Suamiku menarik koperku dan melemparkannya dengan kasar ke anak tangga sebelum berkata dengan dingin,
“Pergilah, Mia. Aku lelah hidup miskin bersamamu. Aku akan menikahi Clarissa. Dia wanita yang bisa mengubah hidupku.”
Clarissa berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat dan senyum penuh kesombongan.
Dia adalah putri seorang pengusaha properti terkenal di Surabaya.
Ke mana pun dia pergi, selalu ada barang-barang mewah dan pengawal yang mengelilinginya.
Dia melirik tasku yang sudah usang lalu tersenyum mengejek.
“Jadi kamu mau membesarkan anakmu dengan berjualan di pasar tradisional? Oh iya, bukankah kamu masih punya jam tangan tua peninggalan ibumu?”
Tanganku langsung mengepal di balik lengan bajuku.
Di sana tersimpan jam tangan perak tua milik ibuku.
Kacanya sudah penuh goresan dan terlihat tak berharga.
Itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa darinya.
Tiba-tiba Clarissa melangkah maju dan merampas jam itu dari tanganku.
“Sampah seperti ini masih kamu simpan?”
Tanpa ragu sedikit pun, dia melemparkannya ke selokan kotor di pinggir jalan.
“Tempatnya memang di sana.”
Dadaku terasa diremas.
Aku buru-buru membungkuk untuk mengambilnya, tetapi suamiku menahan bahuku.
“Sudah cukup, Mia! Jangan berakting lagi! Kupikir aku tidak tahu? Kamu menempel padaku karena tidak punya tempat lain untuk pergi!”
Perlahan aku menatap pria yang kucintai selama tujuh tahun.
Saat dia terlilit utang, aku menjual mobil terakhir yang kumiliki untuk membantunya.
Saat dia kehilangan pekerjaan, aku begadang setiap malam demi memastikan keluarga kami tetap makan.
Tapi sekarang…
Hanya karena Clarissa dan janji kehidupan mewah…
dia membuang aku dan anak kami seperti sampah.
Bayiku tiba-tiba menangis dalam pelukanku.
Clarissa langsung mengernyit kesal.
“Berisik sekali.”
Lalu dia mengeluarkan setumpuk uang pecahan Rp100.000 dan melemparkannya ke jalan yang basah.
“Nih, ambil saja. Anggap sedekah.”
Uang-uang itu berserakan di bawah hujan.
Satu per satu tetangga keluar untuk menonton.
Tidak ada yang menolongku.
Tidak ada yang membelaku.
Mereka hanya melihatku seperti sedang menonton acara murahan.
Aku berjalan pelan ke selokan dan memasukkan tanganku ke air kotor untuk mencari jam itu.
Beberapa detik kemudian…
aku menemukannya.
Jam itu sudah lama berhenti berfungsi.
Namun setelah membersihkan lumpurnya, aku menekan tombol kecil di sampingnya.
“Ting.”
Sebuah sinyal lemah langsung terkirim.
Tak seorang pun menyadarinya.
Clarissa masih sibuk memeluk suamiku dengan senyum kemenangan.
“Mulai sekarang, jangan pernah muncul lagi di depan kami, wanita miskin.”
Aku berdiri perlahan.
Air hujan mengalir di wajahku.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun aku hidup sederhana di lingkungan ini demi memenuhi syarat terakhir dari kakekku sebelum seluruh warisan keluarga diberikan kepadaku.
Beliau ingin aku menemukan pria yang mencintaiku bukan karena uang.
Ternyata…
aku memilih orang yang salah.
Tepat pada saat ituβ
“VROOOOM!”
Suara mesin kendaraan bergema dari ujung jalan.
Tiga SUV hitam berhenti tepat di depan rumah.
Seluruh gang langsung gempar.
Pintu-pintu mobil terbuka bersamaan.
Lebih dari sepuluh pengawal berbaju hitam turun dan berdiri berjajar di bawah hujan.
Tak lama kemudian, seorang pria tua dengan tongkat berjalan perlahan ke arahku.
Begitu melihat jam tangan di tanganku, dia langsung membungkuk hormat.
“Nona… syukurlah kami akhirnya menemukan Anda.”
Seluruh lingkungan mendadak sunyi.
Suamiku membeku.
Wajah Clarissa pucat pasi.
Pria tua itu membersihkan jam tersebut dengan sapu tangan putih seolah sedang memegang harta paling berharga di dunia.
“Ketua Dewan sudah menunggu kepulangan Anda untuk mengambil alih seluruh grup perusahaan keluarga.”
Suamiku tertawa paksa.
“Lelucon apa ini? Mia cuma pedagang pasar biasa!”
Pria tua itu menoleh perlahan.
Tatapannya sangat dingin.
“Anda baru saja mengusir satu-satunya pewaris kerajaan perhiasan terbesar di Asia.”
Darah seolah menghilang dari wajah Clarissa.
“Tidak… tidak mungkin…”
Pria tua itu mengeluarkan sebuah map dan menyerahkannya kepadaku.
“Semalam kami telah membeli seluruh saham perusahaan keluarga Nona Clarissa.”
Tangan Clarissa mulai gemetar.
“Itu bohong…”
Dengan tenang aku membuka dokumen itu.
Di halaman terakhir terdapat stempel kepemilikan resmi.
Hanya dengan satu tanda tanganku…
mereka akan kehilangan segalanya sebelum matahari terbit.
Aku menggenggam pena perlahan.
Tepat saat itu, ponsel suamiku berdering tanpa henti.
Begitu menjawab panggilan, wajahnya langsung pucat.
“Apa?! Perusahaanku bangkrut?!”
Ponselnya terjatuh ke jalan yang basah.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil polisi berhenti di mulut gang.
Dan orang yang turun dari mobil itu…
adalah orang terakhir yang ingin dilihat Clarissa seumur hidupnya…
Baca kelanjutan kisahnya di kolom komentar… ππ

Pria yang turun dari mobil polisi itu adalah Komisaris Budi Santoso.
Begitu melihat wajahnya, Clarissa langsung mundur dua langkah.
Wajahnya yang tadi penuh kesombongan berubah pucat pasi.
“Ti… tidak mungkin…”
Komisaris Budi berjalan lurus ke arahnya sambil membawa sebuah map tebal.
“Nona Clarissa Wijaya, kami datang berdasarkan surat perintah penyelidikan atas dugaan penipuan investasi, penggelapan aset perusahaan, dan pemalsuan laporan keuangan.”
Seluruh gang langsung sunyi.
Ayah Clarissa selama ini dikenal sebagai salah satu pengusaha properti paling sukses di Surabaya.
Tak seorang pun menyangka bahwa di balik kemewahan itu tersimpan begitu banyak rahasia.
“Tidak! Kalian pasti salah orang!” teriak Clarissa panik.
Namun Komisaris Budi hanya menyerahkan dokumen itu.
“Seluruh rekening perusahaan keluarga Anda telah dibekukan pagi ini.”
Tubuh Clarissa langsung lemas.
Sementara itu, ponsel mantan suamiku kembali berdering.
Kali ini dari bank.
Wajahnya semakin pucat setiap detik.
“Apa maksudnya rumah ini disita?”
“Apa maksudnya pinjaman saya jatuh tempo?”
“Apa maksudnya semua jaminan saya sudah tidak berlaku?”
Tangannya gemetar hebat.
Karena baru saat itulah dia menyadari kenyataan yang sesungguhnya.
Semua impian mewah yang dijanjikan Clarissa ternyata dibangun di atas fondasi yang hampir runtuh.
Sedangkan wanita yang baru saja dia usir…
adalah pewaris salah satu keluarga terkaya di Asia.
Perlahan dia berlutut di tengah hujan.
“Mia…”
Air matanya bercampur dengan air hujan.
“Aku salah.”
“Tolong beri aku satu kesempatan lagi.”
“Aku melakukan semuanya demi masa depan kita.”
Aku menatapnya lama.
Pria yang pernah kupercaya lebih dari diriku sendiri.
Pria yang pernah kuanggap rumah.
Namun rumah seharusnya melindungi.
Bukan mengusir.
Rumah seharusnya menghangatkan.
Bukan mempermalukan.
Dan cinta…
tidak pernah meninggalkan seseorang saat mereka berada di titik terendah.
Aku memeluk anakku lebih erat.
Lalu tersenyum tipis.
“Bukan karena kamu mencintaiku.”
“Kamu menyesal karena akhirnya tahu siapa diriku.”
Kata-kataku membuatnya membeku.
Untuk pertama kalinya, dia tidak bisa membantah.
Karena itu memang benar.
Jika hari ini aku masih wanita miskin yang berjualan di pasar…
dia tidak akan pernah mengejarku.
Tidak akan pernah meminta maaf.
Tidak akan pernah menangis.
Perlahan aku menyerahkan pena kepada pria tua di sampingku.
“Aku tidak akan menghancurkan mereka.”
Semua orang terkejut.
Termasuk Clarissa.
Termasuk mantan suamiku.
“Tapi aku juga tidak akan menyelamatkan mereka.”
Aku menandatangani dokumen lain.
Dokumen yang mengalihkan seluruh saham yang baru kubeli kepada sebuah yayasan sosial yang membantu anak-anak miskin dan para janda yang ditelantarkan.
Pria tua itu tersenyum bangga.
Persis seperti kakekku dulu.
“Mengapa Anda melakukan itu, Nona?” tanyanya.
Aku menatap anakku yang tertidur tenang di pelukanku.
Karena selama bertahun-tahun…
aku hidup tanpa kemewahan.
Tapi aku belajar sesuatu yang jauh lebih berharga.
Uang bisa membeli rumah.
Tapi tidak bisa membeli keluarga.
Uang bisa membeli perhiasan.
Tapi tidak bisa membeli kesetiaan.
Uang bisa menarik orang untuk datang.
Tapi tidak bisa membuat mereka tulus tinggal.
Konvoi mobil perlahan mulai bergerak meninggalkan gang itu.
Dari balik kaca mobil, aku melihat mantan suamiku masih berlutut di bawah hujan.
Sendirian.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku tidak merasa kehilangan apa pun.
Karena hari itu bukan hari ketika aku meninggalkan segalanya.
Melainkan hari ketika aku akhirnya mendapatkan kembali diriku sendiri.
TAMAT.