PACARKU TERNYATA SETIAP MINGGU TERBANG KE SINGAPURA UNTUK “BUSINESS TRIP”

Sampai aku mendengar rekaman di ruang tamu:

“Bersabarlah… aku akan terbang ke sana sekarang juga.”


Aku dan pacarku tinggal di Metro Manila.

Dari apartemenku di Quezon City ke kantornya di BGC hanya sekitar 40 menit.

Tapi selama hampir setahun terakhir, kami lebih jarang bertemu daripada rekan kerja satu ruangan.

Setiap kali aku bertanya:

— “Kapan kamu punya waktu luang?”

Jawabannya selalu sama:

— “Resor lagi sibuk. Aku harus ke Cebu tiap akhir pekan untuk cek cabang.”


Sampai suatu hari aku tidak sengaja melihat riwayat penerbangan di emailnya.

52 akhir pekan.
49 penerbangan.

Dan semua tujuan sama:

Singapura.

Setiap Sabtu pagi berangkat.
Minggu malam kembali.
Tanpa pernah gagal.

Bahkan saat badai besar membuat banyak penerbangan dibatalkan, dia tetap mencari rute lain agar bisa sampai tepat waktu.

Sementara saat aku demam hampir 40 derajat dan memintanya menjemputku ke rumah sakit, dia hanya berkata:

— “Ada meeting investor. Aku tidak bisa.”


Aku diam lama menatap layar laptop.

Lalu aku mengajukan permintaan transfer kerja ke Davao.

Tanpa marah.
Tanpa tanya.
Tanpa menangis.

Karena pria yang bisa terbang 3.000 km setiap minggu untuk orang lain…

tidak pernah benar-benar mau meluangkan 40 menit untukku.


— “Kak Lia, kamu business trip lagi weekend ini?”

Suara Ethan terdengar sedikit kesal di telepon.

— “Iya. Partner perusahaan di Singapura mendesak. Aku harus ke sana beberapa hari.”

Di latar belakang terdengar pengumuman bandara:

“Penumpang tujuan Singapura…”

Aku sedang duduk di kantor agen properti sambil melihat kontrak apartemen yang baru saja kutandatangani untuk dialihkan.

Aku tersenyum kecil.

— “Partner kerja kamu juga kerja di bandara ya?”

Dia diam dua detik.

Lalu tertawa kecil.

— “Kamu ngapain sih mikir macam-macam? Aku mau boarding. Nanti kita bicara lagi.”

Telepon diputus.


Aku menatap agen properti.

— “Miss Reyes… pacar Anda sudah menghabiskan banyak uang untuk renovasi apartemen ini. Anda yakin mau langsung mengalihkannya?”

— “Iya.”

— “Dia tahu?”

— “Dia tidak perlu tahu.”


Malamnya aku kembali ke apartemen.

Jaket Ethan masih ada di sofa.

Saat kuangkat, ada aroma parfum perempuan di kerahnya.

Vanilla manis.

Parfum favorit Chloe Santos.

Aku diam beberapa detik.

Lalu langsung membuang jaket itu ke tempat sampah.


Aku menyalakan rekaman smart camera di ruang tamu.

Suara Ethan terdengar:

— “Chloe, kamu demam lagi?”

Suara perempuan itu lembut:

— “Aku cuma kangen kamu, Kak Ethan…”

Dia tertawa pelan.

— “Tunggu aku. Aku akan terbang ke sana sekarang juga.”


Understanding.

Ternyata itu yang dia mau.

Pacar yang terlalu “pengertian” sampai tidak peduli dia sebenarnya dengan siapa.


Aku mulai mengemas barang.

Di laci, paspor masih kosong.

Tidak pernah dipakai.

Padahal dulu dia pernah berbisik:

— “Ulang tahunmu nanti, kita ke Jepang lihat salju.”

Aku langsung membuat paspor.

Tapi sampai sekarang…

tidak pernah ada stempel perjalanan.


Ponselku bergetar.

Instagram dari Chloe Santos.

Foto di Marina Bay Sands.

Dua gelas cocktail.

Jam tangan di pria itu… Rolex yang kubeli dengan menabung 8 bulan.

Caption:

“Jarak bukan masalah kalau memang mau datang.”


Lalu pesan pribadi masuk:

“Jangan cemburu ya, Kak. Aku cuma dianggap adik oleh Ethan.”

Adik.

Adik yang tiap minggu ditemui di hotel.

Aku membalas:

“Tenang. Aku tidak cemburu.”

“Tolong ingatkan Ethan untuk bayar kartu kredit tambahannya. Jatuh tempo.”


Malamnya aku duduk di ruang tamu.

Cup pasangan di meja.

Satu cream milikku.
Satu biru miliknya.

Di bawah cangkir biru itu ada huruf “C”.

Dia bilang itu salah pabrik.

Aku percaya selama tiga tahun.


Aku menjatuhkan cangkir biru itu.

CRASH.

Porselen pecah di lantai.


Malam itu Ethan pulang.

Dia meletakkan kotak kecil:

— “Oleh-oleh dari duty free.”

Lipstik warna peach.

Aku tertawa kecil.

Itu warna yang sama seperti yang dipakai Chloe di story.

— “Kamu tidak suka?”

— “Aku alergi.”

Dia diam.


Aku menatapnya.

— “Partner di Singapura… atau di Marina Bay Hotel?”

Tangannya tiba-tiba berhenti.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di matanya.


Ponselnya menyala.

Nama di layar:

“Chloe ❤️”


Dan pada saat itu…

Satu foto muncul di layar:

Chloe berbaring di ranjang hotel.

Memakai kemeja Ethan.

Caption:

“Kamu baru pulang? Aku sudah kangen baumu…”


Ethan langsung pucat.

Tapi sudah terlambat.

Aku sudah melihat semuanya.


(Bersambung di kolom komentar…)

Ethan masih berdiri di tengah ruang tamu, ponselnya bergetar di tangannya seperti benda yang tiba-tiba jadi terlalu panas untuk dipegang.

Tapi aku tidak bergerak.

Tidak mendekat.
Tidak mundur.
Tidak juga menangis.

Yang ada hanya rasa kosong yang anehnya… ringan.

Seperti seseorang yang akhirnya meletakkan beban yang sudah dipikul terlalu lama tanpa sadar.

— “Lia…” suaranya serak. “Aku bisa jelaskan.”

Aku menatapnya lama.

Bukan dengan amarah.

Tapi dengan sesuatu yang lebih tenang dari itu.

Keputusan.

— “Kamu selalu bisa jelaskan,” kataku pelan. “Itu yang kamu lakukan dari awal.”

Dia membuka mulut, tapi tidak ada kalimat yang keluar.

Untuk pertama kalinya, semua alasan yang biasa dia pakai—meeting, partner, business trip, Singapura—tidak lagi terdengar seperti penjelasan. Hanya seperti kebiasaan untuk menunda kebenaran.

Aku berjalan ke meja, mengambil kunci apartemen.

Lalu meletakkannya di samping cangkir yang sudah pecah di lantai.

— “Aku sudah transfer apartemennya,” lanjutku. “Semua yang kamu renovasi, sudah atas nama perusahaan. Uangmu bisa kamu ambil lewat pengacara.”

Wajahnya langsung berubah.

— “Apa maksudmu? Lia, ini rumah kita.”

Aku tersenyum kecil.

— “Bukan.”

Aku berhenti sejenak.

— “Ini rumah yang kamu singgahi di sela-sela penerbanganmu ke Singapura.”

Hening.

Hanya suara AC yang terdengar, seperti tidak peduli hidup dua orang di dalam ruangan itu sedang runtuh.

Ethan melangkah maju.

— “Aku tidak mau kehilangan kamu.”

Aku menatapnya sekali lagi.

Kali ini lebih lama.

Seolah memastikan bahwa semua kenangan empat tahun itu benar-benar ada… dan benar-benar selesai.

— “Kamu tidak kehilangan aku sekarang,” kataku akhirnya. “Kamu sudah kehilangan aku setiap akhir pekan selama setahun.”

Aku mengambil tas kecilku.

Tidak besar.

Tidak dramatis.

Hanya cukup untuk satu versi hidupku yang baru.

Saat aku melewatinya, dia memegang pergelangan tanganku.

Tidak kuat.

Tidak memaksa.

Hanya refleks seseorang yang baru sadar sesuatu yang penting sedang pergi.

Tapi aku tidak menahan diri.

Aku melepaskan tangannya pelan.

Bukan dengan marah.

Tapi dengan pasti.


Di luar, hujan Manila turun pelan.

Lampu kota memantul di jalan basah seperti serpihan kehidupan yang masih berjalan meski sesuatu baru saja berakhir.

Aku berdiri di bawah kanopi apartemen, menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama… aku tidak menunggu siapa pun.

Tidak menunggu chat.
Tidak menunggu penerbangan.
Tidak menunggu alasan.


Beberapa hari kemudian, aku pindah ke Davao.

Apartemen kecil, sederhana, dengan jendela yang menghadap laut.

Tidak ada Rolex.
Tidak ada tiket business class.
Tidak ada janji Jepang yang tidak pernah jadi.

Tapi ada sesuatu yang baru:

ketenangan.


Suatu malam, ponselku bergetar.

Nama Ethan muncul di layar.

Aku menatapnya lama.

Lalu… tidak menjawab.

Bukan karena masih sakit.

Tapi karena tidak ada lagi yang perlu diklarifikasi.

Aku sudah mengerti semuanya tanpa dia harus bicara.


Di meja kerja, aku membuka laptop.

Kontrak baru.

Proyek baru.

Nama klien baru.

Dan untuk pertama kalinya, tidak ada nama “kita”.

Hanya ada satu tanda tangan yang dibutuhkan.

Namaku sendiri.

Aku menandatanganinya perlahan.

Lalu menutup laptop.


Di luar jendela, laut Davao tenang.

Tidak berisik. Tidak menuntut. Tidak berbohong.

Dan di tengah sunyi itu, aku akhirnya mengerti satu hal sederhana:

Kadang seseorang tidak pergi karena kita kurang mencintai mereka.

Tapi karena kita terlalu lama mencintai seseorang yang tidak pernah benar-benar tinggal.

Aku tersenyum kecil.

Lalu mematikan lampu.

Dan malam itu…

aku tidur tanpa menunggu siapa pun pulang.