Namaku Aira Seline, dua puluh empat tahun.
Ketika perusahaan ayahku hampir bangkrut karena
skandal korupsi yang melibatkan saudara tiriku,
keluarga kami terjerat utang ratusan miliar rupiah.
Untuk menyelamatkan ayahku dari penjara dan
rumah sakit, mereka menjodohkanku dengan
satu-satunya orang yang sanggup melunasi
semuanya tanpa berkedip—Tuan Damian Valerius.
Damian adalah miliarder paling berpengaruh di
Asia Tenggara, pemilik jaringan teknologi dan
properti terbesar.
Namun ia dikenal sebagai “The Broken King”—pria yang lumpuh total sejak kecelakaan pesawat pribadi lima tahun lalu. Konon ia tak bisa berdiri sama sekali, tubuhnya lemah, dan wajahnya selalu pucat dengan bekas luka di sisi kiri. Ia jarang muncul di publik dan selalu menggunakan kursi roda mewah yang dikendalikan suara.
“Kasihan sekali kau, Aira,” ejek saudari tiriku, Liora,
sambil tersenyum sinis saat aku mencoba gaun
pengantin. “Menikah dengan mayat hidup yang
lumpuh. Setiap malam kau harus mendorong kursi
rodanya, membersihkan air liurnya, dan mendengar
napasnya yang tersengal. Dia bukan suami, dia
beban berjalan!”
Aku menahan air mata. Tak ada pilihan. Ini satu-satunya cara menyelamatkan ayah yang sedang sekarat di rumah sakit.
Malam Pertama yang Sunyi
Pernikahan kami digelar secara pribadi di mansion Damian yang terletak di perbukitan sepi di luar kota.
Saat pertama kali bertemu, Damian duduk di kursi roda hitam elegan. Tubuhnya kurus di bagian atas, kakinya tertutup selimut tebal. Wajahnya dingin, tatapannya tajam tapi penuh jarak, seolah sudah menyerah pada dunia.
Liora dan ibu tiriku, Vivian, memandangnya dengan rasa muak yang tak disembunyikan.
Namun di balik mata abu-abunya yang dingin, aku menangkap sesuatu—kekuatan yang disembunyikan, seperti badai yang tertahan.
Bulan-bulan pertama pernikahan kami berlalu dalam keheningan. Aku merawatnya dengan sabar.
Setiap pagi aku membantunya berpindah dari
tempat tidur ke kursi roda, menyiapkan makanan
rendah garam sesuai resep dokter, memijat
kakinya yang tak berdaya, dan mendengarkan
cerita bisnisnya yang rumit meski ia sering
berhenti di tengah kalimat karena kelelahan.

“Kenapa kau tidak jijik?” tanyanya suatu malam dengan suara rendah yang ternyata sangat jernih. “Semua orang melihatku sebagai monster lumpuh yang tak berguna. Bahkan keluargamu hanya memanfaatkanku.”
Aku menatapnya lembut sambil menyelimuti bahunya.
“Karena kau tetap manusia, Damian. Kau memilih menolong keluargaku padahal kau tak wajib melakukannya. Aku adalah istrimu. Aku akan berada di sisi roda kursimu, bukan karena utang, tapi karena aku mulai melihat pria di balik semua itu.”
Ia terdiam lama. Untuk pertama kalinya, aku melihat sudut bibirnya bergetar—hampir seperti senyum.
Hari Pengungkapan di Puncak Valerius Tower
Tibalah malam perayaan ulang tahun perusahaan
Valerius Group yang ke-15. Acara mewah di
ballroom tertinggi gedung pencakar langit
miliknya, dihadiri para pengusaha, politisi, dan
tentu saja Vivian serta Liora yang kini hidup
mewah dari uang Damian.
Sepanjang malam, Damian tampil seperti biasa—duduk di kursi rodanya, wajah pucat, tubuh lemah. Orang-orang berbisik kasihan dan mengejek di belakang kami.
“Kasihan Aira, terjebak dengan pria cacat seumur hidup.”
“Lihat, dia bahkan tak bisa angkat gelas sendiri.”
Liora tertawa kecil sambil berbisik pada ibunya, “Dia benar-benar babi lumpuh. Untung ada Aira yang jadi perawat tetap.”
Saat acara mencapai puncak, Damian meminta mikrofon. Semua mata tertuju padanya.
Dengan suara yang tiba-tiba kuat dan penuh wibawa, ia berbicara:
“Selama lima tahun, aku memilih bersembunyi di balik kursi roda ini. Bukan karena aku tak bisa berjalan… melainkan karena aku ingin melihat siapa yang tetap setia ketika dunia menganggapku tak berguna.”
Ruangan hening.
Damian menekan tombol di kursi rodanya. Dengan gerakan pelan tapi pasti, ia melepaskan selimut, meletakkan kedua tangan di lengan kursi, dan berdiri.
Kaki yang selama ini dikira lumpuh total kini menopang tubuhnya. Meski masih agak kaku dan ia menggunakan tongkat, ia berdiri tegak di depan semua orang. Bekas luka di wajahnya terlihat jelas, tapi justru memberinya aura kuat dan misterius.
Vivian dan Liora ternganga, wajah mereka pucat pasi seolah kehilangan napas.
Damian menoleh padaku, matanya penuh kehangatan yang selama ini disembunyikan.
“Aira… istriku. Kau adalah satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia, bukan sebagai ‘The Broken King’. Malam ini, aku tidak lagi berpura-pura lemah. Dan mulai sekarang, aku akan melindungimu dengan kekuatanku yang sebenarnya.”
Ruangan meledak dalam tepuk tangan kaget dan kagum.
Sementara Vivian dan Liora mundur ketakutan, menyadari semua kemewahan yang mereka nikmati selama ini bisa lenyap dalam sekejap.
Aku berjalan mendekat, menggenggam tangan Damian yang hangat.
Di balik kursi roda, di balik luka, dan di balik topeng
kelemahan yang ia pakai bertahun-tahun, aku telah
jatuh cinta pada pria yang ternyata jauh lebih kuat
dari yang dunia ketahui.
Dan kini, dunia juga tahu.
Lanjut? Cek komentar