Dian adalah seorang pengusaha properti sukses
berusia 34 tahun yang tinggal di kawasan elite
BSD City, Tangerang. Hidupnya mewah: ia meraup
lebih dari 180 juta rupiah per bulan, memiliki
rumah dua lantai dengan rooftop garden,
mengendarai mobil SUV hybrid mewah, dan sering
bepergian ke Singapura atau Dubai untuk tender
proyek besar.
Namun, asal-usulnya sangat sederhana. Ia dibesarkan di pinggiran Jakarta oleh seorang ayah tunggal yang hanya seorang pemulung. Ayahnya, Pak Karman, tinggal di sebuah rumah kontrakan kumuh berukuran 4×6 meter di samping tempat pembuangan sampah (TPA) daerah Ciledug. Bau sampah yang menyengat, lalat beterbangan, dan genangan air hitam adalah pemandangan sehari-hari semasa kecil Dian.
Istrinya, Rina, berusia 27 tahun dan bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta kelas menengah di Jakarta Selatan.
Penghasilannya biasa saja, tapi ia punya hati yang lembut dan keteguhan yang jarang dimiliki orang lain. Mereka sudah menikah selama 1 tahun 9 bulan. Pernikahan mereka sederhana tapi penuh kehangatan.
Akhir-akhir ini, racun keraguan mulai merasuki hati
Dian. Di lingkungan pergaulannya yang penuh
orang kaya baru, ia sering mendengar cibiran
halus: “Wanita biasa seperti dia pasti cuma tahan
sama gaya hidupmu. Kalau tahu kamu dulu anak
pemulung, dia pasti kabur.”
Termakan rasa insecure, Dian memutuskan untuk menguji Rina. Ia menelepon ayahnya diam-diam dan meminta Pak Karman tidak membersihkan kontrakan itu sama sekali. Biarkan tumpukan sampah menumpuk di depan pintu, biarkan atap bocor, dan biarkan bau menyengat tetap ada.
“Aku ingin tahu apakah Rina benar-benar mencintaiku atau hanya terpesona dengan kesuksesanku sekarang,” katanya pada ayahnya.
Suatu hari, Dian berbohong pada Rina bahwa ia harus ke daerah untuk survei lahan proyek. Ia mengajak Rina ikut dengan alasan “biar istriku tahu kerjaanku”. Mereka naik motor melewati macet Jakarta, kemudian masuk ke gang-gang sempit yang semakin kumuh hingga akhirnya tiba di depan kontrakan reyot Pak Karman yang terletak persis di pinggir TPA.
Bau sampah yang menyengat langsung
menyambut mereka. Lalat beterbangan. Pak
Karman keluar dengan baju lusuh, badannya kurus,
tangannya hitam karena sering memilah sampah.
Dian diam-diam mengamati reaksi Rina. Ia
menunggu istrinya menunjukkan ekspresi jijik,
kecewa, atau bahkan marah. Rina terdiam cukup
lama sambil memandangi kontrakan kecil itu dan
ayah mertuanya yang berdiri tertunduk.

Kemudian, tanpa banyak bicara, Rina membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah kusut dan terlipat rapi, lalu menyerahkannya kepada Dian.
Jantung Dian berdegup kencang. Ia mengira itu surat cerai atau daftar tuntutan. Tapi saat ia membuka kertas itu, air matanya langsung jatuh deras tanpa bisa ditahan.
Kertas itu adalah…
Surat keterangan dari pengurus TPA yang menyatakan bahwa Rina selama ini diam-diam membayar kontrakan ayah Dian setiap bulan selama 14 bulan terakhir, ditambah catatan tulisan tangan Rina di bagian bawah:
“Pa, maaf Rina nggak bilang ke Dian. Rina tahu Dian malu dengan masa lalunya. Tapi bagi Rina, Bapak adalah ayah yang sudah berjuang sendirian membesarkan suami Rina. Selama Rina masih bisa, Rina akan bantu Bapak. Karena mencintai Dian berarti juga mencintai seluruh perjalanan hidupnya, termasuk Bapak dan tempat ini.”
Dian ambruk berlutut di depan kontrakan kumuh
itu. Tangisnya pecah tak terkendali. Semua
keraguannya hancur dalam sekejap. Rina, yang
selama ini ia ragukan, ternyata telah diam-diam
menjaga ayahnya tanpa pernah meminta pujian.
Ia memeluk Rina erat-erat di tengah bau sampah yang menyengat, sambil berulang kali mengucapkan “maaf” di antara isak tangisnya.
Lanjut? Cek komentar