Posted in

“Mbak Shena, aku lapar! Mana makanan untukku dan Mas Arya?” Vidya melirik kakak madunya yang hendak berdiri menyimpan piring ke dapur.

“Masak sendiri, dong. Aku ini bukan ba bu kamu!” jawab Shena dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya, mengejek Vidya yang raut wajahnya nampak masam.

Wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun tersebut segera ke dapur, dan meletakkan piring kotor itu di wastafel.

Hatinya sedikit bergetar karena emosi, tapi dia menepis perasaan itu.

“Mas, jangan lupa pagi ini kita harus bertemu dengan klien. Cepat bersiap, atau mereka akan membatalkan kerjasama dengan kita!” Shena mengingatkan suaminya dengan nada tegas. Dia seolah ingin menyindir sang madu yang hanya seorang karyawan biasa, di butik cabang miliknya.

Arya mengekor di belakang istri pertamanya dengan patuh, mengabaikan istri kedua yang masih mematung di ruang makan.

“Mas Arya, kamu mau ke mana? Aku ikut …,” rengek Vidya pada sang suami. Kemudian, wanita itu malah bergelayut manja di lengan Arya, berusaha mengabaikan perlakuan Shena dan merayu sang suami agar memerhatikan dirinya.

“Kamu mandi di toilet belakang, ya. Shena sedang bersiap di kamar utama,” ujar Arya lembut, berusaha menjaga suasana hati agar pagi itu tetap damai. Ia tak ingin ada pertengkaran yang memicu amarah di pagi hari.

Arya segera melangkah ke kamarnya dan mengenakan pakaian kerja yang sudah disiapkan oleh Shena di atas ran jang.

Meski terasa berat, wanita itu tetap setia mela yani suaminya demi menjaga nama baik sebagai istri. Shena tak mau disebut sebagai istri durhaka karena mengabaikan tugasnya.

“Terima kasih banyak, Sayang, ternyata kamu masih mau me–“

“Sudahlah, Mas!” Shena memotong ucapan sang suami dengan tegas, wajahnya terlihat sedih bercampur marah, tapi berusaha keras menyembunyikannya.

Baru saja sehari dimadu, wanita cantik itu sudah merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri.

“Aku nggak mau klien menunggu lama dan merasa kecewa karena kita nggak bisa on time!” Ia mencoba menjaga jarak dari suaminya, khawatir jika Arya meminta sesuatu yang lebih, jika sudah bersikap seperti itu.

“Huft!” Arya mengembuskan napasnya dengan kasar. Pria itu segera mengikuti sang istri yang telah keluar dari kamar lebih dulu.

Istri pertamanya berbelok sebentar untuk mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin, yang biasa dibawanya saat pergi ke butik. Namun, langkah Arya terhenti ketika melihat Vidya, istri keduanya, yang masih duduk di ruang makan.

Wanita itu tengah menikmati biskuit dengan lahap sambil memegang kalengnya di atas meja.

“Vid, kenapa belum mandi?” tanya Arya. Kening pria itu mengerut.

Dengan mulut penuh biskuit, Vidya menjawab, “Aku mandi di butik aja deh, Mas! Aku nggak mau berangkat kerja sendirian.”

Shena yang baru saja memasukkan botol air mineral ke dalam tote bag, langsung menoleh dengan sorot mata tajam pada Vidya.

“Jangan harap aku mau mengangkutmu menggunakan mobilku, ya! Dengar baik-baik, mulai hari ini kamu dipecat dari butik!” tegas Shena, mengejutkan sang suami dan madunya.

Vidya seketika menghentikan kunyahannya, matanya terbelalak, menatap Shena penuh amarah dan kecewa. Tetapi seiring detik berlalu, wanita itu mulai bersikap angkuh dengan kepercayaan diri yang ia miliki.

“Mbak Shena yang cantik, dengar baik-baik, ya!” Vidya mencoba menelan makanannya dengan sudah payah, wajahnya penuh emosi.

“Kamu nggak bisa pecat aku seenaknya karena sekarang aku ini istrinya Mas Arya juga! Ingat, suami kita pemilik Butik Sheira Fashion yang punya cabang di mana-mana. Sedangkan kamu? Kamu cuma tukang desain baju aja!” sentak Vidya dengan penuh amarah.

Shena hanya menanggapi dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. “Aduh, adik maduku tersayang, kamu ini hanya kasir yang kerjanya cuma duduk santai dan buka sosmed. Sementara yang bekerja keras malah kasir lain. Sepertinya, kamu memang cocok untuk dipecat!”

Shena menghela napas, lalu duduk di samping Vidya.

Sang madu pun menatap suaminya, dengan mata berkaca-kaca. “Mas, kenapa kamu cuma diam? Pecat aja istri tu a kamu ini dari butik! Kita bisa lebih bahagia tanpa dia, dan butik yang kita miliki bisa lebih maju tanpa ada campur tangan dari wanita tu a ini!” Vidya merayu, dengan wajah yang memelas.

Arya hanya menunduk, wajahnya tampak gusar dan bingung, terpecah di antara dua wanita yang sangat dia cintai.

“Mas Arya, Vidya benar, lho. Kenapa kamu cuma diam? Apa kamu ingin aku pecat juga, supaya kamu jadi pengangguran dan nggak bisa kasih nafkah yang layak buat istri kedua yang kamu cintai itu, hm?” tanya Shena dengan sinis, mengejek kelemahan suaminya.

“Vid, maaf, aku nggak bisa pecat Shena, ka–“

“Karena dia istri pertama kamu, gitu? Kamu benar-benar tega sama aku, Mas!” Vidya mulai terisak, air matanya jatuh perlahan-lahan, memperlihatkan drama yang dimainkan.

“Diam!” bentak Arya, marah akan keadaan yang semakin rumit, “Aku nggak bisa pecat Shena karena semua butik itu emang milik dia. Aku hanya bertugas sebagai pengelola saja, mengawasi karyawan-karyawan ketika Shena tidak ada di sana,” Arya menjelaskan dengan tegas.

Saat itu juga, matanya yang bulat sempurna terbelalak kaget, tak menyangka dengan kenyataan yang dihadapinya. Vidya yang baru bekerja selama tiga bulan di butik cabang hanya tahu bahwa suaminya merupakan pemilik butik itu.

Kini, baru tersadar. Kesal, marah, dan kecewa, hati Vidya terasa diiris seribu sembilu. Ia merasa geram pada Irma, karena sang kakak tak pernah memberitahu siapa sebenarnya pemilik butik tempat mereka bekerja.

“Adik madu, kini segalanya sudah jelas, kan? Kalian berdua hanyalah karyawan yang bekerja di butik milikku. Jadi, mulai hari ini, aku memutuskan untuk memecatmu sebagai kasir, sebab kinerjamu tak pernah memuaskan!” ujar Shena. Tatapan matanya menembus netra Vidya.

“Jika kamu benar-benar ingin menjadi istri kedua suamiku, tunjukkan sikapmu sebagai istri yang baik. Kerjakan kewajibanmu layaknya seorang istri, dan layani mertuamu dengan penuh kasih sayang jika kau ingin diterima sepenuh hati olehnya!” Ucap Shena dengan tegas, sambil menatap tajam ke arah Vidya.

“Ingat! Jangan pernah sekali-kali mengambil apa pun yang bukan milikmu!” ucap Shena. Matanya tertuju pada kaleng biskuit yang sejak tadi dipegang oleh Vidya.

Sang adik madu mencoba menahan emosi yang mulai memuncak, “Kenapa, sih, Mbak? Aku baru makan biskuit sedikit aja kok marah!”

Ia merasa tidak terima, tapi masih tetap melanjutkan mengunyah biskuit itu dengan penuh kekesalan.

“Sebelum mencu ri suami orang, cobalah tanyakan dulu, apa pria itu mapan dan bisa diandalkan? Sama halnya dengan biskuit yang sedang kamu santap itu!” Ucap Shena sambil tersenyum sinis. Matanya menatap tajam ke arah Vidya yang terkejut.

“Pastikan dulu, apakah makanan itu masih layak untuk dikonsumsi atau nggak.”

Dengan refleks, Vidya mengangkat kaleng biskuit tersebut dan memeriksa tanggal yang tertera, “Astaga! Ternyata biskuit ini udah kadaluarsa?”

Muka Vidya langsung memerah karena malu, tapi juga campur aduk dengan rasa marah dan kebingungan.

Sementara itu, Shena hanya tersenyum puas melihat Vidya yang tengah menahan amarah, kemudian berlalu dengan anggun, meninggalkan sang madu yang terpaku di tempatnya.

“Ini baru permainan kecil, Vidya, tunggu pembalasanku yang berikutnya!”