Posted in

Namaku Lina. Aku baru 18 tahun, tapi aku merasa seperti telah menjalani dua kehidupan.

Namaku Lina. Aku baru 18 tahun, tapi aku merasa seperti telah menjalani dua kehidupan.

Sejak kecil, aku dikirim untuk tinggal bersama Bibi Kartini di lereng bukit dengan perkebunan teh hijau. Orang tuaku hanya meninggalkan catatan singkat: “Jaga dia. Kami harus pergi ke tempat lain.”

Siang hari, dia adalah wanita yang keras seperti batu. Dia membesarkanku dengan tangan besi, tidak pernah berbicara dengan lembut atau ramah. Tapi setiap malam, ketika aku tertidur lelap…

Bibi Kartini akan menangis di samping tempat tidurku. ^^
Orang tuaku meninggalkanku di rumah Bibi Kartini di desa perkebunan teh di lereng bukit. Hanya catatan singkat: “Jaga dia. Kami harus pergi jauh.”

Rumah kayu sederhana itu dikelilingi oleh ladang teh hijau yang membentang hingga cakrawala. Dari pagi hingga malam, Bibi Kartini mendisiplinkanku dengan sangat ketat. Aku membantu memetik daun teh, membawa keranjang teh yang berat, membersihkan gudang pengolahan, dan menyiapkan pupuk organik. Tubuhku yang lemah tidak pernah diizinkan untuk mengeluh.

“Jika kau berbuat nakal, gunung ini akan menelanmu,” kata Bibi Kartini setiap hari dengan suara tegas dan mata tajam. Wajahnya selalu dingin, alisnya yang tebal hampir tidak pernah terangkat, bibirnya jarang melengkung. Dia tidak pernah memelukku. Dia tidak pernah berkata “berperilaku baik” atau “istirahatlah.”

Jika tanganku sakit karena terlalu banyak memetik teh, dia hanya akan mengoleskan salep dan berkata, “Rasa sakit adalah guru terbaik.” Jika aku demam, dia tetap akan menyuruhku bangun pagi-pagi untuk menyiram tanaman. Aku tidak pernah mendengar kata-kata baik darinya.

Tapi setiap malam, aku sama sekali tidak menyadarinya…
Bibi Kartini menunggu sampai aku tertidur lelap. Kemudian dia dengan lembut membuka pintu kayu usang kamar tidurku. Langkah kakinya ringan, tidak ingin membuat lantai berderit. Bibiku duduk di kursi rotan di samping tempat tidurku, diam-diam menatap wajahku.

Wajahnya, yang biasanya sekeras batu di siang hari, berubah di malam hari. Matanya yang biasanya dingin kini berkilauan. Air mata perlahan mengalir di pipinya, yang terbakar oleh terik matahari perkebunan. Bahunya bergetar, berusaha menahan isak tangis yang hampir tak terdengar.

“Lina… maafkan aku, Bibi…” bisiknya setiap malam, suaranya serak dan penuh penyesalan. “Aku bersikap keras padamu… karena aku takut kau akan runtuh seperti ayahmu. Aku takut kau tidak akan mampu menghadapi dunia yang kejam ini.”

Tangannya yang kasar dan kapalan terulur, tetapi tidak pernah menyentuhku. Tangannya hanya melayang di udara, seolah takut mengganggu tidurku yang tenang. Air matanya menetes ke lantai kayu. “Setiap hari, Bibi berpura-pura kuat… agar aku bisa lebih kuat. Agar aku tidak mudah menyerah. Tetapi pada malam-malam seperti ini… dia hanya bisa menangis sendirian. Melihat wajahmu, yang mirip dengan wajah ayahmu… dia ingat betapa kecilnya dirimu ketika dia membawamu ke sini.”

Dia duduk di sana berjam-jam, hanya menatapku, menangis dalam diam, lalu pergi sebelum fajar.

Aku tidak pernah tahu.

Sampai suatu malam…
Aku terbangun dari mimpi buruk. Pintu kamar tidurku sedikit terbuka. Saat aku hendak pergi ke dapur untuk minum, aku berhenti di ambang pintu.

Di sana, Bibi Kartini duduk membungkuk di samping tempat tidurku yang kosong. Bahunya gemetar hebat. Di pangkuannya ada sebuah kotak kayu kecil—kotak yang selalu kupikir hanya berisi daun teh langka.

Air mata mengalir di wajahnya. Suaranya tercekat:

“Lina… aku tidak bisa menyimpan rahasia ini lagi… aku lelah berpura-pura kuat…”
Aku terdiam. Selama ini, kupikir bibiku membenciku. Kupikir dia hanya ingin mengubahku menjadi kuda pekerja yang tak berdaya. Saat aku mundur selangkah, lantai kayu berderit pelan.

Dia berbalik dengan cepat.

Mata kami bertemu.

Untuk pertama kalinya, kulihat wajahnya tidak lagi menunjukkan kegarangan seperti biasanya. Air mata masih mengalir di wajahnya. Matanya melebar karena takut dan sedih.

“L-Lina… apakah kau masih bangun?”

Aku tidak bisa bicara. Air mataku sendiri jatuh.

Ia buru-buru menyeka air matanya dengan lengan bajunya. Ekspresi seriusnya kembali, tetapi sudah terlambat. Suaranya bergetar:

“Besok pagi… aku akan menceritakan semuanya. Tentang siapa kau dan ibumu sebenarnya… tentang mengapa mereka meninggalkanmu di sini… dan rahasia besar yang selama ini kusimpan.”

Ia menatapku lama, matanya dipenuhi rasa sakit dan beban.

“Begitu kau tahu… kau mungkin akan membenciku selamanya.”

Malam itu, bibiku meninggalkan kamarku dengan langkah berat.

Dan aku berdiri di tengah ruangan, memegangi dadaku yang berdebar kencang. Apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik penampilan luarnya yang keras selama ini?

Dan mengapa aku merasa… bahkan lebih takut mendengar kebenaran keesokan paginya?

Bagian Akhir: Kebenaran yang Berakar di Balik Hijau Kebun Teh

Malam itu berlalu seperti keabadian. Aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Wangi daun teh yang biasanya menenangkan, malam ini terasa pekat dan menyesakkan.

Ketika fajar menyingsing dan kabut gunung masih tebal menyelimuti perkebunan, aku keluar ke dapur. Tidak ada suara pisau memotong sayur atau bising ketel air seperti biasanya. Bibi Kartini sudah duduk di meja makan kayu yang tua. Di depannya, kotak kayu kecil itu sudah terbuka.

Di dalamnya tidak ada biji teh langka. Hanya ada sebuah kalung perak bermotif daun, sepasang paspor lama yang sudah kedaluwarsa, dan tumpukan potongan koran belasan tahun lalu.

Bibi tidak memakai seragam kebunnya. Dia memakai kebaya katun putih, pakaian yang hanya dia gunakan saat berziarah. Wajah batunya runtuh sepenuhnya pagi ini.

“Duduk, Lina,” suaranya parau, tidak ada lagi ketegasan yang biasanya membuatku gemetar.

Aku duduk di hadapannya. Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya menyakitkan.

Bibi mendorong potongan koran paling atas ke hadapanku. Judul berita utama di sana membuat darahku mendadak dingin: “Tragedi Pembakaran Lahan Perkebunan teh di Cianjur, Pemilik dan Puluhan Buruh Tewas Terjebak.”

“Gunung ini tidak kejam, Lina. Manusia yang kejam,” Bibi memulai, suaranya bergetar. “Delapan belas tahun lalu, ayahmu adalah seorang aktivis lingkungan sekaligus pemilik sah sebagian lahan teh di lereng ini. Dia berjuang melawan korporasi besar yang ingin menggusur para buruh dan mengubah gunung ini menjadi kawasan wisata elite.”

Bibi menarik napas panjang, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Mereka tidak bisa menyuap ayahmu. Jadi, mereka menggunakan cara kotor. Mereka membakar gudang dan rumah ayahmu saat malam hari. Ayah dan ibumu… mereka tidak pergi jauh ke kota lain atau keluar negeri, Lina. Mereka pergi ke keabadian. Mereka tewas malam itu.”

“A-apa?” Suaraku tercekat. Air mata langsung luruh tanpa bisa kutahan. “Lalu… surat itu? Surat yang bilang ‘Jaga dia. Kami harus pergi jauh’?”

Bibi Kartini memegang tangan kasarku. Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun, tangan yang biasanya memukul dan mendorongku untuk bekerja itu terasa begitu hangat, bergetar hebat karena rasa bersalah.

“Surat itu ditulis oleh ibumu dengan darah dan sisa tenaganya, beberapa menit sebelum dia melemparkan kamu dari jendela lantai dua ke semak-semak, tempat Bibi bersembunyi. ‘Pergi jauh’ yang dimaksud ibumu adalah kematian. Dan orang-orang yang membunuh mereka… sampai hari ini masih mencari keberadaanmu. Karena secara hukum, seluruh tanah perkebunan teh ini adalah milikmu, atas namamu.”

Aku terpaku. Seluruh duniaku serasa berputar. Dua kehidupan yang kurasakan selama ini ternyata berakar dari sebuah kebohongan besar demi melindungiku.

“Bibi mendidikmu dengan tangan besi,” lirik Bibi, air matanya kini luruh sepenuhnya, “karena mereka yang menghancurkan orang tuamu terus mengawasi tempat ini. Jika Bibi memanjakanmu, jika Bibi memperlakukanmu seperti seorang ahli waris, mereka akan tahu siapa kamu sebenarnya. Bibi harus membuatmu terlihat seperti anak yatim piatu biasa, buruh pemetik teh yang kasar, miskin, dan tidak punya arti apa-apa di mata dunia. Bibi harus melatih fisikmu agar kuat, agar jika suatu saat rahasia ini terbongkar dan Bibi sudah tidak ada, kamu bisa berlari, bertahan hidup, dan melawan.”

Bibi Kartini berlutut di depanku, memeluk kakiku dengan erat. Bahunya berguncang hebat oleh tangis penyesalan yang selama belasan tahun ini hanya bisa dia tumpahkan di kegelapan malam.

“Maafkan Bibi, Lina… Maafkan Bibi yang mencuri masa kecilmu. Bibi terpaksa menjadi monster di siang hari agar kamu tetap bernapas di malam hari. Sekarang kamu sudah 18 tahun. Masa perlindungan hukum atas tanah ini sudah aktif atas namamu. Kamu bisa pergi dari sini, menuntut keadilan, atau lari sejauh mungkin. Bibi tidak akan menahanmu lagi, meski kamu membenci Bibi seumur hidupmu.”

Aku menatap wanita di bawahku. Wanita yang kulitnya legam terbakar matahari demi menemaniku di ladang. Wanita yang tangannya kapalan karena ikut memikul keranjang berat bersamaku. Di balik topeng kejamnya, dia telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk menjadi perisai nyawaku.

Aku ikut turun ke lantai kayu, memeluk tubuh ringkih yang selama ini kukira sekeras batu.

“Aku tidak membenci Bibi,” bisikku di sela tangis, memeluknya dengan erat untuk pertama kalinya dalam hidupku. “Rasa sakit yang Bibi ajarkan memang guru terbaik. Dan sekarang, aku sudah cukup kuat untuk menghadapi mereka.”

Di lereng gunung yang berkabut pagi itu, rahasia besar telah meleleh bersama air mata kami. Di atas tanah hijau yang subur ini, aku bukan lagi Lina si anak pungut yang malang. Aku adalah Lina, pewaris perkebunan teh ini, dan aku siap merebut kembali apa yang telah direnggut dari orang tuaku.