Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu.
Air hujan membasahi anak tangga dingin gedung pengadilan.
Asisten Arga Pratama mendekat sambil membawa payung dan menyodorkan sebuah amplop hitam kepadaku.
“Bu Pratama… ah, Mbak Nadia. Pak Arga meminta saya memberikan ini.”
Aku menatap amplop tebal itu, tetapi tidak menerimanya.
“Kami sudah bercerai.”
“Aku bukan lagi bagian dari keluarga Pratama.”
Asisten itu terdiam.
Beberapa meter dari sana, Arga berdiri di bawah atap sambil berbicara melalui telepon.
Ia mengenakan polo hitam, dasinya sedikit longgar, dan wajahnya tampak dingin di bawah cahaya lampu Jakarta.
Suaranya rendah tetapi penuh wibawa.
“Aku tidak peduli kalau mereka menolak.”
“Kontrak dengan Grup Santoso harus ditandatangani malam ini.”
“Aku tidak mau mendengar kata gagal.”
Dari awal sampai akhir…
Dia bahkan tidak menoleh kepadaku sekali pun.
Bahkan ketika kami menandatangani surat cerai.
Petugas bertanya:
“Apakah ada sengketa pembagian aset?”
Jawaban Arga singkat.
“Tidak ada.”
Tapi aku berkata:
“Ada.”
Barulah dia menatapku.
Mata dinginnya seolah-olah dia tidak pernah mencintaiku.
“Apa lagi yang kamu inginkan?”
Aku tersenyum pahit.
“Rumah di Bekasi itu warisan ibuku sebelum kita menikah.”
“Mengapa namanya masuk ke dokumen keluarga Pratama?”
Dia melihat dokumen itu lalu menjawab dingin:
“Kesalahan administrasi.”
Kesalahan administrasi.
Tiga kata yang begitu ringan.
Seperti saat ulang tahunku dan dia berkata:
“Aku sibuk.”
Seperti Natal pertama kami sebagai suami istri ketika dia meninggalkanku sendirian di gereja karena perjalanan bisnis ke Singapura.
Seperti saat aku dirawat karena demam berdarah…
Yang menandatangani surat operasi justru asistennya.
Asisten itu segera menarik dokumen tersebut untuk diperbaiki.
Sementara aku hanya diam menatap pria yang kucintai selama tujuh tahun.
Dia terasa begitu jauh sekarang.
Saat keluar dari pengadilan, ponselku tiba-tiba berdering.
Ibunya.
“Nadia, tidak bisakah kamu dan Arga menunggu sedikit lagi?”
“Ada merger besar antara Grup Pratama dan bank terbesar di Surabaya. Jika kabar perceraian kalian tersebar, harga saham bisa jatuh.”
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
“Tante…”
“Semuanya sudah selesai.”
Hening sesaat.
Lalu ia berkata dengan dingin:
“Kamu memang tidak pernah mengerti hal-hal yang lebih besar.”
Aku tertawa getir.
Hal yang lebih besar.
Di mata keluarga Pratama…
Aku tidak pernah dianggap menantu sungguhan.
Aku hanya aksesori untuk membuat Arga terlihat sebagai suami sempurna di depan media.
Rolls-Royce hitamnya melintas di depanku.
Kaca gelapnya tertutup rapat.
Tak ada yang menoleh.
Alasan perceraian kami sebenarnya sederhana.
Dia berkata:
“Kita tidak cocok.”
Aku bertanya:
“Tiga tahun menikah baru sekarang kamu menyadarinya?”
Dia terdiam cukup lama sebelum berkata:
“Maaf.”
Aku menjawab:
“Aku tidak membutuhkan maafmu.”
Tetapi pada akhirnya…
Aku tetap menandatangani surat itu.
Karena kompensasinya terlalu besar.
Rp15 miliar.
Sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke Teluk Jakarta.
Dan sebuah perjanjian rahasia mengenai pernikahan kami.
Sebelum menandatangani, aku mengajukan satu pertanyaan terakhir.
“Apakah ada wanita lain?”
Dia menatapku.
Tenang. Dingin. Menyakitkan.
“Nadia…”
“Kalau itu yang ingin kamu percaya, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Dia tidak mengaku.
Tetapi juga tidak menyangkal.
Dia membiarkanku tenggelam dalam keraguan setiap malam.
Setelah perceraian, aku pindah ke penthouse baru.
Rumah itu indah.
Terlalu besar sampai setiap langkahku bergema bersama kesepian.
Aku tidak bisa tidur malam.
Aku bermimpi melihatnya bersama wanita lain di hotel mewah Jakarta.
Aku bermimpi ibunya meletakkan secangkir teh lalu berkata dingin:
“Perempuan dari kampung seperti kamu tidak seharusnya bermimpi menjadi keluarga Pratama.”
Dan sering kali…
Aku juga memimpikan hari pernikahan kami.
Aku berdiri sendirian di altar Katedral Jakarta.
Sementara mempelai prianya berada di luar, berbicara dengan para investor melalui telepon.
Tiga minggu setelah perceraian…
Aku mulai sering mual.
Kupikir hanya maag karena stres.
Sampai seorang pegawai apotek berkata:
“Mbak, lebih baik coba tes kehamilan dulu.”
Dua garis merah.
Jelas.
Terang.
Aku membeku di kamar mandi.
Pikiranku kosong.
Kami sudah bercerai tiga bulan.
Dan bayi ini…
Adalah anak Arga.
Aku menelepon sahabatku, Celine.
Dia hampir berteriak dari seberang telepon.
“KAMU HAMIL?!”
“Dengan Arga Pratama?!”
“…Iya.”
“Sudah bilang ke dia?”
“Belum.”
“Kenapa belum?!”
Aku menatap langit Jakarta yang hujan di balik jendela.
“Semuanya sudah berakhir.”
Celine terdiam sesaat lalu berkata:
“Nadia… kamu tahu kan keluarga Pratama sangat terobsesi dengan pewaris?”
“Nilai perusahaan mereka sekarang ratusan triliun rupiah.”
“Kalau mereka tahu kamu mengandung anak pertama Arga…”
Aku belum sempat menjawab—
Tiba-tiba bel pintu berbunyi.
Sekali.
Lalu berkali-kali.
Seolah seseorang sangat terburu-buru.
Aku mengernyit sambil berjalan ke arah pintu.
Dan ketika kubuka—
Seluruh tubuhku langsung membeku.
Arga Pratama berdiri di sana.
Bajunya basah kuyup oleh hujan.
Matanya merah, seolah dia mengemudi menembus badai hanya untuk datang ke sini.
Dan di belakangnya…
Berdiri ibunya bersama tiga pengacara.
Tatapan Arga langsung jatuh ke perutku.
Suaranya serak saat berkata:
“Nadia…”
“Benarkah kamu hamil?”

Aku tidak langsung menjawab.
Hujan masih turun deras di luar apartemen.
Sementara Arga berdiri di depan pintu, menunggu satu kata dariku.
Aku menatap wajah pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Pria yang menghancurkan hatiku.
Pria yang juga pernah menjadi satu-satunya tempat aku pulang.
“Ya,” jawabku akhirnya.
“Aku hamil.”
Wajah ibunya langsung berubah.
Ketiga pengacara di belakangnya saling berpandangan.
Namun yang paling mengejutkanku adalah Arga.
Dia tampak seperti kehilangan kemampuan bernapas.
Matanya memerah.
Tangannya bergetar.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…
Aku melihat ketakutan di wajahnya.
“Boleh aku masuk?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng.
“Kita sudah bukan keluarga.”
Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada apa pun.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Lalu ibunya melangkah maju.
“Nadia, anak itu adalah pewaris keluarga Pratama.”
Aku tersenyum tipis.
“Anak ini bukan saham perusahaan.”
“Dia bukan aset yang bisa dicatat dalam laporan keuangan.”
Wajah wanita itu langsung membeku.
Selama bertahun-tahun, aku selalu diam.
Selalu mengalah.
Tapi tidak lagi.
Bukan sekarang.
Bukan ketika aku harus melindungi anakku.
“Aku tidak akan menjual anakku kepada siapa pun.”
Lalu aku menutup pintu.
Tepat di depan mereka.
Hari-hari berikutnya tidak mudah.
Media mulai mencium kabar kehamilanku.
Saham Grup Pratama sempat bergejolak.
Beberapa wartawan bahkan menunggu di depan apartemen.
Tetapi satu hal yang tidak pernah kuduga terjadi.
Arga tidak melawan.
Dia tidak mengirim pengacara.
Tidak mengancam.
Tidak mencoba merebut hak asuh.
Sebaliknya…
Setiap minggu dia mengirim surat.
Bukan pesan.
Bukan email.
Surat tulisan tangan.
Surat pertama hanya berisi satu kalimat:
“Aku menyesal karena baru menyadari nilai seseorang setelah kehilangannya.”
Surat kedua:
“Aku tidak meminta kesempatan kedua. Aku hanya berharap anak kita tahu bahwa ayahnya mencintainya.”
Surat ketiga membuatku menangis.
“Aku selalu berpikir uang bisa memperbaiki segalanya. Sampai hari ketika aku kehilangan satu-satunya orang yang tidak pernah mencintaiku karena uang.”
Untuk pertama kalinya…
Aku melihat sisi Arga yang tidak pernah kulihat selama pernikahan kami.
Bukan CEO.
Bukan pewaris konglomerat.
Bukan pria dingin yang hidup dengan jadwal rapat.
Melainkan seorang manusia yang akhirnya memahami kesalahannya.
Delapan bulan kemudian.
Aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Saat pertama kali mendengar tangisnya, aku ikut menangis.
Dunia seakan berhenti berputar.
Semua luka.
Semua kesedihan.
Semua malam yang kuhabiskan sendirian.
Tiba-tiba terasa sepadan.
Perawat tersenyum.
“Siapa yang ingin melihat bayi lebih dulu?”
Aku menoleh ke arah pintu.
Di sana berdiri Arga.
Masih mengenakan pakaian kerja.
Rambutnya berantakan.
Napasnya terengah-engah.
Seolah dia berlari sejauh mungkin agar tidak terlambat.
Air mata mengalir di wajahnya saat melihat putrinya.
Dan ketika bayi kecil itu menggenggam jarinya…
Pria yang ditakuti para direktur dan investor itu menangis seperti anak kecil.
Tiga tahun kemudian.
Aku tidak kembali menjadi istri Arga.
Banyak orang mengira kami akan menikah lagi.
Tetapi hidup tidak selalu berjalan seperti dongeng.
Ada luka yang sembuh.
Namun tidak harus mengembalikan masa lalu.
Kami memilih jalan yang berbeda.
Tetapi kami membesarkan putri kami bersama.
Dengan hormat.
Dengan kejujuran.
Dengan kasih sayang.
Sesuatu yang dulu gagal kami lakukan sebagai pasangan.
Suatu sore, saat putri kami berlari di taman sambil tertawa, Arga berdiri di sampingku.
“Mungkin ini hukuman terberat dalam hidupku,” katanya.
“Apa?”
Dia tersenyum pahit.
“Melihatmu setiap hari… dan tahu bahwa aku pernah memilikimu, tetapi tidak cukup bijak untuk menjagamu.”
Aku memandang putri kami yang sedang mengejar kupu-kupu.
Lalu tersenyum pelan.
“Aku juga kehilangan sesuatu.”
Arga menatapku.
“Apa?”
Aku menghela napas.
“Versi diriku yang dulu rela mengorbankan segalanya demi dicintai.”
Lalu aku menatap langit senja yang berwarna keemasan.
“Tapi aku tidak menyesal kehilangannya.”
Karena kadang-kadang…
Akhir yang bahagia bukan tentang kembali bersama seseorang.
Melainkan tentang menemukan kembali dirimu sendiri.
Dan pada akhirnya, hadiah terbesar yang diberikan kehidupan kepadaku bukanlah keluarga Pratama.
Bukan uang.
Bukan penthouse mewah.
Bukan status sosial.
Melainkan seorang putri kecil yang mengajarkanku bahwa setelah badai paling gelap sekalipun…
Matahari selalu menemukan jalan untuk bersinar kembali.