“Berapapun biaya nginap di Villa, aku rasa itu bukan urusan ibu. Toh aku pakai uang sendiri, aku gak pakai uang ibu!”
Aku terperangah mendengar ucapan Mas Fadil, suamiku yang selama ini selalu diam ternyata kini bisa berani juga bersuara.
“Sombong sekali kamu, anak ha ram!”
Terdiam, semua membeku ketika Bu Asri mengucapkan kata “anak haram” itu.
“Plaaak!”
Sebuah tamparan sukses meluncur di pipi wanita tua renta itu, iya… Pak Tomo, ayah mertuaku telah menampar istrinya. Dadanya naik turun, nampak emosi yang mulai bergemuruh.
“Wani kowe ngomong koyo ngunu maneh, metu teko omahku saiki (berani kamu bilang seperti itu lagi, keluar dari rumahku sekarang)!”
“Pak’e! Tego kowe nempeleng aku (tega kamu tampar aku)!”
Bu Asri sedikit terhuyung oleh tamparan Pak Tomo, nampak bekas tamparan berwarna kemerahan di pipinya yang keriput.
“Kamu yang keterlaluan, bisa-bisanya bilang kalau Fadil itu anak haram. Sudah jelas dia itu da rah daging mulai sendiri, tapi kamu malah begitu benci sama dia. Ingat, Asri! Fadil itu sudah terlalu baik sama kamu, kamu tidak tahu jika selama ini Fadil sudah mengirim uang bulanan lebih besar daripada Raka!”
Pak Tomo berteriak dengan suara menggelegar, di teras yang harusnya Asri itu seketika suasananya seketika berubah menjadi suram.
Tubuh Mas Fadil kaku, benar-benar membuat aku semakin ikut terkejut. Ada apa ini? Sebenarnya ada rahasia apa?
“Kita pergi sekarang,” ucap Mas Fadil, menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan pada siapapun.
Pak Misno dan Bu Ninik juga ikut masuk ke dalam mobil, Pak Misno segera melajukan mobil meninggalkan rumah mertuaku. Dalam hening.
Beberapa saat, suamiku terdiam. Tangannya terasa begitu dingin dan berkeringat, aku tahu jika batinnya terluka. Dua hari ini dia diserang dengan kejadian-kejadian yang membuat hatinya benar-benar hancur.
Teka-teki akan siapa dirinya kini semakin samar, ia bahkan merasa bukan siapapun lagi di tengah-tengah keluarganya. Keluarga yang sejak bayi ia kenal, ibu yang selalu pilih kasih dan tidak care terhadapnya.
“Ngapunten, Pak Fadil. Kita mencari villa atau hotel?” tanya Pak Misno, beberapa menit setelah kondisi sedikit landai.
“Villa saja, Pak. Sudah saya share lokasinya di HP Bu Ninik. Minta tolong untuk dibuka map-nya ya, Bu. Saya sudah booking,nanti ada tiga kamar. Jadi Pak Misno dan Bu Ninik juga bisa lebih nyaman istirahat, bisa satu rumah sama kami,” jelas Mas Fadil,tak ada gurat ramah bahkan sedikit senyuman di wajahnya, wajah yang biasanya teduh dan penuh keramahan.

“Sebenarnya, siapa aku?”
Mata Mas Fadil menerawang jauh ke langit-langit kamar kami, di villa tempat kami menginap.
Kami beristirahat di dalam kamar sementara Alea dijaga oleh Bu Ninik. Aku sengaja membiarkan Mas Fadil berdiam diri di kamar serta aku juga menemaninya.
Aku membelai lembut punggung tangannya, kami hanya merebahkan diri di atas ran jang.
Villa yang kami sewa memang cukup besar dan nyaman. Beberapa perabotnya terkesan Jawa kuno dengan meja, kayu dan ranjang dari kayu jadi. Ukiran khas kayu jati dengan lapisan pelapis kayu yang mengkilat memberikan kesan mewah dan elegan.
Dinding kayu berwarna krem dan sprei berwarna putih bersih membuat tamu betah menikmati liburan di villa ini.
“Kalau aku anak haram, apa kamu masih mau menerimaku sebagai suami?” tiba-tiba saja, Mas Fadil mengatakan hal yang membuatku langsung duduk.
“Mas! Di dunia ini gak ada yang namanya anak haram, anak terlahir dalam keadaan suci dan bersih. Terlepas dari bagaimana dia berasal, siapa orang tuanya, bagaimana perbuatan orang tuanya sebelumnya, semua bayi di dunia ini dilahirkan dalam kondisi bersih dan suci. Tak ada dosa, yang berdosa adalah orang tuanya,” kuberikan paham pada Mas Fadil agar tidak menyalahkan diri sendiri.
“Aku merasa kotor, ibuku bilang aku anak haram, pembawa sial, itu alasannya mengapa sejak kecil aku selalu dianaktirikan. Ibuku tak pernah menginginkan aku lahir ke dunia ini,” ucapnya lagi sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Kita akan cari tahu tapi janji satu hal padaku, jangan pernah merasa menjadi anak haram. Bagaimana pun asal usulmu, kamu tetaplah imamku. Suamiku yang selalu membimbingku dan laki-laki yang selalu aku cintai,” ucapku, pelan-pelan ia membuka tangannya. Nampak wajah tampan dengan hidung mancung yang putus asa.
“Maafkan aku, Yang. Karena aku memaksamu untuk ikut mudik, kamu harus menghadapi ibu dan saudara-saudaraku yang bersikap tak baik. Mereka benar-benar tak menghargai kamu. Apalagi kita harus tidur di gudang, berdebu dan tak ada kasurnya,” ucap Mas Fadil penuh penyesalan.
“Mas, aku sudah gak apa-apa kok. Toh kamu sudah berusaha mengambil kasur dari Aris,” ucapku berusaha mengerling dan tersenyum, berharap Mas Fadil tak lagi merasa bersalah.
“Kalau saja dari awal aku menerima saranmu untuk tinggal di hotel, mungkin kita gak begitu dihina oleh ibuku.”
Mas Fadil menghela napas dengan kasar, wajahnya menyimpan kekhawatiran dan kebingungan. Tentang siapa dia dan darimana asal-usulnya.
“Mas, meski harus dihina oleh ibumu sendiri, aku akan tetap kuat selama kamu berada di pihakku. Toh selama ini kamu selalu membelaku, kamu gak pernah diam aja kalau aku dihina atau diremehkan. Kamu selalu ada cara untuk membelaku,” ucapku.
“Hmmm, iya. Yang, aku ingin mencari tahu arti “anak haram” yang diucapkan ibuku. Selama puluhan tahun, ternyata ibu dan bapak menyimpan rahasia tentang aku. Harus dicari tahu, semuanya agar aku tidak semakin penasaran.”
Hening, Mas Fadil terdiam setelah mengucapkan kalimat itu. Hingga ponselnya berdering secara tiba-tiba.
Mas Fadil mengambil ponsel yang ada di saku celananya, matanya mengernyit ketika nomor tak dikenal menghubungi nya.
“Siapa?” tanyaku sambil melongok ke atas layar ponsel miliknya.
“Gak kenal, apa dari kurir. Mereka mungkin mau kirim barang sisanya,” jawab Mas Fadil, ia ragu mengangkatnya atau malah mengabaikan.
“Terima aja, loudspeaker kalau bisa,” saranku.
“Hallo, selamat sore?” sapa Mas Fadil pada di penelepon.
“Hallo, Fadil,” suara seorang laki-laki, dari seberang telepon.
“Iya, siapa ya?”
“Apa kamu ada waktu untuk bertemu, ngobrol sejenak?” tanya si penelepon.
“Siapa ini? Apa ada urusan bisnis atau rekan kerja lama?”
“Bukan, aku bukan rekan kerjamu. Aku adalah bagian dari masa lalumu yang mencoba menepi. Aku hanya ingin mengobrol sama kamu, atas semua yang telah dilakukan ibumu kemarin dan hari ini.”
Aku dan Mas Fadil terdiam sesaat, kami sama sekali tidak mengenalnya. Seorang laki-laki dengan suara bariton.
“Kalau kamu bersedia, temui aku besok di cafe ‘Wong Suroboyo’. Aku akan memberikan share lokasi, kamu boleh membawa istrimu juga.”