Setelah malam pertama kami sebagai suami istri, Ricardo memelukku erat. Tiba-tiba ia berbicara dengan suara rendah dan asing.

“Ada satu hal yang harus kamu tahu.”

“Di mata hukum… aku sebenarnya sudah punya istri.”

“Aku tidak bisa ikut mendaftarkan pernikahan kita besok. Tapi selain selembar surat itu, aku akan memberikan semua yang kamu inginkan.”

Rasanya seperti petir menyambar kepalaku.

“Apa?”

“Kamu sudah menikah? Kenapa selama bertahun-tahun kamu tidak pernah mengatakan ini padaku?”

Ricardo melepaskanku lalu berdiri untuk mengenakan pakaiannya. Di lehernya masih terlihat bekas ciumanku tadi malam—merah mencolok, menusuk mataku seperti luka.

“Yenna, kamu tetap wanita yang paling aku cintai. Kita sudah bersama selama sepuluh tahun.”

“Dia hanya pilihan keluarga sejak dulu. Aku cuma harus bertanggung jawab karena sudah menerimanya.”

Aku terduduk di ranjang dengan seprai yang masih berantakan. Kehangatan malam tadi mendadak berubah menjadi dingin yang menusuk tulang.

Dekorasi merah bertuliskan “Pernikahan” di dinding terasa menyakitkan untuk dilihat. Terlalu merah. Seperti tamparan keras di wajahku sendiri.

Mungkin karena wajahku terlalu pucat, Ricardo menghela napas lalu menggenggam tanganku. Ia memasangkan cincin kami berdampingan, perlahan, seolah sedang menenangkanku.

“Yenna, lihat… sebenarnya tidak ada bedanya.”

“Pernikahan, cincin, status—semuanya milikmu. Semua orang tahu kamu adalah Mrs. Ricardo Wijaya.”

“Soal dia… anggap saja dia tidak ada.”

Ia menatap mataku yang mulai dipenuhi air mata. Suaranya melembut.

“Jangan marah lagi.”

“Yenna-ku selalu paling pengertian, kan?”

Aku menarik tanganku menjauh. Suaraku dingin bahkan aku sendiri tidak mengenalinya.

“Kita putus.”

Senyum di wajah Ricardo langsung membeku.

Ia melepaskan tanganku, mengambil rokok lalu menyalakannya. Nada suaranya mulai terdengar lelah.

“Aku tidak setuju.”

“Kalau begitu, ceraikan istrimu.”

Ricardo menatapku lama, seolah sedang menimbang sesuatu. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berbicara.

“Yenna, aku akan jujur.”

“Secara hukum, aku dan Sophie sudah menikah selama tujuh tahun. Selama tujuh tahun itu dia merawat kedua orang tuaku dengan sangat baik. Aku tidak punya alasan cukup kuat untuk meninggalkannya.”

Tujuh tahun lalu.

Saat itu kami baru lulus kuliah.

Kami sudah pacaran tiga tahun.

Dan di belakangku… diam-diam dia menikahi wanita lain.

Perutku langsung mual. Aku berlari ke kamar mandi dan muntah sampai air mataku keluar.

“Kamu tidak perlu bereaksi berlebihan seperti ini.”

Ricardo mengikutiku masuk. Ia mengusap punggungku dengan lembut.

“Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan dia. Ini hanya perjanjian keluarga yang harus aku jalani.”

“Yang aku cintai tetap kamu.”

Aku menatap wajahnya.

Wajah yang selama sepuluh tahun menjadi duniaku.

Wajah yang tidak pernah sekalipun aku ragukan.

Namun saat itu, yang kurasakan hanya jijik.

“Berlebihan? Kamu menjadikanku perempuan simpanan selama tujuh tahun lalu bilang aku berlebihan?”

Ricardo mengernyit, kesabarannya mulai habis.

“Kata-katamu terlalu kasar. Perempuan simpanan apa? Aku mencintaimu bahkan sebelum dipaksa menikah.”

“Kamu tidak bersalah, jadi jangan merasa berdosa.”

“Kita cuma kurang surat resmi. Di hatiku, kamulah istri yang sebenarnya.”

Setelah mengatakan itu, ia mengangkat tangannya hendak mengusap kepalaku—gerakan yang dulu selalu membuatku merasa aman.

Kini malah membuatku ingin muntah lagi.

“Jangan sentuh aku!”

Aku menepis tangannya keras.

Tangannya berhenti di udara. Untuk sesaat ia terlihat tidak percaya.

Selama sepuluh tahun bersama, kami hampir tidak pernah bertengkar seperti ini.

Dulu aku mengira itu tanda cinta yang sempurna.

Sekarang aku sadar… semuanya hanyalah kebohongan panjang dari awal sampai akhir.

Ricardo memijat pelipisnya, benar-benar kehabisan kesabaran.

“Baiklah. Kita sama-sama perlu menenangkan diri malam ini.”

“Yenna, pikirkan baik-baik semuanya.”

Ia meninggalkan kamar hotel itu sambil membanting pintu.

Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun…

Aku menangis bukan karena takut kehilangan dia.

Melainkan karena akhirnya aku melihat siapa dia sebenarnya.

Tanganku gemetar saat melepas cincin pernikahan itu.

Aku menatapnya lama sebelum akhirnya tertawa kecil di tengah air mata.

Lucu sekali.

Selama ini aku pikir aku sedang menjadi pengantin wanita paling bahagia di Jakarta.

Padahal tanpa sadar…

aku hanya menjadi rahasia paling memalukan dalam hidup seorang pria.

Malam itu, aku memesan tiket pesawat paling pagi menuju Bali.

Aku mematikan ponsel.

Kubuang semua foto kami ke tempat sampah digital satu per satu.

Sepuluh tahun kenangan lenyap hanya dalam satu malam.

Namun anehnya…

dadaku justru terasa lebih ringan.

Karena untuk pertama kalinya, aku memilih diriku sendiri.

Dan Ricardo tidak pernah menyangka—

wanita yang selalu memaafkannya…

akhirnya benar-benar pergi tanpa menoleh lagi.

Tiga bulan setelah malam itu, hidupku berubah total.

Aku pindah ke Bali dan mulai bekerja sebagai konsultan desain interior di sebuah resort mewah di Ubud. Tidak ada lagi Ricardo. Tidak ada lagi telepon tengah malam. Tidak ada lagi janji-janji palsu.

Awalnya sulit.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk dilupakan.

Ada malam-malam ketika aku masih terbangun sambil menangis, memandangi langit-langit kamar apartemen kecilku sambil bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa membohongiku selama itu.

Namun perlahan, luka itu mulai mengering.

Aku mulai belajar makan sendirian tanpa merasa kesepian.

Mulai menikmati matahari pagi tanpa menunggu pesan “selamat pagi” darinya.

Dan yang paling aneh…

aku mulai merasa bahagia lagi.

Sampai suatu sore, saat hujan turun deras di Ubud, seseorang mengetuk pintu kantorku.

Saat aku mengangkat kepala, jantungku langsung berhenti berdetak sesaat.

Ricardo berdiri di sana.

Wajahnya jauh lebih kurus.

Mata tajam yang dulu selalu penuh percaya diri kini tampak lelah dan merah seperti orang yang sudah lama tidak tidur.

“Yenna…” suaranya serak.

Aku diam.

Sudah tiga bulan, tapi melihatnya tetap membuat dadaku nyeri.

Ricardo melangkah masuk perlahan.

“Aku mencari kamu ke mana-mana.”

“Aku sudah bicara dengan Sophie.”

Aku langsung tertawa kecil, dingin.

“Lalu? Mau aku kasih selamat?”

Wajahnya berubah pucat.

“Aku sedang mengurus perceraian.”

“Terlambat.”

“Tidak terlambat!” suaranya meninggi untuk pertama kalinya. “Aku memilih kamu, Yenna! Dari awal selalu kamu!”

Aku menatapnya lama.

Dulu, mungkin aku akan luluh hanya karena satu kalimat itu.

Namun sekarang berbeda.

“Aku tidak butuh dipilih lagi, Ricardo.”

Ia membeku.

Aku berdiri dari kursi lalu berjalan mendekatinya perlahan.

“Kamu tahu bagian paling menyakitkan dari semuanya?”

“Bukan karena kamu menikah dengan wanita lain.”

“Bukan juga karena kamu berbohong selama tujuh tahun.”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Yang paling menyakitkan… adalah karena kamu pikir aku akan menerima semua itu asal diberi cinta.”

Air mata mulai memenuhi mata Ricardo.

Untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, pria itu terlihat benar-benar hancur.

“Aku salah…” bisiknya.

“Aku tahu.”

Ia mencoba menggenggam tanganku, tapi aku mundur satu langkah.

Gerakan kecil itu ternyata cukup untuk mematahkan seluruh harapannya.

“Aku pernah mencintaimu lebih dari diriku sendiri,” kataku pelan.

“Makanya kamu bisa menghancurkanku separah itu.”

Sunyi memenuhi ruangan.

Di luar, hujan turun semakin deras.

Ricardo menundukkan kepala cukup lama sebelum akhirnya tersenyum pahit.

“Kalau ada kehidupan berikutnya…” suaranya gemetar, “boleh aku bertemu kamu lebih awal?”

Dadaku terasa sesak.

Namun kali ini, aku tidak menangis.

Aku hanya tersenyum kecil.

“Kalau ada kehidupan berikutnya…”

“Semoga aku cukup pintar untuk tidak jatuh cinta padamu lagi.”

Air mata Ricardo akhirnya jatuh.

Ia mengangguk pelan, lalu berbalik pergi.

Dan kali ini…

aku tidak mengejarnya.

Aku berdiri di depan jendela sampai sosoknya hilang ditelan hujan Bali.

Sepuluh tahun cintaku pergi begitu saja sore itu.

Tapi anehnya, untuk pertama kali dalam hidupku…

aku tidak merasa kehilangan.

Karena akhirnya aku mengerti:

Cinta yang membuatmu harus berbagi harga diri demi bertahan…

bukanlah cinta yang pantas diperjuangkan.