Sampai aku menggesek kartu hitam itu, dan tunanganku langsung pucat pasi.
Di Indonesia, orang selalu berkata bahwa darah dan keluarga adalah ikatan yang tak akan pernah terputus.
Namun saat aku berusia dua puluh tiga tahun, justru kedua orang tuaku sendiri yang membekukan seluruh rekening bankku, menghentikan uang bulananku, dan hampir mengusirku dari rumah…
semua demi seorang anak angkat.
Sampai suatu hari sebuah panggilan telepon datang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku melihat ayahku sendiri kehilangan warna di wajahnya karena ketakutan.
“Matikan saja ponselmu, Mira.”
Angela duduk di depanku di sebuah kafe mewah di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, sambil menatap layar ponselku yang terus menyala tanpa henti.
Lebih dari tiga puluh panggilan masuk sejak pagi.
Nomor tak dikenal.
Telepon rumah.
Nomor sopir keluarga.
Bahkan ponsel para asisten rumah tangga di rumah besar keluarga Pratama.
Aku tak perlu menebak siapa yang menelepon.
Ibuku.
Celeste Pratama.
Dengan tenang aku meletakkan cangkir kopi lalu mematikan ponselku sepenuhnya.
“Nah, sekarang lebih baik.”
Angela menghela napas panjang.
“Kurasa ibumu benar-benar kehilangan akal.”
Aku tersenyum tipis.
“Itu sudah biasa.”
Sejak unggahanku tentang pembatalan pertunangan pagi tadi viral di seluruh Jakarta, keluarga Pratama seolah menjadi gila.
Bukan karena mereka mencintaiku.
Tetapi karena skandal itu menyeret nama anak angkat kesayangan mereka.
Sofia Pratama.
Satu jam kemudian.
Saat aku hendak membayar tagihan makan siang, layar mesin pembayaran menampilkan notifikasi merah.
[TRANSAKSI DITOLAK]
Aku terdiam.
Angela mengernyit.
“Apa itu?”
“Rekeningku sudah dibekukan.”
“Apa?!”
Hampir seluruh pengunjung menoleh ke arah kami.
Namun aku tetap tenang.
Kartu itu dihubungkan ke rekening keluarga tiga tahun lalu, saat aku baru kembali ke keluarga Pratama.
Saat itu ibuku berkata:
“Kau anak keluarga ini. Wajar kalau menggunakan uang keluarga.”
Baru sekarang aku menyadari…
itu hanyalah cara mereka mengendalikanku.
Angela mengepalkan tangannya karena marah.
“Apa mereka sudah gila? Hanya karena Sofia menangis, mereka membekukan rekening anak kandung sendiri?”
Aku tidak menjawab.
Karena…
ini bukan pertama kalinya.
Angela segera mengeluarkan ponselnya.
“Aku yang bayar.”
Aku menahan tangannya.
“Tidak perlu.”
“Kau bercanda? Rekeningmu dibekukan!”
“Aku masih punya uang.”
“Kau bahkan tidak bekerja sekarang!”
Ia semakin kesal.
“Selama bertahun-tahun hidupmu hanya berputar di sekitar Adrian dan keluarga Pratama. Dari mana kau punya uang?”
Aku tersenyum samar.
“Aku benar-benar punya.”
Jelas dia tidak percaya.
Sepuluh menit kemudian.
Kami berdiri di dalam butik Hermès Plaza Indonesia.
Aku langsung menggesek sebuah kartu hitam untuk membeli tas seharga hampir Rp450 juta.
TRANSAKSI BERHASIL.
Angela membeku.
Sales associate langsung membungkuk hormat.
“Terima kasih, Nona Mira Mahendra.”
Angela menatap kartu hitam di tanganku.
Matanya membelalak.
“Tunggu…”
“Itu Black Card?”
Aku hanya diam.
Ia menelan ludah.
“Adrian yang memberikannya?”
Aku tertawa dingin.
“Dia?”
“Mustahil.”
Adrian Santoso tidak akan pernah memberiku sesuatu seperti ini.
Di matanya…
aku adalah perempuan yang seharusnya selalu memohon cintanya.
Angela semakin bingung.
“Kalau bukan dia… siapa?”
Aku menatap kartu itu.
Ada emosi yang sulit dijelaskan bergetar di dadaku.
“Aku tidak ingin membicarakannya.”
Malam harinya.
Saat aku kembali ke apartemenku di kawasan Sudirman…
aku menemukan Adrian Santoso berdiri menunggu di depan pintu.
Wajahnya sangat gelap.
“Kau dari mana?”
Aku mengeluarkan kunci.
“Kenapa? Aku harus melapor padamu?”
“Kenapa ponselmu mati?”
“Berisik.”
Satu kata.
Rahang Adrian langsung menegang.
“Ibumu meneleponku seharian.”
“Kalau begitu temui saja Sofia.”
Begitu nama Sofia keluar dari mulutku, tatapannya langsung berubah dingin.
Aku hendak menutup pintu.
Namun ia menahannya.
“Mira.”
“Kita perlu bicara.”
“Aku tidak mau.”
Tapi Adrian memaksa masuk.
Aku langsung menendang kakinya.
“Sial!”
Ia mundur refleks.
Aku mencoba menutup pintu lagi.
Namun ia menahan gagang pintu dengan kuat.
“Mira Mahendra.”
“Kau sudah keterlaluan.”
Aku tertawa.
“Keterlaluan?”
“Aku hanya membatalkan pertunangan.”
“Atau kau ingin aku terus berpura-pura tidak tahu hubunganmu dengan Sofia?”
Udara langsung membeku.
Wajah Adrian mengeras.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Begitukah?”
Aku melangkah mendekatinya.
“Kalau begitu apa yang kalian lakukan di belakangku?”
Ia mengepalkan tangan.
“Sofia sedang sakit.”
“Dia membutuhkan seseorang di sisinya.”
Aku tersenyum dingin.
“Kalau aku?”
“Saat aku demam tinggi sampai pingsan sendirian di apartemen ini…”
“Di mana kau?”
Adrian terdiam.
Karena kami berdua tahu jawabannya.
Saat itu…
dia sedang berlibur bersama Sofia di Bali.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar:
SOFIA PRATAMA
Ia langsung mengangkat telepon.
Nada suaranya seketika melembut.
“Sofia?”
Aku tidak tahu apa yang dikatakan di seberang sana.
Namun ekspresinya langsung berubah.
“Jangan menangis.”
“Aku akan segera ke sana.”
Ia hendak pergi menuju lift.
Tepat saat itu…
TING TONG.
Bel pintu berbunyi.
Kami berdua menoleh.
Di luar berdiri tiga pria berjas hitam.
Pria di depan membawa sebuah kotak beludru perak.
Ia membungkuk dengan hormat.
“Maaf atas keterlambatan kami, Nona.”
“Tuan Alejandro baru saja tiba di Jakarta.”
“Dan beliau ingin bertemu Anda secepat mungkin.”
Pada detik nama itu terdengar…
wajah Adrian Santoso langsung pucat pasi.
Seolah seluruh darah menghilang dari tubuhnya.

Ruangan itu mendadak sunyi.
Adrian berdiri membeku.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat ketakutan yang nyata di matanya.
“A-Alejandro?”
Namanya keluar dari bibir Adrian dengan suara bergetar.
Pria berjas itu tidak menjawab.
Ia hanya membuka kotak beludru perak yang dibawanya.
Di dalamnya terdapat sebuah cincin tua berhiaskan lambang keluarga Monteverde.
Lambang yang sudah tidak pernah kulihat selama bertahun-tahun.
Jantungku langsung berdebar keras.
“Ayah…”
bisikku pelan.
Pria itu menundukkan kepala.
“Tuan Alejandro meminta kami menjemput Anda sekarang juga, Nona.”
“Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan kebenaran.”
Aku memejamkan mata.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun aku berpura-pura menjadi putri yang dibuang.
Menjadi tunangan yang bergantung pada keluarga orang lain.
Menjadi perempuan yang dianggap tidak mampu hidup tanpa keluarga Pratama.
Padahal kenyataannya…
aku adalah satu-satunya pewaris sah Grup Monteverde.
Salah satu konglomerasi terbesar di Asia Tenggara.
Keluarga Pratama tidak pernah tahu.
Adrian juga tidak pernah tahu.
Mereka mengira aku hanyalah gadis yang kembali ke rumah setelah bertahun-tahun terpisah.
Mereka tidak pernah menyadari bahwa keluarga yang membesarkanku di luar negeri adalah keluarga Monteverde.
Dan Alejandro Monteverde…
adalah kakek kandungku.
Pria yang selama ini mengendalikan kerajaan bisnis bernilai ratusan triliun rupiah.
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Ayo.”
Tak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Aku melangkah melewati Adrian.
Namun sebelum masuk lift, suara Adrian terdengar.
“Mira…”
Aku berhenti.
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar seperti seseorang yang benar-benar kehilangan sesuatu.
“Apa semua ini benar?”
Aku menoleh.
Tatapan kami bertemu.
Dan untuk pertama kalinya pula…
aku tidak merasakan cinta sedikit pun.
Hanya kelelahan.
“Kau tidak pernah benar-benar mengenalku, Adrian.”
Pintu lift tertutup.
Meninggalkannya berdiri sendirian di koridor.
Keesokan paginya.
Seluruh Indonesia gempar.
Semua portal berita menampilkan judul yang sama.
“PEWARIS TUNGGAL GRUP MONTEVERDE RESMI KEMBALI KE JAKARTA.”
“TOTAL ASET KELUARGA MONTEVERDE DITAKSIR MELAMPAUI RP500 TRILIUN.”
“MIRA MONTEVERDE DITUNJUK SEBAGAI SUKSESOR UTAMA.”
Media sosial meledak.
Nama yang kemarin dihina dan ditertawakan…
mendadak menjadi nama yang dibicarakan seluruh negeri.
Sementara itu…
harga saham perusahaan keluarga Pratama langsung jatuh.
Investor mulai menarik dana.
Mitra bisnis mulai membatalkan kontrak.
Tidak ada yang ingin berurusan dengan keluarga yang mempermalukan calon pewaris salah satu konglomerasi terbesar di Asia.
Tiga hari kemudian.
Ibuku datang ke kantor pusat Monteverde Group.
Wajahnya pucat.
Matanya sembab karena menangis.
“Mira…”
Suara yang dulu selalu dingin itu kini penuh permohonan.
“Ayahmu sakit.”
“Kami hanya ingin bicara.”
Aku menatap wanita yang pernah membekukan seluruh rekeningku tanpa ragu.
Wanita yang memilih anak angkat daripada anak kandungnya sendiri.
Lalu aku tersenyum tipis.
“Bukankah dulu Ibu bilang aku bukan bagian penting dari keluarga itu?”
Wajahnya langsung memucat.
Air mata mengalir deras.
“Mira… maafkan Mama…”
Aku menggeleng pelan.
“Maaf tidak selalu bisa mengembalikan apa yang sudah dihancurkan.”
Ia menangis semakin keras.
Namun kali ini…
aku tidak merasakan apa-apa.
Seminggu kemudian.
Aku menerima kabar bahwa Sofia meninggalkan rumah keluarga Pratama.
Setelah semua aset mereka dibekukan oleh kreditur, Sofia pergi tanpa menoleh ke belakang.
Persis seperti yang dulu mereka lakukan kepadaku.
Dan Adrian?
Ia datang hampir setiap hari.
Membawa bunga.
Surat.
Permintaan maaf.
Penyesalan.
Namun semuanya terlambat.
Karena cinta yang mati akibat pengkhianatan…
tidak bisa hidup kembali hanya karena seseorang akhirnya mengetahui nilainya.
Enam bulan kemudian.
Aku berdiri di balkon lantai tertinggi Monteverde Tower.
Memandang lampu-lampu Jakarta yang berkilauan.
Kakek berdiri di sampingku.
“Apa kau masih membenci mereka?”
Aku tersenyum pelan.
“Tidak.”
“Karena kebencian berarti mereka masih memiliki tempat di hidupku.”
Aku menatap langit malam.
Dulu aku kehilangan keluarga.
Kehilangan cinta.
Kehilangan tempat untuk pulang.
Namun ternyata…
ada hal yang lebih berharga daripada semua itu.
Menghargai diri sendiri.
Dan pada akhirnya aku mengerti.
Balas dendam terbaik bukanlah membuat mereka menderita.
Melainkan hidup begitu bahagia dan begitu sukses…
hingga mereka hanya bisa menyesali keputusan yang pernah mereka buat.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku benar-benar merasa bebas.