Hari ketika ayahku meninggal, angin di Baguio terasa lebih dingin dari biasanya.

Kabut tebal menyelimuti Session Road, dan sudah tiga hari kafe kecil kami tutup.

Aku duduk sendirian di belakang kasir sambil menatap foto lama Papa.

Aku tidak merasakan apa-apa.

Seperti ada lubang besar di dadaku.

Aku sudah kehilangan ibu sejak kecil.

Papa adalah satu-satunya yang membesarkanku.

Dia sering berkata bahwa hanya ada dua hal yang paling dia banggakan dalam hidupnya.

Yang pertama adalah kafe kecil kami, “Flores House”.

Dan yang kedua…

mantan tunanganku.

Ethan Villanueva.

Putra bungsu keluarga Villanueva—pemilik resort terkenal di Palawan.

Dulu semua orang di Baguio bilang aku sangat beruntung.

Aku hanya gadis biasa, tapi Ethan mencintaiku sejak kami berusia 17 tahun.

Dia tampan.

Pintar.

Dan sangat baik.

Setiap malam dia menungguku di depan kafe untuk pulang bersama.

Kadang hujan deras, tapi dia tetap berdiri dua jam hanya untuk membelikanku taho hangat.

Dia tersenyum dan berkata:

—Kalau aku kaya nanti, aku akan membangun hotel terbaik di Filipina… dan kamu akan menjadi ratunya.

Aku mempercayainya.

Sampai hari pertunangan kami.

Hari ketika aku meninggalkannya hanya lewat pesan singkat.

“Sudah cukup. Aku tidak mau hidup miskin selamanya.”

Selama tujuh tahun, semua orang mengira aku meninggalkannya demi uang.

Padahal sebenarnya, hari itu aku tahu Papa sakit ginjal parah.

Dan keluarga Villanueva menawarkan uang besar kepadaku.

Dengan syarat aku harus meninggalkan Ethan sebelum dia lulus di Manila.

Mama Ethan langsung menemuiku.

—Kamu tidak cocok untuk keluarga kami.

—Anakku butuh wanita yang setara dengan status kami.

Aku menandatangani semuanya.

Demi operasi Papa.

Aku pikir cukup aku yang terluka.

Tapi ternyata aku tidak pernah benar-benar sembuh selama tujuh tahun.

Malam setelah pemakaman, aku membersihkan rak buku lama Papa.

Di balik lemari, aku menemukan sebuah kotak besi tua.

Di dalamnya ada ratusan surat yang diikat pita merah.

Semua dari Ethan Villanueva.

Tanganku gemetar.

Surat pertama tertulis tujuh tahun lalu:

“Mika, aku tidak percaya kamu meninggalkanku hanya karena uang. Jika ada masalah, kembali saja ke Baguio. Aku akan menunggumu.”

Surat kedua:

“Aku memenangkan penghargaan arsitektur pertamaku hari ini. Seharusnya kamu orang pertama yang aku hubungi.”

Surat ketiga:

“Papa kamu bilang kamu hidup baik di Manila. Kalau begitu… mungkin kamu memang baik-baik saja.”

Aku menangis.

Tujuh tahun.

Dua ratus delapan puluh tujuh surat.

Tidak ada satu pun yang terkirim.

Di dasar kotak, ada USB perak.

Saat kubuka di laptop, sebuah video muncul.

Ethan.

Dia lebih kurus dari yang kuingat.

Wajahnya lelah.

Matanya merah.

Dia berkata pelan:

—Mika… jika kamu menonton ini, mungkin aku sudah akan menikah.

Dadaku terasa diremas.

—Aku pikir aku akan membencimu selamanya.

—Tapi yang paling lucu… kamu masih satu-satunya orang yang ingin kulihat setiap hari.

Air mataku jatuh ke keyboard.

Saat itu juga, ponselku berbunyi.

Tita Teresa.

—Mika, jangan lupa besok antar kue ke Hotel Crown Aurora ya. Pemilik VIP, katanya dari Manila.

Aku menghapus air mataku.

—Baik, Tita.

Aku tidak tahu…

bahwa pria yang turun dari Mercedes hitam di depan hotel itu keesokan harinya…

adalah Ethan Villanueva.


02

Tujuh tahun.

Semua sudah berubah.

Dia bukan lagi pria berhoodie yang menungguku di depan kafe setiap malam.

Sekarang dia memakai jas hitam.

Dikelilingi asisten.

Dan dipanggil:

—Presiden Ethan.

Aku membeku di belakang troli kue.

Tatapan kami bertemu.

Senyumnya langsung hilang.

Lobby menjadi sunyi.

Dia berkata dingin:

—Lama tidak bertemu.

—…Ethan.

Seorang wanita di sampingnya menatapku.

Cantik.

Elegan.

Cincin berlian di jarinya cukup untuk menjelaskan semuanya.

—Kamu kenal dia? tanya wanita itu.

Ethan menjawab tanpa emosi:

—Teman lama di Baguio.

“Teman lama.”

Dua kata yang menghancurkanku.

Tiba-tiba roda troli tergelincir.

Kue pernikahan besar hampir jatuh ke arah Ethan.

Aku mencoba menangkapnya, tapi terpeleset di lantai marmer.

Sebelum jatuh—

sebuah tangan kuat menangkap pinggangku.

Aroma yang familiar.

Hangat yang familiar.

Refleks Ethan menyelamatkanku seperti dulu.

Lobby kembali sunyi.

Tunangan Ethan pucat.

Dia segera melepaskanku.

—Maaf. Refleks saja.

Aku menunduk.

—Terima kasih.

Dia menatapku lama lalu bertanya:

—Kenapa kamu kembali ke Baguio?

Sebelum aku menjawab, manajer berkata:

—Ayahnya baru saja meninggal, Tuan Ethan.

Wajah Ethan berubah.

—Paman sudah meninggal?

Aku mengangguk.

Dia seperti ingin berkata sesuatu, tapi diam.

Malamnya, sebuah amplop datang ke kafe.

Uang.

Sangat banyak.

Ada catatan:

“Pembayaran kue tadi.

Sisanya untuk belasungkawa.

—Ethan”

Aku merobek cek itu.


03

Malam itu hujan deras di Baguio.

Saat aku hendak menutup kafe, seseorang mengetuk pintu.

Ethan berdiri di bawah hujan.

Basah kuyup.

—Kenapa kamu di sini?

Dia menatapku lama.

—Aku ingin bertanya.

—Benarkah kamu meninggalkanku hanya karena uang?

Aku diam.

Dia tertawa pahit.

—Aku menunggumu tiga malam di sini.

—Tapi kamu tidak pernah kembali.

Aku menutup mata.

—Sudah lama itu.

—Bagi kamu iya. Tapi tidak bagiku.

Guntur terdengar.

Matanya memerah.

—Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?

—Aku tidak pernah bisa membencimu, meskipun mencoba.

Dadaku gemetar.

Tiba-tiba mobil hitam berhenti.

Tunangannya turun.

Melihat kami, wajahnya pucat.

Dia melempar folder ke tanah.

Foto-foto berhamburan.

Aku membeku.

Foto Papa, Mama Ethan, kontrak, dan tanda tanganku.

Tunangan Ethan berkata:

—Aku baru dari rumah ibumu di Manila.

—Dan dia bilang keluargamu yang memaksamu meninggalkan Ethan.

Aku terdiam.

Dunia terasa runtuh.


(Cerita berlanjut…)

Angin malam di Baguio malam itu terasa sedingin pisau.

Foto-foto yang jatuh di tanah basah oleh hujan, tintanya luntur seperti masa lalu yang tidak lagi ingin dipercaya siapa pun.

Ethan berdiri diam.

Dia tidak menatapku.

Tidak juga menatap tunangannya.

Dia hanya menatap kontrak dengan tanda tanganku—seolah untuk pertama kalinya dia benar-benar memahami sesuatu yang disembunyikan selama tujuh tahun.

—Jadi… semua ini benar?
Suara Ethan serak.

Aku tidak menjawab.

Karena apa pun yang kukatakan sekarang, semuanya sudah terlambat.

Wanita itu tertawa kecil, tapi suaranya retak.

—Kamu mau percaya dia? Atau percaya keluargamu? Atau seluruh dunia yang membohongimu?

Ethan memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, pria yang dikenal sebagai “Presiden Ethan” terlihat seperti seseorang yang kehilangan arah.

Dia melangkah pelan ke arahku.

Hujan turun di antara kami seperti dinding tipis.

—Mika…
Dia memanggil namaku pelan.
—Kalau dari awal kamu jujur, mungkin aku tidak akan melepaskanmu.

Aku tertawa kecil.

Tapi air mataku jatuh lebih cepat.

—Aku tidak punya pilihan untuk jujur.

—Aku harus memilih antara kamu… atau hidup Papa.

Hening.

Hanya suara hujan di atap besi.

Tangan Ethan mengepal.

—Lalu aku? Kamu pernah memikirkan aku?

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku berkata jujur:

—Setiap hari.

—Tapi aku tidak berani kembali.

—Karena aku takut… kalau kamu tahu semuanya, kamu akan membenciku lebih dari saat kamu ditinggalkan.

Ethan menggeleng pelan.

—Aku sudah membencimu.

Satu detik.

—Tapi aku tidak pernah melupakanmu.

Kalimat itu membuat kakiku hampir lemas.

Wanita itu melepas cincinnya.

Logam jatuh ke lantai dengan suara dingin.

—Cukup.

Dia menatap Ethan.

—Aku tidak mau hidup dalam hubungan di mana hati pria itu masih tertinggal di masa lalu.

Dia pergi tanpa menoleh lagi.

Hujan menelan langkahnya.

Kini hanya aku dan Ethan yang tersisa.


Ethan memungut salah satu foto.

Di dalamnya, Papa, ibunya, dan aku terlihat seperti tiga orang yang terjebak di persimpangan takdir.

—Mereka tidak hanya menghancurkan kita…
Ethan berkata pelan.
—Mereka mengubah kita menjadi dua orang yang tidak bisa kembali seperti dulu.

Aku mengepalkan tangan.

—Kalau begitu… jangan kembali lagi.

Ethan menatapku.

—Kamu mengusir aku untuk kedua kalinya?

Aku menggeleng.

—Tidak.

—Kali ini… aku yang melepaskan.

Hening panjang.

Ethan melangkah mendekat.

Sangat dekat, sampai aku bisa mendengar napasnya bercampur dengan suara hujan.

Dia menyerahkan sebuah kunci.

—Ini kunci Hotel Crown Aurora.

Aku mengerutkan kening.

—Untuk apa?

Ethan tersenyum kecil, bukan lagi dingin seperti dulu.

—Karena hotel itu… sebenarnya dibangun untukmu.

Aku membeku.

—Kamu gila…

—Tidak.

Dia menggeleng.

—Aku hanya butuh tujuh tahun untuk mengerti bahwa semua rancangan terpenting dalam hidupku… selalu dimulai darimu.


Pagi hari berikutnya.

Crown Aurora dibuka kembali setelah kejadian itu.

Di papan nama hotel, tidak lagi tertulis “President Ethan”.

Melainkan satu kalimat sederhana:

“Flores House – Cabang Khusus”

Semua staf membicarakannya.

Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi.

Hanya tahu bahwa pemilik hotel mengubah seluruh lantai atas menjadi sebuah kafe.

Versi lain dari Flores House.

Lebih indah.

Lebih tenang.

Dan ada satu ruangan kecil di belakang meja kasir yang selalu menyala.


Tiga bulan kemudian.

Aku kembali ke Baguio.

Flores House masih berdiri.

Tapi sekarang ada papan kecil di pintu:

“Someone is waiting.”

Aku membuka pintu.

Bel berbunyi.

Ethan berdiri di balik meja.

Tidak lagi memakai jas.

Tidak lagi “Presiden”.

Hanya seorang pria yang sedang membuat kopi seperti dulu.

Dia menatapku.

Tidak berkata apa-apa.

Hanya meletakkan secangkir kopi di meja.

—Masih tanpa gula, kan?

Aku mengangguk.

Dadaku terasa sesak.

Di luar, kabut masih tebal seperti dulu.

Tapi kali ini, tidak ada lagi yang saling kehilangan.

Ethan menatapku lama, lalu berkata:

—Kali ini aku tidak membangun hotel untuk menjadi orang paling sukses.

—Aku membangunnya… supaya kalau kamu kembali, kamu punya tempat untuk pulang.

Aku tertawa kecil sambil menangis.

—Kamu masih bodoh seperti dulu.

Ethan tersenyum.

—Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.

Aku menatap kopi di depanku.

Lalu menatapnya.

Tujuh tahun.

Dua orang.

Satu rahasia.

Satu kehilangan.

Dan kali ini…

bukan perpisahan lagi.

Hanya satu hal yang tersisa:

—Kita belajar untuk memulai lagi.