sini, meminta otopsi tetap dilakukan.”