Posted in

RAFAEL MULAI MENYADARI AKU SUDAH TIDAK SEPERTI DULU—YANG SELALU MEMBERITAHUKAN SEGALA HAL PADANYA.

Ada kesempatan di perusahaan untuk mengirim karyawan ke kota lain dalam penugasan jangka panjang. Aku bahkan sudah menandatangani surat transfer sebelum sadar bahwa aku sama sekali belum meminta pendapatnya.

Sahabatku menikah di sebuah resort pinggir pantai dan berkali-kali menyuruhku membawa pacarku.

Tapi aku datang sendirian.

Bahkan saat aku harus dirawat untuk operasi kecil…

Aku sendiri yang menjadwalkan check-up, mengurus semua dokumen, dan memesan kamar rumah sakit.

Rafael mengetahui itu dan langsung mengernyit di lorong rumah sakit.

“Kamu sakit? Kenapa nggak bilang aku?”

Dia mengulurkan tangan.

“Sini medical file-mu. Aku yang bicara dengan dokternya.”

Hampir refleks aku menjawab,

“Nggak apa-apa. Aku bisa sendiri.”

Setelah mengucapkan itu…

Kami berdua sama-sama terdiam.

Karena baru sebulan yang lalu…

Aku adalah perempuan yang bahkan untuk memilih sarapan saja masih bertanya padanya.

Dokter yang menanganiku menatapku heran.

“Operasimu jadi besok? Saya kira kamu menunggu Dr. Rafael pulang dari business trip.”

Aku tersenyum tipis.

“Saya bisa mengurus diri sendiri, Dok.”

Hampir semua orang di rumah sakit itu mengenalku.

Perempuan yang terlalu bergantung pada Rafael.

Kalau demam, langsung meneleponnya.

Kalau sakit kepala, mencarinya.

Bahkan tengah malam pun memaksanya mendengarkan cerita-cerita tidak pentingku.

Tapi sekarang…

Aku sendiri yang menandatangani formulir persetujuan operasi.

Aku sendiri yang akan dirawat.

Tanpa memberitahunya sedikit pun.

Saat keluar dari ruang konsultasi, aku langsung melihat Rafael.

Dia masih membawa koper, jelas baru tiba dan langsung datang ke rumah sakit.

Di sampingnya ada Bianca, dokter internnya.

Bianca memakai coat hitam yang sangat familiar bagiku.

Karena aku yang menghadiahkannya untuk Rafael di anniversary ketiga kami.

Rafael menatapku lalu sedikit mengernyit.

“Kamu di sini lagi?”

Lagi.

Satu kata sederhana, tapi cukup membuat dadaku sesak.

Seolah aku cuma gangguan dalam hidupnya.

Dia mengambil medical file-ku dan membacanya cepat.

“Aku sibuk besok.”

“Tunda dulu operasimu sampai minggu depan. Aku akan menemanimu kalau sudah senggang.”

Aku mengambil kembali folder itu dari tangannya.

“Nggak perlu.”

Suaraku begitu tenang sampai aku sendiri terkejut.

Dia menatapku lama.

Mungkin dia tidak pernah membayangkan akan datang hari di mana aku berhenti mengejarnya.

Dulu, luka kecil di jariku saja bisa membuatku menangis di depannya.

Bahkan memilih baju pun aku selalu meminta persetujuannya.

Tapi sekarang…

Aku memperlakukannya seperti orang asing.

Saat aku menarik kembali file-ku, paper bag yang dia pegang tidak sengaja jatuh.

Sebuah kotak obat kecil menggelinding di lantai.

Aku terdiam ketika membaca namanya.

Pills.

Wajah Bianca langsung pucat.

Rafael buru-buru mengambilnya.

“Jangan berpikir macam-macam.”

Nada suaranya dingin, seperti dokter yang menjelaskan pada pasien.

“Dia cuma sakit menstruasi makanya diresepkan obat.”

Bianca langsung menunduk.

“Maaf ya, Kak… aku terlalu merepotkan Rafael.”

Dia malah memeluk coat itu lebih erat.

“Semoga aku bisa sekuat Kakak…”

Aku tertawa kecil.

Aku teringat saat dulu aku bahkan tidak bisa berdiri karena nyeri haid dan bertanya pada Rafael harus pergi ke bagian mana di rumah sakit.

Jawabannya cuma dua kata.

“Cari sendiri.”

Saat aku marah, dia malah kesal.

“Kamu sudah dewasa tapi semua harus ditanya ke aku?”

“Hidupmu nggak bisa selalu berpusat padaku.”

Lucu sekali.

Pria yang selalu menyuruhku mandiri…

Adalah pria yang bisa mengantar perempuan lain ke rumah sakit tengah malam hanya karena sakit perut.

Kalau dulu mungkin aku sudah menangis atau membuat keributan.

Tapi sekarang aku hanya berkata tenang,

“Belikan juga heating pad buat dia.”

“Sekalian bikinin cokelat panas nanti malam.”

Bianca langsung memerah.

“Nggak seperti itu…”

Rafael mengira aku sedang cemburu.

Dia memijat pelipisnya.

“Kamu masih marah karena aku nggak bilang soal trip itu?”

Aku hanya tersenyum pahit.

Tiga minggu lalu adalah ulang tahunnya.

Aku lembur berhari-hari hanya untuk mendapatkan cuti.

Aku sendiri yang memasak makanan favoritnya.

Aku sudah lama menyiapkan hadiahnya.

Tapi aku menunggu semalaman dan dia tidak pulang.

Sampai akhirnya aku melihat story Bianca di media sosial.

Mereka ternyata sedang berada di luar negeri untuk konferensi medis.

Mereka berdiri berdampingan sambil tersenyum di foto itu.

Sementara kue ulang tahun yang kusiapkan…

Sudah dingin di atas meja sepanjang malam.

Waktu itu aku meneleponnya.

Tapi jawabannya dingin.

“Itu cuma work trip.”

“Pekerjaan lebih penting daripada ulang tahun.”

“Jangan jadikan semuanya masalah.”

Saat itu aku akhirnya bertanya,

“Di hidupmu… apa aku memang selalu jadi yang terakhir?”

Dia diam beberapa detik.

Lalu menjawab dingin,

“Kamu lagi nggak tenang.”

“Nanti kalau aku pulang baru kita bicara.”

Setelah telepon itu…

Aku menandatangani surat transfer ke kota lain.

Bahkan bosku berkali-kali bertanya,

“Kamu nggak mau diskusi dulu sama pacarmu?”

Aku cuma menggeleng.

“Nggak perlu.”

Karena dulu waktu aku ingin pindah kerja, Rafael selalu berkata:

“Itu hidupmu. Jangan jadikan aku pengambil keputusan.”

Tapi untuk Bianca…

Dia bisa meluangkan waktu berjam-jam membantu mengurus berkas internship.

Dia bisa mendengarkan keluhan kecilnya.

Dia bisa berkendara jauh hanya untuk membeli dessert kesukaannya.

Dulu aku pikir memang sifatnya dingin dan cuek.

Sampai aku melihat bagaimana lembutnya dia pada perempuan lain.

Bianca menarik lengan bajunya.

“Kak Rafael… aku pusing…”

Rafael langsung menopangnya.

Wajahnya penuh kekhawatiran.

Dan saat itulah aku sadar…

Aku ternyata sudah sangat lelah mencintai sendirian.

Aku mengambil ponsel dan hendak pergi.

Tapi tiba-tiba telepon dari rumah sakit masuk.

“Miss Sofia?”

“Hasil tes tambahan Anda sudah keluar.”

“Kondisi Anda ternyata lebih serius dari yang kami perkirakan… kami perlu tanda tangan ulang untuk dokumen operasi.”

Suara perawat sebenarnya tidak keras.

Tapi lorong rumah sakit begitu sunyi.

Rafael langsung menoleh padaku.

Wajahnya membeku.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku melihat ketakutan di matanya.

“Penyakit apa yang kamu derita?”