Posted in

“Pakai ATM-ku untuk beli semua keperluan hantaran nikah dan lamaran. Ingat, beli barang-barang yang mahal dan berkelas,” kataku sambil menatap nanar kartu A T M yang kini berpindah ke tangan lelaki tampan di depanku. Afkar namanya.

“Kamu mau aku datang melamarmu membawa seserahan dari uang pribadimu?” Lelaki itu tertawa sinis sambil menjepit kartu milikku dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.

Afkar menatap lurus ke arahku dengan sorot tersinggung. Mungkin aku sudah melukai harga dirinya. Tapi aku tidak peduli. Toh, apa yang aku lakukan juga demi menjaga martabatnya di depan anggota keluargaku.

“Iya. Aku pengen mereka lihat kalau aku bisa dapat calon suami yang lebih baik dan bahkan lebih sukses dari mantan yang direbut oleh adikku itu,” jawabku mantap dengan tangan mengepal erat.

***

“Memangnya yang ikut lamaran ada berapa orang?” tanya Ibu Tiriku yang duduk di sebelah Bapak sambil mengipasi wajahnya tak sabar.

“Cuma dia sama saudara sepupunya. Orang tuanya ada urusan mendesak di kebun. Jadi enggak bisa ditinggal,” jawabku sambil memperlihatkan balasan Afkar yang dikirim beberapa saat lalu. Padahal memang aku yang minta Afkar tidak membawa orang tuanya.

“Cih, cuma anak tukan kebun ternyata! Tau gitu, ngapain ibu susah payah dandan begini,” cibir Ibu Tiriku sambil memperhatikan kebaya mewah yang membungkus tubuhnya. Ibu bahkan memanggil Mbak Sita yang buka usaha salon di rumahnya untuk mendandaninya.

Mikha yang duduk di sebelahku terkekeh dan menatapku iba. “Ternyata Mbak segitu putus asanya setelah ditinggal Mas Baskara sampai-sampai sembarangan nerima lamaran cowok lain. Mana down grade banget, sih, Mbak.”

“Aku putus asa ditinggal Baskara? Dih, najis. Sana ambil si Baskara! Dari dulu kamu emang senang pake barang yang bekas aku, kan?”

“Apa kamu bilang?” raung Mikha emosi sampai-sampai lupa memakai topeng anak manisnya di depan Bapak.

“Kamu doyan barang bekas aku! Masih enggak dengar juga?” ulangku dengan suara yang keras di telinganya.

“Bapak ….” rengek Mikha manja dan mengusap-usap telinganya yang tadi aku teriaki.

“Sudah, sudah!” Bapak menengahi. “Kirana, jangan bicara kasar begitu pada adikmu.”

Aku menatap kecewa pada sosok laki-laki yang harusnya menjadi pelindungku. Tapi lihat yang dia lakukan! Bapak bahkan merestui hubungan Mikha dan Baskara. Padahal Bapak tahu jika aku dan Baskara sudah berpacaran selama empat tahun ini.

“Bu Retno, calonnya Mbak Kirana udah di depan,” salah satu tetangga yang diminta Bapak membantu menyambut rombongan Afkar datang mengetuk pintu.

“Ayo, kita ke depan,” ajak Bapak.

“Pak Kukuh, sepertinya kita butuh bantuan beberapa pemuda,” ucap tetanggaku tadi.

“Buat apa, to, Pak? Kalau cuma buat nyambut seserahan, dua tiga orang saja cukup. Memangnya anak tukang kebun calonnya Kirana bisa ngasih apa?” Ibu kembali meremehkan Afkar di depan para tetangga, berniat untuk mempermalukanku.

“Lho, Bu Retno endak tahu, tah? Seserahannya aja diangkut pakai mobil pick up begitu,” celetuk tetangga yang lain.

“Apa?!” pekik Ibu Tiriku syok.

“Ya, sudah minta tolong pemuda karang taruna saja buat bantu,” usul Bapak.

“Bawa apaan pakai mobil pick up segala? Kambing? Atau sayur mayur dari kebun orang tuanya?” cibir Ibu.

“Iyyyuh, bau!” sambar Mikha sambil menjepit ujung hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuk.

Aku mengedikkan bahu cuek. Liat aja, nanti! Aku pastikan kalian kena serangan jantung melihat barang bawaan ‘calon suamiku’.

Satu persatu pemuda karang taruna yang dimintai tolong oleh Bapak masuk ke pekarangan rumah dengan membawa sekotak hantaran di tangan mereka. Ukurannya bervariasi. Dari yang kecil sampai yang besar banget hingga membutuhkan dua orang untuk menggotongnya.

Aku sungguh menikmati bagaimana senyum dan ekspresi ibu juga Mikha berubah. Ibu bahkan hampir roboh dengan napas megap-megap andai tidak ditopang oleh Bapak.

“Duh …. maaf, ya, rumahnya jadi sempit gara-gara hantaran ini. Mas Afkar gimana, sih, udah dibilangin enggak usah ngasih yang berlebihan. Si Baskara ngasih kamu sebanyak ini juga, enggak? Kan, katanya dia baru diangkat jadi staf walikota gitu, ya?” ucapku dengan nada lebay menyebalkan.

Ibu dan Mikha kompak menatapku dongkol, seolah ingin menelanku hidup-hidup melihat teras rumahku yang tadinya lapang kini disesaki oleh kotak-kotak seserahan. Yang paling mencolok tentu saja box besar berisi satu set perhiasan emas, mesin cuci front loading berkapasitas tujuh kilogram, dan kulkas canggih yang dilengkapi dengan layar LCD dan fitur canggih AI.

Aku tersenyum puas. Afkar benar-benar menggunakan uang tabunganku dengan pintar. Di luar pagar, beberapa tetangga mulai berdatangan karena penasaran dengan banyaknya barang seserahan yang dibawa oleh calon suamiku.

“Terus Nak Afkarnya mana?” tanya Bapak yang celingkukan karena calon menantunya masih belum kelihatan batang hidungnya.

“Sebentar lagi sampai. Katanya Mas Afkar bawa hantaran yang terakhir,” jawab tetangga yang berdiri tak jauh dari Bapak.

Masih ada lagi? Aku mengerutkan kening, mulai berhitung nominal uang tabunganku yang terkuras untuk membeli semua hantaran ini.

Tin!

Suara klakson mengagetkanku. Mobil Brio berwarna kuning lemon dengan juntaian pita berwarna merah memasuki pekarangan rumah. Setelahnya Afkar keluar bersama satu orang laki-laki yang umurnya terlihat sepantaran dengannya.

“I-itu hantaran buat Kirana juga?” Ibu tiriku kembali terduduk lemas dengan wajah pucat dan tatapan mata yang kosong.

Salah satu tetangga yang datang merewang diminta Bapak mengambilkan segelas air putih untuk Ibu.

“Masa iya?” kataku tak kalah syok. Kepalaku berdenyut nyeri membayangkan berapa sisa uang di dalam tabungan yang sudah susah payah aku kumpulkan selama lima tahun ini.

Sialan si Afkar. Aku nyuruh dia buat pakai uang di tabungan. Tapi, enggak dihabisin juga!

***
Lanjutannya di KBM App
Penulis: Kalishgan
Judul: Dikira Pengangguran, Ternyata Komandan