Kupikir dia gadis desa lemah, ternyata…
“Perhatian semuanya! Saya ingin memperkenalkan orang yang paling berjasa di rumah ini, yang tanpa dia, acara hari ini mungkin tidak akan pernah ada!”
Suara lantang Aris memecah kebisingan di ruang tamu. Aku yang sedang asyik memamerkan cincin berlian baruku pada Jeng Ratna, hampir saja menjatuhkan gelas kristal yang kupegang. Aris berdiri di atas podium kecil yang biasanya digunakan untuk sambutan, wajahnya tampak berseri-seri penuh kebanggaan.
Aku melirik Daren yang berdiri di sudut ruangan. Wajah anak sulungku itu pucat pasi. Dia pasti sama kagetnya denganku. Apa-apaan Aris ini? Sejak kapan dia jadi tukang woro-woro di rumah sendiri?
“Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian,” lanjut Aris dengan nada dramatis. “Kenalkan, ini adalah Mbak Siti Hajar. Menantu kebanggaan keluarga ini yang bukan cuma jago masak, tapi juga punya nyali sekuat baja!”
Siti muncul dari balik tirai dapur. Dia tidak memakai celemek dekil seperti yang kuperintahkan. Sebaliknya, dia mengenakan gamis satin berwarna nude yang sangat elegan, dengan riasan wajah natural yang justru membuatnya terlihat seperti bangsawan muda. Dia berjalan tenang, berdiri di samping Aris dengan senyum tipis yang penuh kesopanan, tapi entah kenapa terasa sangat menghina bagiku.
“Aris! Apa-apaan kamu? Turun sekarang!” bisikku tajam saat aku berhasil mendekat ke arahnya.
Tapi Aris seolah tuli. Dia justru merangkul bahu Siti. “Tahu tidak, Om dan Tante? Kemarin, Mbak Siti ini sendirian melawan tiga preman bersenjata yang mau merampok saya! Kalau bukan karena jurus bela diri Mbak Siti, mungkin saya sudah masuk rumah sakit sekarang. Mbak Siti adalah pahlawan saya!”
Bocah itu bikin malu saja. Ingin rasanya ku lempar pakai sandal.
Suara napas tertahan terdengar dari seluruh penjuru ruangan. Para tamu mulai berbisik-bisik heboh.
“Wah, hebat ya menantunya Nandini? Ternyata bukan cuma cantik, tapi jago bela diri juga!” puji Surya, kakak iparku yang paling disegani.
“Iya, Nandini! Kamu beruntung sekali punya menantu seperti ini. Pantas saja tadi kamu bilang dia sedang menyiapkan kejutan. Ternyata kejutan ini, ya!” Jeng Ratna menimpali dengan nada yang kini terdengar iri.
Aku hanya bisa berdiri mematung dengan senyum yang dipaksakan. Gigiku beradu karena menahan geram. Daren mendekat, membisikkan sesuatu di telingaku, “Bu, gimana ini? Si Siti malah jadi bintang tamu. Malu-maluin kita kalau rahasia aslinya terbongkar!”
Aku ingin sekali menjambak rambut Siti saat itu juga, tapi di depan keluarga besar yang sedang terpukau, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku harus tetap terlihat seperti mertua yang bijak dan menyayangi menantunya.
“Ah… iya,” sahutku dengan suara yang bergetar. “Siti memang… unik. Dia memang kami latih untuk menjaga keamanan keluarga.”
“Sudah kaya anjing piaraan,” ucapku dalam hati.
Siti menoleh padaku, matanya berkilat jahil. “Oh, Ibu Mertua terlalu rendah hati. Bukankah Ibu yang bilang kalau saya harus ‘menjaga’ semua aset di rumah ini dengan nyawa saya? Termasuk menjaga rahasia-rahasia kecil di balik pintu lemari yang dikunci itu?”
Suasana mendadak hening. Para tamu saling pandang. Rahasia kecil? Lemari dikunci?
“Apa maksudmu, Siti?” tanya Jeng Ratna dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sosmednya pasti sudah siap mengunggah gosip baru.
Siti tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun mematikan. “Maksud saya… rahasia resep masakan Ibu Mertua yang sangat lezat sampai-sampai beliau harus menguncinya rapat-rapat agar tidak ada yang meniru. Benar kan, Bu?”
Aku mengembuskan napas lega. Sialan, dia mempermainkan jantungku. “Tentu saja, resep keluarga itu rahasia!” jawabku cepat.
“Awas Kau Siti. Rasanya aku nggak akan umur panjang jika menghadapi dia. Dari tadi pacuan darahku naik-turun nggak beraturan.”
Tapi Siti belum selesai. Dia melangkah menuju meja hidangan utama, di mana rendang dan ayam ungkep sudah tertata rapi. Dia mengambil satu piring, mengisinya dengan porsi besar, lalu berjalan menuju seorang tamu yang paling sepuh di keluarga kami, Nenek Buyut Daren. Beliau tingga bersama Surya.

“Nenek, silakan dicicipi. Ini masakan khusus yang saya siapkan. Saya pastikan dagingnya empuk, tidak hambar seperti hati orang yang penuh prasangka,” ucap Siti dengan nada lembut dan sangat sopan.
Nenek Buyut mencicipinya dan matanya berbinar. “Sebenarnya aku nggak makan daging. Takut kolesterol naik. Tapi, demi mencicipi masakanmu akan kucoba. Luar biasa! Ini rendang terenak yang pernah Nenek makan seumur hidup! Nandini, kamu harus belajar banyak dari menantumu ini!”
Mataku mendelik. Pasti pusernya melebar Siti kampungan itu.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah sambil melihat para tamu berebut mencicipi masakan Siti. Daren terlihat pasrah berdiri di pojok sambil menenggak minumannya dengan kasar, menahan malu karena istrinya yang dianggap “pembantu gratisan” itu kini menjadi pusat perhatian.
Namun, di tengah keriuhan itu, Siti mendekatiku dan berbisik sangat lirih di samping telingaku.
“Ibu lihat kan? Semua orang mencintai saya sekarang. Bayangkan apa yang terjadi kalau saya memberitahu mereka bahwa ‘rendang lezat’ ini sebenarnya dibeli pakai kartu kredit Mas Daren yang sudah overlimit, dan tagihannya akan sampai ke tangan Om Surya besok pagi karena Mas Daren memakai nama Om Surya sebagai penjamin?”
Aku tersedak ludahku sendiri. Mataku membelalak menatap Siti. Bagaimana dia bisa tahu soal penjamin itu?!
Siti hanya mengedipkan matanya, lalu kembali melayani tamu dengan elegan. Sementara itu, di ujung ruangan, seorang pria asing dengan seragam petugas bank tampak baru saja masuk dan menanyakan keberadaan Daren.
Ya Allah, tujuanku bukan ini. Kenapa jadi berbalik seperti ini? SITTIIIIIIIIII…. SE T A N KAU
Judul MENANTU LUGU TERNYATA SUHU
Penulis Olin_huy
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App.