“Liza, gajimu sudah masuk bulan ini?”
Suara ibu mertuaku menggema dari ruang tamu, sama persis seperti alarm yang tidak pernah terlambat setiap tanggal lima belas.
Aku berhenti mengelap kipas angin tua di lantai.
“Sudah, Bu… baru saja masuk.”
“Bagus. Langsung transfer semuanya ke rekening Ibu.”
Aku menatap jam dinding.
Tanggal lima belas.
Hari yang selalu sama selama tiga tahun terakhir.
Setiap tanggal itu, Bu Cora akan duduk di sofa rotan ruang tamu dengan aplikasi mobile banking terbuka di ponselnya, menunggu aku mengirimkan seluruh gajiku.
Tanpa kurang satu rupiah pun.
Aku berjalan keluar kamar.
Bu Cora sedang makan mangga muda dengan sambal terasi sambil menatap layar ponselnya.
“Berapa bulan ini?”
“Rp28 juta, Bu.”
“Hm. Transfer semuanya.”
Tanganku menggenggam ponsel lebih erat.
“Bu… boleh saya menyisakan sedikit?”
Baru kali ini ia mengangkat kepala.
“Untuk apa?”
“Untuk biaya sekolah Nina.”
Tahun ini putriku akan masuk taman kanak-kanak.
Beberapa hari lalu gurunya mengirim pesan mengenai seragam dan buku baru.
Totalnya sekitar Rp3,5 juta.
Aku memikirkannya berhari-hari.
Kening Bu Cora langsung berkerut.
“Biaya sekolah itu urusan suamimu. Gajimu untuk keluarga.”
“Tapi kata Mas Jun bulan lalu keuangan kita sedang kurang…”
“Kalau kurang, justru kamu harus memberi lebih banyak.”
Suaranya dingin.
“Kalau perempuan sudah menikah, penghasilannya untuk keluarga suaminya. Begitulah seharusnya.”
Aku hanya mengangguk.
Beberapa detik kemudian, ponselnya berbunyi.
Transfer berhasil.
Rp28 juta.
Habis.
Ia tersenyum puas lalu mengeluarkan dua lembar uang Rp500 ribu dari dompetnya.
“Ini Rp1 juta untuk kebutuhanmu bulan ini.”
Aku menatap uang di meja.
Tiba-tiba aku ingin tertawa.
Aku bekerja penuh waktu di department store, hampir setiap hari lembur sampai kakiku nyaris tidak terasa lagi.
Tapi hasil akhirnya?
Uang yang kupegang bahkan terasa seperti uang saku anak sekolah.
“Ambil.”
Ia kembali mengerutkan dahi.
“Jangan banyak gaya.”
Aku mengambil uang itu dan kembali ke kamar.
Kamar kami kecil dan panas.
Kipas tua berputar lambat di atas kepala.
Jun berbaring sambil bermain game di ponselnya.
“Mas…”
“Hm?”
“Aku harus bayar biaya sekolah Nina.”
“Ya bayar saja.”
“Aku nggak punya uang.”
Baru saat itu ia menoleh.
“Hah? Bukannya Mama kasih uang?”
“Kamu tahu sendiri cuma Rp1 juta setiap bulan.”
Ia mengangkat bahu.
“Ya minta lagi saja.”
Aku tertawa pahit.
Minta.
Uang hasil kerjaku sendiri, tapi aku harus mengemis untuk mendapatkannya.
“Menurutmu itu normal?”
“Liza…” Jun menghela napas. “Mama melakukan semua ini untuk keluarga.”
Keluarga.
Kata itu terasa seperti duri di tenggorokanku.
Tiga tahun lalu saat kami menikah, Jun berkata:
“Aku akan menjagamu.”
Dia benar.
Dia tidak meninggalkanku.
Dia hanya menjadikanku seseorang yang tidak punya hak atas uang hasil kerjanya sendiri.
Minggu lalu aku membelikan Nina kue kecil yang sudah lama ia lihat di etalase toko roti.
Harganya hanya Rp180 ribu.
Saat pulang, Bu Cora melihat struknya.
“Apa ini? Mahal sekali!”
“Nina sudah lama menginginkannya, Bu…”
“Dia masih anak-anak! Jangan biasakan hidup mewah!”
Sepanjang makan malam ia terus menyindirku.
Malam itu Nina memeluk kotak kuenya dan duduk diam di sudut kamar.
Lalu ia bertanya pelan:
“Mama… kita miskin ya?”
Dadaku terasa diremas.
Usianya baru lima tahun.
Tapi ia sudah belajar membaca ekspresi orang dewasa.
Malam itu aku menghitung semuanya.
Rp28 juta per bulan.
Tiga tahun.
Lebih dari Rp1 miliar.
Semua masuk ke tangan ibu mertuaku.
Sedangkan aku?
Saldo rekeningku bahkan belum mencapai Rp700 ribu.
Aku membuat folder baru di ponsel.
Judulnya:
“UANGKU.”
—
Seminggu kemudian, ibuku menelepon.
Suaranya gemetar.
“Nak… Ayah kena stroke.”
Darahku terasa membeku.
Saat itu aku sedang menghitung stok barang di gudang.
“Apa kata dokter?”
“Harus dirawat segera…”
Aku terduduk di lantai.
“Biayanya berapa?”
“Sekitar Rp40 juta…”
Aku kehilangan suara.
Rp40 juta.
Aku sudah bekerja selama tiga tahun.
Tapi bahkan Rp4 juta pun aku tidak punya.
Malamnya aku berbicara dengan Bu Cora.
“Bu… Ayah saya masuk rumah sakit.”
“Lalu?”
“Saya ingin meminjam Rp40 juta dari tabungan saya.”
Ia langsung mematikan televisi.
“Rp40 juta?”
“Iya, Bu.”
“Kamu pikir itu uangmu?”
Aku terdiam.
“Itu berasal dari gaji saya…”
“Kamu tinggal gratis di rumah ini selama tiga tahun! Siapa yang bayar listrik? Air? Makanan?”
“Tapi saya juga ikut membantu…”
“Itu kewajibanmu!” bentaknya. “Kamu istri anak saya!”
Aku menarik napas panjang.
“Ayah saya sedang dirawat di rumah sakit.”
“Suruh saja saudara-saudaramu membantu.”
“Tidak bisakah saya meminjamnya dulu?”
“Meminjam?” Ia tertawa sinis. “Masalah keluargamu adalah urusan keluargamu. Jangan bawa ke sini.”
Duniaku runtuh.
Saat itu juga Jun masuk ke ruang tamu.
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu tidak mau mengatakan apa-apa?”
Ia dan ibunya saling pandang.
Lalu Jun berkata:
“Liza… Mama ada benarnya.”
Jantungku seperti berhenti.
“Ada benarnya?”
“Itu keluarga kamu, kan?”
Tiga tahun aku memberikan semuanya.
Tiga tahun aku menjadi istri dan menantu yang baik.
Dan balasannya?
“Itu masalah keluargamu.”
Aku terpaksa meminjam uang dari rekan kerja untuk membayar biaya rumah sakit Ayah.
Setelah itu aku duduk sendirian di lorong rumah sakit hingga dini hari.
Lalu aku melihat unggahan baru dari Bu Cora.
Ia baru saja membelikan motor baru untuk Carlo, adik Jun.
Captionnya:
“Anak bungsuku pantas mendapatkan yang terbaik.”
Harga motor itu: Rp75 juta.
Aku menatap layar cukup lama.
Lalu tertawa.
Ayahku terbaring di rumah sakit.
Aku terlilit utang.
Sementara mereka membeli motor baru secara tunai.
Aku membuka folder “UANGKU”.
Dan menulis:
12 September — Ayah dirawat di rumah sakit. Aku meminta Rp40 juta. Keluarga suamiku menolak.
Lalu aku menambahkan:
13 September — Bu Cora membeli motor baru untuk Carlo. Tunai Rp75 juta.
Aku menatap dua kalimat itu lama sekali.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pikiran muncul di kepalaku.
Jika aku pergi dari rumah itu…
mungkin tidak ada yang benar-benar akan merasa kehilangan.
Selain Nina.
Keesokan harinya aku pulang untuk mengambil beberapa barang milik Ayah.
Saat berdiri di depan pintu, aku mendengar suara tawa dari dalam.
“Uang dari Liza benar-benar membantu kita!”
“Makanya motor Carlo bisa langsung dibeli!”
“Biarkan saja dia terus bekerja. Dia masih menghasilkan banyak uang.”
Aku membeku.
Lalu Carlo tertawa keras.
“Kak Liza itu ATM berjalan keluarga kita!”
Semua orang tertawa.
Aku menggenggam kantong obat di tanganku begitu erat hingga jemariku memutih.
Dan tepat pada saat itu—
ponselku bergetar.
Sebuah pesan dari bank muncul di layar.
“Perangkat baru telah masuk ke akun bank Anda.”

Tanganku mulai gemetar.
“Perangkat baru telah masuk ke akun bank Anda.”
Aku menatap layar beberapa detik.
Lalu membuka detail notifikasi itu.
Alamat IP.
Jenis perangkat.
Waktu login.
Semuanya tercatat dengan jelas.
Dan yang paling membuatku membeku adalah satu hal.
Perangkat itu bukan milikku.
Bukan juga milik bank.
Melainkan ponsel yang selama ini digunakan Bu Cora.
Dadaku berdebar keras.
Tiba-tiba semua potongan puzzle yang selama ini berserakan mulai menyatu.
Selama tiga tahun…
bukan hanya gajiku yang mereka ambil.
Mereka bahkan memiliki akses penuh ke rekening pribadiku.
Aku tidak masuk ke rumah.
Aku berbalik dan langsung pergi.
Malam itu juga aku menuju bank.
Keesokan paginya, dengan bantuan petugas keamanan digital dan laporan resmi, semua riwayat transaksi dibuka.
Saat angka-angka itu muncul di layar monitor, aku hampir tidak bisa bernapas.
Total dana yang keluar dari rekeningku selama tiga tahun terakhir mencapai lebih dari Rp1,1 miliar.
Transfer ke rekening Bu Cora.
Transfer ke rekening Carlo.
Pembayaran motor.
Pembayaran liburan keluarga.
Bahkan uang muka renovasi rumah.
Semuanya berasal dari rekening atas namaku.
Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.
Bukan karena uangnya.
Tetapi karena akhirnya aku sadar.
Selama ini aku tidak pernah dianggap sebagai keluarga.
Aku hanya dianggap sebagai sumber uang.
Petugas bank menatapku dengan iba.
“Bu, seluruh bukti transaksi sudah kami cetak.”
Aku menggenggam map itu erat-erat.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku tidak merasa lemah.
Aku merasa marah.
Dan kemarahan itu memberiku keberanian.
Seminggu kemudian, setelah kondisi Ayah mulai stabil, aku mengajukan gugatan.
Bukan hanya perceraian.
Tetapi juga tuntutan atas penyalahgunaan akses rekening dan penggelapan dana.
Saat surat panggilan pengadilan sampai di rumah mertua, mereka panik.
Jun terus menelepon.
Puluhan kali.
Ratusan pesan.
Semua baru datang ketika uangnya berhenti mengalir.
“Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Kita masih keluarga.”
“Kita bisa bicarakan baik-baik.”
Aku hanya membaca pesannya sambil tersenyum pahit.
Tiga tahun aku menangis.
Sekarang giliran mereka yang ketakutan.
Hari sidang tiba.
Untuk pertama kalinya, Bu Cora tidak lagi terlihat seperti wanita yang selalu menang.
Wajahnya pucat.
Carlo menunduk.
Sedangkan Jun bahkan tidak berani menatap mataku.
Ketika hakim meminta bukti, aku menyerahkan seluruh dokumen.
Catatan transfer.
Riwayat login.
Mutasi rekening.
Dan folder sederhana yang kubuat malam itu.
“UANGKU.”
Aku bahkan menyerahkan catatan tanggal ketika Ayah dirawat di rumah sakit dan mereka menolak membantuku.
Ruang sidang menjadi sunyi.
Tidak ada yang bisa membantah fakta.
Beberapa bulan kemudian, pengadilan memutuskan bahwa sebagian besar dana harus dikembalikan kepadaku.
Perceraian juga dikabulkan.
Aku keluar dari gedung pengadilan sambil menggandeng tangan Nina.
“Mama…”
Aku menoleh.
“Kenapa, Sayang?”
Nina tersenyum.
“Kita sekarang miskin nggak?”
Aku berhenti berjalan.
Lalu berlutut dan memeluknya erat.
“Tidak.”
“Karena untuk pertama kalinya dalam hidup Mama…”
“Apa yang kita miliki benar-benar milik kita.”
Dua tahun kemudian.
Aku membuka toko perlengkapan anak kecil dengan uang yang berhasil kukumpulkan kembali.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Tetapi setiap rak, setiap meja, dan setiap sudut toko itu dibangun dengan kerja keras yang jujur.
Ayah sudah sehat.
Ibu sering membantu menjaga toko.
Dan Nina menjadi murid terbaik di sekolahnya.
Suatu sore, ketika toko hampir tutup, Nina berlari membawa hasil gambar dari sekolah.
Di tengah kertas itu ada gambar rumah kecil.
Ada dirinya.
Ada aku.
Ada kakek dan neneknya.
Di atas gambar itu tertulis:
“Rumah tempat aku merasa dicintai.”
Aku memandangi tulisan itu lama sekali.
Lalu tersenyum sambil menahan air mata.
Dulu aku kehilangan lebih dari satu miliar rupiah.
Aku kehilangan tiga tahun hidupku.
Aku kehilangan seorang suami yang tidak pernah benar-benar mencintaiku.
Tetapi pada akhirnya…
aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Harga diri.
Kebebasan.
Dan keluarga yang benar-benar menganggapku sebagai keluarga.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…
aku tidak lagi hidup untuk membahagiakan orang lain.
Aku hidup untuk diriku sendiri.
Dan untuk putriku.