Pria yang kukenal di sebuah grup makanan ternyata adalah seorang miliarder misterius.Setiap hari dia terus membujukku untuk ikut dan tinggal bersamanya…

Namun tepat sebelum kami bertemu untuk pertama kalinya, sebuah pesan menghancurkan semuanya.

— “Aku bisa menghidupimu, princesa.”

— “Masuklah ke perusahaanku. Gaji 80.000 peso per bulan, libur setiap akhir pekan, dan tanpa lembur.”

— “Bahkan kalau kamu terlambat atau pulang lebih awal, tidak ada yang berani memotong gajimu.”

Pria yang terus mengirim spam ke Messenger-ku itu adalah pacar online-ku yang sudah hampir delapan bulan kukenal — dengan nickname “LunaSobreManila”.

Kami bertemu di sebuah grup review makanan di Manila, Filipina.

Ada toko dessert kecil di Binondo yang dikelola admin grup, dan leche flan caramel brûlée mereka sangat terkenal.

Hanya ada 20 kotak yang dijual setiap hari.

Dan aku selalu mendapatkan slot pertama.

Lama-kelamaan, dia curiga aku punya “orang dalam” di toko itu.

Kalau tidak, kenapa aku selalu tepat waktu setiap kali pemesanan dibuka?

Karena itu, kami hampir setiap hari bertengkar di kolom komentar.

Sampai akhirnya… kami terbiasa satu sama lain.

Dan tanpa kusadari, kami mulai saling menyukai.

Sekarang dia tidak lagi berdebat denganku.

Sebaliknya, dia jadi sangat manja.

Setiap kali aku bilang lapar, kurang dari 30 menit kemudian, kurir sudah datang ke rumah.

Suatu malam, aku hanya menyebut ingin makan halo-halo.

Lima belas menit kemudian, bel pintu berbunyi.

Saat kubuka, seorang kurir membawa tas besar berisi makanan — dari Jollibee, Chowking, hingga dessert terkenal di Makati.

Karena terkejut, aku langsung meneleponnya lewat video call dan bertanya apakah dia gila.

Dia hanya tersenyum di layar, dagunya bertumpu di tangan.

— “Karena pacarku yang mau.”

Seiring waktu, LunaSobreManila mengatakan bahwa dia berusia 29 tahun dan memiliki perusahaan biotech di Quezon City.

Aku bertanya seberapa besar perusahaannya.

Dia menjawab santai:

— “Sekitar empat puluh orang.”

Aku pikir dia hanya pemilik startup biasa.

Aku tidak tahu…

Dia menyembunyikan tiga nol.

— “Princesa, kenapa kamu masih tidak mau datang ke sini?”

— “Sekarang mencari kerja itu sulit.”

— “Di sini, kerja ringan, gaji tinggi. Aku juga akan mentraktirmu makan setiap hari.”

Aku hanya tertawa membaca pesan-pesannya.

Foto profilnya hanya secangkir kopi hitam.

Sulit dipercaya bahwa pria dengan nickname misterius dan dewasa seperti itu ternyata sangat manja di kehidupan nyata.

Tapi sebenarnya aku juga tidak berbeda.

Di dunia nyata, aku sangat introvert.

Saat keluar rumah, aku tidak pernah ditanya arah — justru ditawari asuransi atau diberi brosur.

Temanku bahkan pernah bilang aku terlihat seperti target penipuan yang mudah.

Dia menyuruhku berdandan tegas, memakai lipstik merah, dan mengeriting rambut seperti influencer Cebu.

Aku sebenarnya ingin mencoba.

Tapi setiap kali memakai eyeliner, tanganku gemetar seperti ada gempa.

— “Aku masih ingin mencoba mencari kerja sendiri.”

— “Aku sudah mengirim lebih dari 60 CV hari ini.”

Aku mengetik sambil berbaring, meskipun sebenarnya tidak percaya diri.

Faktanya… aku sudah mengirim hampir 100 CV.

Hanya dua yang membalas.

Satu menawarkan pekerjaan asuransi.

Satu lagi telemarketing properti kondominium.

Memang sulit mencari pekerjaan di Filipina dengan gelar komunikasi.

Dia langsung membalas:

— “Datang saja ke sini.”

— “Kamu hanya perlu cantik. Urusan uang biar aku.”

Aku tertawa.

— “Kalau aku jelek di dunia nyata bagaimana?”

Dia langsung menjawab:

— “Kalau kakimu sebagus itu, mustahil kamu jelek.”

— “Aku ingin melihat kakimu lagi.”

Wajahku langsung panas.

Di dunia online, aku jauh lebih berani daripada di dunia nyata.

Suatu kali aku pernah mengirim foto kakiku yang dibungkus selimut putih.

Dia langsung mengirim banyak stiker “nosebleed”.

Bahkan bilang aku sengaja membuatnya “hampir mati”.

Mengingat itu, aku semakin ingin menggoda dia.

— “Aku juga ingin lihat.”

— “Tunjukkan abs-mu.”

Begitu pesanku terkirim —

Tiga menit kemudian, ponselku bergetar tanpa henti.

Lebih dari 20 foto HD langsung masuk.

Dia memakai celana training abu-abu, tubuh bagian atas telanjang, otot terlihat jelas, bahu lebar dan pinggang ramping. Ada keringat tipis di kulitnya seperti baru selesai gym.

Aku menahan napas saat melihatnya.

Jantungku hampir berhenti.

— “Sekarang giliranmu.”

— “Aku ingin menyentuhmu.”

— “Kapan kamu akan memperlihatkan dirimu?”

Aku memeluk ponselku, wajah terasa panas.

Tiba-tiba muncul notifikasi baru di Messenger.

Seorang asing mengirimkan screenshot.

Di gambar itu, LunaSobreManila sedang diwawancarai di televisi Filipina.

Host berkata sambil tersenyum:

— “CEO termuda dari grup farmasi terbesar di Filipina…”

Aku belum sempat pulih dari keterkejutan.

Pesan kedua masuk.

— “Kamu pacarnya?”

— “Kalau begitu…”

— “Kamu tahu dia akan menikah minggu depan?”

Tanganku membeku menatap layar.

“Dia… akan menikah minggu depan?”

Kalimat itu berulang di kepalaku seperti suara yang tidak bisa dimatikan.

Aku belum sempat membalas pesan itu ketika layar Messenger-ku kembali menyala.

“Kamu masih di sana?”

Pengirimnya adalah orang yang sama.

Aku menelan ludah.

— “Siapa kamu?” ketikku cepat.

Balasan datang hampir seketika.

“Orang yang bekerja di perusahaan yang sama dengannya.”

“Dan aku tidak suka cara dia mempermainkan dua kehidupan sekaligus.”

Jantungku jatuh ke perut.

Belum selesai keterkejutanku, ponselku bergetar lagi.

Kali ini notifikasi berita.

📱 Breaking News:
“CEO muda LunaSobreManila akan menikah dengan putri konglomerat bisnis farmasi senilai 120 miliar peso di Manila.”

Aku menatap layar itu lama sekali.

120 miliar peso.

Angka yang bahkan tidak bisa kubayangkan dalam hidupku.

Tiba-tiba semua pesan manisnya terasa seperti lelucon yang sangat mahal.

— “Princesa…”

— “Aku akan menjemputmu nanti.”

— “Tunggu aku.”

Tanganku gemetar.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku tidak membalas.

Aku hanya duduk di kamar kecilku di Manila, menatap jendela yang hujan, dan mencoba memahami satu hal:

Apakah semua ini nyata… atau aku hanya bagian kecil dari hidup orang yang bahkan tidak pernah berniat memilihku?

Tiga hari kemudian.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahku.

Tanpa plat biasa.

Tanpa pengawalan mencolok.

Hanya sunyi.

Pintunya terbuka.

Dia turun.

LunaSobreManila.

Atau lebih tepatnya…

CEO itu.

Tidak ada senyum manja seperti di chat.

Tidak ada “princesa”.

Hanya wajah lelah seorang pria yang membawa terlalu banyak rahasia.

Dia berdiri beberapa meter dariku.

“Maaf,” katanya pelan.

Aku tertawa kecil, tapi suaraku bergetar.

— “Yang mana yang harus aku percaya?”

Dia diam.

Angin sore lewat di antara kami.

Lalu dia mengeluarkan ponselnya, membuka chat kami, dan menunjukkan sesuatu.

Semua pesan “manis”, semua foto, semua panggilan… masih ada.

Dia belum pernah menghapusnya.

“Aku tidak berbohong tentang perasaan,” katanya pelan.

“Tapi aku berbohong tentang hidupku.”

Aku menatapnya lama.

“Dan pernikahan itu?” tanyaku akhirnya.

Dia menghela napas.

“Kontrak bisnis.”

“120 miliar peso.”

“Untuk merger perusahaan.”

Sunyi.

Aku tertawa pelan, kali ini benar-benar pahit.

— “Jadi aku apa?”

Dia menatapku lama sekali.

Lalu jawabannya membuat dadaku sesak:

“Aku tidak pernah merencanakan kamu muncul.”

“Dan itu masalahnya.”

Aku mundur selangkah.

Hujan mulai turun lagi.

Di antara suara air, dia berkata lebih pelan:

“Kalau kamu pergi sekarang… aku tidak akan mengejarmu.”

“Tapi kalau kamu tinggal…”

Dia berhenti.

Seolah bahkan seorang miliarder pun takut dengan jawabannya sendiri.

Aku menatapnya, lalu ponsel di tanganku.

Semua pesan, semua “princesa”, semua mimpi kecil yang entah nyata atau tidak.

Dan akhirnya aku berkata:

— “Aku bukan hadiah.”

Dia menutup mata sebentar.

Aku melanjutkan:

— “Dan aku bukan bagian dari transaksi 120 miliar peso siapa pun.”

Aku berbalik.

Langkah pertama terasa paling berat.

Langkah kedua lebih ringan.

Langkah ketiga…

Aku tidak lagi menoleh.

Di belakangku, tidak ada yang memanggil.

Tidak ada yang menghentikan.

Hanya hujan Manila yang jatuh pelan di jalan kosong.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai…

Aku merasa aku bukan lagi “princesa” dalam cerita orang lain.

Tapi seseorang yang akhirnya keluar dari cerita itu.