Posted in

DORONG ISTRI MILIARDER YANG SEDANG HAMIL DARI HELIKOPTER DEMI MENDAPATKAN WARISAN—TAPI DIA TAK MENYANGKA SANG ISTRI SUDAH SIAP…

DORONG ISTRI MILIARDER YANG SEDANG HAMIL DARI HELIKOPTER DEMI MENDAPATKAN WARISAN—TAPI DIA TAK MENYANGKA SANG ISTRI SUDAH SIAP…

Seharusnya itu hanya sebuah perayaan—penerbangan mewah di atas pesisir California.

Marco Villareal, seorang pebisnis ambisius, merencanakan “kejutan romantis” untuk istrinya yang sedang hamil, Isabella Monteverde—pewaris kerajaan teknologi bernilai miliaran rupiah di Filipina dan Amerika Serikat.

Saat helikopter pribadi mereka terbang menembus langit biru yang cerah, semuanya tampak sempurna.

Namun, bukan cinta yang ada di hati Marco.

Isabella memiliki segalanya—perusahaan teknologi yang sukses, properti di berbagai negara, dan kekayaan luar biasa yang diwarisinya dari almarhum ayahnya. Hanya ada satu hal yang belum bisa didapatkan Marco:

Kendali penuh atas seluruh hartanya.

Selama bertahun-tahun, Marco diam-diam mengawasi istrinya. Setiap tanda tangan Isabella di kontrak, setiap perkembangan bisnisnya, membuat Marco semakin yakin bahwa kekayaan wanita itu adalah kunci kehidupan mewah yang selalu ia impikan.

Dan karena itu, lahirlah sebuah rencana.

Rencana yang akan berakhir dengan sebuah “kecelakaan.”

“Isabella, aku punya sesuatu yang spesial untukmu!” teriak Marco di tengah suara keras baling-baling helikopter.

Isabella tersenyum. Ia lelah—kehamilannya sudah memasuki trimester kedua—tetapi ia senang bisa beristirahat sejenak dari pekerjaan. Ia memandangi hamparan lautan luas di bawah mereka.

Namun, ada rasa gelisah aneh di dadanya yang tak bisa dijelaskan.

Saat Marco menerbangkan helikopter ke area langit yang lebih terpencil, ia menarik napas panjang.

“Mendekatlah ke pintu, Sayang. Pemandangannya lebih indah dari sini,” katanya santai.

Karena percaya sepenuhnya, Isabella pun melangkah mendekati sisi pintu yang terbuka.

Dalam sekejap—

Marco mencengkeram lengannya dengan kuat.

Dan dengan satu dorongan brutal—

dia mendorong Isabella keluar dari helikopter.

Isabella menjerit saat angin menghantam wajahnya dengan keras.

Namun sebelum rasa takut sepenuhnya menguasainya—

sebuah kenyataan mengejutkan muncul di benaknya.

Dia sudah siap.

Sejak lama.

Karena beberapa bulan sebelumnya, Isabella sudah menyadari perubahan sikap Marco—telepon-telepon rahasia, dokumen-dokumen yang dipaksakan untuk ditandatangani, dan ketertarikan aneh Marco terhadap detail surat warisannya.

Ia tidak lengah.

Ia sudah mengambil langkah antisipasi.

Langkah-langkah yang tak pernah dibayangkan Marco.

Saat tubuhnya jatuh dari langit, bukan ketakutan yang terlihat di matanya—

melainkan tekad.

Karena pria yang mengira dirinya akan menjadi korban…

tidak tahu bahwa sebenarnya dialah yang sedang berjalan masuk ke dalam jebakan.

Saat angin menerpa wajahnya dan tubuhnya melayang jatuh, Isabella tidak panik. Tangannya dengan tenang meraba lipatan mantel musim dinginnya yang tebal dan menarik seutas tali tersembunyi.

Syutt!

Sebuah parasut taktis ultralight—yang sudah dimodifikasi khusus agar pas dan aman untuk wanita hamil—mengembang sempurna di atasnya. Laju jatuhnya melambat seketika. Isabella mencengkeram tali kemudi, menatap helikopter yang mulai menjauh di atas sana dengan senyuman dingin.

Dia tidak pernah mempercayai Marco sejak suaminya itu mulai terlalu sering menanyakan surat wasiat.

Sementara itu, di dalam kokpit, Marco menarik napas lega. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu tertawa terbahak-bahak. “Semua kekayaan itu… akhirnya jadi milikku,” bisiknya penuh kemenangan. Ia segera meraih radio untuk membuat panggilan darurat palsu, bersiap akting menangis histeris melaporkan “kecelakaan tragis” istrinya.

Namun, sebelum sempat menekan tombol radio, seluruh sistem navigasi helikopter tiba-tiba mati total. Layar digital berkedip merah, dan sebuah video otomatis terputar di layar utama kokpit.

Wajah Isabella muncul di layar tersebut.

“Halo, Marco. Jika kamu melihat rekaman ini, artinya kamu baru saja mendorongku.”

Suara Isabella terdengar sangat tenang, bahkan cenderung mengejek. Marco terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Kamu pikir kamu pintar? Pilot yang kamu suap itu sebenarnya bekerja untukku. Dan helikopter yang kamu kendarai sekarang? Sistem kendalinya sudah kuambil alih dari darat sejak lima menit yang lalu.”

“Sialan! Apa-apaan ini?!” teriak Marco panik. Ia mencoba menggerakkan tuas kendali, namun benda itu mengunci mati. Helikopter itu kini terbang otomatis, berputar balik menuju sebuah titik di daratan.

“Oh, dan satu hal lagi,” lanjut Isabella di video dengan senyuman maut. “Begitu kamu mendarat, bukan pengacara warisan yang menunggumu. Tapi FBI dan polisi Filipina. Semua bukti transfer rahasiamu, rekaman telepon, dan kamera tersembunyi di dalam helikopter ini yang merekam aksi tokomu tadi… sudah terkirim ke server mereka secara real-time. Nikmati sisa hidupmu di balik jeruji besi, Marco.”

Video mati. Layar kembali hitam.

Di bawah sana, Isabella mendarat dengan mulus di sebuah area pantai pribadi yang terisolasi, di mana tim medis kepercayaannya dan puluhan agen bersenjata lengkap sudah bersiap menyambutnya. Sebuah selimut hangat segera disampirkan ke bahunya.

Isabella mengelus perutnya yang membuncit, menatap ke langit barat di mana helikopter Marco dipaksa mendarat darurat tepat di tengah kepungan mobil polisi yang lampunya menyala merah-biru.

“Kita aman, Sayang,” bisik Isabella lembut pada bayinya. “Pria bodoh itu tidak akan pernah menyentuh kita lagi.”

Marco mengira dia sedang bermain catur dan telah melakukan skakmat. Dia tidak sadar bahwa sejak awal, Isabella-lah yang memiliki seluruh papan caturnya.