“Kalau kamu masih tinggal di rumah ini, ya sadar diri sedikit!”
Suara ibu mertua membentak dari dapur, memecah pagi yang baru saja mulai hangat.
Fina yang sedang mencuci piring hanya berhenti sebentar. Tangannya masih basah, busa sabun menempel di ujung jari.
“Maaf, Bu… tadi aku cuma habisin sisa makanan semalam, takut mubazir,” jawabnya pelan.
“ALASAN!”
Brak!
Sendok kayu di meja dipukul keras sampai gelas bergetar.
“Dari awal aku sudah bilang, kamu itu cuma numpang hidup di sini. Jangan sok mengatur rumah ini!”
Fina menunduk. Tidak membalas. Tidak juga membela diri.
Dari ruang makan, Arka muncul dengan wajah masih setengah mengantuk.
“Kenapa lagi sih pagi-pagi ribut?” suaranya malas, seperti sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.
Ibu Arka langsung menunjuk Fina tanpa ragu.
“Istrimu ini, Ka. Semakin hari semakin nggak tahu diri. Dia kira ini rumah dia.”
Arka melirik sekilas ke arah Fina.
Bukan tatapan membela. Tapi juga bukan peduli.
Lebih seperti… membiarkan.
“Udahlah, Fin. Jangan bikin masalah kecil jadi besar,” katanya datar sambil menarik kursi.
Kalimat itu.
Selalu sama.
Selalu menjatuhkan Fina tanpa benar-benar mendengarkan.
Fina menarik napas pelan.
“Aku nggak bikin masalah, Ka. Aku cuma…”
“Cuma apa?” potong ibu mertua cepat. “Cuma mau melawan? Kamu itu siapa? Anak yatim piatu yang kami terima baik-baik. Jangan lupa diri!”
Hening.
Nama itu selalu dilempar seperti pisau.
“Anak yatim piatu.”
Seolah itu alasan sah untuk menghapus harga dirinya.
Fina mengusap tangannya di celemek, lalu berbalik hendak melanjutkan cuci piring.
Tapi suara lain terdengar dari belakang.
“Kalau bukan karena keluarga ini, kamu mungkin masih hidup di jalanan.”
Langkah Fina berhenti.
Pelan.
Tangannya mengepal.
Tapi tetap tidak berbalik.
Arka menghela napas.
“Bu, cukup.”
Namun tidak ada ketegasan di sana. Hanya formalitas.
Ibu mertua tersenyum sinis.
“Kenapa? Kamu masih bela dia? Atau kamu lupa siapa yang biayai hidup kalian sekarang?”
Fina akhirnya menoleh.
Matanya tenang. Terlalu tenang.
“Biayai?”
Suara itu ringan, tapi entah kenapa membuat ruangan sedikit menegang.
Ibu mertua mendengus.
“Iya. Makan, listrik, rumah ini… semua dari keluarga Arka. Kamu cuma ikut menikmati.”
Fina diam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
“Kalau rumah ini benar-benar dari keluarga Arka…”
Ia berhenti sejenak.
Membuat semua orang menunggu.
“…kenapa sertifikatnya atas nama saya?”
Sunyi.
Seperti ada yang jatuh di dalam ruangan itu.
Sendok Arka yang baru diangkat berhenti di udara.
Ibu mertua langsung berdiri.
“Apa kamu bilang?!”
Fina menatap mereka satu per satu.
Pelan, tapi jelas.
“Aku nggak pernah bilang rumah ini milik kalian.”
Arka mengernyit.
“Fin… jangan ngaco. Itu pasti salah paham.”

Fina menggeleng pelan.
“Tidak ada salah paham.”
Ia melangkah ke meja ruang tamu.
Membuka laci kecil.
Mengambil satu map cokelat.
Dan meletakkannya di atas meja.
“Kalau kalian mau lihat lagi, silakan.”
Ibu mertua langsung meraih map itu.
Tangannya gemetar karena emosi.
Arka ikut membaca.
Detik berikutnya—
Wajahnya berubah.
Pelan.
Tapi pasti.
Nama pemilik di dokumen itu jelas.
Fina Aditya Prameswari.
Bukan nama keluarga Arka.
Bukan nama siapa pun di rumah itu.
Fina berdiri di dekat jendela.
Cahaya pagi menyentuh wajahnya.
“Aku hanya tidak pernah mengoreksi kalian,” katanya pelan.
“Karena aku pikir… kalian masih bisa menghargai manusia.”
Ibu mertua menatapnya tidak percaya.
“Ini pasti palsu!”
Fina menoleh.
“Silakan cek ke notaris. Ke bank. Atau ke perusahaan pengelola aset.”
Arka menatap Fina.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang retak di wajahnya.
“Kenapa… kamu nggak pernah bilang?” suaranya pelan.
Fina tersenyum tipis lagi.
“Karena setiap kali aku mau bicara… kalian sudah lebih dulu menginjak aku.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Tapi bukan sunyi yang tenang.
Melainkan sunyi yang tegang.
Seperti badai yang belum meledak.
Tiba-tiba ponsel Fina bergetar di meja.
Satu notifikasi masuk.
Nama pengirimnya hanya satu kata:
“Direktur Utama.”
Ibu mertua meliriknya cepat.
“Direktur apa itu?”
Fina tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap layar ponselnya.
Lalu berkata pelan—
“Perusahaan yang kalian kira selama ini dimiliki orang lain.”
Arka mengangkat wajah.
“Fin… siapa sebenarnya kamu?”
Fina menatap mereka lama.
Sangat lama.
Sebelum akhirnya—
“Selama ini aku hanya menunggu kalian sadar sendiri.”
Tok.
Pintu rumah tiba-tiba diketuk keras dari luar.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu suara laki-laki asing terdengar:
“Maaf, kami dari Bumi Artha Group. Kami mencari Nona Fina.”
Nama itu jatuh seperti petir di ruang makan.
Ibu mertua langsung membeku.
Arka perlahan menoleh ke pintu.
Fina tidak bergerak.
Hanya satu kalimat terakhir yang ia ucapkan pelan:
“Sepertinya… waktunya sudah datang.”
TOK. TOK. TOK.
Ketukan itu semakin keras.
Dan saat pintu itu mulai terbuka perlahan…
Lanjut?
Sebelum Mimin lanjutin cerita,Mimin mau tau dong,kalian dari kota mana aja,..

