Aira sebenarnya sudah hendak berdiri dan pergi lagi, tetapi Ethan dengan cepat meraih pergelangan tangannya.
“Silakan saja coba keluar. Jangan salahkan aku kalau hari ini kamu malah tidak bisa berjalan-jalan ke mana-mana!”
Ancaman itu membuat Aira menggigit bibirnya karena kesal. Ia akhirnya kembali fokus pada makanan di piringnya.
“Menyebalkan sekali…”
gumamnya sambil menyuapkan makanan ke mulut.
Setelah selesai makan, Ethan membereskan piring dan gelas mereka.
“Aku turun sebentar untuk mengembalikan semuanya,” katanya.
Sementara itu, Aira tetap duduk di depan meja dengan wajah cemberut.
“Jangan kembali lagi, ya!”
teriak Aira sebelum Ethan benar-benar keluar dari kamar.
Ethan berhenti sejenak lalu menoleh.
“Jangan coba-coba mengunci pintu, Istriku.”
“Memangnya kenapa? Apa yang akan kamu lakukan?”
tanya Aira sambil mengangkat alis.
Ethan tersenyum tipis.
“Aku akan mendobrak pintunya dan membiarkan anjing peliharaanku mengejarmu.”
Setelah mengatakan itu, Ethan langsung pergi.
Aira tetap duduk sambil berpikir. Haruskah ia mengunci pintu atau tidak?
Beberapa saat kemudian, ponselnya yang berada di atas nakas kecil di samping tempat tidur berdering.
Ia segera mengambilnya dan menjawab panggilan tersebut.
“Halo?”
“Bestie! Benarkah kamu akan menikah dengan Ethan, teman masa kecilmu itu?”
Suara sahabatnya, Mila, terdengar begitu keras hingga hampir membuat telinganya sakit.
“Dari mana kamu dengar kabar itu?”
tanya Aira sambil memutar bola mata.
“Ya ampun, Aira! Kakekmu mengirim kartu undangan ke semua orang! Aku benar-benar kaget. Bukankah Ethan itu musuh besarmu sejak kecil?”
“Undangan?”
Aira mengernyit.
“Iya! Jangan bilang kamu bahkan belum tahu?”
“Aku tahu soal pernikahannya. Yang tidak aku tahu adalah Kakek sudah menyebarkan undangan ke mana-mana!”
Mila tertawa.
“Luar biasa. Pernikahan yang dijodohkan ternyata masih ada di zaman sekarang.”
Aira menghela napas panjang.
“Aku juga tidak mengerti apa yang dipikirkan Kakek Fajar.”
“Tapi serius, bagaimana bisa kamu menikah dengan orang yang paling kamu benci?”
“Ceritanya panjang.”
“Wah, napasmu dalam sekali. Kelihatannya kamu benar-benar stres.”
Aira menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
“Aku memang stres.”
“Karena Ethan?”
“Karena semuanya!”
Keduanya terus mengobrol sambil bercanda tentang pernikahan yang akan datang.
Namun di balik semua keluhan dan candaan itu, Aira tahu satu hal.
Cepat atau lambat, ia harus menghadapi kenyataan bahwa beberapa hari lagi, ia akan menikah dengan Ethan Pratama—laki-laki yang sudah menjadi rivalnya sejak masa kecil.
Dan yang lebih buruk lagi…
Ethan tampaknya justru menikmati setiap detik penderitaannya.
Tiba-tiba terdengar suara batuk pelan dari arah pintu.
Aira langsung menoleh.
Jantungnya hampir berhenti berdetak.
Ethan berdiri di sana dengan tangan terlipat di dada, menatapnya tanpa ekspresi.
“Kalian sudah selesai membicarakanku?”
tanyanya tenang.
Wajah Aira langsung memerah.
“K-Kapan kamu kembali?!”
“Cukup lama untuk mendengar bahwa aku adalah musuh besarmu.”
Ethan melangkah masuk perlahan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Tenang saja, Istriku.”
“Aku juga tidak terlalu senang harus menikah denganmu.”
“Apa?!”
seru Aira.
“Tapi setidaknya,” lanjut Ethan sambil mengangkat alis, “pernikahan ini akan jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan.”
Dan untuk pertama kalinya sejak pertunangan mereka diumumkan…
Aira merasa bahwa hari-hari setelah pernikahan nanti mungkin akan menjadi jauh lebih kacau daripada yang pernah ia bayangkan.

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN…
Pernikahan Aira dan Ethan akhirnya tetap berlangsung.
Tidak ada kisah cinta manis di awal.
Tidak ada tatapan penuh kasih saat mengucapkan janji pernikahan.
Bahkan selama beberapa minggu pertama setelah menikah, mereka masih bertengkar hampir setiap hari.
Tentang makanan.
Tentang kebiasaan.
Tentang siapa yang lebih keras kepala.
Dan tentu saja…
Tentang siapa yang sebenarnya memulai permusuhan mereka sejak kecil.
Namun perlahan, sesuatu mulai berubah.
Saat Aira sakit dan demam tinggi, Ethan diam-diam begadang semalaman menunggunya.
Saat Ethan mengalami masalah besar dalam bisnis keluarganya, Aira adalah orang pertama yang berdiri di sisinya.
Mereka tidak pernah mengucapkan kata cinta.
Tetapi tindakan mereka mulai berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Sampai suatu malam.
Aira menemukan sebuah kotak tua di ruang kerja Ethan.
Karena penasaran, ia membukanya.
Di dalamnya terdapat puluhan foto masa kecil.
Foto-foto dirinya.
Ada foto saat ia memenangkan lomba menggambar.
Foto saat ia tampil di acara sekolah.
Bahkan foto saat ia menangis karena kehilangan boneka kesayangannya.
Tangan Aira gemetar.
“Kenapa kamu menyimpan semua ini?”
Suara Ethan terdengar dari belakangnya.
Pria itu berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal…
Wajah Ethan terlihat gugup.
“Aku menyukaimu sejak kita masih kecil.”
Jantung Aira seakan berhenti berdetak.
Ethan tertawa kecil.
“Waktu itu aku terlalu bodoh untuk mengatakannya.”
“Aku pikir dengan terus mengganggumu, aku akan mendapat perhatianmu.”
Air mata mulai memenuhi mata Aira.
“Kamu menyebut itu cara menunjukkan perasaan?”
Ethan mengangguk malu.
“Aku memang idiot.”
Aira tertawa sambil menangis.
Lalu tanpa sadar, ia memukul dada Ethan pelan.
“Kamu memang idiot.”
“Tapi aku juga.”
“Karena butuh bertahun-tahun untuk menyadari kalau aku mencintaimu.”
Untuk beberapa detik, ruangan menjadi sunyi.
Kemudian Ethan menarik Aira ke dalam pelukannya.
Pelukan yang hangat.
Pelukan yang selama ini tidak pernah mereka berikan satu sama lain.
Di luar jendela, hujan turun perlahan.
Persis seperti hari pertama mereka dipaksa bertunangan.
Namun kali ini berbeda.
Karena tidak ada lagi kebencian.
Tidak ada lagi permusuhan.
Yang tersisa hanyalah dua orang keras kepala yang akhirnya menyadari bahwa takdir yang paling mereka lawan selama bertahun-tahun…
Ternyata adalah kisah cinta mereka sendiri.
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya sejak kecil,
Aira memanggil Ethan bukan sebagai musuhnya.
Melainkan sebagai rumahnya.
TAMAT.